Showing posts sorted by relevance for query cerita-rakyat-keong-mas-lengkap. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query cerita-rakyat-keong-mas-lengkap. Sort by date Show all posts

Sunday, October 14, 2018

Cerita Rakyat Keong Mas Lengkap

Cerita Rakyat Keong Mas Lengkap. Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplah seorang cowok berjulukan Galoran. Ia termasuk orang yang disegani alasannya ialah kekayaan dan pangkat orangtuanya. Namun Galoran sangatlah malas dan boros. Sehari-hari kerjanya hanya menghambur-hamburkan harta orangtuanya, bahkan pada waktu orang tuanya meninggal dunia ia semakin sering berfoya-foya. Karena itu usang kelamaan habislah harta orangtuanya. Walaupun demikian tidak menciptakan Galoran sadar juga, bahkan waktu dihabiskannya dengan hanya bermalas-malasan dan berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Namun setiap kali ada yang memperlihatkan pekerjaan kepadanya, Galoran hanya makan dan tidur saja tanpa mau melaksanakan pekerjaan tersebut. Namun kesannya galoran dipungut oleh seorang janda berkecukupan untuk dijadikan teman hidupnya. Hal ini menciptakan Galoran sangat senang ; “Pucuk dicinta ulam pun tiba”, demikian pikir Galoran.

Janda tersebut memiliki seorang anak wanita yang sangat rajin dan cerdik menenun, namanya Jambean. Begitu bagusnya tenunan Jambean hingga dikenal diseluruh dusun tersebut. Namun Galoran sangat membenci anak tirinya itu, alasannya ialah seringkali Jambean menegurnya alasannya ialah selalu bermalas-malasan.

Cerita Rakyat Keong Mas Lengkap

Rasa benci Galoran sedemikian dalamnya, hingga tega merencanakan pembunuhan anak tirinya sendiri. Dengan tajam ia berkata pada istrinya : ” Hai, Nyai, sungguh beraninya Jambean kepadaku. Beraninya ia menasehati orangtua! Patutkah itu ?” “Sabar, Kak. Jambean tidak bermaksud jelek terhadap kakak” bujuk istrinya itu. “Tahu saya mengapa ia berbuat agresif padaku, biar saya pergi meninggalkan rumah ini !” seru nya lagi sambil melototkan matanya. “Jangan begitu kak, Jambean hanya sekedar mengingatkan biar abang mau bekerja” demikian perjuangan sang istri meredakan amarahnya. “Ah .. omong kosong. Pendeknya kini engkau harus menentukan .. saya atau anakmu !” demikian Galoran mengancam.

Baca juga : 

Sedih hati ibu Jambean. Sang ibu menangis siang-malam alasannya ialah resah hatinya. Ratapnya : ” Sampai hati bapakmu menyiksaku jambean. Jambean anakku, mari kemari nak” serunya lirih. “Sebentar mak, tinggal sedikit tenunanku” jawab Jambean. “Nah selesai sudah” serunya lagi. Langsung Jambean mendapat ibunya yang tengah bersedih. “Mengapa emak bersedih saja” tanyanya dengan iba. Maka diceritakanlah planning bapak Jambean yang merencanakan akan membunuh Jambean. Dengan duka Jambean pun berkata : ” Sudahlah mak jangan bersedih, biarlah saya memenuhi impian bapak. Yang benar kesannya akan senang mak”. “Namun hanya satu pesanku mak, apabila saya sudah dibunuh ayah janganlah mayatku ditanam tapi buang saja ke bendungan” jawabnya lagi. Dengan sangat duka sang ibu pun mengangguk-angguk. Akhirnya Jambean pun dibunuh oleh ayah tirinya, dan sesuai undangan Jambean sang ibu membuang mayatnya di bendungan. Dengan asing batang badan dan kepala Jambean berubah menjadi udang dan siput, atau disebut juga dengan keong dalam bahasa Jawanya. Legenda Keong Mas LengkapCerita Keong Mas LengkapLegenda Keong MasCerita Rakyat Keong MasCerita Rakyat Keong Mas LengkapAsal Usul Keong MasAsal Usul Cerita Keong MasAwal Mula Legenda Keong MasKumpulan Cerita Rakyat LengkapKumpulan Cerita Legenda Lengkap

Tersebutlah di Desa Dadapan dua orang janda bersaudara berjulukan Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil. Kedua janda itu hidup dengan sangat gulung tikar dan bermata pencaharian mengumpulkan kayu dan daun talas. Suatu hari kedua bersaudara tersebut pergi ke erat bendungan untuk mencari daun talas. Sangat terpana mereka melihat udang dan siput yang berwarna kuning keemasan. “Alangkah indahnya udang dan siput ini” seru Mbok Rondo Sambega “Lihatlah betapa indahnya warna kulitnya, kuning keemasan. Ingin saya dapat memeliharanya” serunya lagi. “Yah sangat indah, kita bawa saja udang dan keong ini pulang” sahut Mbok Rondo Sembadil. Maka dipungutnya udang dan siput tersebut untuk dibawa pulang. 


Kemudian udang dan siput tersebut mereka taruh di dalam tempayan tanah liat di dapur. Sejak mereka memelihara udang dan siput emas tersebut kehidupan merekapun berubah. Terutama setiap sehabis pulang bekerja, didapur telah tersedia lauk pauk dan rumah menjadi sangat rapih dan bersih. Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil juga merasa keheranan dengan adanya hal tersebut. Sampai pada suatu hari mereka berencana untuk mencari tahu siapakah gerangan yang melaksanakan hal tersebut.

Suatu hari mereka ibarat biasanya pergi untuk mencari kayu dan daun talas, mereka berpura-pura pergi dan kemudian sesudah berjalan agak jauh mereka segera kembali menyelinap ke dapur. Dari dapur terdengar bunyi gemerisik, kedua bersaudara itu segera mengintip dan melihat seorang gadis anggun keluar dari tempayan tanah liat yang berisi udang dan Keong Emas peliharaan mereka. “tentu ia ialah jelmaan keong dan udang emas itu” bisik Mbok Rondo Sambega kepada Mbok Rondo Sembadil. “Ayo kita tangkap sebelum bermetamorfosis kembali menjadi udang dan Keong Emas” bisik Mbok Rondo Sembadil. 

