Showing posts sorted by date for query sejarah-indonesia-sejarah-bangsa. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query sejarah-indonesia-sejarah-bangsa. Sort by relevance Show all posts

Friday, January 18, 2019

Sejarah Abjad Hieroglif Mesir


Hieroglif Mesir (pengucapan /ˈhaɪərəʊɡlɪf/; dari Yunani ερογλύφος "ukiran suci", dalam Bahasa Inggris hieroglyphic = τ ερογλυφικά [γράμματα]) ialah sistem goresan pena formal yang dipakai masyarakat Mesir kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet. Hieroglif Mesir merupakan salah satu sistem penulisan paling renta yang dikenal manusia. Beberapa dari goresan pena tersebut berasal dari tahun 3000 sebelum masehi dan telah dipakai oleh bangsa Mesir selama lebih dari 3000 tahun. Masyarakat Mesir memakai hieroglif kursif untuk sastra keagamaan pada papirus dan kayu. Adapula variasi formal goresan pena yang lebih kecil, yang disebut hieratik dan demotik, namun secara teknis goresan pena tersebut bukan merupakan hieroglif.

Etimologis
Berdasarkan kamus, arti dari hieroglif ialah goresan pena dan aksara Mesir Kuno, yang terdiri atas 700 gambar dan lambang dalam bentuk manusia, hewan, atau benda; dan lambang goresan pena (menyerupai gambar paku) yang bersifat diam-diam atau teka-teki yang sukar dibaca atau dipahami maknanya. Disebut hieroglif sebab dikala orang Yunani pertama kali melihat goresan pena itu, mereka yakin bahwa goresan pena tersebut merupakan goresan pena pendeta yang mempunyai makna dan tujuan yang suci. Kata hieroglif berasal dari kata sifat bahasa Yunani yaitu ερογλυφικός (hieroglyphikos), adonan dari ερός (hierós ‘keramat’ atau ‘suci’) dan γλύφω (glýphō ‘ukiran’, ‘pahatan’, atau glyphs). Kata glyphs sendiri merujuk pada τ ερογλυφικ γράμματα (tà hieroglyphikà grámmata, ‘kesusastraan ukir pahat’). Kata hieroglyph dalam bahasa Inggris dijadikan kata benda, menggantikan arti kata hieroglif yang sebenarnya. Yang seharusnya mirip dalam kalimat sebelumnya, kata hieroglyphic merupakan sebuah kata sifat, namun sering terjadi kekeliruan dalam penggunaan kata hieroglyph sebagai sebuah kata benda.
Hieroglif sudah muncul dari sebelum kesusastraan tradisi artistik Mesir. Contohnya, simbol pada tembikar Gerzean dari tahun 4000 SM ibarat penulisan hieroglif. Selama beberapa tahun, prasasti hieroglif yang pertama kali diketahui ialah Narmer Palette, ditemukan dalam penggalian di Hierakonpolis (sekarang Kawm al-Ahmar) pada tahun 1890-an, yang diperkirakan tahun 3200 SM. Bagaimanapun, pada tahun 1998, tim arkeologis Jerman di bawah pimpinan Günter Dreyer pada penggalian di Abydos (sekarang Umm el-Qa'ab) menemukan sebuah makam dari seorang penguasa Predynastic, dan menemukan tiga ratus pahatan nama dari tanah liat dengan proto-hieroglyphs, tertanggal pada masa Naqada IIIA dari era ke-33 Sebelum Masehi. Kalimat pertama yang tertulis penuh dengan hieroglif sejauh yang ditemukan ialah kesan segel yang ditemukan di makam Seth-Peribsen yang terletak di Umm el-Qa'ab, tertanggal dari dinasti kedua. Di zaman Kerajaan Tua, Kerajaan Tengah, dan Kerajaan Baru, terdapat sekitar 800 hieroglif.

Saat zaman Greco-Roman, mereka menomori lebih dari 5,000 hieroglif. Pada era keempat, beberapa orang mesir risikonya sanggup membaca hieroglif. Penggunaan hieroglif lalu berhenti sesudah penutupan seluruh gereja non-kristen pada tahun 391 Masehi oleh Kaisar Roman, Theodosius I; yang tertulis dalam prasasti terakhir dari Philae, diketahui sebagai The Graffito of Esmet-Akhom, tahun 396 Masehi. Penemuan hieroglif yang paling menggemparkan dalam sejarah modern ialah inovasi Batu Rosetta pada sekitar tahun 1799. Orang yang mendapat penghargaan dari menafsirkan goresan pena tersebut ialah Jean Francois Champollion. Pada awalnya, orang Mesir memakai bentuk gambar goresan pena yang kasar, mirip yang dipakai oleh suku-suku primitif di seluruh dunia. Hieroglif ialah gambar yang masing-masing mewakili objek alamiah. Matahari digambarkan sebagai piringan, bulan digambarkan dengan bulan sabit, air digambarkan oleh garis gelombang, orang dengan bentuk orang, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, goresan pena gambar ini tidak sanggup mewakili kata-kata atau benda-benda yang tidak sanggup dilihat mata mirip pikiran, cahaya, dan hari. Sehingga hieroglif pun lebih dianggap sebagai simbol inspirasi daripada sebuah gambar objek. Piringan sanggup juga berarti ‘hari’, bukan hanya berarti matahari. Ide-ide ini disebut dengan ‘ideogram’. Perkembangan hieroglif selanjutnya ialah memakai gambar, lebih untuk mewakili suara daripada untuk mewakili objek sesungguhnya. Misalnya, sebuah gambar lebah sanggup bukan berarti serangga, melainkan merujuk pada kata ‘lebah’. Daun sanggup mempunyai arti ‘percaya’ (kita gunakan kata dalam Bahasa Indonesia untuk memudahkan dalam mengatakan bagaimana cara kerjanya). Hieroglif mirip itu, yang dipakai sebagai bunyi, dikenal dengan nama ‘fonogram’. Belakangan, orang Mesir sanggup menulis kata apa saja yang mereka kenal, baik kata itu berarti sesuatu yang sanggup mereka gambarkan atau tidak. Dari fonogram tersebut mereka menyebarkan satu seri tanda, masing-masing mewakili satu huruf. Dalam penulisan, orang Mesir hanya memakai huruf konsonan (huruf mati) saja. Misalnya, kata ‘minum’ hanya akan ditulis ‘mnm’ (tentunya dengan memakai goresan pena Mesir). Orang Mesir juga terus memakai simbol-simbol usang dalam goresan pena mereka mirip ideogram, fonogram, dan picturegram (tulisan gambar) semuanya digabungkan. Seiring berjalannya waktu, goresan pena tersebut menjadisangat rumit sehingga tidak gampang dimengerti oleh orang awam.
Penulisan hieroglif sanggup dimulai dari kanan ke kiri, kiri ke kanan, atau dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, tetapi biasanya dimulai dari kanan ke kiri (seperti dalam penulisan Arab, walaupun dalam penulisan formal zaman kini ini memakai kiri ke kanan).
Hieroglif terdiri dari tiga macam glyph yaitu phonetic glyphs, termasuk karakter satu konsonan yang berfungsi mirip abjad, logographs; dan semagram (simbol semantik yang memilih makna), yang membatasi arti dari logographic atau kata-kata fonetis.

