Friday, November 30, 2018

Sejarah Kabupaten Pacitan Lengkap


Gambar nyolong di 
www.kuwarasanku.blogspot.com
Menurut Babat Pacitan nama Pacitan berasal dari kata “ Pacitan ” yang berarti camilan, sedap-sedapan, tambul, yakni masakan kecil yang tidak hingga mengenyangkan. Hal ini disebabkan tempat Pacitan merupakan tempat minus, hingga untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya tidak hingga mengenyangkan atau tidak cukup.

Adapula yang beropini bahwa nama Pacitan berasal dari “Pace” mengkudu (bentis : Jaka) yang memberi kekuatan. Pendapat ini berasal dari legenda yang bersumber pada Perang Mengkubumen atau Perang Palihan Nagari (1746 – 1755) yakni tatkala Pangeran Mangkubumi dalam peperangannya itu hingga di tempat Pacitan. Dalam suatu pertempuran ia kalah terpaksa melarikan diri ke dalam hutan dengan badan lemah lesu. Berkat pemberian abdinya berjulukan Setraketipa yang menawarkan buah pace masak lalu menyebabkan kekuatan Mangkubumi pulih kembali. Akan tetapi nampaknya nama Pacitan yang menggambarkan kondisi tempat Pacitan yang minus itulah yang lebih kuat. Hal itu disebabkan pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613 – 1645) nama tersebut telah muncul dalam tebang Momana. (Informasi wacana Sejarah Pacitan ini masih belum lengkap dan masih akan dilengkapi).



Thursday, November 29, 2018

Sejarah Cowok Muhammadiyah Lengkap


 secara kronologis sanggup dikaitkan denga keberadaan Siswo Proyo Priyo  Sejarah Pemuda Muhammadiyah Lengkap
www.kuwarasanku.blogspot.com
Awal berdirinya Pemuda Muhammadiyah secara kronologis sanggup dikaitkan denga keberadaan Siswo Proyo Priyo (SPP), suatu gerakan yang semenjak awal diperlukan K.H. Ahmad Dahlan sanggup melaksanakan aktivitas pelatihan terhadap remaja/pemuda Islam. 

Dalam perkembangannya SPP mengalami kemajuan yang pesat, sampai pada Konggres Muhammadiyah ke-21 di Makasar pada tahun 1932 diputuskan berdirinya Muhammadiyah Bagian Pemuda, yang merupakan bab dari organisasi dalam Muhammadiyah yang secara khusus mengasuh dan mendidik para cowok keluarga Muhammadiyah

Keputusan Muhammadiyah tersebut menerima sambutan luar biasa dari kalangan cowok keluarga Muhammadiyah, sehingga dalam waktu relatif singkat Muhammadiyah Bagian Pemuda telah terbentuk di hampir semua ranting dan cabang Muhammadiyah. Dengan demikian pelatihan Pemuda Muhammadiyah menjadi tanggung jawab pimpinan Muhammadiyah di masing-masing level. Misalnya, di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggung jawab mengasuh, mendidik dan membimbing Pemuda Muhammadiyah diserahkan kepada Majelis Pemuda, ialah forum yang menjadi kepanjangan tangan dan pembantu Pimpinan Pusat yang memimpin gerakan pemuda.

Selanjutnya dengan persetujuan Majelis Tanwir, Muhammadiyah Bagian Pemuda dijadikan suatu ortom yang memiliki kewenangan mengurusi rumah tangga organisasinya sendiri. Akhirnya pada 26 Dzulhijjah 1350 H bertepatan dengan 2 Mei 1932 secara resmi Pemuda Muhammadiyah bangkit sebagai ortom.

sumber

Wednesday, November 28, 2018

Legenda Rawa Pening Lengkap

ASAL USUL RAWA PENING

Pada zaman dahulu di desa Ngasem hidup seorang gadis berjulukan Endang Sawitri. Penduduk desa tak seorang pun yang tahu bila Endang Sawitri punya seorang suami, namun ia hamil. Tak usang lalu ia melahirkan dan sangat mengejutkan penduduk alasannya yang dilahirkan bukan seorang bayi melainkan seekor Naga. Anehnya Naga itu bisa berbicara menyerupai halnya manusia. Naga itu diberi nama Baru Klinting.


Di usia dewasa Baru Klinting bertanya kepada ibunya. Bu, “Apakah saya ini juga memiliki Ayah?, siapa ayah sebenarnya”. Ibu menjawab, “Ayahmu seorang raja yang dikala ini sedang bertapa di gua lereng gunung Telomaya. Kamu sudah waktunya mencari dan menemui bapakmu. Saya ijinkan kau ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu. Dengan bahagia hati Baru Klinting berangkat ke pertapaan Ki Hajar Salokantara sang ayahnya.

Sampai di pertapaan Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat, di depan Ki Hajar dan bertanya, “Apakah benar ini daerah pertapaan Ki Hajar Salokantara?” Kemudian Ki Hajar menjawab, “Ya, benar”, saya Ki Hajar Salokantara. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting menyampaikan berarti Ki Hajar yaitu orang tuaku yang sudah usang saya cari-cari, saya anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini Klintingan yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar. Ya benar, dengan bukti Klintingan itu kata Ki Hajar. Namun saya perlu bukti satu lagi bila memang kau anakku coba kau melingkari gunung Telomoyo ini, bila bisa, kau benar-benar anakku. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui bila ia benar anaknya. Ki Hajar lalu memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan lereng gunung.

baca juga : Info Lengkap Service Komputer, Tutorial Service di Rumah, Belajar Autodidak Service Laptop

Suatu hari penduduk desa Pathok mau mengadakan pesta sedekah bumi sesudah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan banyak sekali macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu rakyat beramai-ramai mencari hewan, namun tidak mendapatkan seekor binatang pun. Akhirnya mereka menemukan seekor Naga besar yang bertapa pribadi dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta. Dalam program pesta itu datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan perilaku hirau dan sinis mereka mengusir anak itu dari pesta dengan paksa alasannya dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia bertemu dengan seorang nenek janda renta yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda renta itu memperlakukan anak menyerupai tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua, anak berpesan, Nek, “Kalau terdengar bunyi gemuruh nenek harus siapkan lesung, supaya selamat!”. Nenek menuruti saran anak itu.

Sesaat lalu anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak mendapatkan anak itu, bahkan ditendang supaya pergi dari daerah pesta itu. Dengan kemarahan hati anak itu mengadakan sayembara. Ia menancapkan lidi ke tanah, siapa penduduk desa ini yang bisa mencabutnya. Tak satu pun warga desa yang bisa mencabut lidi itu. Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi muncul mata air yang deras makin membesar dan menggenangi desa itu, penduduk semua tenggelam, kecuali Janda Tua yang masuk lesung dan sanggup selamat, semua desa menjadi rawa-rawa,

alasannya airnya sangat bening, maka disebutlah “Rawa Pening” yang berada di kabupaten Semarang, Jawa Tengah.




In ancient times in life Ngasem village girl named Endang Sawitri. Villagers nobody knows if Endang Sawitri had a husband, but she was pregnant. Shortly thereafter she gave birth and very startling residents as born not an infant, but a dragon. Strangely enough the dragon can talk beings like human. Dragon was named Baru Klinting.

When teenage Baru Klinting asked his mother. Mom, "Is this my father also had ?, who the real father". Mother replied, "Your father is a king who is currently imprisoned in a mountainside cave Telomaya. You have time to find and meet your father. I allow you to get there and take this as evidence of the klintingan your father. With Happily Baru Klinting went to the hermitage of Ki Hajar Salokantara father’s.


Until at the Hermitage Baru Klinting Entrance to the cave with respect, in front of Ki Hajar and asked, "Is this true Ki Hajar Salokantara hermitage?" Then Ki Hajar replied, "Yeah, right", I Ki Hajar Salokantara. With prayer before Ki Hajar, Baru Klinting say mean Ki Hajar was my parents who have long been looking for me, I'm a child of Endang Sawitri from Ngasem village and this is supposedly the mother Klintingan Ki Hajar heritage. Yes, with evidence that Klintingan Ki Hajar said. But I need one more proof that you are indeed my son encircling mountain Telomoyo you try this, if you can, you are really my son. It turns out Baru Klinting be circled and Ki Hajar admits that he was her son. Ki Hajar New Klinting then ordered to be imprisoned in a mountainside forest.