Dengan perlahan-lahan mereka masuk ke dapur, kemudian ditangkapnya gadis yang sedang asik memasak itu. “Ayo ceritakan lekas nak, siapa gerangan kau itu” desak Mbok Rondo Sambega “Bidadarikah kau ?” sahutnya lagi. “bukan Mak, saya insan biasa yang alasannya ialah dibunuh dan dibuang oleh orang bau tanah saya, maka saya bermetamorfosis menjadi udang dan keong” sahut Jambean lirih. “terharu mendengar dongeng Jambean kedua bersaudara itu kesannya mengambil Keong Emas sebagai anak angkat mereka. Sejak itu Keong Emas membantu kedua bersaudara tersebut dengan menenun. Tenunannya sangat indah dan bagus sehingga terkenallah tenunan terebut keseluruh negeri, dan kedua janda bersaudara tersebut menjadi bertambah kaya dari hari kehari. Legenda Keong Mas LengkapCerita Keong Mas LengkapLegenda Keong MasCerita Rakyat Keong MasCerita Rakyat Keong Mas LengkapAsal Usul Keong MasAsal Usul Cerita Keong MasAwal Mula Legenda Keong MasKumpulan Cerita Rakyat LengkapKumpulan Cerita Legenda Lengkap

Sampailah tenunan tersebut di ibukota kerajaan. Sang raja muda sangat tertarik dengan tenunan buatan Jambean atau Keong Emas tersebut. Akhirnya raja tetapkan untuk meninjau sendiri pembuatan tenunan tersebut dan pergi meninggalkan kerajaan dengan menyamar sebagai saudagar kain. Akhirnya tahulah raja wacana Keong Emas tersebut, dan sangat tertarik oleh kecantikan dan kerajinan Keong Emas. Raja menitahkan kedua bersaudara tersebut untuk membawa Jambean atau Keong Emas untuk masuk ke kerajaan dan meminang si Keong Emas untuk dijadikan permaisurinya. Betapa senang hati kedua janda bersaudara tersebut.

Tuesday, October 9, 2018

Biografi Gus Dur (Biografi Abdurrahman Wahid)

Biografi Abdurrahman Wahid. Dr.(H.C.) K. H. Abdurrahman Wahid atau yang dekat disapa Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun) yaitu tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 sampai 2001. Ia menggantikan Presiden B.J. Habibie sesudah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang spesial MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri sesudah mandatnya dicabut oleh MPR. Abdurrahman Wahid yaitu mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). 

Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang dipakai untuk menandai hari kelahirannya yaitu kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya'ban 1359 Hijriah, sama dengan 7 September 1940.
Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk". Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" yaitu panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".

 Abdurrahman Wahid atau yang dekat disapa Gus Dur  Biografi Gus Dur (Biografi Abdurrahman Wahid)
Credit : Wikipedia Gambar : Biografi Gus Dur

Gus Dur yaitu putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya yaitu K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, yaitu pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, yaitu putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Saudaranya yaitu Salahuddin Wahid dan Lily Wahid. Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alisa, Yenny, Anita, dan Inayah.

Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia mempunyai darah Tionghoa. Abdurrahman Wahid mengaku bahwa ia yaitu keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V. Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.

Pada tahun 1944, Wahid pindah dari Jombang ke Jakarta, daerah ayahnya terpilih menjadi Ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan santunan tentara Jepang yang ketika itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Pada selesai perang tahun 1949, Wahid pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Abdurrahman Wahid berguru di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Wahid juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Gus Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada tahun 1952. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akhir kecelakaan mobil.

Pendidikan Wahid berlanjut dan pada tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas. Ibunya kemudian mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dengan mengaji kepada KH. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak dan berguru di SMP. Pada tahun 1957, sesudah lulus dari SMP, Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Ia menyebarkan reputasi sebagai murid berbakat, menuntaskan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun 1959, Wahid pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah. Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah menyerupai Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

Pada tahun 1963, Wahid mendapatkan beasiswa dari Kementrian Agama untuk berguru Studi Islam di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Ia pergi ke Mesir pada November 1963. Meskipun ia mahir berbahasa Arab, Gus Dur diberitahu oleh pihak universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum berguru Islam dan bahasa Arab. Karena tidak bisa memperlihatkan bukti bahwa ia mempunyai kemampuan bahasa Arab, Wahid terpaksa mengambil kelas remedial.

Abdurrahman Wahid menikmati hidup di Mesir pada tahun 1964; ia suka menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menonton pertandingan sepak bola. Wahid juga terlibat dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah asosiasi tersebut. Pada selesai tahun, ia berhasil lulus kelas remedial Arabnya. Ketika ia memulai belajarnya dalam Islam dan bahasa Arab tahun 1965, Gus Dur kecewa; ia telah mempelajari banyak materi yang diberikan dan menolak metode berguru yang dipakai Universitas.

Di Mesir, Wahid dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Pada ketika ia bekerja, tragedi Gerakan 30 September (G30S) terjadi. Mayor Jenderal Suharto menangani situasi di Jakarta dan upaya pemberantasan komunis dilakukan. Sebagai pecahan dari upaya tersebut, Kedutaan Besar Indonesia di Mesir diperintahkan untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap pelajar universitas dan memperlihatkan laporan kedudukan politik mereka. Perintah ini diberikan pada Wahid, yang ditugaskan menulis laporan.

Wahid mengalami kegagalan di Mesir. Ia tidak sepakat akan metode pendidikan serta pekerjaannya sesudah G30S sangat mengganggu dirinya. Pada tahun 1966, ia diberitahu bahwa ia harus mengulang belajar. Pendidikan prasarjana Gus Dur diselamatkan melalui beasiswa di Universitas Baghdad. Wahid pindah ke Irak dan menikmati lingkungan barunya. Meskipun ia lalai pada awalnya, Wahid dengan cepat belajar. Wahid juga meneruskan keterlibatannya dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan juga menulis majalah asosiasi tersebut.

Setelah menuntaskan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Abdurrahman Wahid pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Wahid ingin berguru di Universitas Leiden, tetapi kecewa alasannya yaitu pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui. Dari Belanda, Wahid pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971. 

Gus Dur kembali ke Jakarta mengharapkan bahwa ia akan pergi ke luar negeri lagi untuk berguru di Universitas McGill Kanada. Ia menciptakan dirinya sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah Prisma dan Gusdur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selain bekerja sebagai kontributor LP3ES,Gusdur juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Pada ketika itu,pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Gusdur merasa prihatin dengan kondisi itu alasannya yaitu nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akhir perubahan ini. |Biografi Gud DurBiografi Abdurrahman WahidBiografi Presiden RIBiografi Gus Dur LengkapBiografi Abdurrahman Wahid LengkapBiografi Presiden RI LengkapKumpulan Biografi PresidenKumpulan Biografi Wakil PresidenSejarah NegaraSejarah Kabupaten dan Kota Lengkap|. Gusdur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai distributor perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Gusdur menentukan batal berguru luar negeri dan lebih menentukan menyebarkan pesantren.