Secara visual, keseluruhan hieroglif kurang lebih bersifat kiasan: mereka merepresentasikan elemen yang aktual ataupun ilusional, terkadang menyesuaikan dengan mode dan disederhanakan, tetapi secara umum benar-benar dikenal dalam tanda. Bagaimanapun, simbol atau tanda yang sama, menurut konteksnya, sanggup diinterpretasikan dalam majemuk cara yaitu sebagai fonogram (phonetic reading), sebagai logogram, atau sebagai ideogram (semagram; determinative, semantic reading).

Kebanyakan simbol atau bentuk hieroglif merupakan fonetis alam, yang berarti bahwa simbol tersebut dibaca dan dibentuk sesuai dengan karakteristik visualnya. Gambar dari mata sanggup menjelaskan kata ‘mata’ itu sendiri dan kata ‘saya’ dalam bahasa Inggris (‘eye’ dan ‘I’). Gambar mata itu disebut dengan fonogram dari kata ‘I’. Bentuk fonogram dengan satu konsonan disebut mono- atau tanda uniliteral; dengan dua konsonan, tanda biliteral; dengan tiga konsonan disebut tanda triliteral. Dua puluh empat tanda uniliteral disebut aksara hieroglif. Penulisan hieroglif Mesir normalnya tidak mengindikasikan huruf vokal mirip A, I, U, E, O.

Penulisan Mesir sering kali pleonastis atau berlebihan. Ini sering kali terjadi dalam sebuah kata yang harus diikuti oleh sejumlah karakter penulisan yang mempunyai kesamaan pengucapan. Contohnya, kata nfr, yang mempunyai arti ‘cantik, baik, sempurna’, ditulis dalam triliteral yang unik.

Bagaimanapun, hal ini sangat biasa ditambahkan dalam triliteral, uniliteral untuk f dan r. Kata tersebut sanggup ditulis sebagai nfr+f+r namun tetap dibaca dengan nfr. Dua karakter aksara ditambahkan demi kejelasan ejaan dari hieroglif triliteral yang terdahulu. Karakter berlebihan yang mengikuti tanda biliteral atau triliteral disebut phonetic complements atau pemanis fonetis. Dapat ditempatkan di depan tanda (jarang), sesudah tanda (seperti ketentuan umumnya), atau bahkan dikeduanya.

Selain interpretasi fonetis, karakter atau simbol-simbol juga sanggup dimaknai dengan membaca, dalam hal ini logogram diucapkan (atau ideogram) dan semagram (sering disebut juga dengan determinative).

Logogram
Hieroglif dipakai sebagai logogram untuk menegaskan suatu objek yang merupakan sebuah gambar. Untuk itu logogram merupakan benda biasa yang sering digunakan. Dalam teori, seluruh hieroglif mempunyai kemampuan untuk dipakai sebagai logogram. Logogram sanggup ditemani dengan pemanis fonetis.

Determinatives atau semagram (simbol semantik yang memilih makna) ditempatkan di final dari sebuah kata. Karakter ini bertujuan untuk mengklarifikasi wacana apakah sebuah kata itu, mirip homofonik glyphs. (anehdidunia)

Sejarah wacana Misteri baca disini

Thursday, January 17, 2019

Sejarah Pt. Kereta Api Indonesia (Kai)


PT Kereta ApiIndonesia (Persero) yakni Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang menyelenggarakan jasa angkutan kereta api. Layanan PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencakup angkutan penumpang dan barang. Pada final Maret 2007, dewan perwakilan rakyat mengesahkan revisi UU No. 13/1992 yang menegaskan bahwa investor swasta maupun pemerintah tempat diberi kesempatan untuk mengelola jasa angkutan kereta api di Indonesia. Pada tanggal 14 Agustus 2008 PT Kereta Api Indonesia (Persero) melaksanakan pemisahan Divisi Jabotabek menjadi PT Kereta Api Commuter Jabotabek (KCJ) untuk mengelola kereta api penglaju di tempat Jakarta dan sekitarnya. selama tahun 2008 jumlah penumpang melebihi 197 juta.

Pemberlakuan UU Perkeretaapian No. 23/2007 secara aturan mengakhiri monopoli PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam mengoperasikan kereta api di Indonesia.
 yakni Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang menyelenggarakan jasa angkutan kereta api Sejarah PT. Kereta Api Indonesia (KAI)Pada tanggal 28 September 2011, bertepatan dengan peringatan ulang tahunnya yang ke-66, KAI meluncurkan logo baru.


Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan perusahaan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari Jepang.

Pada tanggal 28 September 1945, pembacaan pernyataan perilaku oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya menegaskan bahwa mulai hari itu kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia sehingga Jepang sudah tidak berhak untuk mencampuri urusan perkeretaapian di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya tanggal 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI).


Nama DKARI lalu diubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Nama itu diubah lagi menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tanggal 15 September 1971. Pada tanggal 2 Januari 1991, nama PJKA secara resmi diubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) dan sejak tanggal 1 Juni 1999 diubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga sekarang.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_Api_Indonesia

Baca juga sejarah yang lainnya disini

Wednesday, January 9, 2019

Sejarah Sman 2 Purwokerto


Perjuangan Kemerdekaan
Pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan. Kemudian dari pada itu, segenap bangsa berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikannya, tidak pula ketinggalan para pelajar sekolah-sekolah menengah, menengah atas dan mahasiswa.

Demikian pula di kawasan Banyumas, para pelajar sekolah menengah dan mahasiswa yang berasal dari kawasan Banyumas, tidak mau ketinggalan dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan Negara dan Bangsa bantu-membantu dengan Angkatan Bersenjata sebagai pelajar pejuang.

Pecahlah Clash I pada tanggal 21 Juli 1947 Tentara Belanda menyerbu kedalam kawasan Republik, bermula dari Jakarta menuju ketimur, antara lain melalui kawasan Banyumas, hingga adanya gencatan senjata pada garis demarkasi antara Banjarnegara - Kebumen - Gombong.
 bangsa Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan Sejarah SMAN 2 Purwokerto
Sejak Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, lebih-lebih semenjak pecahnya Clash I tanggal 21 Juli 1947, pelajar-pelajar sekolah menengah di kawasan Banyumas aktif menceburkan diri dalam usaha kemerdekaan, yang sebagian tergabung dalam BRIDGE XVII/TENTARA PELAJAR Z dan sebagian lagi tergabung dalam MOBPEL (Mobilisasi Pelajar). Tentara Pelajar di kawasan Banyumas dikenal dengan nama I.M.A.M ( INDONESIA MERDEKA ATAU MATI). Tidak sedikit korban berjatuhan di antara pelajar-pelajar pejuang, di antaranya Komandan I.M.A.M.