One day the villagers want to throw a party Pathok alms earth after the harvest is over. They will hold a wide variety of dance performances. To enliven the party rollicking folk looking animals, but did not get an animal. Finally they found a huge dragon that fasted immediately cut into pieces, the meat was brought home to the party. In the event that the party came a incarnation Baru Klinting child participate in the crowd and want to enjoy a meal. With indifference and cynical they expel the child from the party by force because they are disgusting and shameful beggars. With hurt the boy left the party. He met an elderly widow grandmother kind. Invited to stop by her house. The old widow treating children like honored guests and prepared dishes. At home old widow, told the child, Grandma, "If the sound of thunder grandmother must prepare the mortar, to be save!". Boy's grandmother's advice.

More information : How to know the healty of hardisk, prepare service canon ip 2770

A moment later the boy returned to the party to try to come and ask for the dish in a party held by the villagers. But people still do not accept the child, even kicked away from a party to it. With a child's heart that anger hold a contest. He plugged the stick into the ground, these villagers who can pull it out. None of the villagers were able to pull out the stick. Finally, the children themselves who drew it, apparently had appeared mesh embedded swift springs continues to expand and inundate the village, all the inhabitants drowned, except Widows Old incoming mortar and can be saved, all the villages into the swamp.

Because the water is very clear, then it is called "Swamp Dizziness" is located in Semarang district, Central Java.


Baca Cerita Legenda Lainnya disini

Tuesday, November 27, 2018

Biografi Imam Hambali Lengkap (Sejarah Imam Hambali)

Sejarah Imam Hambali, Profil Imam Hambali, Biografi Imam Hambali

Biografi Imam Hambali

Beliau yakni Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab ia bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim.
Ketika ia masih dalam kandungan, orang bau tanah ia pindah dari kota Marwa, daerah tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu ia dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat yang paling masyhur- tahun 164 H.
Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun, ketika ia gres berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani ‘Abbasiyah dan karenanya ikut mencicipi penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia dahulunya yakni seorang panglima.
Imam Ahmad tumbuh remaja sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang sangat murah. Dalam hal ini, keadaan ia sama dengan keadaan syaikhnya, Imam Syafi‘i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat yang tinggi. Keduanya juga mempunyai ibu yang bisa mengantar mereka kepada kemajuan dan kemuliaan.
Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah menjadi sentra peradaban dunia Islam, yang penuh dengan insan yang berbeda asalnya dan bermacam-macam kebudayaannya, serta penuh dengan bermacam-macam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, jago hadits, para sufi, jago bahasa, filosof, dan sebagainya.
Setamatnya menghafal Quran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab ketika berumur 14 tahun, ia melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh azzam yang tinggi dan tidak gampang goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi ia dorongan semangat. Tidak lupa dia mengingatkan ia semoga tetap memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam duduk masalah kesehatan. Tentang hal itu ia pernah bercerita, “Terkadang saya ingin segera pergi pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu segera mengambil pakaianku dan berkata, ‘Bersabarlah dulu. Tunggu hingga adzan berkumandang atau sehabis orang-orang selesai shalat subuh.’”
Perhatian ia ketika itu memang tengah tertuju kepada impian mengambil hadits dari para perawinya. Beliau menyampaikan bahwa orang pertama yang darinya ia mengambil hadits yakni al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah.
Imam Ahmad tertarik untuk menulis hadits pada tahun 179 ketika berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadits dari syaikh-syaikh hadits kota itu hingga tahun 186. Beliau melaksanakan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183. Disebutkan oleh putra ia bahwa ia mengambil hadits dari Hasyim sekitar tiga ratus ribu hadits lebih.
Pada tahun 186, ia mulai melaksanakan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah kemudian ke negeri Hijaz, Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang ia temui dan mengambil ilmu darinya selama perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di sana yakni Imam Syafi‘i. Beliau banyak mengambil hadits dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi‘i sendiri amat memuliakan diri ia dan terkadang menimbulkan ia tumpuan dalam mengenal keshahihan sebuah hadits. Ulama lain yang menjadi sumber ia mengambil ilmu yakni Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain. Beliau berkata, “Saya tidak sempat bertemu dengan Imam Malik, tetapi Allah menggantikannya untukku dengan Sufyan bin ‘Uyainah. Dan saya tidak sempat pula bertemu dengan Hammad bin Zaid, tetapi Allah menggantikannya dengan Ismail bin ‘Ulayyah.”
Demikianlah, ia amat menekuni pencatatan hadits, dan ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal lain sampai-sampai dalam hal berumah tangga. Beliau gres menikah sehabis berumur 40 tahun. Ada orang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdillah, Anda telah mencapai semua ini. Anda telah menjadi imam kaum muslimin.” Beliau menjawab, “Bersama mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah (kubur). Aku akan tetap menuntut ilmu hingga saya masuk liang kubur.” Dan memang senantiasa menyerupai itulah keadaan beliau: menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang memberi manfaat kepada kaum muslimin. Sementara itu, murid-murid ia berkumpul di sekitarnya, mengambil darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya. Ada banyak ulama yang pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra beliau, Abdullah dan Shalih, Abu Zur ‘ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan lain-lain.
Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar enam puluh tahun dan itu sudah dimulainya semenjak tahun tahun 180 ketika pertama kali ia mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab wacana tafsir, wacana an-nasikh dan al-mansukh, wacana tarikh, wacana yang muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, wacana jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-manasik ash-shagir dan al-kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-zindiqah(Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitab al-Wara ‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-SittahFadha’il ash-Shahabah.
Pujiandan Penghormatan Ulama Lain Kepadanya
Imam Syafi‘i pernah mengusulkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, pada hari-hari tamat hayat khalifah tersebut, semoga mengangkat Imam Ahmad menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya dan berkata kepada Imam Syafi‘i, “Saya tiba kepada Anda untuk mengambil ilmu dari Anda, tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qadhi untuk mereka.” Setelah itu pada tahun 195, Imam Syafi‘i mengusulkan hal yang sama kepada Khalifah al-Amin, tetapi lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.
Suatu hari, Imam Syafi‘i masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu wacana hadits dan perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah aku. Insya Allah, bila (perawinya) dari Kufah atau Syam, saya akan pergi mendatanginya bila memang shahih.” Ini memberikan kesempurnaan agama dan logika Imam Syafi‘i lantaran mau mengembalikan ilmu kepada ahlinya.
Imam Syafi‘i juga berkata, “Aku keluar (meninggalkan) Bagdad, sementara itu tidak saya tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.”
Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang menyerupai Ahmad bin Hanbal”. Orang-orang bertanya kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain?” Al-Warraq menjawab, “Dia seorang yang bila ditanya wacana 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, ‘Telah dikabarkan kepada kami,’ atau, “Telah disampaikan hadits kepada kami’.”Ahmad bin Syaiban berkata, “Aku tidak pernah melihat Yazid bin Harun memberi penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada Ahmad bin Hanbal. Dia akan mendudukkan ia di sisinya bila memberikan hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar dengannya”. Demikianlah, padahal menyerupai diketahui bahwa Harun bin Yazid yakni salah seorang guru ia dan populer sebagai salah seorang imam huffazh.

Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad termasuk di antaranya. Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan terang tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menimbulkan unsur-unsur aneh (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka. Khalifah al-Makmun menimbulkan orang-orang Persia sebagai kekuatan pendukungnya, sedangkan al-Mu‘tashim menentukan orang-orang Turki. Akibatnya, justru bertahap kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani, Rumania, Persia, dan India dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat banyak sekali bentuk bid‘ah merasuk menyebar ke dalam dogma dan ibadah kaum muslimin. Berbagai macam kelompok yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, menyerupai Qadhariyah, Jahmyah, Asy‘ariyah, Rafidhah, Mu‘tashilah, dan lain-lain.
Kelompok Mu‘tashilah, secara khusus, menerima sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, bisa menghipnotis al-Makmun untuk membenarkan dan berbagi pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan Alquran.
Sebenarnya Harun ar-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat wacana kemakhlukan Alquran. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, “Aku pernah mendengar Harun ar-Rasyid berkata, ‘Telah hingga gosip kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy menyampaikan bahwa Quran itu makhluk. Merupakan kewajibanku, bila Allah menguasakan orang itu kepadaku, pasti akan saya aturan bunuh dia dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun’”. Tatkala Khalifah ar-Rasyid wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu‘tazilah berusaha menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka bisa melakukannya.
Untuk memaksa kaum muslimin mendapatkan pendapat kemakhlukan Alquran, al-Makmun hingga mengadakan ujian kepada mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan pemerintah dan warganya baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi materi percakapan mereka, baik di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak dan selainnya. Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama wacana hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan Alquran, termasuk di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang hak, bahwa Quran itu kalamullah, bukan makhluk.
Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya semoga membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun alhasil digiring ke Thursus dalam keadaan terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum hingga ke Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di sana alasannya yakni sudah hingga kabar wacana kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.
Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia telah menerima wasiat dari al-Makmun semoga meneruskan pendapat kemakhlukan Quran dan menguji orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara kemudian dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Mereka mendebat ia wacana kemakhlukan Alquran, tetapi ia bisa membantahnya dengan bantahan yang tidak sanggup mereka bantah. Akhirnya ia dicambuk hingga tidak sadarkan diri kemudian dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam di sana selama sekitar 28 bulan –atau 30-an bulan berdasarkan yang lain-. Selama itu ia shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.
Selama itu pula, setiap harinya al-Mu‘tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi tanggapan ia tetap sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu‘tashim kepada beliau. Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan kolam gunung yang menjulang dengan kokohnya.