Abdurrahman Wahid meneruskan kariernya sebagai jurnalis,menulis untuk majalah dan surat kabar Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai menyebarkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu,ia mendapatkan banyak undangan untuk memperlihatkan kuliah dan seminar, menciptakan ia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, daerah Gusdur tinggal bersama keluarganya.

Meskipun mempunyai karier yang sukses pada ketika itu, Gusdur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber pencaharian dan ia bekerja untuk mendapatkan pendapatan aksesori dengan menjual kacang dan mengantarkan es. Pada tahun 1974 Gusdur menerima pekerjaan aksesori di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas dan segera menyebarkan reputasi baik. Satu tahun kemudian Wahid menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.

Pada tahun 1977, Gusdur bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam dan Universitas ingin supaya Gusdur mengajar subjek aksesori menyerupai syariat Islam dan misiologi. Namun kelebihannya mengakibatkan beberapa ketidaksenangan dari sebagian kalangan universitas. 

Latar belakang keluarga Wahid segera berarti. Ia akan diminta untuk memainkan kiprah aktif dalam menjalankan NU. Permintaan ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur dalam menjadi intelektual publik dan ia dua kali menolak proposal bergabung dengan Dewan Penasihat Agama NU. Namun, Wahid kesannya bergabung dengan Dewan tersebut sesudah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya proposal ketiga. Karena mengambil pekerjaan ini, Wahid juga menentukan untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di sana. Sebagai anggota Dewan Penasihat Agama, Wahid memimpin dirinya sebagai reforman NU.

Pada ketika itu, Abdurrahman Wahid juga menerima pengalaman politik pertamanya. Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah Partai Islam yang dibuat sebagai hasil adonan 4 partai Islam termasuk NU. Wahid menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang menyerupai dirinya. Namun, Wahid selalu berhasil lepas alasannya yaitu mempunyai hubungan dengan orang penting menyerupai Jenderal Benny Moerdani.

Pada ketika itu, banyak orang yang memandang NU sebagai organisasi dalam keadaan stagnasi/terhenti. Setelah berdiskusi, Dewan Penasihat Agama kesannya membentuk Tim Tujuh (yang termasuk Wahid) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Reformasi dalam organisasi termasuk perubahan kepemimpinan. Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan meminta supaya ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada kurun transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto awalnya melawan, tetapi kesannya mundur alasannya yaitu tekanan. Pada 6 Mei 1982, Wahid mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, kemudian ia berkata bahwa seruan mundur tidak konstitusionil. Dengan himbauan Wahid, Idham membatalkan kemundurannya dan Wahid bersama dengan Tim Tujuh sanggup menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya.

Pada tahun 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ke-4 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan mulai mengambil langkah untuk menjadikan Pancasila sebagai Ideologi Negara. Dari Juni 1983 sampai Oktober 1983, Wahid menjadi pecahan dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu tersebut. Wahid berkonsultasi dengan bacaan menyerupai Alquran dan Sunnah untuk pembenaran dan akhirnya, pada Oktober 1983, ia menyimpulkan bahwa NU harus mendapatkan Pancasila sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, Wahid juga mengundurkan diri dari PPP dan partai politik. Hal ini dilakukan sehingga NU sanggup fokus dalam problem sosial daripada terhambat dengan terlibat dalam politik.

Reformasi Wahid membuatnya sangat terkenal di kalangan NU. Pada ketika Musyawarah Nasional 1984, banyak orang yang mulai menyatakan impian mereka untuk menominasikan Wahid sebagai ketua gres NU. Wahid mendapatkan nominasi ini dengan syarat ia mendapatkan wewenang penuh untuk menentukan para pengurus yang akan bekerja di bawahnya. Wahid terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional tersebut. Namun, persyaratannya untuk sanggup menentukan sendiri para pengurus di bawahnya tidak terpenuhi. Pada hari terakhir Munas, daftar anggota Wahid sedang dibahas persetujuannya oleh para pejabat tinggu NU termasuk Ketua PBNU sebelumnya, Idham Chalid. Wahid sebelumnya telah memperlihatkan sebuah daftar kepada Panitia Munas yang sedianya akan diumumkan hari itu. Namun, Panitia Munas, yang bertentangan dengan Idham, mengumumkan sebuah daftar yang sama sekali berbeda kepada para penerima Munas.

Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto dan rezim Orde Baru. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan gambaran moderatnya menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. Pada tahun 1985, Suharto menjadikan Gus Dur indoktrinator Pancasila. Pada tahun 1987, Abdurrahman Wahid pertanda santunan lebih lanjut terhadap rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar Suharto. Ia kemudian menjadi anggota MPR mewakili Golkar. Meskipun ia disukai oleh rezim, Wahid mengkritik pemerintah alasannya yaitu proyek Waduk Kedung Ombo yang dibiayai oleh Bank Dunia. Hal ini merenggangkan hubungan Wahid dengan pemerintah, namun ketika itu Suharto masih menerima santunan politik dari NU.

Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga sanggup menandingi sekolah sekuler. Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok berguru di Probolinggo, Jawa Timur untuk menyediakan lembaga individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyediakan interpretasi teks Muslim. Gus Dur pernah pula menghadapi kritik bahwa ia mengharapkan mengubah salam Muslim "assalamualaikum" menjadi salam sekuler "selamat pagi".

Wahid terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua NU pada Musyawarah Nasional 1989. Pada ketika itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, mulai menarik simpati Muslim untuk menerima santunan mereka. Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibuat untuk menggoda Muslim Intelektual. Organisasi ini didukung oleh Soeharto, diketuai oleh Baharuddin Jusuf Habibie dan di dalamnya terdapat intelektual Muslim menyerupai Amien Rais dan Nurcholish Madjid sebagai anggota. Pada tahun 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung. Gus Dur menolak alasannya yaitu ia menduga ICMI mendukung sektarianisme dan akan menciptakan Soeharto tetap kuat. Pada tahun 1991, Wahid melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi yang terdiri dari 45 intelektual dari aneka macam komunitas religius dan sosial. Organisasi ini diperhitungkan oleh pemerintah dan pemerintah menghentikan pertemuan yang diadakan oleh Forum Demokrasi ketika menjelang pemilihan umum legislatif 1992.

Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan santunan NU terhadap Pancasila. Wahid merencanakan program itu dihadiri oleh paling sedikit satu juta anggota NU. Namun, Soeharto menghalangi program tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta. Akan tetapi, program itu dihadiri oleh 200.000 orang. Setelah acara, Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran. Selama masa jabatan keduanya sebagai ketua NU, inspirasi liberal Gus Dur mulai mengubah banyak pendukungnya menjadi tidak setuju. Sebagai ketua, Gus Dur terus mendorong obrolan antar agama dan bahkan mendapatkan undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994.

Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan dirinya untuk masa jabatan ketiga. Mendengar hal itu, Soeharto ingin supaya Wahid tidak terpilih. Pada minggu-minggu sebelum munas, pendukung Soeharto, menyerupai Habibie dan Harmoko berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur. Ketika musyawarah nasional diadakan, daerah pemilihan dijaga ketat oleh ABRI dalam tindakan intimidasi. Terdapat juga perjuangan menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga. Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang memakai nama ayahnya mempunyai popularitas yang besar dan berencana tetap menekan rezim Soeharto. Wahid menasihati Megawati untuk berhati-hati dan menolak dipilih sebagai Presiden untuk Sidang Umum MPR 1998. Megawati mengacuhkannya dan harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markas PDInya diambil alih oleh pendukung Ketua PDI yang didukung pemerintah, Soerjadi.

Melihat apa yang terjadi terhadap Megawati, Gus Dur berpikir bahwa pilihan terbaiknya kini yaitu mundur secara politik dengan mendukung pemerintah. Pada November 1996, Wahid dan Soeharto bertemu pertama kalinya semenjak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU dan beberapa bulan berikutnya diikuti dengan pertemuan dengan aneka macam tokoh pemerintah yang pada tahun 1994 berusaha menghalangi pemilihan kembali Gus Dur. Pada ketika yang sama, Gus Dur membiarkan pilihannya untuk melaksanakan reformasi tetap terbuka dan pada Desember 1996 bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Juli 1997 merupakan awal dari Krisis Finansial Asia. Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi tersebut. Gus Dur didorong untuk melaksanakan reformasi dengan Megawati dan Amien, namun ia terkena stroke pada Januari 1998. Dari rumah sakit, Wahid melihat situasi terus memburuk dengan pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden dan protes mahasiswa yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan Mei 1998 sesudah penembakan enam mahasiswa di Universitas Trisakti. Pada tanggal 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama dengan delapan pemimpin penting dari komunitas Muslim, dipanggil ke kediaman Soeharto. Soeharto memperlihatkan konsep Komite Reformasi yang ia usulkan. Sembilan pemimpin tersebut menolak untuk bergabung dengan Komite Reformasi. Gus Dur mempunyai pendirian yang lebih moderat dengan Soeharto dan meminta demonstran berhenti untuk melihat apakah Soeharto akan menepati janjinya. Hal tersebut tidak disukai Amien, yang merupakan oposisi Soeharto yang paling kritis pada ketika itu. Namun, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Wapres Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto.

Reformasi | Pembentukan PKB dan Pernyataan Ciganjur

Salah satu imbas jatuhnya Soeharto yaitu pembentukan partai politik baru. Di bawah rezim Soeharto, hanya terdapat tiga partai politik: Golkar, PPP dan PDI. Dengan jatuhnya Soeharto, partai-partai politik mulai terbentuk, dengan yang paling penting yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) bentukan Amien dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) bentukan Megawati. Pada Juni 1998, banyak orang dari komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru. Ia tidak pribadi mengimplementasikan inspirasi tersebut. Namun pada Juli 1998 Gus Dur mulai menanggapi inspirasi tersebut alasannya yaitu mendirikan partai politik merupakan satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Wahid menyetujui pembentukan PKB dan menjadi Ketua Dewan Penasihat dengan Matori Abdul Djalil sebagai ketua partai. Meskipun partai tersebut didominasi anggota NU, Gus Dur menyatakan bahwa partai tersebut terbuka untuk semua orang.

Pada November 1998, dalam pertemuan di Ciganjur, Gus Dur, bersama dengan Megawati, Amien, dan Sultan Hamengkubuwono X kembali menyatakan komitmen mereka untuk reformasi. Pada 7 Februari 1999, PKB secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden. 

Pada Juni 1999, partai PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangkan 12% bunyi dengan PDI-P memenangkan 33% suara. Dengan kemenangan partainya, Megawati diperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada Sidang Umum MPR. Namun, PDI-P tidak mempunyai dingklik lebih banyak didominasi penuh, sehingga membentuk aliansi dengan PKB. Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, koalisi partai-partai Muslim. Poros Tengah mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.

Pada 7 Oktober 1999, Amien dan Poros Tengah secara resmi menyatakan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden. Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie dan ia mundur dari pemilihan presiden. Beberapa ketika kemudian, Akbar Tanjung, ketua Golkar dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai menentukan presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.

Tidak bahagia alasannya yaitu calon mereka gagal memenangkan pemilihan, pendukung Megawati mengamuk dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati harus terpilih sebagai wakil presiden. Setelah meyakinkan jenderal Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan menciptakan PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut serta. Pada 21 Oktober 1999, Megawati ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan mengalahkan Hamzah Haz dari PPP.

Kabinet pertama Gus Dur, Kabinet Persatuan Nasional, yaitu kabinet koalisi yang mencakup anggota aneka macam partai politik: PDI-P, PKB, Golkar, PPP, PAN, dan Partai Keadilan (PK). Non-partisan dan Tentara Nasional Indonesia juga ada dalam kabinet tersebut. Wahid kemudian mulai melaksanakan dua reformasi pemerintahan. Reformasi pertama yaitu membubarkan Departemen Penerangan, senjata utama rezim Soeharto dalam menguasai media. Reformasi kedua yaitu membubarkan Departemen Sosial yang korup.

Pada November 1999, Wahid mengunjungi negara-negara anggota ASEAN, Jepang, Amerika Serikat, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Setelah itu, pada bulan Desember, ia mengunjungi Republik Rakyat Tiongkok.