Clash I dilanjutkan lagi dengan Clash II pada tanggal 18 Desember 1948, Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia pada waktu itu diduduki oleh Tentara Belanda.

Dalam keadaan demikian, para pelajar pejuang yang tergabung dalam TENTARA PELAJAR dan MOBPEL meneruskan perjuangannya, sehingga tidak sempat duduk di dingklik sekolah.

Kesempatan untuk berguru kembali di dingklik sekolah terbuka sehabis dicapai pangkuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Negeri Belanda pada tanggal 29 Desember 1949.Rintisan Sekolah Menengan Atas Negeri di Purwokerto

Dalam tahun 1946 sebenarnya di Purwokerto telah dirintis berdirinya sebuah Sekolah Menengan Atas Negeri. Hal ini dimungkinkan lantaran Purwokerto menjadi kota pengungsian, dimana banyak Jawatan/Dinas Republik Indonesia mengungsi di Purwokerto sebagai akhir didudukinya Jakarta, Ibu Kota Republik oleh Tentara Belanda.

Dengan pecahnya Clash I tanggal 21 Juli 1947, Sekolah Menengan Atas Negeri yang sedang dirintis berdirinya di Purwokerto ikut mengungsi ke Wonosobo. Tetapi dipengungsian jumlah siswa yang dibutuhkan bersekolah sangat diselidiki, alasannya yaitu sebagian besar tetap berjuang di kawasan Banyumas yang merupakan kawasan pendudukan Tentara Belanda.

Demikian pula gurunya yang sebagian besar yaitu pegawai-pegawai dari pelbagai Jawatan/Dinas Pemerintah, mereka ikut pula mengungsi bersama Jawatan/Dinas ke Yogyakarta.

Tengah orang berusaha menyelenggarakan Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto di tempat pengungsian di Wonosobo, pecahlah Clas II pada tanggal 18 Desember 1948, sehingga usaha tersebut terhenti pula.Lahirnya Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto

Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia oleh Negeri Belanda pada tanggal 29 Desember 1949, diikuti dengan ditariknya Tentara Belanda dari Wilayah Republik Indonesia, memungkinkan Pemerintah Republik Indonesia berjalan kembali di kota-kota dan para pelajar di kawasan Banyumas pun memasuki kota Purwokerto kembali.

Mulailah kembali dirasakan perlu kota Purwokerto mempunyai Sekolah Menengan Atas Negeri. Para pelajar yang selama ini berjuang sebagai TENTARA PELAJAR dan MOBPEL, sudah berkesempatan kembali kebangku sekolah.

Maka pada tanggal 1 Maret 1950, oleh tokoh-tokoh masyarakat di Purwokerto didirikanlah Sekolah Menengan Atas Purwokerto guna menampung pemuda-pemuda pelajar pejuang yang tergabung dalam TENTARA PELAJAR dan MOBILISASI PELAJAR.

Berdirinya Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto sebagai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yang pertama kali bangkit di kota Purwokerto, bahkan di Karesidenan Banyumas, kemudian dilaporkan kepada Departemen PPK yang pada waktu itu masih di Yogyakarta.

Dengan surat Putusan Menteri PPK NO. 4791/b tanggal 28 Juni 10\950, diresmikanlah berdirinya sekolah tersebut, yang pada diktum pertama, bab pertama sob.c ditetapkan bahwa:

Sekolah itu terutama disediakan bagi pelajar-pelajar Sekolah Menengan Atas yang telah menunaikan kewajibannya berbakti kepada Negara sebagai anggota BRIDGE XVII dan Mobilisasi Pelajar dan memenuhi syarat untuk diterima sebagai murid Sekolah Menengan Atas Negeri.

Berdirinya Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto ini merupakan hasil usaha dari tokoh-tokoh masyarakat Purwokerto yang menginginkan adanya suatu Sekolah Menengan Atas guna menampung pemuda-pemudi pelajar pejuang yang kembali dari front. Adapun tokoh-tokoh pendiri Sekolah Menengan Atas Negeri ini terdiri dari:

A. Pemerintah
1. Bapak Jendral Gatot Soebroto
2. Bapak R.M. Gandasubrata
3. Bapak Wagio
4. Bapak Supar (Corp Polisi Militer)

B. Pengajar Penyumbang Pengetahuan dan Pengalaman

1. Ibu R.A. Gandasubrata
2. Ibu Sumarto
3. Ibu Suwarti
4. Bapak Alka
5. Bapak Pangkat
6. Bapak Sumadi
7. Bapak Suparto
8. Bapak Prajitno
9. Bapak B.R. Josserande
10. Bapak Salikin
11. Bapak J. Junus
12. Bapak Dokter Sarjono
13. Bapak Riskan
14. Bapak Wartowidagdo
15. Bapak Misngad Darmabrata
16. Bapak Soetojo
17. Bapak Soewondo

C. Wakil-wakil Pelajar Pejuang:
I. Staf Komando Pasukan I.M.A.M.
1. Saudara Moestopo
2. Saudara Soeseno
3. Saudara Soerono
4. Saudara Suhardini
5. Saudara Mohammad Kosim
6. Saudara Sumadi
7. Saudara Soetjipto Hadi

II. Staf Komandan MOBPEL
1. Saudara Kusparjadi
2. Saudara Rasdan Purnomo
3. Saudara Kuat Waluyo
4. Saudara Slamet Rahardjo
5. Saudara Soemarpeni
6. Saudara Bambang Utomo
7. Saudara Manung Sunardi
8. Saudari Sri Nastiti Kusti Aminah

Setelah registrasi selesai dan staf pengajar tersusun, maka berdirilah Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto untuk pertama kalinya sebagai Sekolah Menengan Atas Perjuangan yang dibuka pada tanggal 8 Maret 1950.

Selaku pejabat Direktur yaitu Bapak Soetojo yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Kantor Pengajaran Karesidenan Banyumas di Purwokerto dan selaku Kepala Tata Usaha yang pertama kalinya yaitu Bapak Soewondo.

Pada bulan Juli 1950 Bapak Soetojo selaku pejabat Direktur digantikan oleh Bapak M. Sumarmo yang diangkat menjadi pejabat Direktur Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto oleh Menteri PPK pada tanggal 21 Juli 1950, sedangkan selaku Kepala Tata Usaha yaitu tetap Bapak Soewondo. Masing-masing menjalani pensiunannya pada tanggal 1967 dan 1971.

Para pengajar yaitu Bapak-bapak dari pelbagai Dinas dan Ibu-ibu yang dipandang mempunyai pengetahuan yang cukup untuk mengajar di SMA.
Pada tanggal 1 Agustus 1950 sekolah dibuka dengan 2 macam kelas, yaitu kelas I usang yang sudah berguru semenjak bulan Maret 1950 dan Kelas I gres diterima dari lulusan Sekolah Menengah Pertama pada bulan Juli 1950, dan Kelas II yang sudah berguru semenjak bulan Maret 1950. Dengan demikian ada 3 (tiga) kelas dengan ..... ruang.