Pada akhirnya, ia dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak bisa berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, ia kembali memberikan pelajaran-pelajarannya di masjid hingga al-Mu‘tashim wafat.
Selanjutnya, al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu‘tashim, al-Watsiq pun melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. dia pun masih menjalin kedekatan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Akibatnya, penduduk Bagdad mencicipi cobaan yang kian keras. Al-Watsiq melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri shalat jamaah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih lima tahun, yaitu hingga al-Watsiq meninggal tahun 232.
Sesudah al-Watsiq wafat, al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya, ujian wacana kemakhlukan Quran masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234, dia menghentikan ujian tersebut. Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pendapat wacana kemakhlukan Quran dan bahaya eksekusi mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para jago hadits untuk memberikan hadits-hadits wacana sifat-sifat Allah. Maka demikianlah, orang-orang pun bergembira pun dengan adanya pengumuman itu. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa untuknya dan namanya disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar bin Abdul Aziz.
Menjelang wafatnya, ia jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi‘ul Awwal tahun 241, ia menghadap kepada rabbnya menjemput kematian yang telah dientukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar mayat ia hingga beratusan ribu orang. Ada yang menyampaikan 700 ribu orang, ada pula yang menyampaikan 800 ribu orang, bahkan ada yang menyampaikan hingga satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya memberikan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada ketika itu demi memberikan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sehat, “Katakan kepada ahlu bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian yakni (tampak pada) hari kematian kami”.
Demikianlah citra ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Terlihat bagaimana perilaku agung ia yang tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas. Beliau bersikap menyerupai itu justru ketika sebagian ulama lain berpaling dari kebenaran. Dan dengan keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepadanya itu, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepada dirinya lantaran ia sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata menggambarkan keteguhan Imam Ahmad, “Allah telah mengokohkan agama ini lewat dua orang laki-laki, tidak ada yang ketiganya. Yaitu, Abu Bakar as-Shiddiq pada Yaumur Riddah (saat orang-orang banyak yang murtad pada awal-awal pemerintahannya), dan Ahmad bin Hanbal pada Yaumul Mihnah”.
Sejarah Imam Hambali, Profil Imam Hambali, Biografi Imam Hambali

Monday, November 26, 2018

Legenda Tangkuban Bahtera - History Of Tangkuban Perahu

Legenda Tangkuban Perahu

Pada suatu waktu di Jawa barat, Indonesia tinggal seorang raja yang bijaksana yang mempunyai seorang putri cantik. Namanya Dayang Sumbi. Dia suka menenun sangat banyak. Setelah beliau menenun kain ketika salah satu alat nya jatuh ke tanah. Dia sangat lelah pada ketika itu sehingga beliau terlalu malas untuk mengambilnya. Kemudian beliau hanya berteriak dengan keras.

"Siapa di sana? Ambilkan alat saya. Saya akan memperlihatkan kado istimewa. Jika Anda perempuan, saya akan menganggap Anda sebagai adikku. Jika Anda ialah laki-laki, saya akan menikahimu”

Tiba-tiba seekor anjing jantan, namanya ialah Tumang, datang. Dia membawakan alat jatuh. Dayang Sumbi sangat terkejut. Dia meratapi kata-katanya, tapi beliau tidak dapat menyangkalnya. Kaprikornus beliau harus menikahi Tumang dan meninggalkan ayahnya. Kemudian mereka tinggal di sebuah desa kecil. Beberapa bulan kemudian mereka mempunyai seorang putra. Namanya Sangkuriang. Dia ialah seorang anak pria tampan dan sehat.

Sangkuriang sangat suka berburu.  Dia sering pergi berburu ke hutan memakai panahnya. Ketika ia pergi berburu Tumang selalu bersamanya. Di masa kemudian ada banyak rusa di Jawa sehingga Sangkuriang sering diburu untuk rusa.

Suatu hari Dayang Sumbi ingin mempunyai hati rusa sehingga beliau meminta Sangkuriang untuk berburu rusa. Kemudian Sangkuriang pergi ke hutan dengan panah dan anjing yang setia Tumang. Tapi sehabis beberapa hari di hutan Sangkuriang tidak dapat menemukan rusa apapun. Mereka semua menghilang. Sangkuriang lelah dan putus asa. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya sehingga ia membunuh Tumang. Dia tidak tahu bahwa Tumang ialah ayahnya. Di rumah ia memberi hati Tumang untuk ibunya.

Namun Dayang Sumbi tahu bahwa itu ialah hati Tumang itu. Dia sangat murka bahwa beliau tidak dapat mengendalikan emosinya. Dia memukul Sangkuriang di kepalanya. Sangkuriang terluka. Ada bekas luka di kepalanya. Dia juga ditolak anaknya. Sangkuriang meninggalkan ibunya dalam kesedihan.

Bertahun-tahun berlalu dan Sangkuriang menjadi seorang perjaka yang kuat. Dia berjalan di mana-mana. Suatu hari ia tiba di desanya sendiri, tapi beliau tidak menyadari hal itu. Di sana ia bertemu Dayang Sumbi. Pada ketika Dayang Sumbi diberi keindahan abadi oleh Allah sehingga beliau tetap muda selamanya. Keduanya tidak saling mengenal. Kaprikornus mereka jatuh cinta dan kemudian mereka memutuskan untuk menikah.

Tapi kemudian diakui Dayang Sumbi mengetahui bekas luka di kepala Sangkuriang. Dia tahu bahwa Sangkuriang ialah putranya. Itu mustahil bagi mereka untuk menikah. Dia menyampaikan beliau tapi beliau tidak percaya padanya. Dia berharap bahwa mereka segera menikah. Kaprikornus Dayang Sumbi memperlihatkan kondisi yang sangat sulit. Dia ingin Sangkuriang untuk membangun sebuah danau dan bahtera dalam satu malam! Dia bilang beliau membutuhkan itu untuk bulan madu.

Sangkuriang setuju. Dengan sumbangan jin dan roh Sangkuriang mencoba untuk membangun danau. Pada tengah malam ia final dengan membangun bendungan di sungai Citarum. Lalu ia mulai menciptakan perahu. Itu hampir fajar ketika ia hampir selesai. Sementara itu Dayang Sumbi terus mengawasi. Dia sangat khawatir ketika beliau tahu ini. Kaprikornus beliau menciptakan lampu di timur. Kemudian roh berpikir bahwa itu sudah fajar. Sudah waktunya bagi mereka untuk pergi. Mereka meninggalkan Sangkuriang sendiri. Tanpa sumbangan mereka beliau tidak dapat menuntaskan perahu.

Sangkuriang sangat marah. Dia menendang perahu. Kemudian kapal terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Ini berarti bahtera terbalik. Dari jauh terlihat menyerupai bahtera terbalik.

--- 0o0 ---


History of Tangkuban Perahu

Once upon a time in west Java, Indonesia lived a wise king who had a beautiful daughter.   Her name was Dayang Sumbi.  She liked weaving very much.  Once she was weaving a cloth when one of her tool fell to the ground.  She was very tired at the time so she was too lazy to take it.  Then she just shouted outloud.

