Wednesday, October 31, 2018

Sejarah Surat Lengkap (Sejarah Surat Dunia)

Surat yakni sarana komunikasi untuk memberikan informasi tertulis oleh suatu pihak kepada pihak lain. Fungsinya meliputi lima hal: sarana pemberitahuan, permintaan, buah pikiran, dan gagasan; alat bukti tertulis; alat pengingat; bukti historis; dan anutan kerja. Pada umumnya, diharapkan perangko dan amplop sebagai alat ganti bayar jasa pengiriman. Semakin jauh tujuan pengiriman surat maka nilai yang tercantum di perangko harus semakin besar juga.


Pada awalnya, surat berisikan dokumen-dokumen pemerintah yang biasa dikirimkan dari satu tempat ke tempat lain dengan kuda ataupun kereta kuda. Sistem pengiriman pos di dunia dimulai di Mesir sekitar tahun 2000 SM. Di Mesir, di mana pertukaran kebudayaan dengan Babilonia terjadi, pembungkus surat atau amplop bisa berupa kain, kulit binatang, atau beberapa bab sayuran. Mereka juga membungkus pesan mereka memakai lapisan tipis dari tanah liat yang dibakar. Sedangkan kekaisaran Persia di bawah kekuasaan Cyrus sekitar tahun 600 SM memakai sistem pengiriman pesan yang terintegrasi. Pengendara kuda (Chapar) akan berhenti di titik-titik pos tertentu (Chapar-Khaneh). Di sini, pengendara kuda akan mengganti kudanya dengan yang gres untuk mendapat kecepatan maksimum dalam pengiriman pesan. Sistem ini disebut dengan angariae.


 Surat yakni sarana komunikasi untuk memberikan informasi tertulis oleh suatu pihak kep Sejarah Surat Lengkap (Sejarah Surat Dunia)

Di sisi lain dunia, di Tiongkok, sebuah pelayanan pos sudah dimulai semenjak zaman Dinasti Chou pada 1122-1121 SM. Seperti di Persia, surat yang dikirimkan biasanya berisikan mengenai dokumen pemerintah. Sistem pengirimannya terdiri atas beberapa orang yang bergantian memberikan pesan tiap radius sembilan mil atau empat belas koma lima kilometer. Sistem ini semakin berkembang dengan jangkauan yang lebih luas pada masa pemerintahan Dinasti Han pada tahun 202 SM sampai tahun 220 ketika Tiongkok bekerjasama dengan Romawi dan sistem pelayanan pos mereka.

Perkembangan pertumbuhan dan kestabilan politik di bawah kekuasaan Kekaisaran Mauryan (322-185 SM) memberikan perkembangan infrastruktur di India Kuno. Kaum Mauryan mendirikan sistem pengiriman pesan, pendirian sumur umum, rumah peristirahatan, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Pengiriman pesan dilakukan memakai kereta terbuka yang ditarik kuda yang disebut dengan Dagana. Selain itu, pada masa ini para penguasa juga melindungi tanah-tanah yang mereka punya dengan mengirimkan pesan kepada polisi atau biro militer tempat mereka berada dalam arus komunikasi ibarat melalui pembawa pesan dan merpati pos. Terkadang masyarakat awam juga mengirimkan surat kepada kerabatnya yang tinggal berjauhan.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com/search?q=sejarah-surat-lengkap-sejarah-surat-dunia-lengkap
Kerajaan Romawi sendiri memebangun sistem pelayanan pos paling canggih pada tahun 14 yang bersaing dengan China oleh Kaisar Augustus. Jangkauan sistem pelayanan pos ini meliputi seluruh dataran Mediterania alasannya adanya kebutuhan penyampaian pesan dari pemerintah Romawi dan militer antar provinsi. Kebutuhan ini memunculkan pembangunan jalan pos dengan beberapa stasiun untuk pergantian pengantar pengirim pesan setiap seratus tujuh puluh mil atau dua ratus tujuh puluh kilometer dalam periode waktu dua puluh empat jam. Akan tetapi pada balasannya sistem ini tidak bisa bertahan alasannya adanya ketidakseimbangan antara jumlah surat yang dikirim dan waktu yang diharapkan untuk pengiriman surat tersebut pada kala sembilan di Eropa.


Renaisans sampai dikala ini
Walaupun kerajaan-kerajaan di Barat mulai hancur, tidak berarti sistem pelayanan pos juga hilang begitu saja. Sistem ini dipertahankan setidaknya sampai kala ke sembilan sebelum balasannya terpecah-pecah dan tidak dipakai lagi; berbeda dengan di Timur di Kekaisaran Bizantium di mana sistem tersebut bertahan lebih usang alasannya adanya perembesan sistem tersebut oleh kerajaan Islam di Baghdad.

Dengan perkembangan bisnis internasional yang semakin meluas, ada tuntutan seputar korespondensi bisnis. Perusahaan-perusahaan mulai membangun pelayanan pos milik mereka sendiri. Hingga kala 13 , hubungan antara pusat-pusat komersial bisnis Florence, Genoa, dan Siena telah berjalan dengan sentra komersial bisnis di Prancis Utara. Hal ini menarik minat para pedagang di Eropa sehingga mereka memistiskan untuk menyediakan jalur internasioanl untuk isu dan bisnis. Pada dikala itu pula sudah terdapat pelayanan pos antara Venesia dengan Konstantinopel, sentra kerajaan Islam pada dikala itu.

Akan tetapi, dengan menguatnya negara-bangsa di Eropa, muncul lah tuntuan mengenai hak privasi atas surat yang dikirimkan. Usulan ini ditentang oleh pemerintah, di Prancis khususnya oleh France Louis XI di mana ia membuat Royal Postal Service. Di sisi lain, pemerintah Inggris, Henry VIII membangun pelayanan reguler menuju London. Sayangnya kedua sistem tersebut bukanlah untuk umum, tetapi untuk orang-orang pemerintahan. Surat-surat langsung belum diakui sampai balasannya pada tahun 1627 di Prancis diizinkan adanya pengiriman surat pribadi. Akhirnya pada 1680, William Dockwra membuka pelayanan pos privat yang memakai metode prabayar. Surat yang akan dikirimkan akan di cap untuk menujukan kapan dan kemana surat-surat tersebut ditujukan.

Saat ini kemajuan sistem pengiriman surat juga dipengaruhi oleh teknologi yang berkembang dikala ini; contohnya surat udara ataupun surat elektronik. Surat udara pertama berasal dari Paris pada September 1870 yang mengangkut lima ratus pounds surat dari atas balon udara. Sedangkan surat elektronik pertama ditemukan pada 1970 oleh Ray Tomlinson.


Perposan di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Kerajaan Majapahit , Sriwijaya, dan Tarumanegara dalam bentuk tertulis atau surat menyurat. Huruf yang dipakai yakni huruf Palawa yang menjadi abjad Jawa di kemudian hari. Surat-surat beredar di kalangan biarawan dan aristokrat seiring dengan masuknya Hindu dan Buddha di Indonesia. Pada waktu itu surat dibentuk mengunakan batu, kayu, maupun kertas. Kertas di sini merujuk kepada bahan-bahan ibarat kulit bambu yang diiris tipis-tipis dan memakai daun lontar.