Hampir semua murid yaitu pejuang, sedangkan di kelas gres ada beberapa orang murid yang bukan pelajar pejuang diterima sehabis menerima keringanan dari Pemerintah di Purwoekrto dan dari Departemen PPK.

Segera sehabis masuk pada tanggal 1 Agustus 1950, sebagai tahun fatwa baru, para pelajar Kelas I dan II yang alam sudah semenjak bulan Maret 1950, mengajukan seruan untuk diusahakan supaya kenaikan kelas mereka dipercepat. Dengan seizin Departemen PPK seruan para pelajar itu sanggup diterima dan dikabulkan kenaikan kelas gres mereka ditetapkan pada selesai Oktober 1950. Berkat adanya saling pengertian antara para guru dan pelajar, maka pelajar-pelajar dengan sekeras-sekerasnya untuk sanggup mempersiapkan diri guna kenaikan kelas pada selesai Oktober 1950 tersebut.
Ternyata ada beberapa pelajar yang sudah sanggup naik kelas. Dengan demikian mulai 1 November 1950 sekolah sudah mempunyai kelas I, II dan III kesemuanya dari Bagian B (Ilmu Pasti). Para pelajar kelas III Bagian A (Sastra) berdasarkan Ketetapan Menteri PPK harus disalurkan ke SMA-SMA Bagian A di Yogyakarta atau Bandung.

Selanjutnya Sekolah Menengah Atas Negeri Purwokerto berjalan menyerupai SMA-SMA lainnya.
Kemudian semenjak tahun 1951 sudah mulai menghasilkan lulusannya yang pertama kainya, sedangkan dalam tahun 1953, hampir semua pelajar pejuang sudah sanggup menuntaskan sekolahnya di Sekolah Menengan Atas Negeri ini.Perkembangan Selanjutnya

Tahun 1953
Pada tahun 1953 oleh Menteri PPK ditetapkan Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto sebagai Sekolah Menengan Atas Umum Bagian B (Ilmu Pasti) Negeri Purwokerto lengkaplah Bagian A, B dan C.

Tahun 1960
Dengan demikian meningkatnya jumlah pelajar yang memasuki Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto ini, yaitu pada tahun 1959 jumlah kelas menjadi 26 (dua puluh enam) kelas, masing-masing untuk Bagian A sebanyak 7 kelas, Bagian B sebanyak 11 kelas dan Bagian C sebanyak 8 kelas, maka pada tahun 1960 Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
I. Sekolah Menengan Atas Negeri I/A.C dengan Direktur Bapak Darjono yang kemudian diganti oleh Bapak Liem Ing Djien dan semenjak tahun ......... diganti oleh Bapak Soegijanto, sebagai Kepala Tata Usahanya Bapak Markono.
II. Sekolah Menengan Atas Negeri II/B dengan Direkturnya Bapak M. Soemarmo yang kemudian diganti oleh Bapak Soeharto semenjak tahu 1967. Sebagai Kepala Tata Usahanya tetap Bapak Soewondo, samapi tanggal 1 April 1971 menjalani masa pensiunnya diganti oleh Bapak Soetarno hingga dengan Mei 1995. Mulai bulan Juni 1995 jabatan Kepala Tata Usaha dijabat oleh Ibu Surtini hingga sekarang.

Tahun 1963
Selanjutnya mulai tahun 1963 oleh Pemerintah c.q. Menteri PPK sekolah dirubah menjadi Sekolah Menengan Atas Gaya Baru yang terdiri dari jurusan PASPAL (PASTI dan PENGETAHUAN ALAM) dan Jurusan SOSBUD (SOSIAL BUDAYA).

Tahun 1985
Dewasa ini genap 35 tahun berdirinya Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto, nama Sekolah Menengan Atas (Sekolah Menengah Atas) masih dipergunakan. Namun demikian usaha-usaha untuk memperbaiki/memperbaharui pendidikan mulai berjalan dan Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto berkembang lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan jamannya.

Tahun 1997
Dasar Surat Keputusan Mendikbud RI Nomor 035/O/1997 tanggal 7 Maret 1997 ihwal perubahan nama dari Sekolah Menengan Atas menjadi SMU. Dengan demikian Sekolah Menengan Atas Negeri 2 Purwokerto.

Tahun 2000
SMU Negeri 2 Purwokerkto memasuki usianya yang ke-50 sudah banyak pengalaman, banyak kemajuan dan banyak mencapai suatu keberhasilan. Namun walaupun demikian SMU Negeri 2 Purwokerto tidak akan berhenti hingga disitu, namun tetap akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk lebih banyak supaya sanggup meraih kemajuan dan keberhasilan pada masa yang akan tiba sehingga sanggup menyesuaian dengan perkembanan dan tuntutan zaman.
Untuk itu Keluarga Besar SMU Negeri 2 Purwokerto mempunyai Visi dan Misi yaitu:
1. Visi: "Terbaik dan Terbesar"
2. Misi:
a. Mencetak generasi muda yang taqwa, cerdas dan terampil
b. Mempersiapkan siswa untuk diterima di UMPTN
c. Berbuat yang terbaik untuk masyarakat

Bangunan dan Ruang Kelas
Sejak 1950-1955 Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto menempati gedung di jalan Gereja No. 20 dengan mempunyai ruangan sebanyak 6 buah ; 3 diantaranya yaitu ruangan darurat, sedangkan sekolah ini mempunyai 20 (sepuluh) kelas. Akibatnya sekolah berguru dari 07.15 hingga jam 15.30.

Semula pada zaman Belanda dulu, gedung ini yaitu Sekolah Guru (Normaal School) dan semenjak tahun 1953 sekolah ini dibuka kembali dengan nama SGA (Sekolah Guru Atas) dan kini SPGN (Sekolah Pendidian Guru Negeri) Purwokerto.

Sejak tahun 1955, Sekolah Menengan Atas Negeri Purwokerto menempati gedung SMU Negeri 2 purwokerto sekarang, yaitu di Jalan Jendral Gatot Soebroto NO. 69 Telp (0281) 635057 yang pada zaman Belanda yaitu Gedung (SEKOLAH MENENGAH UMUM PERTAMA atau MULO)
Ruangan Sekolah Menengan Atas Negeri pada tahun 1955 ini yaitu sebanyak 13 (tiga belas) ruang. pada tahun 1965 dengan tunjangan ruangan bertambah dengan 2 (dua) ruang kals. Hingga ketika ini SMU Negeri 2 Purwokerto mempunyai 27 runag kelas, 6 laboratorium dan Kantor Kepala Sekolah, Tata Usaha, Ruang Guru, Musholla, Perpustakaan, Ruang BP dan Komputer.