‘Anybody there?  Bring me my tool.  I will give you special present.  If you are female,  I will consider you as my sister.  If you are male, I will marry you

Suddenly a male dog, its name was Tumang, came.  He brought her the falling tool.  Dayang Sumbi was very surprised.  She regretted her words but she could not deny it.  So she had to marry Tumang and leave her father.  Then they lived in a small village.  Several months later they had a son.  His name was Sangkuriang.  He was a handsome and healthy boy.

Sangkuriang liked hunting very much.  He often went hunting to the wood using his arrow.  When he went hunting Tumang always with him.  In the past there were many deer in Java so Sangkuriang often hunted for deer.

One day  Dayang Sumbi wanted to have deer’s heart so she asked Sangkuriang to hunt for a deer.   Then Sangkuriang went to the wood with his arrow and his faithful dog Tumang.  But after several days in the wood Sangkuriang could not find any deer.  They were all disappeared.  Sangkuriang was exhausted and desperate.  He did not want to disappoint her mother so he killed Tumang.  He did not know that Tumang was his father.  At home he gave Tumang’s heart to her mother.

But Dayang Sumbi knew that it was Tumang’s heart.  She was so angry that she could not control her emotion.  She hit Sangkuriang at his head.  Sangkuriang was wounded.  There was  a scar in his head.    She also repelled her son.   Sangkuriang left her mother in sadness.

Many years passed and Sangkuriang became a strong young man.  He wandered  everywhere.     One day he arrived at his own village but he did not realized it.  There he met Dayang Sumbi.  At the time Dayang Sumbi was given an eternal beauty by God so she stayed young forever.  Both of them did not know each other.  So they fell in love and then they decided to marry.

But then Dayang Sumbi recognized a scar on his Sangkuriang’s head.  She knew that Sangkuriang was his son.  It was impossible for them to marry.  She told him but he did not believe her.  He wished that they marry soon.  So Dayang Sumbi gave a very difficult condition.  She wanted Sangkuriang to build a lake and a boat in one night!  She said she needed that for honeymoon.

Sangkuriang agreed.  With the help of genie and spirits Sangkuriang tried to build them.  By midnight he had finished  the lake by building a dam in Citarum river.  Then he started building the boat.  It was almost dawn when he nearly finished it.  Meanwhile Dayang Sumbi kept watching on them.  She was very worried when she knew this.  So she made lights in the east.  Then the spirits thought that it was already dawn.  It was time for them to leave.  They left Sangkuriang alone.  Without their help he could not finish the boat.

Sangkuriang was very angry.  He kicked the boat.  Then the boat turned out to be Mount Tangkuban Perahu.  It means boat upside down.  From a distant it looks like a boat upside down.


Sejarah Kabupaten, Sejarah Kerajaan, Ilmu Pengetahuan, Misteri BACA DISINI

Sunday, November 25, 2018

Sejarah Desa Gandusari Kuwarasan

Menyusuri sejarah terbentuknya suatu Pemerintahan desa gotong royong cukup sulit, selain tidak adanya bukti-bukti tertulis juga minimnya sumber-sumber yang sanggup dijadikan petunjuk untuk menguak sejarah terbentuknya sebuah pemerintahan desa.Tulisan ini berusaha untuk menguak sekelumit perihal sejarah asal mula terbentuknya Desa Gandusari yang diambil dari beberapa sumber yang gotong royong secara ilmiah belum sanggup disebut sebagai sumber sejarah namun mungkin lebih “layak” disebut sebagai legenda.Tidak ada bukti sejarah yang sanggup dijadikan dasar baik bukti tertulis maupun bentuk yang lain, satu-satunya sumber ialah dongeng secara turun temurun dari generasi ke generasi, namun mudah-mudahan ini sanggup sedikit menjadi citra untuk melihat ke belakang perihal desa Gandusari.


 
Berdasar dari dongeng yang tersebar secara turun temurun bahwa dahulunya wilayah yang kini menjadi Desa Gandusari ialah sebuah Hutan Belantara yang tidak ada penghuninya. Tersebutlah seorang Bangsawan dari Kerajaan Mataram berjulukan Dipa Wedana tiba ke wilayah ini dan melaksanakan Babad Alas atau membuka hutan menjadi sebuah kawasan pemukiman. Ia tiba bersama saudaranya yang berjulukan Singa Wedana yang melaksanakan Babad Alas di kawasan yang kini menjadi wilayah Desa Bendungan dan Serut. Sementara Dipa Wedana melaksanakan babad di wilayah yang kini menjadi Desa Banjareja dan Gandusari. Setelah meninggal Dipa Wedana dimakamkan di Desa Banjareja tepatnya di Pemakaman Dukuh Pacor sementara Singa Wedana dimakamkan di Desa Bendungan. Tidak ada satupun bukti yang mengarah kepada kapan waktu terjadinya Babad Alas ini sehingga tidak sanggup diketahui semenjak tahun berapa  Pemerintahan Desa Gandusari terbentuk.

Di sisi lain pada asumsi kurun X datanglah ke Desa Gandusari seorang Ulama asal Tegalsari berjulukan Syaikh Idris Ismail. Beliau ialah murid dari Syaikh Ahmad Maulana Maulin. Syaikh Idris Ismail ini diperintahkan oleh gurunya untuk melaksanakan khalwat (tapa) di kawasan Gunung Kidang (sekarang wilayah sekitar Desa Sekayu, Kecamatan Buayan) dengan diberi pesan untuk mengikuti arah perginya seekor binatang apapun yang nanti hinggap ketika melaksanakan khalwat. Setelah beberapa waktu berkhalwat akibatnya hinggaplah seekor belalang di pundaknya. Sesuai pesan dari gurunya diapun mengikuti arah terbangnya belalang tersebut yang ternyata berhenti di kawasan yang kini menjadi Desa Pondok Gebangsari. Diceritakan bahwa wilayah ini ialah wilayah dengan ketersediaan air yang sangat kurang sehingga Syaikh Idris Ismail memutuskan untuk pindah ke wilayah Gandusari.

Atas seruan warga dan juga sesuai dengan misinya Syaikh Idris Ismailpun berdakwah membuatkan Agama Islam di Gandusari. Untuk memperlancar usahanya ini dia meminta kepada warga untuk dibuatkan masjid dan juga tempat tinggal. Wargapun menyetujui dan dibangunlah sebuah masjid dan rumah untuk tempat tinggal Syaikh Idris Ismail. Sampai ketika ini masjid tersebut masih megah berdiri dan menjadi masjid pujian masyarakat Desa Gandusari dengan nama Masjid “Baitul Mu’minin”.

Dalam kurun waktu kurun yang sama dengan masuknya Syaikh Idris Ismail ke Gandusari inilah diketahui adanya seorang Kepala Pemerintahan atau Kepala Desa di Gandusari yang diyakini sebagai Kepala Desa Gandusari yang pertama berjulukan Jayus. Tidak diketahui semenjak kapan dan berapa usang dia memerintah di Gandusari. Kepala Desa ke dua ialah Wiryodiharjo seorang warga asal desa Ori. Sepeninggal dia pemerintahan desa dipegang oleh puteranya berjulukan Sardiyo yang merupakan Kepala Desa Ke- 3.

Kepala Desa ke-4 berjulukan Bahri yang berasal dari Serut, namun ternyata kepemimpinannya tidak didukung oleh sebagian warga dan dia hanya memerintah selama 3 hari. Pemerintahan lalu dipegang  oleh Dulah Khaeri yang berasal dari desa Kuwarasan. Beliau ialah Kepala Desa ke-5 yang juga tidak cukup usang memegang pemerintahan yaitu selama kurang lebih 2 tahun. Tanpa diketahui secara niscaya penyebabnya dia dicopot dari jabatannya oleh Pemerintah Kecamatan Kuwarasan waktu itu.

Kepala Desa ke-6 berjulukan Gandu Sasmito warga asal Desa Kalipurwo yang memerintah hingga kira-kira tahun 1947. Karena tindakannya yang suka memeras warganya sendiri dan sikapnya yang memihak kepada penjajah Belanda dia ditangkap dan dibunuh oleh Tentara Pejuang Kemerdekaan waktu itu.Selama kurang lebih 5 tahun Desa Gandusari vakum tidak mempunyai Kepala Desa hingga akibatnya pada tahun 1952  terpilihlah seorang Kepala Desa bernama  Joyo Suwito yang berasal dari Desa Kedung Ampel Kecamatan Gombong, dia memerintah hingga tahun 1973 dan merupakan Kepala Desa ke-7.