Setelah satu bulan berada dalam Kabinet Persatuan Nasional,Menteri Koordinator Pengentasan Kemiskinan (Menko Taskin) Hamzah Haz mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan November. Muncul dugaan bahwa pengunduran dirinya diakibatkan alasannya yaitu Gus Dur menuduh beberapa anggota kabinet melaksanakan korupsi selama ia masih berada di Amerika Serikat. Beberapa menduga bahwa pengunduran diri Hamzah Haz diakibatkan alasannya yaitu ketidaksenangannya atas pendekatan Gus Dur dengan Israel. Biografi Gud DurBiografi Abdurrahman WahidBiografi Presiden RIBiografi Gus Dur LengkapBiografi Abdurrahman Wahid LengkapBiografi Presiden RI LengkapKumpulan Biografi PresidenKumpulan Biografi Wakil PresidenSejarah NegaraSejarah Kabupaten dan Kota Lengkap

Rencana Gus Dur yaitu memperlihatkan Aceh referendum. Namun referendum ini menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan menyerupai referendum Timor Timur. Gus Dur juga ingin mengadopsi pendekatan yang lebih lembut terhadap Aceh dengan mengurangi jumlah personel militer di Negeri Serambi Mekkah tersebut. Pada 30 Desember, Gus Dur mengunjungi Jayapura di provinsi Irian Jaya. Selama kunjungannya, Abdurrahman Wahid berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.

2000
Pada Januari 2000, Gus Dur melaksanakan perjalanan ke luar negeri lainnya ke Swiss untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia dan mengunjungi Arab Saudi dalam perjalanan pulang menuju Indonesia. Pada Februari, Wahid melaksanakan perjalanan luar negeri ke Eropa lainnya dengan mengunjungi Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan Italia. Dalam perjalanan pulang dari Eropa, Gus Dur juga mengunjungi India, Korea Selatan, Thailand, dan Brunei Darussalam. Pada bulan Maret, Gus Dur mengunjungi Timor Leste. Di bulan April, Wahid mengunjungi Afrika Selatan dalam perjalanan menuju Kuba untuk menghadiri pertemuan G-77, sebelum kembali melewati Kota Meksiko dan Hong Kong. Pada bulan Juni, Wahid sekali lagi mengunjungi Amerika, Jepang, dan Perancis dengan Iran, Pakistan, dan Mesir sebagai aksesori gres ke dalam daftar negara-negara yang dikunjunginya.

Ketika Gus Dur berkelana ke Eropa pada bulan Februari, ia mulai meminta Jenderal Wiranto mengundurkan diri dari jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Gus Dur melihat Wiranto sebagai halangan terhadap planning reformasi militer dan juga alasannya yaitu tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur terhadap Wiranto.

Ketika Gus Dur kembali ke Jakarta, Wiranto berbicara dengannya dan berhasil meyakinkan Gus Dur supaya tidak menggantikannya. Namun, Gus Dur kemudian mengubah pikirannya dan memintanya mundur. Pada April 2000, Gus Dur memecat Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla dan Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi. Alasan yang diberikan Wahid yaitu bahwa keduanya terlibat dalam perkara korupsi, meskipun Gus Dur tidak pernah memperlihatkan bukti yang kuat. Hal ini memperburuk hubungan Gus Dur dengan Golkar dan PDI-P.

Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai melaksanakan perundingan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM sampai awal tahun 2001, ketika kedua penandatangan akan melanggar persetujuan. Gus Dur juga mengusulkan supaya TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.

Ia juga berusaha membuka hubungan dengan Israel, yang mengakibatkan kemarahan pada kelompok Muslim Indonesia. Isu ini diangkat dalam pidato Ribbhi Awad, duta besar Palestina untuk Indonesia, kepada tubuh legislatif Palestina tahun 2000. Isu lain yang muncul yaitu keanggotaan Gus Dur pada Yayasan Shimon Peres. Baik Gus Dur dan menteri luar negerinya Alwi Shihab menentang penggambaran Presiden Indonesia yang tidak tepat, dan Alwi meminta supaya Awad, duta besar Palestina untuk Indonesia, diganti.

Dalam perjuangan mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik, Gus Dur menemukan sekutu, yaitu Agus Wirahadikusumah, yang diangkatnya menjadi Panglima Kostrad pada bulan Maret. Pada Juli 2000, Agus mulai membuka skandal yang melibatkan Dharma Putra, yayasan yang mempunyai hubungan dengan Kostrad. Melalui Megawati, anggota Tentara Nasional Indonesia mulai menekan Wahid untuk mencopot jabatan Agus. Gus Dur mengikuti tekanan tersebut, tetapi berencana menunjuk Agus sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Petinggi Tentara Nasional Indonesia merespon dengan mengancam untuk pensiun, sehingga Gus Dur kembali harus berdasarkan pada tekanan.

Hubungan Gus Dur dengan Tentara Nasional Indonesia semakin memburuk ketika Laskar Jihad tiba di Maluku dan dipersenjatai oleh TNI. Laskar Jihad pergi ke Maluku untuk membantu orang Muslim dalam konflik dengan orang Kristen. Wahid meminta Tentara Nasional Indonesia menghentikan agresi Laskar Jihad, namun mereka tetap berhasil mencapai Maluku dan dipersenjatai oleh senjata TNI.

Muncul pula dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate. Pada bulan Mei, Badan Urusan Logistik (Bulog) melaporkan bahwa $4 juta menghilang dari persediaan kas Bulog. Tukang pijit pribadi Gus Dur mengklaim bahwa ia dikirim oleh Gus Dur ke Bulog untuk mengambil uang. Meskipun uang berhasil dikembalikan, musuh Gus Dur menuduhnya terlibat dalam skandal ini. Skandal ini disebut skandal Buloggate. Pada waktu yang sama, Gus Dur juga dituduh menyimpan uang $2 juta untuk dirinya sendiri. Uang itu merupakan sumbangan dari Sultan Brunei untuk membantu di Aceh. Namun, Gus Dur gagal mempertanggungjawabkan dana tersebut. Skandal ini disebut skandal Bruneigate.

Sidang Umum MPR 2000 hampir tiba, popularitas Gus Dur masih tinggi. Sekutu Wahid menyerupai Megawati, Akbar dan Amien masih mendukungnya meskipun terjadi aneka macam skandal dan pencopotan menteri. Pada Sidang Umum MPR, pidato Gus Dur diterima oleh lebih banyak didominasi anggota MPR. Selama pidato, Wahid menyadari kelemahannya sebagai pemimpin dan menyatakan ia akan mewakilkan sebagian tugas. Anggota MPR sepakat dan mengusulkan supaya Megawati mendapatkan kiprah tersebut. Pada awalnya MPR berencana menerapkan usulan ini sebagai TAP MPR, akan tetapi Keputusan Presiden dianggap sudah cukup. Pada 23 Agustus, Gus Dur mengumumkan kabinet gres meskipun Megawati ingin pengumuman ditunda. Megawati pertanda ketidaksenangannya dengan tidak hadir pada pengumuman kabinet. Kabinet gres lebih kecil dan mencakup lebih banyak non-partisan. Tidak terdapat anggota Golkar dalam kabinet gres Gus Dur.