Kemudian 1 Juli 1983, eksekutif Sekolah Menengan Atas Negeri 2 Purwokerto diganti oleh Bapak SOETARDJO As, berdasarkan surat Kawat Kantor Dep. P dan K Propinsi Jawa Tengah tanggal 30 Juni 1983 NO/ 1683/I03/C.83 dan SK Menteri P dan K RI tangal12 April 1984 No. 26392/C/KI.1/1984 hingga tahun 1990.

Kemudian pada bulan Januari 1991 Sekolah Menengan Atas Negeri 2 Purwokerto menerima kekosongan Kepala Sekolah, maka untuk sementara diampu oleh Drs. ILYAS (Kepala SMU Negeri 1 Purwokerto) hingga Oktober 1991.

Sejak tanggal 2 November 1991 hingga 31 Januari 1994 pejabat Kepala Sekolah oleh Bapak SOEDIONO. Sedangkan mulai bulan Februari 1994 ada pergantian Kepala Sekolah yaitu oleh Bapak NGAKAN NJOMAN OKA hingga 31 Oktober 1996.

Sejak tanggal 1 November 1996 hingga 10 Juli 1999 pejabat Kepala Sekolah oleh Bapak Drs. H. SURODJO Hs, MM.
Sejak tangga 1 November 1999 hingga dengan kini pajabat Kepala Sekolah oleh Bapak Drs. Akhmad Khotib.

Demikian sekilas pengungkapan sejarah SMU Negeri 2 Purwokerto, semoga menghasilkan putra-putri terbaik bagi Ibu Pertiwi Indonesia.
Permasalahan dan Pemecahannya

Sesuai dengan perjalanannya, permasalahan yang muncul yaitu sebagaimana berikut:
1. Personal
2. Sarana fisik
3. Status tanah

Personal menjadi problem lantaran tenaga edukatif dan nonedukatif banyak yang purnatugas, sementara pengangkatan PNS gres sangat kecil. Akibatnya di sekolah ini harus mengangkat GTT dan PTT. Pengangkatan GTT dan PTT akan membawa imbas terhadap dinamika pembelajaran dan keuangan sekolah.

Sarana fisik menjadi permasalahan tersendiri, lantaran sesuai dengan usianya, sarana prasarana fisik banyak yang sudah tua. Akibat hal ini, biaya rehabilitasi dan pemeliharaan menjadi sangat besar. Dana rutin dari pemerintah (DIK) untuk mata anggaran ini tidak sebanding dengan kebutuhan. Akibat lanjutan yaitu pihak sekolah harus mencukupi dari dana BP-3 / Komite sekolah. Penggunaan dana semacam ini tentu akan mengurangi mata anggaran lain, khususnya yang mestinya sanggup untuk proses pembelajaran dan pengembangan lainnya.

Merupakan rangkaian problem dari usia sekolah yaitu status tanah. Akibat proses pemilikan pada zaman kemerdekaan, maka tanah SMU Negeri 2 Purwokerto menjadi membingungkan. Pihak Angkatan Darat (ABRI) mengeklaim sebagai milik, pihak Depdiknas (pengelola sekolah) yang menempati. Kedua belah pihak saling membutuhkan sehingga status tanah tetap belum terselesaikan walaupun telah berulang kali diupayakan penyelesaiannya.

Penutup
SMU Negeri 2 Purwokerto sebagai sekolah yang bau tanah sanggup menjadi materi perbandingan dan materi kajian para pengelola pendidikan. Di dalamnya terdapat dinamika dan pengalaman yang menarik.

Sumber : https://caraphdanghmmm.blogspot.com/search?q=sejarah-sma-negeri-2-purwokerto

Tuesday, January 1, 2019

Sejarah Kabupaten Batang


ASAL USUL NAMA BATANG
Menurut kamus Kawi-Indonesia karangan Prof.Drs.Wojowasito, Batang berarti= 1. Plataran, 2. Tempat yang dipertinggi, 3. Dialahkan, 4. Kata bantu bilangan (footnote).

Dalam bahasa Indonesia (juga bahasa Melayu) berarti sungai, dalam kamus jawa- Indonesia karangan Prawiroatmojo berarti terka, tebak. Atas dasar arti kata tersebut diatas maka dalam kekerabatan alami yang ada dilokasi yang ada disekarang ini maka yang agak sempurna adalah: plataran (platform) yang agak ketinggian dibandingkan dengan dataran disekitarnya maupun jikalau dilihat dari puncak pegunungan di sekitarnya juga jikalau dipandang dari maritim jawa.


Menurut  legenda yang sangat populer, Batang berasal dari kata= Ngembat- Watang yang berarti mengangkat batang kayu. Hal ini diambil dari insiden kepahlawanan Ki Ageng Bahurekso, yang dianggap dari cikal bakal Batang. Adapun riwayatnya diungkapkan sebagai berikut:

Konon pada waktu Mataram mempersiapkan daerah- tempat peratanian untuk mencukupi persediaan beras bagi para prajurit Mataram yang akan mengadakan penyerangan ke Batavia, Bahurekso mendapat kiprah membuka hutan Roban untuk dijadikan tempat pesawahan. Hambatan dalam pelaksanaan tesebut ternyata cukup banyak. Para pekerja penebang hutan banyak yang sakit dan mati alasannya yaitu konon diganggu oleh jin, setan peri prayangan, atau siluman- siluman penjaga hutan Roban, yang dipimpin raja mereka Dadungawuk. Namun berkat kesaktian Bahurekso, raja siluman itu sanggup dikalahkan dan berakhirlah gangguan-gangguan tersebut walaupun dengan syarat bahwa para siluman itu harus mendapat bab dari hasil panen tersebut. Demikianlah hutan Roban sebelah barat ditebang seluruhnya. Tugas kini tinggal mengusahakan pengairan atas lahan yang telah dibuka itu.

Tetapi pada pelaksanaan sisa pekerjaan inipun tidak luput dri gangguan maupun halangan-halangan. Gangguan utama yaitu dari raja siluman Uling yang berjulukan Kolo Dribikso. Bendungan yang telah selesai dibentuk untuk menaikkan air sungai dari Lojahan yang kini berjulukan sungai Kramat itu selalu jebol alasannya yaitu dirusak oleh anak buah raja Uling. Mengetahui hal itu Bahurekso eksklusif turun tangan, Semua anak buah raja Uling yang bermarkas disebuah Kedung sungai itu diserangnya. Korban berjatuhan di pihak Uling, Merahnya semburan-semburan darah menciptakan air kedung itu menjadi merah kehitaman “ gowok . Jw “ , maka kedung tersebut dinamakan Kedung Sigowok. Raja Uling murka melihat anak buahnya binasa. Dengan pedang Swedang terhunus ia menyerang Bahureksa. Karena kesaktian pedang Swedang tersebut, Bahureksa sanggup dikalahkan. Siasat segera dilakukan. Atas nasehat ayahandanya Ki Ageng Cempaluk. Bahureksa disuruh masuk kedalam Keputren kerajaan Uling, untuk merayu adik sang raja yang berjulukan Dribusowati seorang putri siluman yang cantik. Rayuan Bahureksa berhasil. Dribusawati mau mencurikan pedang pusaka milik kakaknya itu, dan diserahkan kepadanya. Dengan pedang Swedang ditangan, dengan gampang raja Uling di kalahkan, dengan demikian maka gangguan terhadap bendungan sudah tidak pernah terjadi lagi. Tetapi bukan berarti hambatan-hambatan sudah tidak ada lagi.