Kepala Desa ke-8 ialah Harjo Suwito warga orisinil dari Ori dan memerintah dari tahun 1974 – 1986. Selama kurang lebih 3 tahun Pemerintah Desa dipegang oleh Sekdes (Carik) waktu itu hingga pada tahun 1989 diadakan Pemilihan Kepala Desa dan terpilihlah Amir Khaerudin yang memegang jabatan selama 2 periode yaitu hingga tahun 2006 sehabis pada pemilihan kepala desa berikutnya dia terpilih kembali dan merupakan calon tunggal. Beliau ialah Kepala Desa ke-9 dan merupakan Kepala Desa pertama yang orisinil warga Desa Gandusari alasannya ialah bahkan Kepala desa berikutnya (ke 10) Bambang Pujiman yang memerintah hingga tahun 2013 ialah bukan orisinil warga Desa Gandusari yang tidak lain berasal dari Desa Pejagoan Kebumen. Kepala Desa Selanjutnya (ke 11) yaitu Bapak Waliman menjabat mulai Juni 2013 - Sekarang (Januari 2015) masih menjabat sebagai Kepala Desa.

Demikian sekelumit perihal sejarah Desa Gandusari yang dengan melihat sumber dan rujukan yang ada belumlah sanggup dipertanggungjawabkan secara ilmiah, namun mudah-mudahan hal ini tidak mengurangi rasa patriotik dari para pembaca khususnya warga Desa Gandusari baik yang berdomisili di Gandusari maupun yang ketika ini berada di perantauan atau bahkan sudah bermutasi kependudukan namun masih mempunyai rasa mempunyai terhadap Desa Gandusari.

Sejarah Kabupaten, Sejarah Kerajaan, Ilmu Pengetahuan, Misteri BACA DISINI

Saturday, November 24, 2018

Sejarah Gunung Srandil Cilacap


Goa gunung Srandil merupakan bukti sejarah yang luar biasa di mata masyarakat Indonesia, dan juga di mata dunia. Selain keunikan dan keindahanya, kawasan ini merupakan kawasan wisata yang populer. Disamping wisata alam dan budaya juga terdapat wisata spiritual atau religius antara lain di gunung srandil dan selok.

Gunung srandil merupakan salah satu bukit yang ada di Glempang pasir Kecamatan Adipala jarak antara obyek wisata dengan Kota Cilacap 30 Km kearah timur maritim dan relatif gampang ditempuh dengan kendaraan penumpang bus umum jurusan Cilacap-Jatijajar - Kebumen atau kendaraan langsung alasannya yakni jalannya sudah beraspal dan erat dengan jalan lintas selatan-selatan.

 merupakan bukti sejarah yang luar biasa di mata masyarakat Indonesia Sejarah Gunung Srandil CilacapGunung Srandil setiap hari dikunjungi orang untuk berziarah oleh alasannya yakni kawasan tersebut tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar saja tetapi hingga keluar Jawa menyerupai Sumatra, Kalimantan, Bali. dan Sulawesi, maka yang berkunjung tujuannya bermacam-macam. Para peziarah biasanya berkunjung atau bertapa pada Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada Bulan Syura.
Konon berdasarkan kisah penghuni pertama Gunung Srandil yakni Sultan Mukhriti putra kedua dari Dewi Sari Banon Ratu Sumenep Jawa Timur.

Kedatangan Sultan itu untuk bertapa namun Sultan Mukhriti murca (menghilang) yang ada tinggal petilasannya yang terletak di sebelah timur yang di kenal dengan Embah Gusti Agung Sultan Mukhriti.

Selain itu juga ada legenda rakyat yang pertama bermukim di gunung Srandil yakni dua orang berjulukan Kunci Sari dan Dana Sari, mereka yakni prajurit Pangeran Diponegoro yang tidak mau mengalah kepada bala tentara Belanda. Mereka melarikan diri ke Gunung Srandil untuk bersembunyi dan meninggal di sini . Makam kedua prajurit tersebut berada di sebelah timur Gunung Srandil dalam satu komplek yang dipagar keliling yang lalu hari, Kunci Sari dikenal dengan nama Sukma Sejati

Di Gunung Srandil banyak petilasan orang-orang yang dianggap memiliki kedigdayaan yang linuwih atau kemampuan melebihi orang lain yang dikenal sebagai tokoh- tokoh orang sakti mandraguna. Dari kemampuannya, kesaktiannya itu maka tempat-tempat yang di singgahi dianggap keramat dan disakralkan.
Adapun petilasan-petilasan yang ada di Gunung Srandil yakni Mbah Kanjeng Gusti Agung, Nyai Dewi Tanjung Sekarsari, Kaki semar Tunggul Sabdojati Dayo amongrogo, Juragan Dampo Awang, Kanjeng Gusti Agung Akhmat atau Petilasan Langlang Buwana yang berada diatas bukit dan petilasan Hyang Sukma Sejati.
Baca pula sejarah-sejarah yang lainnya di bawah ini

Friday, November 23, 2018

Sejarah Kartun Doraemon Lengkap

Doraemon (ドラえもん) yaitu judul sebuah manga terkenal yang dikarang Fujiko F. Fujio (藤子・F・不二雄) semenjak tahun 1969 dan berkisah ihwal kehidupan seorang anak pemalas kelas 5 SD yang berjulukan Nobi Nobita (野比のび太) yang didatangi oleh sebuah robot kucing berjulukan Doraemon yang tiba dari abad ke-22. Dia dikirim untuk menolong Nobita biar keturunan Nobita sanggup menikmati kesuksesannya daripada harus menderita dari utang finansial — yang akan terjadi pada masa depan — yang disebabkan lantaran kebodohan Nobita.

Nobita, sehabis gagal dalam ulangan sekolahnya atau sehabis diganggu oleh Giant dan Suneo, akan selalu mendatangi Doraemon untuk meminta bantuannya. Doraemon kemudian biasanya akan membantu Nobita dengan memakai peralatan-peralatan canggih dari kantong ajaibnya; peralatan yang sering dipakai contohnya "baling-baling bambu" dan "Pintu ke Mana Saja". Sering kali, Nobita berbuat terlalu jauh dalam memakai peralatannya dan malah terjerumus ke dalam duduk perkara yang lebih besar.


Sejarah

Pada bulan Desember 1969, manga Doraemon terbit berkesinambungan dalam 6 judul majalah bulanan anak. Majalah-majalah tersebut yaitu majalah Yoiko (anak baik), Yōchien (taman kanak-kanak), Shogaku Ichinensei (kelas 1 SD), Shogaku Yonnensei (kelas 4 SD), dan semenjak 1973 majalah Shogaku Gogensei (kelas 5 SD) dan Shogaku Rokunensei (kelas 6 SD). Cerita yang terkandung dalam majalah-majalah itu berbeda-beda, yang berarti pengarang dongeng ini harus menulis lebih dari 6 dongeng setiap bulannya. Pada tahun 1979, CoroCoro Comic diluncurkan sebagai majalah Doraemon.
Sejak pertama kali muncul pada tahun 1969, dongeng Doraemon telah dikumpulkan dan dibagi ke dalam 45 buku yang dipublikasikan semenjak tahun 1974 hingga 1996, dan telah terjual lebih dari 80 juta buku pada tahun 1992. Sebagai tambahan, pada tahun 2005, Shōgakukan menerbitkan sebuah serial aksesori sejumlah 5 jilid dengan judul Doraemon+ (Doraemon Plus), dengan dongeng yang berbeda dari 45 volume aslinya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Doraemon

Selengkapnya baca disini

Thursday, November 22, 2018

Sejarah Kabupaten Pamekasan Jawa Timur Lengkap


Sejarah Kabupaten Pamekasan Jawa Timur Lengkap Sejarah Kabupaten Pamekasan Jawa Timur Lengkap
www.kuwarasanku.blogspot.com
Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Istilah Pamekasan sendiri gres dikenal pada sepertiga kurun ke-16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan sentra pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan sentra pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan ihwal kapan dan bagaimana keberadaannya.

Kemunculan sejarah pemerintahan lokal Pamekasan, diperkirakan gres diketahui semenjak pertengahan kurun ke-15 menurut sumber sejarah ihwal lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sunoyo yang mulai merintis pemerintahan lokal di kawasan Proppo atau Parupuk. Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan, Pamekasan merupakan belahan dari pemerintahan Madura di Sumenep yang telah berdiri semenjak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara. 