Pada September, Gus Dur menyatakan darurat militer di Maluku alasannya yaitu kondisi di sana semakin memburuk. Pada ketika itu semakin terang bahwa Laskar Jihad didukung oleh anggota Tentara Nasional Indonesia dan juga kemungkinan dibiayai oleh Fuad Bawazier, menteri keuangan terakhir Soeharto. Pada bulan yang sama, bendera bintang kejora berkibar di Papua Barat. Gus Dur memperbolehkan bendera bintang kejora dikibarkan asalkan berada di bawah bendera Indonesia. Ia dikritik oleh Megawati dan Akbar alasannya yaitu hal ini. Pada 24 Desember 2000, terjadi serangan bom terhadap gereja-gereja di Jakarta dan delapan kota lainnya di seluruh Indonesia. 

Pada selesai tahun 2000, terdapat banyak elit politik yang kecewa dengan Abdurrahman Wahid. Orang yang paling pertanda kekecewaannya yaitu Amien. Ia menyatakan kecewa mendukung Gus Dur sebagai presiden tahun lalu. Amien juga berusaha mengumpulkan oposisi dengan meyakinkan Megawati dan Gus Dur untuk merenggangkan otot politik mereka. Megawati melindungi Gus Dur, sementara Akbar menunggu pemilihan umum legislatif tahun 2004. Pada selesai November, 151 anggota dewan perwakilan rakyat menandatangani petisi yang meminta pemakzulan Gus Dur.
2001 dan selesai kekuasaan

Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Imlek menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan abjad Tionghoa. Gus Dur kemudian mengunjungi Afrika Utara dan juga Arab Saudi untuk naik haji. Abdurrahman Wahid melaksanakan kunjungan terakhirnya ke luar negeri sebagai presiden pada Juni 2001 ketika ia mengunjungi Australia.

Pada pertemuan dengan rektor-rektor universitas pada 27 Januari 2001, Gus Dur menyatakan kemungkinan Indonesia masuk kedalam anarkisme. Ia kemudian mengusulkan pembubaran dewan perwakilan rakyat kalau hal tersebut terjadi. Pertemuan tersebut menambah gerakan anti-Wahid. Pada 1 Februari, dewan perwakilan rakyat bertemu untuk mengeluarkan nota terhadap Gus Dur. Nota tersebut berisi diadakannya Sidang Khusus MPR di mana pemakzulan Presiden sanggup dilakukan. Anggota PKB hanya bisa walk out dalam menanggapi hal ini. Nota ini juga mengakibatkan protes di antara NU. Di Jawa Timur, anggota NU melaksanakan protes di sekitar kantor regional Golkar. Di Jakarta, oposisi Gus Dur turun menuduhnya mendorong protes tersebut. Gus Dur membantah dan pergi untuk berbicara dengan demonstran di Pasuruan. Namun, demonstran NU terus memperlihatkan santunan mereka kepada Gus Dur dan pada bulan April mengumumkan bahwa mereka siap untuk mempertahankan Gus Dur sebagai presiden sampai mati.

Pada bulan Maret, Gus Dur mencoba membalas oposisi dengan melawan disiden pada kabinetnya. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra dicopot dari kabinet alasannya yaitu ia mengumumkan seruan supaya Gus Dur mundur. Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail juga dicopot dengan alasan berbeda visi dengan Presiden, berlawanan dalam pengambilan kebijakan, dan diangap tidak sanggup mengendalikan Partai Keadilan, yang pada ketika itu massanya ikut dalam agresi menuntut Gus Dur mundur. Dalam menanggapi hal ini, Megawati mulai menjaga jarak dan tidak hadir dalam inaugurasi penggantian menteri. Pada 30 April, dewan perwakilan rakyat mengeluarkan nota kedua dan meminta diadakannya Sidang spesial MPR pada 1 Agustus.

Gus Dur mulai frustasi dan meminta Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyatakan keadaan darurat. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001. Akhirnya pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa Sidang spesial MPR akan dimajukan pada 23 Juli. Tentara Nasional Indonesia menurunkan 40.000 tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan kekuatan. Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan dekret yang berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang spesial MPR. Namun dekret tersebut tidak memperoleh santunan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri. Abdurrahman Wahid terus bersikeras bahwa ia yaitu presiden dan tetap tinggal di Istana Negara selama beberapa hari, namun kesannya pada tanggal 25 Juli ia pergi ke Amerika Serikat alasannya yaitu problem kesehatan.
Aktivitas sesudah kepresidenan | Perpecahan pada tubuh PKB
Sebelum Sidang Khusus MPR, anggota PKB sepakat untuk tidak hadir sebagai lambang solidaritas. Namun, Matori Abdul Djalil, ketua PKB, bersikeras hadir alasannya yaitu ia yaitu Wakil Ketua MPR. Dengan posisinya sebagai Ketua Dewan Syuro, Gus Dur menjatuhkan posisi Matori sebagai Ketua PKB pada tanggal 15 Agustus 2001 dan melarangnya ikut serta dalam kegiatan partai sebelum mencabut keanggotaan Matori pada bulan November. Pada tanggal 14 Januari 2002, Matori mengadakan Munas Khusus yang dihadiri oleh pendukungnya di PKB. Munas tersebut memilihnya kembali sebagai ketua PKB. Gus Dur membalasnya dengan mengadakan Munasnya sendiri pada tanggal 17 Januari, sehari sesudah Munas Matori selesai Musyawarah Nasional menentukan kembali Gus Dur sebagai Ketua Dewan Penasihat dan Alwi Shihab sebagai Ketua PKB. PKB Gus Dur lebih dikenal sebagai PKB Kuningan sementara PKB Matori dikenal sebagai PKB Batutulis.
Pemilihan umum 2004

Pada April 2004, PKB berpartisipasi dalam Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD Indonesia 2004, memperoleh 10.6% suara. Untuk Pemilihan Umum Presiden dan Wapres Indonesia 2004, di mana rakyat akan menentukan secara langsung, PKB menentukan Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis sehingga Komisi Pemilihan Umum menolak memasukannya sebagai kandidat. Gus Dur kemudian mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan dari Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu. Untuk pemilihan kedua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur menyatakan golput.

Oposisi terhadap pemerintahan SBY
Pada Agustus 2005, Gus Dur menjadi salah satu pemimpin koalisi politik yang berjulukan Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama mengenai pencabutan subsidi BBM yang akan mengakibatkan naiknya harga BBM.