Tenyata air bendungan itu tidak selalu lancar alirannya. Kadang- kadang besar, kadang- kadang kecil, bahkan tidak mengalir sama sekali. Setelah diteliti ternyata ada batang kayu (watang) besar yang melintang menghalangi anutan air. Berpuluh puluh orang disuruh mengangkat memindah watang tersebut, tetapi sama sekali tidak berhasil. Akhirnya Bahurekso turun tangan sendiri. Setelah mengheningkan cipta, memusatkan kekuatan dan kesaktiannya, watang besar itu sanggup dengan gampang diangkat dan dengan sekali embat patahlah watang itu. Demikianlah insiden ngembat watang itu terjadilah nama Batang dari kata ngem Bat wa Tang (Batang). Orang Batang sendiri sesuai  dialeknya menyebut “ Mbatang. ”
Melihat uraian dari sumber verbal atau legenda tersebut, kita sanggup memperkirakan semenjak kapan ini terjadi.
Persiapan Mataram untuk menyerang Batavia yaitu pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, tahun 1613 s/d 1628. Penyerangan pertama ke Batavia yaitu pada tahun 1628, ambillah persiapan itu sedini- dininya, yaitu awal pemerintahan Sultan Agung, maka hal itu terjadi pada tahun 1613.

Betapa mudanya nama Batang ini terjadi dan dikenal. Majalah Karya Dharma Praja Mukti pernah memuat sesuatu goresan pena kiriman Kusnin Asa, disitu disebutkan bahwa nama  Batang  dikenal pada jaman kerajaan Majapahit, sebagai suatu kota pelabuhan. Nama Batang berasal dari kata BATA-AN. Bata berarti batu, dan AN berarti satu atau pertama.

Menurut Bp. Suhadi BS, BA dalam naskah pengantar lambing tempat Batang menyebutkan, bahwa menurut Sapta Parwa karya Mohamad Yamin dengan gosip Tionghoa yang berhasil ia kutip lengkap dengan fragmen petanya, ia menyebutkan bahwa nama Batang telah dikenal semenjak orang-orang Tionghoa banyak mencar ilmu agama Budha ke Sriwijaya. Batang ini dikenal dengan nama Batan sebagai kota pelabuhan sejaman dengan Pemaleng (Pemalang) dan Tema (Demak)


LAMBANG DAERAH
Lambang yang dipakai oleh Pemda Kabupaten Batang yaitu lukisan yang berbentuk dasar perisai yang berukuran 4 : 5, yang melambangkan tekad rakyat Batang untuk mempertahankan daerahnya, baik dalam arti sempit maupun tempat dalam pengertian sebagai Wilayah Republik Indonesia.

BINTANG BERSUDUT LIMA berwarna emas, melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
PADI DAN KAPAS , melambangkan impian rakyat akan terpenuhinya kemakmuran (murah sandang, murah pangan).
GUNUNG, PABRIK, BATIK DAN  LAUT, mengandung rangkaian pengertian bahwa Batang mempunyai tempat pegunungan yang penuh dengan kekayaan alam, dataran rendah yang kaya perusahaan-perusahaan dan maritim yang sepanjang masa menghasilkan ikan.
PUSAKA:
KERIS, suatu pusaka yang melambangkan tokok pimpinan.
TOMBAK, pusaka yang biasa menjadi pegangan prajurit / rakyat.
GABUNGAN ANTARA KERIS DAN TOMBAK, melambangkan kesatuan antara yang memimpin dan yang dipimpin.
PABRIK, menjelaskan bahwa di Batang terdapat banyak perusahaan. Dari perusahaan makanan rakyat, perusahaan sandang hingga dengan perusahaan yang menghasilkan bahan-bahan ekspor, antara lain tapioka, karet, coklat, teh, kapuk, dan lain-lain.
BATIK SOGAN, memberikan bahwa seni batik ini merupakan seni kerajinan rakyat yang mendarah daging turun temurun sekaligus melambangkan bahwa rakyat Batang memelihara kebudayaan bangsa / tempat yang berkepribadian.
IKAN, menjelaskan bahwa Batang mempunyai maritim dan tambak-tambak yang sepanjang masa menghasilkan ikan. Bukan hanya untuk tempat setempat, tetapi bahkan sanggup memenuhi pasar-pasar ikan di tempat lain.
PITA berwarna kuning emas yang terletak di bawah, melambangkan benang emas yang mengikat semua ciri kepribadian serta budi dan daya rakyat ibarat terdapat dalam lambang tersebut di atas.


Pengertian Tentang Jumlah Bagian-bagiannya
Butir padi berjumlah 17 (tujuh belas) bersama bunga kapas berjumlah 8 (delapan) di dalam perisai berukuran 4 : 5 mengandung pengertian ihwal kesetiaan rakyat akan semangat 17 Agustus 1945.
Pita yang berbentuk angka 8 (delapan), atap pabrik yang berpuncak 4 (empat) dan gelombang maritim yang 6 (enam) di atas dan 6 (enam) di bawah menerangkan ihwal hari kembalinya Batang menjadi Daerah Kabupaten lagi pada tanggal 8 April 1966 sesudah 30 tahun bergabung dengan Pekalongan.
Ikan yang berjumlah 2 (dua) ekor dan terletak berhadapan mengandung arti bahwa di Batang selalu ada dua kekuatan yang saling embat-embatan / musyawarah, nampaknya agak bertentangan satu sama lain, tetapi bergotong-royong yaitu saling mengisi.

Pengertian Tentang Warna
MERAH, mengandung pengertian bahagia, berani alasannya yaitu benar dan dinamis. Merah sebagai dasar goresan pena Batang menunjukan bahwa rakyat di seluruh Kabupaten Batang itu intinya berbahagia atas kembalinya Batang menjadi Kabupaten lagi.
KUNING pada dasar lambang memberikan pribadi yang periang, hati yang terbuka yang dengan terus terang menginginkan tegaknya kebenaran dan keadilan.
KUNING EMAS pada bintang melambangkan bahwa pokok tersebut (Tuhan Yang Maha Esa) merupakan zat yang diagungkan oleh setiap manusia di Kabupaten Batang.
HITAM pada keris berarti keadilan. Bahwa kepemimpinan yang menjadi idaman rakyat yaitu yang sanggup membawa rakyat dari setiap penderitaan ke arah kebahagiaan.