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada kurun 15, tidak sanggup disangkal bahwa kabupaten ini lahir pada jaman kegelapan Majapahit ialah pada ketika daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri. Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bisa dipungkiri ihwal kemiskinan data sejarah lantaran di Majapahit sendiri telah sibuk dengan upaya mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya yang sangat besar, apalagi ketika itu sastrawan-sastrawan populer setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra. Sedangkan pada kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra ekspresi dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-islam. 

Tulisan-tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak memakai Bahasa Belanda dan kemudian mulai diterjemahkan atau ditulis kembali oleh sejarawan Madura, mirip Zainal fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, mirip goresan pena pada daun lontar atau Layang Madura, namun demikian goresan pena pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua kurun ke-16, ketika efek Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggosukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja Pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai berbagi Agama Islam di kraton dan rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan Se Jimat, ialah jalan-jalan di Alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan Masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, hingga ketika ini masih belum bisa diketemukan adanya inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk memilih kepastian tanggal dan bulan pada ketika pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman pemerintahan Ronggosukowati mulai dikenal semenjak berkembangnya legenda kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggosukowati yang diceritakan bisa membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Aresbaya melalui kejadian mimpi. Padahal temuan ini sangat penting lantaran dianggap mempunyai nilai sejarah untuk memilih Hari Makara Kota Pamekasan.

Terungkapnya sejarah pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang sesudah berhasilnya invansi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal dibawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis mirip Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh Sarjana barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, mirip Graaf dan TH. Pigeaud ihwal kerajaan Islam pertama di Jawa dan Bendatentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit, termasuk juga beberapa karya penelitian lainnya yang menceritakan sejarah Madura. Masa-masa berikutnya ialah masa-masa yang lebih cerah alasannya telah banyak goresan pena berupa hasil penelitian yang didasarkan pada tulisan-tulisan sejarah Madura termasuk Pamekasan dari segi pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan agama, mulai dari masuknya efek Mataram khususnya dalam pemerintahan Madura Barat (Bangkalan dan Pamekasan), masa campur tangan pemerintahan Belanda yang sempat mengakibatkan pro dan kontra bagi para Penguasa Madura, dan mengakibatkan peperangan Pangeran Trunojoyo dan Ke’ Lesap, dan terakhir pada ketika terjadinya pemerintahan kolonial Belanda di Madura. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda inilah, nampaknya Pamekasan untuk perkembangan politik nasional tidak menguntungkan, tetapi disisi lain, para penguasa Pamekasan mirip diibaratkan pada pepatah Buppa’, Babu’, Guru, Rato telah banyak dimanfaatkan oleh pemerintahan Kolonial untuk kerentanan politiknya. Hal ini terbukti dengan banyaknya penguasa Madura yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk memadamkan beberapa pemberontakan di Nusantara yang dianggap merugikan pemerintahan kolonial dan penggunaan tenaga kerja Madura untuk kepentingan perkembangan ekonomi Kolonial pada beberapa perusahaan Barat yang ada didaerah Jawa, khususnya Jawa Timur belahan timur (Karisidenan Basuki). Tenaga kerja Madura dimanfaatkan sebagai tenaga buruh pada beberapa perkebunan Belanda. Orang-orang Pamekasan sendiri pada kesannya banyak hijrah dan menetap di kawasan Bondowoso. Walaupun sisi lain, mirip yang ditulis oleh peneliti Belanda masa Hindia Belanda telah mengakibatkan terbukanya Madura dengan dunia luar yang mengakibatkan orang-orang kecil mengetahui system komersialisasi dan industrialisasi yang sangat bermanfaat untuk gerakan-gerakan politik masa berikutnya dan muncul kesadaran kebangsaan, masa Hindia Belanda telah menorehkan sejarah ihwal pedihnya luka akhir penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing. Memberlakukan dan pinjaman terhadap system apanage telah menciptakan orang-orang kecil di pedesaan tidak bisa menikmati hak-haknya secara bebas. Begitu juga ketika politik etis diberlakukan, rakyat Madura telah diperkenalkan akan pentingnya pendidikan dan industri, tetapi disisi lain, laba politik etis yang dinikmati oleh rakyat Madura termasuk Pamekasan harus ditebus dengan hancurnya ekologi Madura secara berkepanjangan, atau sedikitnya hingga masa pemulihan keadaan yang dipelopori oleh Residen R. Soenarto Hadiwidjojo. Bahwa pencabutan hak apanage yang diberikan kepada para aristokrat dan raja-raja Madura telah mengarah kepada kehancuran prestise pemegangnya yang selama beberapa kurun disandangnya.

Perkembangan Pamekasan, walaupun tidak terlalu banyak bukti tertulis berupa manuskrip ataupun inskripsi nampaknya mempunyai tugas yang cukup penting pada pertumbuhan kesadaran kebangsaan yang mulai berkembang di negara kita pada zaman Kebangkitan dan Pergerakan Nasional. Banyak tokoh-tokoh Pamekasan yang kemudian bergabung dengan partai-partai politik nasional yang mulai bangun mirip Sarikat Islam dan Nahdatul Ulama diakui sebagai tokoh nasional. Kita mengenal Tabrani, sebagai pencetus Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mulai dihembuskan pada ketika terjadinya Kongres Pemuda pertama pada tahun 1926, namun terjadi perselisihan faham dengan tokoh nasional lainnya di kongres tersebut. Pada Kongres Pemuda kedua tahun 1928 antara Tabrani dengan tokoh lainnya mirip Mohammad Yamin sudah tidak lagi bersilang pendapat.

Pergaulan tokoh-tokoh Pamekasan pada tingkat nasional baik secara perorangan ataupun melalui partai-partai politik yang bermunculan pada ketika itu, ditambah dengan kejadian-kejadian historis sekitar persiapan kemerdekaan yang kemudian disusul dengan tragedi-tragedi pada zaman pendudukan Jepang ternyata bisa mendorong semakin kuatnya kesadaran para tokoh Pamekasan akan pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian bahwa sebagian besar rakyat Madura termasuk Pamekasan tidak bisa mendapatkan terbentuknya negara Madura sebagai salah satu upaya Pemerintahan Kolonial Belanda untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Melihat dari sedikitnya, bahkan hampir tidak ada sama sekali prasasti maupun inskripsi sebagai sumber penulisan ini, maka data-data ataupun fakta yang dipakai untuk menganalisis kejadian yang terjadi tetap diupayakan memakai data-data sekunder berupa buku-buku sejarah ataupun Layang Madura yang diperkirakan mempunyai kaitan kejadian dengan kejadian sejarah yang ada. Selain itu diupayakan memakai data primer dari beberapa informan kunci ialah para sesepuh Pamekasan.

Source

Wednesday, November 21, 2018

Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap

Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap
www.kuwarasanku.blogspot.com
Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap

Perkembangan umum wacana tata pemerintahan khususnya di pulau Jawa sepertinya pernah terjadi di Pasuruan pada awal penguasaan oleh kerajaan Demak tahun semenjak 1535. penguasa kerjaan sentra Demak dikatakan juga menempatkan orang-orangnya di daerah yang gres dikuasainya. Namun demikian nama-nama dan gelar penguasa di Pasuruan pasca penaklukan Demak hingga Bupati Ranggajaya dibawah kekuasaan Mataram masih kabur. Setelah maut Sultan Trenggana 1546 di Demak rupanya Pasuruan semakin menjadi daerah yang setengah merdeka. Informasi wacana sejarah kerajaan Pasuruan pada kala XVI ini memang sedikit. 

Dalam kronik wacana kejadian Jawa memberitakan campur tangan pemuka agama di Giri dari tahun 1548 hingga 1552. dimungkinkan untuk memperkuat atau memulihkan kekuasaan Islam di Pasuruan. Namun demikian tetap menjadi daerah perebutan hegemoni antar penguasa. Terutama dari kerajaan Mataram yang berkembang lalu sesudah Demak dan Pajang. Pasuruan dikala menjadi pemerintahan gres yang telah memeluk Islam semenjak awal telah berlaku ekspansif sebagaimana kerajaan lain. bahkan kekuasaan Pasuruan meluas hingga Kediri bahkan Blambangan. Achilles Meerman yang merujuk catatan Cornelis de Houtman tahun 1596 menyebut adanya peperangan antara Pasuruan yang telah memeluk Islam "Mohamedan Pasuruan" dan Blambangan yang beragama Hindu. Bulan Januari 1597 waktu ke Bali diterangkan Bandar Panarukan, banda penting kerajaan Blambangan telah dikepung lebih 3 bulan. 