Lalu, kedatangan Belanda di Indonesia juga turut memengaruhi perkembangan surat-menyurat di Indonesia. Pada tahun 1596, Datanglah Cornelis de Houtman yang membawa surat bagi raja-raja di Jakarta dan Banten. Pada waktu itu, surat yang beredar hanya ditujukan bagi pejabat resmi dan tidak mengandung pemberitaan wacana kompeni di Indonesia. Selain itu, pada dikala itu pula, layanan pos walaupun sudah cukup maju, masih belum mencapai tahap teratur; masih tergantung pada kapal kompeni yang berlayar dari pulau ke pulau. Akhirnya, pada 26 Agustus 1746 dibangunlah kantor pos resmi pertama di Jakarta oleh Gubernur Jenderal G.W. Baron van Inhoff. Tujuan dibangunnya kantor pos ini untuk memfasilitasi dan menjamin keamaaan suarat-surat yang dikirim khususnya bagi mereka yang di luar Pulau Jawa.

Pada masa pemerintahan Daendels dibangun jalan raya pos Anyer-Panarukan pada 1809 yang diselesaikan dalam satu tahun. Jalan ini terbetang sepanjang pantai utara Jawa Barat sampai Jawa Timur . Pembangunan ini terinspirasi dengan pembangunan jalan pos di Kekaisaran Romawi dengan nama Cursus Publicus. Dalam perjalanannya, terjadi aneka macam perkembangan-perkembangan kecil ibarat adanya tarif untuk pos yang melintasi laut. Pada masa pemerintahan Jepang, sempat dikenal pula Dinas Tabungan Pos untuk pengerahan uang bagi keperluan militer Jepang.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com/search?q=sejarah-surat-lengkap-sejarah-surat-dunia-lengkap

Setelah merdeka, terjadi pengambilalihan Jawatan Pos Telegraf dan Telpon (PTT) dari tangan jepang sampai balasannya pada 27 Desember 1945 berhasil dikuasai. Hari itu kemudian diperingati sebagai Hari Bakti Postel. Sejak dikala itu, banyak terjadi perombakan sistem pos yang ada, termasuk perluasan-perluasan wilayah meliputi daearah-daerah yang sulit dijangkau.

Sumber : Wikipedia

Tuesday, October 30, 2018

Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)

Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan banyak sekali kerajaan pecahannya dan yang menerima pengaruhnya. Penanggalan ini mempunyai keistimewaan lantaran memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang merupakan potongan budaya Barat.

Sistem kalender Jawa menggunakan dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad hingga Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi (1547 Saka), Sultan Agung dari Mataram berusaha keras menanamkan agama Islam di Jawa. Salah satu upayanya yakni mengeluarkan dekret yang mengganti penanggalan Saka yang berbasis perputaran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar (berbasis perputaran bulan). Uniknya, angka tahun Saka tetap digunakan dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriyah (saat itu 1035 H). Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun ketika itu yang yakni tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)

Dekret Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan imbas budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini.

Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan nama-nama Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta menyerupai Pasa, Sela dan kemungkinan juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini yakni nama bulan kamariah atau candra (lunar). Penamaan bulan sebagian berkaitan dengan hari-hari besar yang ada dalam bulan hijriah, contohnya Pasa berkaitan dengan puasa Ramadhan, Mulud berkaitan dengan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal, dan Ruwah berkaitan dengan Nisfu Sya'ban di mana dianggap amalan dari ruh selama setahun dicatat.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Daftar bulan Jawa Islam

Nama-nama bulan tersebut yakni sebagai berikut :
# Warana • Sura, artinya rijal
# Wadana • Sapar, artinya wiwit
# Wijangga • Mulud, artinya kanda
# Wiyana • Bakda Mulud, artinya ambuka
# Widada •Jumadi Awal, artinya wiwara
# Widarpa • Jumadi Akhir, artinya rahsa
# Wilapa • Rejep, artiya purwa
# Wahana • Ruwah, artinya dumadi
# Wanana • Pasa, artinya madya
# Wurana • Sawal, artinya wujud
# Wujana • Sela, artinya wusana
# Wujala • Besar, artinya kosong

Keterangan :
Nama alternatif bulan Dulkangidah yakni Sela atau Apit. Nama-nama ini merupakan peninggalan nama-nama Jawa Kuno untuk nama isu terkini ke-11 yang disebut sebagai Hapit Lemah. Sela berarti kerikil yang bekerjasama dengan lemah yang artinya yakni “tanah”. Lihat juga di bawah ini.

Pada tahun 1856 Masehi, lantaran penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka bulan-bulan isu terkini atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa, dikodifikasikan oleh Sunan Pakubuwana VII atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Sebenarnya pranata mangsa ini yakni pembagian bulan yang sudah digunakan pada zaman pra-Islam, hanya saja diubahsuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya, dan meninggalkan tarikh Hindu; jadinya umur setiap mangsa berbeda-beda.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Daftar bulan Jawa matahari

Keterangan :
Dalam bahasa Jawa Kuno mangsa kesebelas disebut hapit lemah sedangkan mangsa keduabelas disebut sebagai hapit kayu. Lalu nama dhesta diambil dari nama bulan ke-11 penanggalan Hindu dari bahasa Sanskerta jyes.t.ha dan nama sadha diambil dari kata âs.âd.ha yang merupakan bulan keduabelas.

Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi satu, yang terdiri dari delapan tahun Jawa. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. Windu sendiri bergulir empat putaran (32 tahun Jawa) : Adi, Kuntara, Sangara, dan Sancaya. Di bawah disajikan nama-nama tahun dalam satu windu

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Siklus windu

Jumlah 2835 hari genap dibagi 35 /selapan (hari pasaran)

Nama-nama tahun tersebut yakni sebagai berikut :
↷  Purwana • Alip, artinya ada-ada (mulai berniat)
↷  Karyana • Ehe, artinya tumandang (melakukan)
↷  Anama • Jemawal, artinya gawe (pekerjaan)
↷  Lalana • Je, artinya lelakon (proses, nasib)
↷  Ngawana • Dal, artinya urip (hidup)
↷  Pawaka • Be, artinya bola-bali (selalu kembali)
↷  Wasana • Wawu, artinya marang (kearah)
↷  Swasana • Jimakir, artinya suwung (kosong)

Simbol siklus pasaran dalam kalender jawa

Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja, namun dari 2 hingga 10 hari. Pekan-pekan ini disebut dengan nama-nama dwiwara, triwara, caturwara, pañcawara (pancawara), sadwara, saptawara, astawara dan sangawara. Zaman kini hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai, namun di pulau Bali dan di Tengger, pekan-pekan yang lain ini masih dipakai.