PUTIH yang berbentuk tombak melambangkan ketulusan hati rakyat yang membina kehidupan daerah.
BIRU pada maritim melambangkan keagungan yang dirangkapi dengan wibawa.
COKLAT pada batik (Sidomukti) sogan, yang menyamai coklatnya tanah yang berair melambangkan hubungan batin yang mutlak kuat antara rakyat Batang dengan tanah tumpah darahnya. Motif Sidomukti melambangkan biar kembalinya Kabupaten Batang sanggup mengangkat taraf hidup rakyat.
ABU-ABU pada ikan melambangkan elastisitas dari pendirian masyarakat Batang.
HIJAU pada gunung dan tangkai kapas melambangkan bahwa intinya tempat Batang itu yaitu tempat yang makmur, yang memberi impian akan masa depan yang cemerlang.

SEJARAH PEMERINTAHAN

Menurut sejarah, Batang telah mempunyai dua kali periode pemerintahan Kabupaten.  Periode I diawali zaman kebangkitan kerajaan Mataram Islam (II) hingga penjajahan asing, kira-kira dari awal periode 17 hingga dengan 31 Desember 1935. Sedang  periode II, dimulai awal kebangkitan Orde Baru (8 April 1966) hingga sekarang, bahkan Batang sanggup ditelusuri semenjak pra-sejarah.

Sejak dihapuskan status Kabupaten (1 Januari 1936) hingga tanggal 8 April 1966, Batang tergabung dengan Kabupaten Pekalongan.

Tahun 1946, mulai ada gagasan untuk menuntut kembalinya status Kabupaten Batang. Ide pertama lahir dari Pak Mohari yang disalurkan melalui sidang KNI Daerah dibawah pimpinan H.Ridwan alm. Sidang bertempat di gedung bekas rumah Contrder Belanda (Komres Kepolisian 922).


Tahun 1952, terbentuk sebuah Panitia yang menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Batang. Panitia ini dinamakan Panitia Pengembalian Kabupaten Batang, yang bertugas menjalankan amanat masyarakat Batang.


Dalam kepanitiaan ini duduk dari kalangan DPR serta pemuka masyarakat yang besar lengan berkuasa dikala itu. Susunan panitianya terdiri atas RM Mandojo Dewono (Direktur SGB Batang) sebagai Ketua, R. Abutalkah dan R. Soedijono (anggota DPRDS Kabupaten Pekalongan) sebagai Wakil Ketua. Panitia juga dilengkapi dengan dua anggota yaitu R. Soenarjo (anggota DPRDS yang juga Kepala Desa Kauman) dan Rachmat (anggota DPRDS).

Tahun 1953, Panitia memberikan Surat Permohonan terbentuknya kembali status Kabupaten Batang lengkap satu berkas, yang eksklusif diterima oleh Presiden Soekarno pada dikala mengadakan peninjauan tempat dan menuju ke Semarang dengan tanggapan akan diperhatikan.


Tahun 1955, Panitia mengutus delegasi ke pemerintah pusat, yang terdiri atas RM Mandojo Dewono, R.Abutalkah, dan Sutarto (dari DPRDS).

Tahun 1957, dikirim dua delegasi lagi. Delegasi I, terdiri atas M. Anwar Nasution (wakil ketua DPRDS), R.Abutalkah, dan Rachmat (Ketua DPRD Peralihan). Sedangkan delegasi II dipercayakan kepada Rachmat (Kepala Daerah Kabupaten Pekalongan), R.Abutalkah, serta M.Anwar Nasution.

Tahun 1962, mengirimkan utusan sekali. Utusan tersebut dipercayakan kepada M. Soenarjo (anggota DPRD Kabupaten Pekalongan dan juga Wedana Batang) sebagai ketua, sebagai pelapor ditetapkan Soedibjo (anggota DPRD), serta dibantu oleh anggota yaitu H. Abdullah Maksoem dan R. Abutalkah.

Tahun 1964, dikirim empat delegasi. Delegasi I, ketuanya dipercayakan R. Abutalkah, sedang pelapor yaitu Achmad Rochaby (anggota DPRD). Delegasi ini dilengkapi lima orang anggota DPRD Kabupaten Pekalongan, yaitu Rachmat, R. Moechjidi, Ratam Moehardjo, Soedibjo, dan M. Soenarjo.

Delegasi II, susunan keanggotaannya sama dengan Delegasi I tersebut, sebelum memberikan tuntutan rakyat Batang ibarat pada delegasi-delegasi terdahulu, yaitu kepada Menteri Dalam Negeri di Jakarta diawali penyampaian tuntutan tersebut kepada Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Tengah di Semarang.


Delegasi III, yang juga susunan keanggotaannya sama dengan Delegasi I dan II kembali mengambil langkah memberikan tuntutan rakyat Batang eksklusif kepada Mendagri. Sedang Delegasi IV mengalami perubahan susunan keanggotaan. Dalam delegasi ini sebagai ketua R. Abutalkah, sebagai wakil ketua Rachmat, sedangkan sebagai pelapor yaitu Ratam Moehardjo, Ahmad Rochaby sebagai sekretaris I, R. Moechjidi sebagai sekretaris II serta dilengkapi anggota yaitu Soedibjo dan M. Soenarjo.


Tahun 1965, diutus delegasi terakhir. Sebagai ketua R. Abutalkah, wakil ketua Rachmat, sekretaris I Achmad Rochaby, sekretaris II R. Moechjidi, pelapor Ratam Moehardjo serta dilengkapi dua orang anggota yaitu M. Soenarjo dan Soedibjo. Delegasi terakhir atau kesepuluh itu, memperoleh kesempatan untuk menyaksikan sidang paripurna DPR GR dalam program persetujuan dewan atas Rancangan Undang-undang ihwal Pembentukan Pemerintah Kabupaten Batang menjadi Undang-undang.

Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Batang terbentuk menurut Undang-undang Nomor 9 Tahun 1965, yang dimuat dalam Lembaran Negara Nomor 52, tanggal 14 Juni 1965 dan Instruksi Menteri Dalam Negeri RI Nomor 20 Tahun 1965, tanggal 14 Juli 1965.

Tanggal 8 April 1966, bertepatan hari Jumat Kliwon, yaitu hari yang dianggap penuh berkah bagi masyarakat tradisional Batang, dengan mengambil tempat di bekas Kanjengan Batang usang (rumah dinas yang sekaligus kantor para Bupati Batang lama) dilaksanakan peresmian pembentukan Daerah Tingkat II Batang.

Upacara yang berlangsung khidmat dari jam 08.00 s/d 11.00 itu, ditandai antara lain dengan Pernyataan Pembentukan Kabupaten Batang oleh Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Tengah Brigjend (Tit) KKO-AL Mochtar, peresmian R. Sadi Poerwopranoto sebagai Pejabat Bupati Kepala Daerah Batang, serah terima wewenang wilayah dari Bupati KDH Pekalongan kepada Pejabat Bupati KDH Batang, serta sambutan dari Gubernur Kepala Daerah Jawa Tengah.