Dari catatan pedagang Belanda pada permulaan tahun 1597 diperoleh informasi pasukan dari Bupati Pasuruan besar peranannya dalam pertempauran melawan Panembahan Senapati dari Mataram sehingga Pasuruan belum berhasil dikuasai. Pedagang Panembahan Senapati dari Mataram sehingga Pasuruan belum berhasil dikuasai. Pedagang Belanda Frank van de Does yang singgah di "Palemboam" atau "Balemboam" (Blambangan) antara tanggal 18-27 Januari 1597 menyebut: Blambangan telah dikepung pasukan Korinck van Pasuruan (raja Pasuruan) yang berkekuatan 3000 orang prajurit. Meski bersifat ekspansif Pasuruan juga tidak lepas dari penyerangan dari pihak luar. Kerajaan Mataram mulai dari penguasa pertama Panembahan Senapati yang juga mulai menyerang Pasuruan tahun 1591 dan 1600 dilanjutkan penggantinya.

 
Masa Sultan Agung (1613-1646) memerintah di Mataram merupakan puncak politik perluasan yang telah dirintis penguasa sebelumnya. Pulau Jawa menjadi lebih menuju pada suatu kesatuan yang lebih infinit meski dalam ikatan yang longgar. Pasuruan juga dikuasai kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung ini. Pada masa pemerintahan pengganti Sultan Agung, Amangkurat I(1646-1677) konsepsi Negara semakin terwujud. Amangkurat I dalam menaklukkan suatu wilayah hingga apda pengikut-pengikutnya. Pemerintah tingkat propinsi diserahkan pada ministeriales (setingkat bupati) yang sering diganti untuk menghindarkan impian untuk merdeka. Pajak dalam bentuk uang sudah mulai dijadikan peraturan umum. 

Karena sistem pajak kurang berhasil lalu diubah dengan cara menggadaikan daerah pada ministeriales dalam jumlah tertentu setahun Perdagangan dengan luar negeri dimonopoli oleh pemerintah sentra (Schrieke 1974). Pada masa yang lebih lalu sekitar tahun 1675 kota pantai antara Demung dan Surabaya antara lain Pasuruan, Gembong dan Garongan sanggup direbut. Karaeng Galesung yang membantu Trunajaya melawan Kompeni. Daerah yang disrang umumnya merupakan daerah berpenduduk padat dan Bandar perdagangan beras yang penting. Dari surat Speelman 14 Juni 1677 yang dikutip de Graaf juga menyebutkan, masa pemerintahan Amangkurat I bertahta di Matrama Kyai Dermayuda dijadikan Wedana-Bupati Pasuruan membawahai bupati disekeitarnya. Waktu itu juga jabatan Syahbandar Pasuruan yang berkedudukan di Garuda. 

Pertengahan tahun 1677 jabatan Syahbandar ini dipegang Kyai Lurah Nayapatra. (Soetjipto, 1983). Sutjahyo (2001) menelaah data menuskrip yang diperolehnya dari Perpustakaan Nasional yang ditulis Puh Dona Asmara yang berbunyi: Sira sun karya Dipati, jumenengo Pasuruhan, ngadegeno karatone, sakehe mancanegara, kabeh sira kariga, sawetane Gunung Lawu, kabeh sira prentahana, (engkau saya jadikan dipati (raja) bertahta di Pasuruhan, semua negeri di dekatnya engkau persiapkan, sebelah timur Gunung Lawu, semua engkau kuasai). Tulisan ini berasal dari perintah Pangeran Nerangkusumo (Paman Raden Gusik Kusumo/istri Untung Surapati) yang diucapkan sekitar pukul 14.00, tanggal 8 Februari 1686 yang disaksikan Adipati Surabaya, Adipati Madura, Adipati Kediri, dan Raja kecil Pasuruan. Penyerangan lain dilakukan Bupati Madura yang lain yaitu Cakraningrat IV yang tahun 1718 diangkat bupati oleh Susuhunan Mataram. Penyerangan oleh Cakraningrat IV mencakup Surabaya, Sumenep, Probolinggo, dan Pasuruan dengan kekuatan 2000 orang prajurit. Penyerangan lain yakni oleh Kompeni Belanda waktu Pasuruan dibawah kekuasaan Untung Surapati

Setelah Pasuruan sanggup dikuasai Kompeni dikembalikan menjadi wilayah jajahan Mataram dengan akibat menandatangani kontrak. Di daerah kekuasaan Mataram Kompeni diizinkan mendidirkan benteng dengan sejumlah pasukan. Di Pasuruan Kompeni mendirikan beberapa benteng yang dikepalai seorang Kapten. Seorang Bupati juga sering menerima kiprah pelengkap membantu Bupati di daerah di dekatnya yang kurang baik pemerintahannya. Sebagai pola yakni Surat Keputusan Sunan Pakubuwana II tanggal 30 Desember 1732 yang tetapkan Ngabehi Jayengrana (bupati Pasuruan) menjadi Wedana-Bupati yang membawahi Bupati Jayalelana dari daerah Dringu dan Bupati Puspadireja dari daerah Bangil. Waktu Gubernur Jendral Baron van Imhoff (dalam Babad Kitha Pasuruandisebut "Baron pan Hindup") tahun 1764 berkunjung di Pasuruan. 

Bupati Pasuruan Tumenggung Nitinegoro sedang sakit sesudah memerintah 15 tahun. Sebelum meninggal dia menunjuk anaknya Raden Ngabehi Sumadrana yang disetujui pemerintah sentra Kompeni dan dilantik tahun 1751. Anak bupati biasanya telah membantu bapaknya memerintah sebagaionderregent (wakil bupati). Seperti juga Bupati Pasuruan Adipati Nitidiningrat semenjak tahun 1781 dibantu anaknya yang berjulukan Natakusuma. Baru tahun 1800 Natakusuma diangkat menjadi Bupati penuh. Seiring dengan perkembangan tata pemerintahan terjadi perubahan fisik di kota Pasuruan yang menjadi catatan tersendiri. Tahun 1822 diceritakan "Pasuruan yakni daerah yang luas dan makmur. Di situ terdapat perdagangan yang ramai dengan pulau Madura. Di jalan-jalan banyak orang terutama di jalan Pos Besar yang menuju Surabaya". Kesaksian lain dari Raden Mas Hario Poerwo Lelono pada pertengahan kala 19 menyebut ramainya kota kecil Bangil alasannya yakni adanya pasar besar. Lokasinya 1 jam perjalanan sebelum mencapai Pasuruan. 

Kota Pasuruan tahun 1830 juga menempati posisi yang penting alasannya yakni merupakan sentra pemerintahan Karesidenan sekaligus sentra Kabupaten. Karesidenan Pasuruan waktu itu mencakup Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Bangil, dan Kabupaten Malang. Kabupaten Pasuruan membawahi 11 distrik. Distrik Kraton, Rajasa, Winongan, Keboncandi, Jati, Grati, Melaten, Gempeng, Ngempit dan Tengger. Ada juga yang menyebut 12 distrik dengan pelengkap Wangkal dan Porong. Residen Pasuruan S van Deventer pernah mendeskripsikan wacana kepindahan rumah bupati Pasuruan. Perpindahan itu terjadi tanggal19 Maret 1868 yang diiringi pertunjukan gambuh. 

Dari beberapa bupati yang pernah memerintah di Pasuruan terdapat nama Arya Suganda. Bupati yang populer pada paruh kedua kala XIX. Ia berasal dari keluarga darah biru Mangkunegara, Surakarta dan seorang yang terpelajar. Ia juga seorang pengaran Niti Mani, karya fiosofis Jawa yang menghubungkan erotisme dengan mistikisme yang banyak dibaca para budayawan pada masanya (Graaf, 1998). Bupati Arya Suganda ini sanggup disejajarkan dengan nama disebut sebagai RM. AA. Soegondo (1887-1901) ibarat termuat dalam daftar nama Bupati Pasuruan (Anonim, 2001). Perkembangan lebih lanjut dari tata pemerintahan khususnya di Pasuruan terjadinya pembentukan Kabupaten Pasuruan 1 Januari 1901 menurut Staatblad 1900 No. 334 yang berawal dari Residen Pasoeroean dengan batas wilayah mencakup utara berbatasan dengan Madura, selatan berbatasan dengan Laut Hindia, barat berbatasan dengan Residen Kediri dan Surabaya, timur berbatasan dengan Besuki. Malang dan Probolinggo masuk wilayah Pasuruan. Pada waktu yang lebih lalu terjadi pembentukan Kotamadia Pasuruan tanggal 1 Juli 1918 menurut Staatblad 1918 No. 320 dengan namaGemeente Pasoeroean (Sutjahyo, 2001).