Pekan yang terdiri atas tujuh hari dihubungkan dengan sistem bulan-bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi berikut yakni nama dari ke tujuh nama hari tersebut :
↷  Radite • Minggu, melambangkan meneng (diam)
↷  Soma • Senen, melambangkan maju
↷  Hanggara • Selasa, melambangkan mundur
↷  Budha • Rabu, melambangkan mangiwa (bergerak ke kiri)
↷  Respati • Kamis, melambangkan manengen (bergerak ke kanan)
↷  Sukra • Jumat, melambangkan munggah (naik ke atas)
↷  Tumpak • Sabtu, melambangkan temurun (bergerak turun)

Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari:
↷  Legi
↷  Pahing
↷  Pon
↷  Wage
↷  Kliwon

Hari-hari pasaran merupakan posisi sikap (patrap) dari bulan sebagai berikut :
↷  Kliwon • Asih, melambangkan jumeneng (berdiri)
↷  Legi • Manis, melambangkan mungkur (berbalik arah kebelakang)
↷  Pahing • Pahit, melambangkan madep (menghadap)
↷  Pon • Petak, melambangkan sare (tidur)
↷  Wage • Cemeng, melambangkan lenggah (duduk)

Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini, yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya, mempunyai sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan sesudah 30 wuku maka muncul siklus gres lagi. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari yakni semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7, 6 dan 5 hari berpapasan.

Penampakan bulan dalam penanggalan jawa :
Tanggal 1 bulan Jawa, bulan kelihatan sangat kecil-hanya menyerupai garis, ini dimaknakan dengan seorang bayi yang gres lahir, yang lama-kelamaan menjadi lebih besar dan lebih terang.

Tanggal 14 bulan Jawa dinamakan purnama sidhi, bulan penuh melambangkan cukup umur yang telah bersuami istri.

Tanggal 15 bulan Jawa dinamakan purnama, bulan masih penuh tetapi sudah ada tanda ukuran dan cahayanya sedikit berkurang.

Tanggal 20 bulan Jawa dinamakan panglong, orang sudah mulai kehilangan daya ingatannya.

Tanggal 25 bulan Jawa dinamakan sumurup, orang sudah mulai diurus hidupnya oleh orang lain kembali menyerupai bayi layaknya.

Tanggal 26 bulan Jawa dinamakan manjing, di mana hidup insan kembali ketempat asalnya menjadi rijal lagi.

Sisa hari sebanyak empat atau lima hari melambangkan ketika di mana rijal akan mulai dilahirkan kembali kekehidupan dunia yang baru.


Referensi :
  • Pigeaud, Th., 1938, Javaans-Nederlands Woordenboek. Groningen-Batavia: J.B. Wolters
  • Ricklefs, M.C., 1978, Modern Javanese historical tradition: a study of an original Kartasura chronicle and related materials. London: School of Oriental and African Studies, University of London
Sumber : wikipedia



Kalender Tengger merupakan turunan Kalender Hindu yang digunakan oleh Suku Tengger di daerah Jawa Timur. Karena itu Kalender Tengger termasuk dalam kalender bulan-matahari dimana satu bulan sama dengan satu bulan sinodis (29 hari matahari 12 jam 44 menit 2,87 detik pada 1 Januari 2000 M) dan satu tahun sama dengan satu tahun tropis (365 hari matahari 5 jam 48 menit 45.19 detik pada 1 Januari 2000 M). Tetapi walaupun Kalender Hindu merupakan kalender astronomis yang berdasarkan pengamatan langit, Kalender Tengger merupakan kalender matematis yang berdasarkan perhitungan angka.


Hari
Sebagaimana kalender tradisional Indonesia (e.g. Kalender Jawa Kuno, Kalender Jawa, & Kalender Bali), ada beberapa jenis pekan yang digunakan dalam Kalender Tengger. Pancawara / pasaran (lima hari dalam satu pekan) terdiri dari : Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis. Sadwara / paringkelan (enam hari dalam satu pekan) terdiri dari : Aryang, Wurukung, Paniron, Uwas, Mawulu, dan Tungle. Saptawara / padinan (tujuh hari dalam satu pekan) terdiri dari : Dite, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, dan Tumpek. Hastawara / paguron (delapan hari dalam satu pekan) terdiri dari : Sri, Indra, Guru, Soma, Rudra, Brama, Kala, dan Uma. Nawawara / padangon (sembilan hari dalam satu pekan) terdiri dari : Dangu, Janggur, Gigis, Kerangan, Nohan, Kawokan, Wurungan, Tulus, dan Dadi.

Wuku
Sebagaimana kalender tradisional di Pulau Jawa dan Pulau Bali, Kalender Tengger juga menggunakan faktor wuku dalam pencatatan waktu yang merupakan kombinasi dari pasaran, paringkelan, dan padinan. Nama, urutan, dan sistemnya sama dengan wuku pada kalender lain tersebut.

Tanggal
Di antara pengguna Kalender Tengger ada dua cara untuk menghitung tanggal dalam satu bulan. Cara pertama yakni dengan mengikuti metode Kalender Hindu yang memilih ada 30 tithi dalam satu bulan. Satu tithi sama dengan satu hari bulan (23 jam 37 menit 28 detik), yaitu satu bulan sinodis (29 hari matahari 12 jam 44 menit 2,87 detik) dibagi 30 hari bulan. Selisih 22 menit 32 detik antara satu hari bulan (23 jam 37 menit 28 detik) dengan satu hari matahari (24 jam 00 menit 00 detik) akan terkumpul menjadi satu hari matahari setiap 64 hari bulan atau 63 hari matahari. Untuk mengatasi hal ini maka setiap 63 hari matahari (atau sembilan pekan atau sembilan wuku) ada satu tanggal yang dilewati. Hari dengan dua tanggal ini disebut dengan istilah mecak. Cara kedua yakni dengan mengikuti metode Kalender Islam yang memilih ada 29 hari dalam bulan Kasa, ada 30 hari dalam bulan Karo, dan demikian seterusnya bergantian hingga ada 30 hari dalam bulan Sadha. Dengan kedua cara tersebut maka Kalender Tengger sanggup menjaga biar setiap tanggal 1 yakni fase bulan gres dan setiap tanggal 15 yakni fase bulan purnama. Tanggal 1 – tanggal 15 disebut sebagai penanggal 1 – penanggal 15, yaitu paruh bulan jelas (suklapaksa). Sedangkan tanggal 16 – tanggal 30 disebut sebagai panglong 1 – panglong 15, yaitu paruh bulan gelap (krsnapaksa).

Bulan
Ada 12 bulan dalam satu tahun, yaitu berurutan : Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasadasa, Dhesta, dan Sadha.

Tahun
Tiap tahun mempunyai nama sebagaimana hari pasaran : Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis. Selain itu, Kalender Tengger mempunyai siklus windu. Windu yang dimaksud bukan sama dengan delapan tahun melainkan delapan siklus wuku (8 x 210 hari) atau lima tahun. Setiap satu windu sekali yaitu setiap Tahun Manis, ada satu bulan yang digandakan sehingga satu tahun terdiri dari 13 bulan (tahun landhung / tahun kabisat). Bulan ganda ini dimaksudkan untuk menjaga biar Kalender Tengger tetap sesuai dengan kalender matahari. Adapun bulan yang digandakan yakni bulan Karo, Kalima, Dhesta dan selanjutnya setiap windu berulang lagi dengan urutan sama. Masyarakat Tengger mempunyai istilah tersendiri untuk menyebut bulan ganda : Kalau bulan Karo yang digandakan, maka bulan Karo yang pertama disebut sebagai bulan Kasa. Kalau bulan Kalima yang digandakan, maka bulan Kalima yang pertama disebut sebagai bulan Kapat. Kalau bulan Dhesta yang digandakan, maka bulan Dhesta yang pertama disebut sebagai bulan Kasadasa. Pada Tahun Manis / tahun kabisat inilah diselenggarakan upacara unan-unan yang bermaksud untuk kembali menyelaraskan alam lantaran adanya bulan yang dihapus (Kasa, Kapat, atau Kasadasa).

Tarikh
Sebagaimana umumnya Kalender Hindu dan kalender-kalender turunannya di Indonesia, maka Kalender Tengger juga menggunakan Tarikh Saka yang dimulai pada titik balik isu terkini semi tahun 78 M. Walaupun demikian dalam praktiknya terdapat dua jenis tarikh berbeda dengan selisih tiga tahun, yaitu : Tarikh Malang dan Tarikh Pasuruan. Misalnya untuk tanggal 2 Oktober 1867 M berdasarkan orang Tengger di Malang yakni tanggal 1 Kasa 1793 S sedangkan berdasarkan orang Tengger di Pasuruan yakni tanggal 1 Kasa 1796 S.


Referensi :
  • Ian Proudfoot; Reconstructing the Tengger Calendar. in : Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI) 163 – 1 (2007) : 123-133.
  • Molen, Willem van der; 1983, Javaanse Tekstkritiek : Een overzicht en een nieuwe benadering geillustreerd aan de Kunjarakarna. KITLV. Leiden.
  • Molen, Willem van der & Wiryamartana, Ignatius Kuntara; The Merapi – Merbabu Manuscripts : A Neglected Collection. in : Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Old Javanese texts and culture 157 (2001), no. : 1, Leiden, 51-64.
Sumber : wikipedia



Kalender Bali yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. Kalender Bali bisa dianggap istimewa lantaran kalender Saka Bali yakni penanggalan "konvensi". Tidak mutlak astronomis menyerupai kalender Hijriyah, namun tidak pula menyerupai kalender Jawa, tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya.

Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India, namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi embel-embel elemen-elemen lokal.

Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar. Kaprikornus penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Dikatakan konvensi atau kompromistis, lantaran sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya.

Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. Hari ini dinamakan pangunalatri. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmetika. Derajat ketelitiannya cukup bagus, hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Nama-nama Bulan Kalender Bali

Panjang bulan
Dalam 1 bulan candra atau sasih, disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa, diikuti dengan 15 hari menjelang bulan gres (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa. Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru, hingga 15 yaitu purnama, menggunakan warna merah pada kalender cetakan. Setelah purnama, kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari sesudah purnama hingga 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. Dalam perhitungan matematis, untuk membedakan warna, sering digunakan titi. Titi yakni angka urut dari 1 yaitu bulan baru, hingga 30 pada bulan mati. Angka 1 hingga 15 mewakili angka merah atau penanggal, 16 hingga 30 mewakili angka 1 hingga 15 angka berwarna hitam atau panglong.

Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang sasih (bulan candra). Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra. Untuk menyelaraskan itu, setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu bulan candra embel-embel yang merupakan bulan kabisat. Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. Inilah tantangan bagi dunia aritmetika. Idealnya awal tahun surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu), sehingga tahun gres Saka Bali (hari raya Nyepi) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret hingga paruh-awal bulan April.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Daftar Bulan Bali Matahari

Tahun Baru
Tahun gres bagi Kalender Saka Bali, diperingati sebagai hari raya Nyepi, bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa), tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa). Idealnya pada penanggal 1, yaitu 1 hari sesudah bulan mati (tilem). Pada tahun 1993, Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2, diundur 1 hari, lantaran penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga. Sekali lagi kompromi diharapkan dalam perhitungan ini.

Sejak hari raya Nyepi, angka tahun Saka bertambah 1 tahun. Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78. Dengan demikian sasih- sasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi, lantaran angka tahun sasih Kasanga satu tahun di belakang angka tahun sasih Kedasa, dan angka tahun dari sasih terakhir, Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa).

sumber : wikipedia

Kalender Saka yakni sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi.

Sebuah tahun Saka dibagi menjadi dua belas bulan. Berikut nama bulan-bulan tersebut:
 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)


Di India satu tahun dibagi menjadi enam musim, atau dengan kata lain setiap isu terkini berlangsung dua bulan. Berikut nama-nama musim
- Warsa, isu terkini hujan bertepatan dengan Srawana dan Bhadrawada.
- Sarat, isu terkini rontok, dan seterusnya.
- Hemanta, isu terkini dingin
- Sisira, isu terkini sejuk kabut
- Basanta, isu terkini semi
- Grisma, isu terkini panas

Berhubung bulan-bulan dalam kalender Saka hanya terdiri dari 30 hari, maka tahun gres harus diubahsuaikan setiap tahunnya untuk mengiringi daur perputaran matahari.
Sejarah Kalender Saka

Kalender Saka berawal pada tahun 78 Masehi dan juga disebut sebagai penanggalan Saliwahana (Sâlivâhana). Kala itu Saliwahana yang yakni seorang raja ternama dari India potongan selatan, mengalahkan kaum Saka. Tetapi sumber lain menyebutkan bahwa mereka dikalahkan oleh Wikramaditya (Vikramâditya). Wikramaditya yakni seorang musuh atau tentangan Saliwahana, ia berasal dari India potongan utara.

Mengenai kaum Saka ada yang menyebut bahwa mereka termasuk sukabangsa turuki atau Tatar. Namun ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebut bahwa mereka bahwasanya orang Yunani (dalam bahasa Sanskerta disebut Yavana yang berkuasa di Baktria (sekarang Afganistan).
Kalender Saka di Indonesia

Sebelum masuknya agama Islam, para sukubangsa di Nusantara potongan barat yang terkena imbas agama Hindu, menggunakan kalender Saka. Namun kalender Saka yang dipergunakan dimodifikasi oleh beberapa sukubangsa, terutama suku Jawa dan Bali. Di Jawa dan Bali kalender Saka ditambahi dengan cara penanggalan lokal. Setelah agama Islam masuk, di Mataram, oleh Sultan Agung diperkenalkan kalender Jawa Islam yang merupakan perpaduan antara kalender Islam dan kalender Saka. Di Bali kalender Saka yang telah ditambahi dengan unsur-unsur lokal digunakan hingga sekarang, begitu pula di beberapa daerah di Jawa, menyerupai di Tengger yang banyak penganut agama Hindu.

Daftar Pustaka :
  • Dowson, John, 1992, A Classical Dictionary of Hindu Mythology and Religion. New Delhi: Heritage Publishers.
  • Ricklefs, M.C., 1978, Modern Javanese historical tradition: a study of an original Kartasura chronicle and related materials. London: School of Oriental and African Studies, University of London.
  • Zoetmulder, P.J., 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
  • Zoetmulder, P.J., 1995, Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Bekerja sama dengan S.O. Robson. Penerjemah Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumber : wikipedia



Pranata mangsa (bahasa Jawa: ???????????, pranåtåmångså, berarti "ketentuan musim") yakni semacam penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan perjuangan pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata mangsa berbasis peredaran matahari dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari) serta memuat banyak sekali aspek fenologi dan tanda-tanda alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai aliran dalam kegiatan perjuangan tani maupun persiapan diri menghadapi peristiwa (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu.

Penanggalan menyerupai ini juga dikenal oleh suku-suku bangsa lainnya di Indonesia, menyerupai etnik Sunda dan etnik Bali (di Bali dikenal sebagai Kerta Masa). Beberapa tradisi Eropa mengenal pula penanggalan pertanian yang serupa, menyerupai contohnya pada etnik Jerman yang mengenal Bauernkalendar atau "penanggalan untuk petani". sebagai keperluan penelitian dan menandai pada tahun sebuah mangsa menggunakan angka tahun yang dimulai semenjak 560 SM diambil dari Kelahiran Sang Budha sebagai penghormatan bagi agama yang pernah berkembang luas di nusantara, sehingga pada tanggal 30 Januari 2015 M yakni 39 Kapitu 2575 Mangsa.


Pranata mangsa dalam versi pengetahuan yang dipegang petani atau nelayan diwariskan secara oral (dari ekspresi ke mulut). Selain itu, ia bersifat lokal dan temporal (dibatasi oleh tempat dan waktu) sehingga suatu perincian yang dibentuk untuk suatu tempat tidak sepenuhnya berlaku untuk tempat lain. Petani, umpamanya, menggunakan aliran pranata mangsa untuk memilih awal masa tanam. Nelayan menggunakannya sebagai aliran untuk melaut atau memprediksi jenis tangkapan. Selain itu, pada beberapa bagian, sejumlah keadaan yang dideskripsikan dalam pranata mangsa pada masa kini kurang sanggup dipercaya seiring dengan perkembangan teknologi.

Pranata mangsa dalam versi Kasunanan (sebagaimana dipertelakan pada potongan ini) berlaku untuk wilayah di antara Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Setahun berdasarkan penanggalan ini dibagi menjadi empat isu terkini (mangsa) utama, yaitu isu terkini kemarau atau ketigå (88 hari), isu terkini pancaroba menjelang hujan atau labuh (95 hari), isu terkini hujan atau dalam bahasa Jawa disebut rendheng (baca [r?ndh?? ], 95 hari) , dan pancaroba final isu terkini hujan atau marèng (IPA:[mar??], 86 hari) .

Musim sanggup dikaitkan pula dengan sikap hewan, perkembangan tumbuhan, situasi alam sekitar, dan dalam praktik amat berkaitan dengan kultur agraris. Berdasarkan ciri-ciri ini setahun juga sanggup dibagi menjadi empat isu terkini utama dan dua isu terkini "kecil": jelas ("langit cerah", 82 hari), semplah ("penderitaan", 99 hari) dengan mangsa kecil paceklik pada 23 hari pertama, udan ("musim hujan", 86 hari), dan pangarep-arep ("penuh harap", 98/99 hari) dengan mangsa kecil panèn pada 23 hari terakhir.

Dalam pembagian yang lebih rinci, setahun dibagi menjadi 12 isu terkini (mangsa) yang rentang waktunya lebih singkat namun dengan jangka waktu bervariasi. Tabel berikut ini menawarkan pembagian formal berdasarkan versi Kasunanan. Perlu diingat bahwa tuntunan ini berlaku di ketika penanaman padi sawah hanya dimungkinkan sekali dalam setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo, dan kemudian lahan bera (tidak ditanam).

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Pranata Mangsa Lengkap


Bentuk formal pranata mangsa diperkenalkan pada masa Sunan Pakubuwana VII (raja Surakarta) dan mulai digunakan semenjak 22 Juni 1856, dimaksudkan sebagai aliran bagi para petani pada masa itu. Perlu disadari bahwa penanaman padi pada waktu itu hanya berlangsung sekali setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo. Selain itu, pranata mangsa pada masa itu dimaksudkan sebagai petunjuk bagi pihak-pihak terkait untuk mempersiapkan diri menghadapi peristiwa alam, mengingat teknologi prakiraan cuaca belum dikenal. Pranata mangsa dalam bentuk "kumpulan pengetahuan" lisan tersebut hingga kini masih diterapkan oleh sekelompok orang dan sedikit banyak merupakan pengamatan terhadap gejala-gejala alam.

Terdapat petunjuk bahwa masyarakat Jawa, khususnya yang bermukim di wilayah sekitar Gunung Merapi, Gunung Merbabu, hingga Gunung Lawu, telah mengenal prinsip-prinsip pranata mangsa jauh sebelum kedatangan imbas dari India. Prinsip-prinsip ini berbasis peredaran matahari di langit dan peredaran rasi bintang Waluku (Orion). Di wilayah dengan tipe iklim Am berdasarkan Koeppen ini, penduduknya menerapkan penanggalan berbasis peredaran matahari dan rasi bintang sebagai potongan dari keselarasan hidup mengikuti perubahan irama alam dalam setahun. Pengetahuan ini sanggup diperkirakan telah diwariskan secara bebuyutan semenjak periode Kerajaan Medang (Mataram Hindu) dari era ke-9 hingga dengan periode Kesultanan Mataram pada era ke-17 sebagai panduan dalam bidang pertanian, ekonomi, administrasi, dan pertahanan (kemiliteran).

Perubahan teknologi yang diterapkan di Jawa semenjak 1970-an, berupa paket intensifikasi pertanian menyerupai penggunaan pupuk kimia, kultivar berumur genjah (dapat dipanen pada umur 120 hari atau kurang, sebelumnya memakan waktu hingga 180 hari), meluasnya jaringan irigasi melalui banyak sekali bendungan atau bendung, dan terutama berkembang pesatnya teknik prakiraan cuaca telah menimbulkan pranata mangsa (dalam bentuk formal versi Kasunanan) kehilangan banyak relevansi. Isu perubahan iklim global yang semakin menguat semenjak 1990-an juga menciptakan pranata mangsa harus ditinjau kembali lantaran dianggap "tidak lagi sanggup dibaca".

Pranata mangsa mempunyai latar belakang kosmografi ("pengukuran posisi benda langit"), pengetahuan yang telah dikuasai oleh orang Austronesia sebagai aliran untuk navigasi di maritim serta banyak sekali kegiatan ritual kebudayaan. Karena peredaran matahari dalam setahun menimbulkan perubahan musim, pranata mangsa juga mempunyai sejumlah penciri klimatologis.

Awal mangsa kasa (pertama) yakni 22 Juni, yaitu ketika posisi matahari di langit berada pada Garis Balik Utara, sehingga bagi petani di wilayah di antara Merapi dan Lawu ketika itu yakni ketika bayangan terpanjang (empat pecak/kaki ke arah selatan). Pada ketika yang sama, rasi bintang Waluku terbit pada waktu subuh (menjelang fajar). Dari sinilah keluar nama "waluku", lantaran kemunculan rasi Orion pada waktu subuh menjadi menunjukan bagi petani untuk mengolah sawah/lahan menggunakan bajak (bahasa Jawa: waluku).

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)


Panjang rentang waktu yang berbeda-beda di antara keempat mangsa pertama (dan empat mangsa terakhir, lantaran simetris) ditentukan dari perubahan panjang bayangan. Mangsa pertama berakhir di ketika bayangan menjadi tiga pecak, dan mangsa karo (kedua) dimulai. Demikian selanjutnya, hingga mangsa keempat berakhir di ketika bayangan sempurna berada di kaki, di ketika posisi matahari berada pada zenit untuk daerah yang disebutkan sebelumnya (antara Merapi dan Lawu). Pergerakan garis edar matahari ke selatan menimbulkan pemanjangan bayangan ke utara dan mencapai maksimum sepanjang dua pecak di ketika posisi matahari berada pada Garis Balik Selatan (21/22 Desember), dan menandai berakhirnya mangsa kanem (ke-6). Selanjutnya proses berulang secara simetris untuk mangsa ke-7 hingga ke-12. Sebuah jam matahari di Gresik yang dibentuk pada tahun 1776 secara eksplisit menawarkan hal ini.Mangsa ke-7 ditandai dengan terbenamnya rasi Waluku pada waktu subuh. Beberapa rasi bintang, bintang, atau galaksi yang dijadikan rujukan bagi pranata mangsa yakni Waluku, Lumbung (Gubukpèncèng, Crux), Banyakangrem (Scorpius), Wuluh (Pleiades), Wulanjarngirim (alpha- dan beta-Centauri), serta Bimasakti.

Batas-batas eksak tanggal pada pranata mangsa versi Kasunanan merupakan modifikasi kecil terhadap pranata mangsa yang sudah dikenal sebelumnya yang didasarkan pada posisi benda-benda langit.

Secara klimatologi, pranata mangsa mengumpulkan isu mengenai perubahan isu terkini serta saat-saatnya yang berlaku untuk wilayah Nusantara yang dipengaruhi oleh angin muson, yang pada gilirannya juga dikendalikan arahnya oleh peredaran matahari. Awal isu terkini penghujan dan kemarau serta banyak sekali menunjukan fisiknya yang digambarkan pranata mangsa secara umum sejajar dengan hasil pengamatan klimatologi. Kelemahan pada pranata mangsa yakni bahwa ia tidak menggambarkan variasi yang mungkin muncul pada tahun-tahun tertentu (misalnya akhir munculnya tanda-tanda ENSO). Selain itu, terdapat sejumlah ketentuan pada pranata mangsa yang lebih banyak terkait dengan aspek horoskop, sehingga cenderung tidak logis.


Karena pranata mangsa dianggap sudah "usang" namun tetap dianggap penting sebagai aliran bagi petani/nelayan mengingat fungsinya sebagai penghubung petani/nelayan dengan lingkungan, upaya-upaya dilakukan untuk memodifikasi pranata mangsa dengan memanfaatkan informasi-informasi baru. Di bidang penangkapan ikan telah dilakukan upaya untuk menggunakan kalender semacam pranata mangsa sebagai aliran bagi nelayan dalam melaksanakan penangkapan ikan. Informasi ini berguna, misalnya, untuk memilih kelaikan penangkapan serta musim-musim jenis tangkapan.

Di bidang pertanian tumbuhan pangan, telah dikembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk meningkatkan kemampuan petani dalam memahami banyak sekali aspek prakiraan cuaca dan hubungannya dengan perjuangan tani. Kegiatan SLI dimaksudkan untuk menciptakan petani bisa "menerjemahkan" isu prakiraan cuaca yang sering kali sangat teknis, sekaligus menciptakan petani bisa mengadaptasikannya dengan kearifan lokal yang telah lama dimiliki. Dalam kaitan dengan SLI, pranata mangsa menjadi rujukan untuk banyak sekali tanda-tanda alam yang diperkirakan muncul sebagai jawaban atas kondisi cuaca/perubahan iklim. Pranata mangsa masih tetap sanggup mendapatkan amanah dalam kaitan dengan pengamatan atas tanda-tanda alam. Kemampuan membaca tanda-tanda alam ini penting lantaran petani perlu menyesuaikan diri apabila terjadi perubahan dengan mengubah rujukan tanam.

Monday, October 29, 2018

Sejarah Kalender Hijriyah Lengkap

KALENDER HIJRIYAH

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: ??????? ??????; at-taqwim al-hijri), yakni kalender yang dipakai oleh umat Islam, termasuk dalam memilih tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, alasannya yakni pada tahun pertama kalender ini yakni tahun di mana terjadi insiden Hijrah-nya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk lebih banyak didominasi Islam, Kalender Hijriyah juga dipakai sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam memakai peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang memakai peredaran Matahari.

Penentuan dimulainya sebuah hari dan tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di daerah tersebut.

Kalender Hijriyah dibangun menurut rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), mempunyai 12 bulan dalam setahun. Dengan memakai siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya yakni (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan gres (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada dikala yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan dikala terjadinya bulan gres di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 - 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari).
https://caraphdanghmmm.blogspot.com/search?q=sejarah-kalender-hijriyah-lengkap

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) sehabis bulan gres (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat sehabis terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak sanggup terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada hukum khusus bulan-bulan mana saja yang mempunyai 29 hari, dan mana yang mempunyai 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang memutuskan insiden hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala:
“  Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia membuat langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kau menganiaya diri kau dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kau semuanya; dan ketahuilah gotong royong Allah beserta orang-orang yang bertakwa. 

- At Taubah(9):36 -

Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah memakai bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak memutuskan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW yakni pada tahun gajah.Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur pada zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar kemudian mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka yakni Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan menurut milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan menurut pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima yakni seruan dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu menurut momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya baiklah dengan proposal Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam yakni pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.

Kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan:
 yakni kalender yang dipakai oleh umat Islam Sejarah Kalender Hijriyah Lengkap
Nama-nama Bulan Hijriyah

Keterangan :
Tanda kurung merupakan tahun kabisat dalam kalender Hijriyah dengan metode sisa yaitu 2-3-3 yang berjumlah 11 buah yaitu 2,5,8,10,13,16,18,21,24,26 dan 29.


Kalender Hijriyah terdiri dari 7 hari. Sebuah hari diawali dengan terbenamnya Matahari, berbeda dengan Kalender Masehi yang mengawali hari pada dikala tengah malam. Berikut yakni nama-nama hari:

⇢↢ Al-Ahad (Ahad)
⇢↢ Al-Itsnayn (Senin)
⇢↢ Ats-Tsalaatsa' (Selasa)
⇢↢ Al-Arbaa-a / Ar-Raabi' (Rabu)
⇢↢ Al-Khamsah (Kamis)
⇢↢ Al-Jumu'ah (Jumat)
⇢↢ As-Sabt (Sabtu)

Penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriah dilakukan 6 tahun sehabis wafatnya Nabi Muhammad saw. Namun, sistem yang mendasari Kalender Hijriah telah ada semenjak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 periode Madinah.

Sistem kalender pra-Islam di Arab
Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis adonan antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan ekspresi dominan dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi).

Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama insiden yang cukup penting pada tahun tersebut. Misalnya, tahun di mana Muhammad saw lahir, dikenal dengan sebutan "Tahun Gajah", alasannya yakni pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka'bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu provinsi Kerajaan Aksum, sekarang termasuk wilayah Ethiopia).

Pada era kenabian Muhammad saw, sistem penanggalan pra-Islam digunakan. Pada tahun ke-9 sehabis Hijrah, turun ayat 36-37 Surat At-Taubah, yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan yakni tahun kelahiran Muhammad saw sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam yakni tahun wafatnya Nabi Muhammad saw.

Akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab memutuskan awal patokan penanggalan Islam yakni tahun di mana hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan sehabis menghilangkan seluruh bulan-bulan pemanis (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharram Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad saw. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw terjadi bulan September 622. Dokumen tertua yang memakai sistem Kalender Hijriah yakni papirus di Mesir pada tahun 22 H, PERF 558.

Tanggal-tanggal penting dalam Kalender Hijriyah adalah:
 yakni kalender yang dipakai oleh umat Islam Sejarah Kalender Hijriyah Lengkap
Tanggal Penting Hijriyah


Rukyat yakni acara mengamati visibilitas hilal, yakni mengamati penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak sehabis bulan gres (ijtima). Rukyat sanggup dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik menyerupai teleskop. Apabila hilal terlihat, maka pada petang tersebut telah memasuki tanggal 1.

Sedangkan hisab yakni melaksanakan perhitungan untuk memilih posisi bulan secara matematis dan astronomis. Hisab merupakan alat bantu untuk mengetahui kapan dan di mana hilal (bulan sabit pertama sehabis bulan baru) sanggup terlihat. Hisab seringkali dilakukan untuk membantu sebelum melaksanakan rukyat.
Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah, menyerupai bulan bulan ampunan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (di mana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha). Penentuan kapan hilal sanggup terlihat, menjadi motivasi ketertarikan umat Islam dalam astronomi. Ini menjadi salah satu pendorong mengapa Islam menjadi salah satu pengembang awal ilmu astronomi sebagai sains, lepas dari astrologi pada Abad Pertengahan.

Sebagian umat Islam beropini bahwa untuk memilih awal bulan, yakni harus dengan benar-benar melaksanakan pengamatan hilal secara eksklusif (rukyatul hilal). Sebagian yang lain beropini bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melaksanakan hisab (perhitungan matematis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Metode hisab juga mempunyai banyak sekali kriteria penentuan, sehingga seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah menyerupai puasa bulan ampunan atau Hari Raya Idul Fitri.

Menurut perhitungan, dalam satu siklus 30 tahun Kalender Hijriyah, terdapat 11 tahun kabisat dengan jumlah hari sebanyak 355 hari, dan 19 tahun dengan jumlah hari sebanyak 354 hari. Dalam jangka panjang, satu siklus ini cukup akurat sampai satu hari dalam sekitar 2500 tahun. Sedangkan dalam jangka pendek, siklus ini mempunyai deviasi 1-2 hari.

Microsoft memakai Algoritma Kuwait untuk mengkonversi Kalender Gregorian ke Kalender Hijriyah. Algoritma ini diklaim berbasis analisis statistik data historis dari Kuwait, namun dalam kenyataannya yakni salah satu variasi dari Kalender Hijriyah tabular.
Untuk konversi secara agresif dari Kalender Hijriyah ke Kalender Masehi (Gregorian), kalikan tahun Hijriyah dengan 0,97, kemudian tambahkan dengan angka 622.
Setiap 33 atau 34 tahun Kalender Hijriyah, satu tahun penuh Kalender Hijriyah akan terjadi dalam satu tahun Kalender Masehi. Tahun 1429 H kemudian terjadi sepenuhnya pada tahun 2008 M.


Sistem Kalender Jawa berbeda dengan Kalender Hijriyah, meski keduanya mempunyai kemiripan. Pada era ke-1, di Jawa diperkenalkan sistem penanggalan Kalender Saka (berbasis Matahari) yang berasal dari India. Sistem penanggalan ini dipakai sampai pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, menyerupai nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Namun, demi kesinambungan, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke 1547 Jawa.

Berbeda dengan Kalender Hijriah yang murni memakai visibilitas Bulan (moon visibility) pada penentuan awal bulan (first month), Penanggalan Jawa telah memutuskan jumlah hari dalam setiap bulannya.

sumber : wikipedia

Sunday, October 28, 2018

Sejarah Kabupaten Situbondo Lengkap


Berdasarkan Legenda Pangeran Situbondo, nama Kabupaten Situbondo berasal dan narna Pangeran Situbondo atau Pangeran Aryo Gajah Situbondo, dimana sepengetahuan masyarakat Situbondo bahwa Pangeran Situbondo tidak pernah menampakkan diri, hal tersebut dikarenakan keberadaannya di Kabupaten Situbondo kemungkinan sudah dalam keadaan meninggal dunia jawaban kekalahan pertarungannya dengan Joko Jumput, sehingga hanya ditandai dengan ditemukannya sebuah ‘odheng’ (ikat kepala) Pangeran Situbondo yang ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan dan kini dijadikan Ibukota Kabupaten Situbondo.Sedangkan berdasarkan pemeo yang berkembang di masyarakat, arti kata SITUBONDO berasal dan kata : SITI = tanah dan BONDO ikat, hal tersebut dikaitkan dengan suatu keyakinan bahwa orang pendatang akan diikat untuk menetap di tanah Situbondo, Kenyataan mendekati kebenaran karna banyak orang pendatang yang kesudahannya menetap di Kabupaten Situbondo.

Logo nyolong di Kuwarasanku


Pangeran Situbondo atau Pangeran Aryo Gajah Situbondo berasal dari Madura, pada suatu ketika beliau ingin meminang Putri Adipati Suroboyo yang populer cantik, maka datanglah Pangeran Situbondo ke Surabaya untuk melamar Putri Adipati Suroboyo, namun sayang harapan Pangeran Situbondo bahwasanya ditolak oleh Adipati Suroboyo, akan tetapi penolakannya tidak secara terus-terang hanya diberi persyaratan untuk membabat hutan di sebelah Timur Surabaya, padahal persyaratan tersebut hanyalah suatu alasan yang maksudnya untuk mengulur-ulur waktu saja, sambil merencanakan siasat bagaimana caranya sanggup menyingkirkan Pangeran Situbondo.

Kesempatan Adipati Suroboyo menjalankan rencananya terbuka ketika keponakannya yang berjulukan Joko Taruno dan Kediri, sebab rupanya Joko Taruno juga bermaksud menyunting putrinya, dan Adipati Suroboyo tidak keberatan namun dengan syarat Joko Taruno harus mengalahkan Pangeran Situbondo terlebih dahulu. Terdorong keinginannya untuk mempersunting sang putri, maka berangkatlah Joko Taruno ke hutan untuk menantang Pangeran Situbondo, namun sayang Joko Taruno kalah dalam pertarungan tetapi kekalahannya tidak hingga terbunuh, sehingga Joko Taruno masih sempat mengadakan sayembara bahwa “barang siapa sanggup mengalahkan Pangeran Situbondo akan mendapat hadiah separuh kekayaannya”.

Mendengar sayembara tersebut datanglah Joko Jumput putra Mbok Rondo Prabankenco untuk mencoba, maka ditantanglah Pangeran Situbondo oleh Joko Jumput, dan ternyata dalam pertarungan tersebut dimenangkan Joko Jumput, sedangkan Pangeran Situbondo tertendang jauh ke arah Timur hingga hingga di tempat Kabupaten Situbondo ditandai dengan ditemukannya sebuah ‘odheng’ (ikat kepala) Pangeran Situbondo, yang tepatnya ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan yang kini menjadi Ibukota Kabupaten Situbondo.

Lihat juga :


Selanjutnya kembali ke Surabaya dimana di hadapan Adipati Suroboyo kemenangan Joko Jumput atas Pangeran Situbondo diakui oleh Joko Taruno sebagai kemenangannya, namun Adipati Suroboyo tidak begitu saja mempercayainya, maka untuk membuktikannya disuruhlah keduanya bertarung untuk memilih siapa yang menjadi pemenang sesungguhnya. Akhirnya pada ketika pertarungan terjadi Joko Taruno tertimpa kutukan menjadi patung “Joko Dolog” jawaban kebohongannya.
Sejarah Kota Situbondo

Sejarah Kabupaten Situbondo tidak terlepas dari sejarah Karesidenan Besuki, sehingga kita perlu mengkaji terlebih dahulu sejarah Karesidenan Besuki. Yang membabat Karesidenan Besuki pertama kali yaitu Ki Pateh Abs (± th 1700) selanjutnya dipasrahkan kepada Tumenggung Joyo Lelono. Karena pada ketika itu juga Belanda sudah menguasai Pulau Jawa (± th 1743) terutama di tempat pesisir termasuk pula Karesidenan Besuki dan dengan segala tipu-dayanya, maka pada kesudahannya Tumenggung Joyo Lebono tidak berdaya hingga Karesidenan Besuki dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.

Pada masanya (± th 1798) Pemerintahan Belanda pernah kekurangan keuangan untuk membiayai Pemerintahannya, sehingga Pulau Jawa pernah dikontrakkan kepada orang China, kemudian datanglah Raffles (± th 1811 – 1816) dan Inggris yang mengganti kekuasaan Belanda dan menebus Pulau Jawa, namun kekuasaan Inggris hanya bertahan beberapa tahun saja, selanjutnya Pulau Jawa di kuasai kembali oleh Belanda, dan diangkatlah Raden Noto Kusumo putra dan Pangeran Sumenep Madura yang bergelar Raden Tumenggung Prawirodiningrat I (± th 1820) sebagai Residen Pertama Karesidenan Besuki.

Dalam masa Pemerintahan Kacten II banyak membantu Belanda dalam membangun Kabupaten Situbondo, antara-lain Pembangunan Dam Air Pintu Lima di Desa Kotakan Situbondo. Setelah Raden Prawirodiningrat I meninggal dunia sebagai penggantinya yaitu kaden Prawirodiningrat II (± th 1830). Dalam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II banyak menghasilkan karya yang cukup menonjol antara-lain berdirinya Pabrik Gula di Kabupaten Situbondo, dimulai dan PG. Demas, PG. Wringinanom, PG. Panji, dan PG. Olean, maka atas jasanya tersebut Pemerintah Belanda menawarkan hadiah berupa “Kalung Emas Bandul Singa”. Perlu diketahui pula pada masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II daerahnya hingga Kabupaten Probolinggo, terbukti salah seorang putranya yang berjulukan Raden Suringrono menjadi Bupati Probolinggo.

Setelah Raden Prawirodiningrat II meninggal-dunia sebagai penggantinya yaitu Raden Prawirodiningrat III (± th 1840). Tetapi dalam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat III perkembangan Karesidenan Besuki kalah maju dibanding Kabupaten Situbondo, mungkin sebab di Kabupaten Situbondo memiliki beberapa pelabuhan yang cukup menunjang perkembangannya, yaitu antara-lain : Pelabuhan Panarukan, Kalbut dan Jangkar, sehingga pada akhimya sentra pemerintahan berpindah ke Kabupaten Situbondo dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Dipoetro diangkat sebagai Bupati Pertama Kabupaten Situbondo, dan wilayah Karesidenan Besuki dibagi menjadi 2 yaitu: Besuki termasuk Suboh ke arah Barat hingga Banyuglugur ikut wilayah Kábupaten Bondowoso dan Mlandingan ke arah Timur hingga Tapen ikut wilayah Kabupaten Situbondo, hal ini terbukti dan logat bicara orang Besuki yang seolah-olah dengan logat Bondowoso dan logat bicara orang Prajekan seolah-olah dengan logat Situbondo.
Perubahan Nama Kabupaten

Pada mulanya nama Kabupaten Situbondo yaitu “Kabupaten Panarukan” dengan Ibukota Situbondo, sehingga dahulu pada masa Pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jendral Daendels (± th 1808 – 1811) yang membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa dikenal dengan sebutan “Jalan Anyer – Panarukan” atau lebih dikenal lagi “Jalan Daendels”, kemudian seiring waktu berjalan barulah pada masa Pemerintahan Bupati Achmad Tahir (± th 1972) diubah menjadi Kabupaten Situbondo dengan Ibukota Situbondo, berdasankan Peratunan Pemerintah RI Nomor. 28 / 1972 ihwal Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan Pemerintah Daerah.

Perlu diketahui pula bahwa Kediaman Bupati Situbondo pada masa kemudian belumlah berada di lingkungan Pendopo Kabupaten namun masih menempati rumah pribadinya, gres pada masa Pemerintahan Bupati Raden Aryo Poestoko Pranowo (± th 1900 – 1924), beliau memperbaiki Pendopo Kabupaten sekaligus membangun Kediaman Bupati dan Paviliun Ajudan Bupati hingga kini ini, kemudian pada masa Pemerintahan Bupati Drs. H. Moh. Diaman, Pemerintah Kabupaten Situbondo memperbaiki kembali Pendopo Kabupaten (± th 2002).


Sumber : situbondokab.go.id