TRADISI KIRAB PUSAKA ABIRAWA
 
Kirab pusaka merupakan suatu kegiatan rutin setiap tahunnya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Batang, juga merupakan perayaan menyambut hari jadi Pemkab. Batang. Penyelenggaraan Kirab Pusaka ini gres dimulai semenjak tahun 2003 dengan tujuan untuk :
  1.  Melestarikan budaya leluhur sebagai aktivitas kepariwisataan di Kabupaten Batang.
  2.  Sebagai bukti bahwa Kabupaten Batang telah ada semenjak lama, sekitar 500 tahun silam, namun pada tahun 1936 s/d 7 April 1966 bergabung dengan Kabupaten Pekalongan;
  3.   Sebagai prosesi ritual tolak balak. 
   




No.
Nama Bupati/Wakil Bupati
Masa Jabatan
1
R. Sadi Poerwopranoto
8 April 1966 s/d 31 Mei 1967
2
R. Harjono Prodjodirdjo

31 Mei 1967 s/d 10 Oktober 1972
3
Drs. Soejitno
10 November 1972 s/d 21 Maret 1979
4
Drs. Soekirdjo
21 Maret 1979 s/d 1 Januari 1988
5
Drs. Soehoed
26 Juli 1988 s/d 26 Juli 1993
6
Moeslich Effendi, SH
26 Juli 1993 - 26 Juli 1998
7
Djoko Poernomo, SH, MM
22 Oktober 1998 - 7 Agustus 2001
8
Bambang Bintoro, SE / Drs Achfa Machfudz
11 Februari 2002 - 11 Februari 2007
9
Bambang Bintoro, SE / Drs Achfa Machfudz 11 Februari 2007 - sekarang

No.
Nama Ketua DPRD
Masa Jabatan
1
H. Abd. Maksoem
Tahun 1967 – 1972
2
Letkol Moh. Hasjim
Tahun 1972 – 1982
3
Letkol Soewardjo
Tahun 1982 – 1987
4
Soedarno
Tahun 1987 – 1992
5
H. Muslim Haryanto
Tahun 1992 – 1997
6
Kusnadi
Tahun 1997 – 1999
7
HM. Azies
Tahun 1999 – 2004
8
Purwanto
Tahun 2004 - kini
  
Sumber :
1. Arsip Daerah Kabupaten Batang.
2. Buku Sejarah Batang, Suatu Studi Pendahuluan, Tim Penyusun Sejarah 
    Kabupaten Daerah Tingkat II Batang, Tahun 1991.
3. Buku Sejarah Perjuangan Pembentukan Kabupaten Batang, terbitan
    Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Batang, tahun 1991.


Monday, December 31, 2018

Sejarah Indonesia (Sejarah Bangsa Indonesia)

Sejarah Indonesia mencakup suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai semenjak zaman prasejarah menurut inovasi "Manusia Jawa" yang berusia 1,7 juta tahun yang lalu. Periode sejarah Indonesia sanggup dibagi menjadi lima era: Era Prakolonial, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha serta Islam di Jawa dan Sumatera yang terutama mengandalkan perdagangan; Era Kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda) yang menginginkan rempah-rempah mengakibatkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 kurun antara awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20; Era Kemerdekaan Awal, pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) hingga jatuhnya Soekarno (1966); Era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (19661998); serta Era Reformasi yang berlangsung hingga sekarang.

Pra Sejarah
Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya disebut Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat artikel Geologi Indonesia). Kepulauan Indonesia menyerupai yang ada ketika ini terbentuk pada ketika melelehnya es sehabis berakhirnya Zaman Es, sekitar 10.000 tahun yang lalu.
Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang memperlihatkan penghuni awal yakni fosil-fosil Homo erectus manusia Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa "manusia Flores" (Homo floresiensis)[1] di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es terakhir.[2]
Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara semenjak 100.000 tahun yang kemudian melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 60 000 hingga 70 000 tahun yang kemudian telah mencapai Pulau Papua dan Australia.[3] Mereka, yang berfenotipe kulit hitam dan rambut keriting rapat, menjadi nenek moyang penduduk orisinil Melanesia (termasuk Papua) kini dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum tiba secara bergelombang semenjak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan bab dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat semenjak kurun ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktik-praktik megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada kurun pertama SM sudah terbentuk pemukiman-pemukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk efek kepercayaan dari India jawaban korelasi perniagaan.

Sejarah Awal
Para cendekiawan India telah menulis wacana Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau Jawa dan Sumatra sekitar 200 SM. Bukti fisik awal yang menyebutkan mengenai adanya dua kerajaan bercorak Hinduisme pada kurun ke-5, yaitu: Kerajaan Tarumanagara yang menguasai Jawa Barat dan Kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan. Pada tahun 425 agama Buddha telah mencapai wilayah tersebut.
Di ketika Eropa memasuki masa Renaisans, Nusantara telah memiliki warisan peradaban berusia ribuan tahun dengan dua kerajaan besar yaitu Sriwijaya di Sumatra dan Majapahit di Jawa, ditambah dengan puluhan kerajaan kecil yang sering kali menjadi vazal tetangganya yang lebih berpengaruh atau saling terhubung dalam semacam ikatan perdagangan (seperti di Maluku).

Kerajaan Hindu Budha
Pada kurun ke-4 hingga kurun ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda hingga kurun ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai kawasan sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya yakni Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi aturan dan dalam kebudayaan Jawa, menyerupai yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

Kerajaan Islam
Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sesungguhnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada kurun 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat semenjak kurun 7.[4]
Menurut sumber-sumber Cina menjelang tamat perempatan ketiga kurun 7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Islam pun memperlihatkan efek kepada institusi politik yang ada. Hal ini nampak pada Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang berjulukan Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah meminta dikirimkan da'i yang sanggup menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang yakni keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam sangkar binatangnya terdapat seribu gajah, yang di daerahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sesungguhnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang sanggup mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya wacana hukum-hukumnya.” Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama 'Sribuza Islam'. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.[5]
Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam berjulukan Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh lain yakni Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim berjulukan Bayanullah.
Kesultanan Islam kemudian semikin membuatkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada tamat abad ke-16 di Jawa dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap mempertahankan lebih banyak didominasi Hindu. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada kurun ke-16 dan 17, dan ketika ini ada lebih banyak didominasi yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.
Penyebaran Islam dilakukan melalui korelasi perdagangan di luar Nusantara; hal ini, alasannya yakni para penyebar dakwah atau mubaligh merupakan utusan dari pemerintahan Islam yang tiba dari luar Indonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, para mubaligh ini bekerja melalui cara berdagang, para mubaligh inipun membuatkan Islam kepada para pedagang dari penduduk asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya, alasannya yakni umumnya pedagang dan jago kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama gres tersebut. Kerajaan Islam penting termasuk di antaranya: Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Banten yang menjalin korelasi diplomatik dengan negara-negara Eropa, Kerajaan Mataram, Kerajaan Iha, Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku.

Selengkapnya disini