Kawasan Pasuruan merupakan daerah pertanian dan perdagangan semenjak periode klasik Indonesia. Pelabuhan Pasuruan telah melayani perdagangan untuk kerajaan-kerajaan di Jawa Timur.

Pada masa penguasaan oleh VOC (diserahkan dari wilayah Kesultanan Mataram sebagai imbalan pertolongan VOC dalam perang Suksesi Jawa, Pasuruan menjadi salah satu penghasil utama komoditas perdagangan hasil pertanian. Hal ini diteruskan pada periode penguasaan oleh Hindia-Belanda.

Source : 2


Baca juga : 

Tuesday, November 20, 2018

Sejarah Kota Pasuruan Jawa Timur Lengkap


Kota Pasuruan terletak ditepi pantai dan merupakan kota Bandar kuno. Pada jaman Erlangga kota ini disebut "PARAVAN" sedang pada jaman sejarah tiongkok disebut "GEMBONG". 
Sejarah Kota Pasuruan Jawa Timur Lengkap Sejarah Kota Pasuruan Jawa Timur Lengkap
www.kuwarasanku.blogspot.com

Konon  ada  orang  dari    negeri   Blambangan yang bernama  kiai  Gedee Menak Soepethak   menjadi  Raja  di  Pasuruan, yang  kemudian   digantikan   oleh  orang Surabaya   bernama  Kiai   Gedee   Kapulungan  yang  memenangkan  peperangan. Demikian insiden berikutnya Kiai Gedee Kapulungan digantikan oleh Kiai Gedee Dermoyudo dari Kartosuro, dimana dalam menjalankan Pemerintahannya wafat dan digantikan oleh anaknya yang juga berjulukan Dermoyudo.  Kiai  Gedee Dermoyudo lari  ke  Surabaya   dan  lolos  dalam   perang  melawan  Mas Pekik,   serta   dalam pelariannya dia wafat dan dimakamkan di  pemakaman   Bibis  Wetan  Kantor Pos Surabaya. Dengan demikian Mas Pekik menjadi Raja di Pasuruan, kemudian wafat dan digantikan oleh Onggojoyo. 

Tahun 1671 – 1686
Pasuruan dibawah pemerintahan Onggo Djoyo, yang berasal dari keturunan kyai Brondong menerima perlawanan dari untung Suropati dan kemudian kalah kemudian melarikan diri ke kota Surabaya.

Tahun 1686 –1706
Pasuruan dibawah pemerintahan Djoko Untung Suropati dengan gelar Adipati Wironegoro.

Tahun 1706
Djoko Untung Suropati perang dengan VOC di Bangil dan mengalami luka - luka hingga meninggal, hingga kini makamnya tidak diketahui, yang ada petilasannya berupa GOA tempat persembunyiannya di pedukuhan mancilan desa Pohjentrek.
Tahun 1707
Putra Djoko Untung Suropati yang berjulukan Rachmad, menggantikan kedudukan ayahnya dan meneruskan usaha dia hingga ke Timur dan gugur dalam pertempuran.

Tahun 1743
Darmayudo IV berjulukan Wongso Negoro Nitinegoro sebagai pengganti Rachmad. Sejak ketika itu VOC sanggup menguasai pantai utara jawa termasuk Pasuruan dan menganggap kota Pasuruan sebagai kota Bandar, sehingga perlulah dijadikan Ibukota Karesidenan dengan wilayah : Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Bangil

Tahun 1916
Karena Pasuruan dianggap kota yang penting oleh ahli-ahli Belanda, maka tanggal 1 Juli 1916 (stbl 1918 No. 320) dibuat STADS GEMSENTE VAN PASOEROEAN

Tahun 1926
Ditetapkan pelabuhan Pasuruan dengan peta kawasan pelabuhan dan peta kawasan kepentingan pelabuhan (stbl. 1926 No. 512, perubahan stbl 1920 No. 426)

Tahun 1928
Ibukota Karesidenan Pasuruan dipindahkan ke Malang.

Tahun 1935
Penggabungan Kotamadya Malang, Kotamadya Pasuruan, Kotamadya Probolinggo. Karena kota Pasuruan yakni ibukota Karesidenan, maka Belanda mengadakan acara dengan mendirikan pabrik-pabrik gula disekitar Pasurun (Kedawung, pengkol, pleret, dan pabrik - pabrik yang ada di Probolinggo, Sidoarjo dan Malang. Untuk Keperluan tersebut dianggap perlu adanya Balai penelitian Gula(Proofstation Van Ooc Java) yang merupakan tubuh penelitian tersebar dibelahan bumi bab selatan, kini balai-balai tersebut masih berfungsi dan diberi nama BP3G (Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula)

Agar Pabrik-pabrik itu sanggup lestari, maka didirikan sebuah bingkil besar ntuk merevisi pabrik gula setelah giling dengan nama De Bromo, pada jaman merdeka diberi nama PN. Boma yang memiliki tiga unit antara lain:
1. Unit Bhinneka.
2. Unit Turangga.
3. Unit Wahana.
Masing - masing berfungsi sebagai unit aneka ragam pekerjaan, unit yang menciptakan mesin dan unit yang menciptakan gerbang kereta api.

Tahun 1950
Kota Pasuruan dinyatakan kawasan otonom yang terdiri atas 19 Desa dan Satu Kecamatan

Tahun 1982
Berdasarkan PP NO. 46 / 1982 tanggal 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan dimekarkan menjadi 3 Kecamatan dengan 19 Kelurahan dan 15 Desa suplemen dari kabupaten Pasuruan

source


Monday, November 19, 2018

Sejarah Negara Indonesia Lengkap

Sejarah Negara Indonesia Lengkap
Sejarah Indonesia mencakup suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai semenjak zaman prasejarah menurut inovasi "Manusia Jawa" yang berusia 1,7 juta tahun yang lalu. Periode sejarah Indonesia sanggup dibagi menjadi lima era: Era Prakolonial, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha serta Islam di Jawa dan Sumatera yang terutama mengandalkan perdagangan; Era Kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda) yang menginginkan rempah-rempah menimbulkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 periode antara awal periode ke-17 hingga pertengahan periode ke-20; Era Kemerdekaan Awal, pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) hingga jatuhnya Soekarno (1966); Era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (1966–1998); serta Orde Reformasi yang berlangsung hingga sekarang.

Sejarah Indonesia mencakup suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai semenjak zama Sejarah Negara Indonesia Lengkap
Gambar nyolong di www.kuwarasanku.blogspot.com

Pra Sejarah
Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya disebut Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat artikel Geologi Indonesia). Kepulauan Indonesia menyerupai yang ada ketika ini terbentuk pada ketika melelehnya es sesudah berakhirnya Zaman Es, sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni awal yakni fosil-fosil Homo erectus insan Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa "manusia Flores" (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es terakhir.

Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara semenjak 100.000 tahun yang kemudian melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 60 000 hingga 70 000 tahun yang kemudian telah mencapai Pulau Papua dan Australia.Mereka, yang berfenotipe kulit hitam dan rambut keriting rapat, menjadi nenek moyang penduduk orisinil Melanesia (termasuk Papua) kini dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum tiba secara bergelombang semenjak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan kepingan dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat semenjak periode ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktik-praktik megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada periode pertama SM sudah terbentuk pemukiman-pemukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk dampak kepercayaan dari India akhir relasi perniagaan.

Sejarah Awal

Para cendekiawan India telah menulis ihwal Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau Jawa dan Sumatra atau Swarna dwipa sekitar 200 SM. Bukti fisik awal yang menyebutkan mengenai adanya dua kerajaan bercorak Hinduisme pada periode ke-5, yaitu: Kerajaan Tarumanagara yang menguasai Jawa Barat dan Kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan. Pada tahun 425 agama Buddha telah mencapai wilayah tersebut.

Di ketika Eropa memasuki masa Renaisans, Nusantara telah memiliki warisan peradaban berusia ribuan tahun dengan dua kerajaan besar yaitu Sriwijaya di Sumatra dan Majapahit di Jawa, ditambah dengan puluhan kerajaan kecil yang sering kali menjadi vazal tetangganya yang lebih berpengaruh atau saling terhubung dalam semacam ikatan perdagangan (seperti di Maluku).

Selengkapnya : https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia