Friday, January 18, 2019

Sejarah Abjad Hieroglif Mesir


Hieroglif Mesir (pengucapan /ˈhaɪərəʊɡlɪf/; dari Yunani ερογλύφος "ukiran suci", dalam Bahasa Inggris hieroglyphic = τ ερογλυφικά [γράμματα]) ialah sistem goresan pena formal yang dipakai masyarakat Mesir kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet. Hieroglif Mesir merupakan salah satu sistem penulisan paling renta yang dikenal manusia. Beberapa dari goresan pena tersebut berasal dari tahun 3000 sebelum masehi dan telah dipakai oleh bangsa Mesir selama lebih dari 3000 tahun. Masyarakat Mesir memakai hieroglif kursif untuk sastra keagamaan pada papirus dan kayu. Adapula variasi formal goresan pena yang lebih kecil, yang disebut hieratik dan demotik, namun secara teknis goresan pena tersebut bukan merupakan hieroglif.

Etimologis
Berdasarkan kamus, arti dari hieroglif ialah goresan pena dan aksara Mesir Kuno, yang terdiri atas 700 gambar dan lambang dalam bentuk manusia, hewan, atau benda; dan lambang goresan pena (menyerupai gambar paku) yang bersifat diam-diam atau teka-teki yang sukar dibaca atau dipahami maknanya. Disebut hieroglif sebab dikala orang Yunani pertama kali melihat goresan pena itu, mereka yakin bahwa goresan pena tersebut merupakan goresan pena pendeta yang mempunyai makna dan tujuan yang suci. Kata hieroglif berasal dari kata sifat bahasa Yunani yaitu ερογλυφικός (hieroglyphikos), adonan dari ερός (hierós ‘keramat’ atau ‘suci’) dan γλύφω (glýphō ‘ukiran’, ‘pahatan’, atau glyphs). Kata glyphs sendiri merujuk pada τ ερογλυφικ γράμματα (tà hieroglyphikà grámmata, ‘kesusastraan ukir pahat’). Kata hieroglyph dalam bahasa Inggris dijadikan kata benda, menggantikan arti kata hieroglif yang sebenarnya. Yang seharusnya mirip dalam kalimat sebelumnya, kata hieroglyphic merupakan sebuah kata sifat, namun sering terjadi kekeliruan dalam penggunaan kata hieroglyph sebagai sebuah kata benda.
Hieroglif sudah muncul dari sebelum kesusastraan tradisi artistik Mesir. Contohnya, simbol pada tembikar Gerzean dari tahun 4000 SM ibarat penulisan hieroglif. Selama beberapa tahun, prasasti hieroglif yang pertama kali diketahui ialah Narmer Palette, ditemukan dalam penggalian di Hierakonpolis (sekarang Kawm al-Ahmar) pada tahun 1890-an, yang diperkirakan tahun 3200 SM. Bagaimanapun, pada tahun 1998, tim arkeologis Jerman di bawah pimpinan Günter Dreyer pada penggalian di Abydos (sekarang Umm el-Qa'ab) menemukan sebuah makam dari seorang penguasa Predynastic, dan menemukan tiga ratus pahatan nama dari tanah liat dengan proto-hieroglyphs, tertanggal pada masa Naqada IIIA dari era ke-33 Sebelum Masehi. Kalimat pertama yang tertulis penuh dengan hieroglif sejauh yang ditemukan ialah kesan segel yang ditemukan di makam Seth-Peribsen yang terletak di Umm el-Qa'ab, tertanggal dari dinasti kedua. Di zaman Kerajaan Tua, Kerajaan Tengah, dan Kerajaan Baru, terdapat sekitar 800 hieroglif.

Saat zaman Greco-Roman, mereka menomori lebih dari 5,000 hieroglif. Pada era keempat, beberapa orang mesir risikonya sanggup membaca hieroglif. Penggunaan hieroglif lalu berhenti sesudah penutupan seluruh gereja non-kristen pada tahun 391 Masehi oleh Kaisar Roman, Theodosius I; yang tertulis dalam prasasti terakhir dari Philae, diketahui sebagai The Graffito of Esmet-Akhom, tahun 396 Masehi. Penemuan hieroglif yang paling menggemparkan dalam sejarah modern ialah inovasi Batu Rosetta pada sekitar tahun 1799. Orang yang mendapat penghargaan dari menafsirkan goresan pena tersebut ialah Jean Francois Champollion. Pada awalnya, orang Mesir memakai bentuk gambar goresan pena yang kasar, mirip yang dipakai oleh suku-suku primitif di seluruh dunia. Hieroglif ialah gambar yang masing-masing mewakili objek alamiah. Matahari digambarkan sebagai piringan, bulan digambarkan dengan bulan sabit, air digambarkan oleh garis gelombang, orang dengan bentuk orang, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, goresan pena gambar ini tidak sanggup mewakili kata-kata atau benda-benda yang tidak sanggup dilihat mata mirip pikiran, cahaya, dan hari. Sehingga hieroglif pun lebih dianggap sebagai simbol inspirasi daripada sebuah gambar objek. Piringan sanggup juga berarti ‘hari’, bukan hanya berarti matahari. Ide-ide ini disebut dengan ‘ideogram’. Perkembangan hieroglif selanjutnya ialah memakai gambar, lebih untuk mewakili suara daripada untuk mewakili objek sesungguhnya. Misalnya, sebuah gambar lebah sanggup bukan berarti serangga, melainkan merujuk pada kata ‘lebah’. Daun sanggup mempunyai arti ‘percaya’ (kita gunakan kata dalam Bahasa Indonesia untuk memudahkan dalam mengatakan bagaimana cara kerjanya). Hieroglif mirip itu, yang dipakai sebagai bunyi, dikenal dengan nama ‘fonogram’. Belakangan, orang Mesir sanggup menulis kata apa saja yang mereka kenal, baik kata itu berarti sesuatu yang sanggup mereka gambarkan atau tidak. Dari fonogram tersebut mereka menyebarkan satu seri tanda, masing-masing mewakili satu huruf. Dalam penulisan, orang Mesir hanya memakai huruf konsonan (huruf mati) saja. Misalnya, kata ‘minum’ hanya akan ditulis ‘mnm’ (tentunya dengan memakai goresan pena Mesir). Orang Mesir juga terus memakai simbol-simbol usang dalam goresan pena mereka mirip ideogram, fonogram, dan picturegram (tulisan gambar) semuanya digabungkan. Seiring berjalannya waktu, goresan pena tersebut menjadisangat rumit sehingga tidak gampang dimengerti oleh orang awam.
Penulisan hieroglif sanggup dimulai dari kanan ke kiri, kiri ke kanan, atau dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, tetapi biasanya dimulai dari kanan ke kiri (seperti dalam penulisan Arab, walaupun dalam penulisan formal zaman kini ini memakai kiri ke kanan).
Hieroglif terdiri dari tiga macam glyph yaitu phonetic glyphs, termasuk karakter satu konsonan yang berfungsi mirip abjad, logographs; dan semagram (simbol semantik yang memilih makna), yang membatasi arti dari logographic atau kata-kata fonetis.

Secara visual, keseluruhan hieroglif kurang lebih bersifat kiasan: mereka merepresentasikan elemen yang aktual ataupun ilusional, terkadang menyesuaikan dengan mode dan disederhanakan, tetapi secara umum benar-benar dikenal dalam tanda. Bagaimanapun, simbol atau tanda yang sama, menurut konteksnya, sanggup diinterpretasikan dalam majemuk cara yaitu sebagai fonogram (phonetic reading), sebagai logogram, atau sebagai ideogram (semagram; determinative, semantic reading).

Kebanyakan simbol atau bentuk hieroglif merupakan fonetis alam, yang berarti bahwa simbol tersebut dibaca dan dibentuk sesuai dengan karakteristik visualnya. Gambar dari mata sanggup menjelaskan kata ‘mata’ itu sendiri dan kata ‘saya’ dalam bahasa Inggris (‘eye’ dan ‘I’). Gambar mata itu disebut dengan fonogram dari kata ‘I’. Bentuk fonogram dengan satu konsonan disebut mono- atau tanda uniliteral; dengan dua konsonan, tanda biliteral; dengan tiga konsonan disebut tanda triliteral. Dua puluh empat tanda uniliteral disebut aksara hieroglif. Penulisan hieroglif Mesir normalnya tidak mengindikasikan huruf vokal mirip A, I, U, E, O.

Penulisan Mesir sering kali pleonastis atau berlebihan. Ini sering kali terjadi dalam sebuah kata yang harus diikuti oleh sejumlah karakter penulisan yang mempunyai kesamaan pengucapan. Contohnya, kata nfr, yang mempunyai arti ‘cantik, baik, sempurna’, ditulis dalam triliteral yang unik.

Bagaimanapun, hal ini sangat biasa ditambahkan dalam triliteral, uniliteral untuk f dan r. Kata tersebut sanggup ditulis sebagai nfr+f+r namun tetap dibaca dengan nfr. Dua karakter aksara ditambahkan demi kejelasan ejaan dari hieroglif triliteral yang terdahulu. Karakter berlebihan yang mengikuti tanda biliteral atau triliteral disebut phonetic complements atau pemanis fonetis. Dapat ditempatkan di depan tanda (jarang), sesudah tanda (seperti ketentuan umumnya), atau bahkan dikeduanya.

Selain interpretasi fonetis, karakter atau simbol-simbol juga sanggup dimaknai dengan membaca, dalam hal ini logogram diucapkan (atau ideogram) dan semagram (sering disebut juga dengan determinative).

Logogram
Hieroglif dipakai sebagai logogram untuk menegaskan suatu objek yang merupakan sebuah gambar. Untuk itu logogram merupakan benda biasa yang sering digunakan. Dalam teori, seluruh hieroglif mempunyai kemampuan untuk dipakai sebagai logogram. Logogram sanggup ditemani dengan pemanis fonetis.

Determinatives atau semagram (simbol semantik yang memilih makna) ditempatkan di final dari sebuah kata. Karakter ini bertujuan untuk mengklarifikasi wacana apakah sebuah kata itu, mirip homofonik glyphs. (anehdidunia)

Sejarah wacana Misteri baca disini

No comments:

Post a Comment