Wahid menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Yenny juga aktif berpolitik di Partai Kebangkitan Bangsa dan ketika ini yaitu administrator The Wahid Institute. 

Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan semenjak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan stroke. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Ia meninggal dunia pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akhir aneka macam komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya semenjak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Menurut Salahuddin Wahid adiknya, Gus Dur wafat akhir sumbatan pada arteri. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.

Sumber : Wikipedia

Friday, October 12, 2018

Sejarah Asian Games Lengkap

Asian Games awalnya merupakan ajang olahraga di Asia kecil. Far Eastern Championship Games diadakan untuk memperlihatkan kesatuan dan kolaborasi antar tiga negara, yaitu Kerajaan Jepang, Kepulauan Filipina, dan Republik Tiongkok. Far Eastern Championship Games pertama diadakan di Manila pada tahun 1913. Negara Asia lainnya berpartisipasi sesudah diselenggarakan. Far Eastern Championship Games dilarang pada tahun 1938 ketika Jepang menyerbu Tiongkok dan aneksasi terhadap Filipina yang menjadi pemicu ekspansi Perang Dunia II ke wilayah Pasifik. 

Setelah Perang Dunia II, sejumlah negara di Asia mendapatkan kemerdekaannya. Negara-negara gres tersebut meninginkan sebuah kompetisi yang gres di mana kekuasaan Asia tidak ditunjukkan dengan kekerasan dan kekuatan Asian diperkuat oleh saling pengertian. Pada Agustus 1948, pada dikala Olimpiade di London, perwakilan India, Guru Dutt Sondhi mengusulkan kepada para pemimpin kontingen dari negara-negara Asia untuk mengadakan Asian Games. Seluruh perwakilan tersebut menyetujui pembentukan Federasi Atletik Asia. Panitia persiapan dibuat untuk menciptakan rancangan piagam untuk federasi atletik amatir Asia. Pada Februari 1949, federasi atletik Asia terbentuk dan memakai nama Federasi Asian Games (Asian Games Federation). Dan menyepakati untuk mengadakan Asian Games pertama pada 1951 di New Delhi, ibu kota India. Mereka setuju bahwa Asian Games akan diselenggarakan setiap empat tahun sekali.

 awalnya merupakan ajang olahraga di Asia kecil Sejarah Asian Games Lengkap
Sejarah Asian Games Lengkap

Pada 1962, Federasi mengalami perselisihan atas diikutsertakannya Taiwan dan Israel. Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games menentang keikutsertaan Taiwan dan Israel. Pada tahun 1970, Korea Selatan membatalkan rencananya untuk menjadi tuan rumah Asian Games yang disebabkan lantaran bahaya keamanan dari Korea Utara, dan penyelenggaraan Asian Games dipindahkan ke Bangkok dengan pendanaan dari Korea Selatan. Pada tahun 1973, Federasi mengalami perselisihan kembali sesudah Amerika Serikat dan negara-negara lainnya mengakui keberadaan Republik Rakyat Tiongkok dan negara-negara Arab menentang keterlibatan Israel. Pada tahun 1977, Pakistan membatalkan rencananya sebagai tuan rumah Asian Games lantaran konflik yang terjadi antara Bangladesh dan Pakistan. Thailand memperlihatkan pinjaman dan Asian Games diadakan di Bangkok.

Lihat juga :

Setelah beberapa penyelenggaraan Asian Games, Komite Olimpiade negara-negara Asia menetapkan untuk merevisi konstitusi Federasi Asian Games. Sebuah asosiasi baru, yang berjulukan Dewan Olimpiade Asia (Olympic Council of Asia/OCA) dibentuk. India sudah ditetapkan sebagai tuan rumah pada tahun 1982 dan OCA menetapkan untuk tidak mengubah jadwal yang sudah ada. OCA resmi mengawasi penyelenggaraan Asian Games mulai dari tahun 1986 pada Asian Games di Korea Selatan.

Pada tahun 1994, berbeda dengan negara-negara lainnya, OCA mengakui negara-negara cuilan Uni Soviet, Kazakhstan, Kirgistan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Tajikistan.

Asian Games Musim Panas yakni ajang olahraga yang diadakan empat tahun sekali yang diikuti oleh seluruh negara Asia yang terdaftar dalam Dewan Olimpiade Asia (OCA). 

Sejarah Asian Games

1951 DELHI, INDIA
Asian Games pertama diadakan di Delhi, India, 4-11 Maret 1951. Diikuti 491 atlet dari 11 Komite Olimpiade Nasional (NOC) yakni Afghanistan, Burma, Ceylon/Sri Lanka, India, Indonesia, Iran, Jepang, Nepal, Filipina, Singapura, dan Thailand. Asian Games pertama ini secara resmi dibuka Presiden Rajendra Prasa di Stadion Nasional Dhyan Chand, dengan memperebutkan 169 medali emas dan mempertandingkan enam cabang olahraga: atletik, akuatik (renang, loncat indah, dan polo air), bola basket, balap sepeda (jalan raya dan trek), sepak bola, dan angkat besi.

1954 MANILA, FILIPINA
Ajang Asian Games kedua digelar di Manila, Filipina 24 April - 9 Mei 1954. Dihadiri 970 akseptor dari 19 NOC. Presiden Filipina, Ramon Magsaysay membuka secara resmi Asian Games II di Stadion Rizal Memorial di Malate, Manila. Sebanyak 229 medali emas disediakan di ajang yang mempertandingkan delapan olahraga cabang: atletik, akuatik (renang, loncat indah, dan polo air),bola basket, tinju, sepak bola, menembak, angkat besi, dan gulat.

1958 TOKYO, JEPANG
Asian Games jilid III berlangsung di Tokyo, Jepang, 24 Mei - 1 Juni 1958. Terdapat 1.820 atlet yang mewakili 20 NOC. Asian Games ketiga ini secara resmi dibuka oleh Presiden HM Kaisar Hirohito di Stadion Olympic, dan menampilkan 12 cabang olahraga: atletik, akuatik (renang, loncat indah, dan polo air), bola basket, sepeda (jalan raya dan trek), hoki lapangan, sepak bola, menembak, tenis meja, tenis, bola voli, gulat, dan angkat besi. Sebanyak 350 medali emas diperebutkan di ajang ini.

1962 JAKARTA, INDONESIA
Tahun 1962, tercatat sebagai Asian Games pertama bagi Indonesia sebagai kota tuan rumah. Ajang yang berlangsung 24 Agustus - 4 September itu dibuka secara resmi oleh Presiden Soekarno di Stadion Gelora Bung Karno. Diikuti 1.460 atlet yang mewakili 17 NOC Asia, multi event ini menampilkan 13 cabang olahraga; atletik, akuatik (renang, loncat indah, dan polo air), bola basket, tinju, balap sepeda (jalan raya dan trek), hoki, sepak bola, menembak, tenis meja, tenis, bola voli, dan gulat. Asian Games 1962 ini memperebutkan 372 medali emas.

1966 BANGKOK, THAILAND
Asian Games V diselenggarakan 9 - 20 Desember 1966 di Bangkok, Thailand. Diikuti 1.945 atlet yang mewakili 18 NOC Asia, Raja Bhumibol Adulyadej secara resmi dibuka ini Asian Games ketiga di Stadion Suphachalasai. Menampilkan 14 cabang olahraga: atletik, olahraga air (renang, loncat indah, dan polo air), basket, bulu tangkis, tinju, balap sepeda, hoki lapangan, sepak bola, menembak, tenis meja, tenis, bola voli, gulat, dan angkat besi. Sebanyak 460 medali diberikan.

1970 BANGKOK, THAILAND
Secara beruntun, Bangkok kembali menjadi tuan rumah Asian Games ke-6 yang diselenggarakan pada 20 November 1970. Awalnya, Korea Selatan terpilih menjadi tuan rumah, tapi mengundurkan diri lantaran alasan keuangan dan bahaya keamanan. Ajang ini dihadiri 2.400 atlet dari 18 negara serta mengikuti 15 olahraga cabang yang terdiri dari, atletik, akuatik (renang, loncat indah, dan polo air), bola basket, bulu tangkis, tinju, balap sepeda, hoki lapangan, sepak bola, layar, menembak, tenis meja, tenis, bola voli, gulat, dan angkat besi. Asian Games 1970 memperebutkan 423 medali.

1974 TEHRAN, IRAN
Asian Games ke-7 digelar di Teheran, Iran, 1 - 16 September 1974. Pemimpin Iran, Syah Mohammad Reza Pahlevi di Stadion Aryamehr resmi membuka pekan olahraga Asia itu di hadapan 3.010 atlet yang mewakili 25 NOC. Para atlet akan bertanding untuk memperebutkan 609 keping medali emas yang disediakan di 18 cabang olahraga, yakni atletik, (renang, loncat indah, dan polo air), bola basket, bulu tangkis, tinju, balap sepeda, anggar, hoki lapangan, sepak bola, senam, menembak, tenis meja, tenis, bola voli, gulat, dan angkat besi.

1978 BANGKOK, THAILAND
Thailand dengan kota penyelenggaraan Bangkok mencetak hattrick dikala untuk ketiga kalinya menjadi tuan rumah Asian Games VIII yang berlangsung 9 - 20 Desember 1978. Awalnya, Singapura ditunjuk menjadi tuan rumah, namun Negeri Singa itu membatalkan planning lantaran alasan keuangan. Kota Islamabad, ibukota Pakistan sempat muncul sebagai pengganti, namun muncul penolakan dari beberapa negara Asia Selatan lantaran konflik negeri itu dengan Bangladesh dan India. Raja Bhumibol Adulyadej secara resmi membuka Asian Games ketiga kali di Stadion Suphachalasai. Total 3.842 atlet, yang berasal dari 25 NOC mengikuti kompetisi di 21 cabang olahraga yang menyediakan 626 medali emas.

1982 DELHI, INDIA
Untuk kali kedua, India dengan ibu kota Delhi menjadi tuan rumah Asian Games seri 9 yang berlangsung 19 November - 4 Desember 1982. Ini momen bersejarah alasannya untuk pertama kali ajang Asian Games berada di bawah naungan Dewan Olimpiade Asia (OCA). Sebanyak 4.595 atlet dari 33 NOC berpartisipasi dan bersaing di 21 cabang, termasuk beberapa cabang yang gres pertama kali dipertandingkan, seperti, bola tangan, berkuda, dayung dan golf dimasukkan untuk pertama kalinya. Presiden Zail membuka Asian Games ke-9 di Stadion Jawaharlal Nehru.

1986 SEOUL, KOREA SELATAN
Asian Games X diadakan 20 September - 5 Oktober 1986 di Seoul, Korea Selatan. Sebanyak 4.839 atlet dari 27 NOC mengikuti ajang yang mempertandingkan 24 cabang olahraga, antara lain panahan, berkuda, anggar, bola tangan, judo, dan dayung. Presiden Chun Doo-hwan menghadiri upacara pembukaan di Stadion Olimpiade, Seoul. Terdapat 848 medali untuk diperebutkan.

1990 BEIJING, CINA
Pesta olahraga bangsa Asia ke-11 diadakan pada 22 September - 7 Oktober 1990 di Beijing, Cina. Sebanyak 6.122 atlet dari 36 NOC berpartisipasi di 27 cabang olahraga dan dua cabang eksebisi yakni bisbol dan soft tennis. Presiden Cina, Yang Shangkun menghadiri upacara pembukaan di Workers Stadium, Beijing.

1994 HIROSHIMA, JEPANG
Asian Games tahun 1994, berlangsung 2 - 16 Oktober, di Hiroshima, Jepang. Edisi ke-12 ini mengusung tema mempromosikan perdamaian dan harmoni antar negara-negara Asia. Hal itu ditekankan tuan rumah lantaran Hiroshima pernah hancur lantaran serangan bom atom pada Perang Dunia II tahun 1945. Apalagi momen itu bertepatan dengan kejadian Perang teluk 1991 sehingga Iran bolos dari keikutsertaan. Ajang ini diikuti 6.828 atlet dan ofisial dari 42 negara dan bersaing demi 1.079 medali disediakan.

1998 BANGKOK, THAILAND
Asian Games XIII yang diselenggarakan 6 - 20 Desember 1998 di Bangkok, Thailand menjadi catatan sejarah lantaran Thailand mencatatkan diri sebagai tuan rumah terbanyak dengan empat kali penyelenggaraan. Sebanyak 6.554 atlet dari 41 NOC berpartisipasi dan berkompetisi di 36 olahraga yang menyediakan 1.225 medali emas, termasuk beberapa cabang baru, yakni kano, kabbadi, dan sepaktakraw. Raja legendaris Thailand, Bhumibol Adulyadej resmi membuka pesta di Stadion Nasional Rajamangala.

2002 BUSAN, KOREA SELATAN
Asian Games 2002, XIV Asia  diselenggarakan di Busan, Korea Selatan, 29 September - 14 Oktober 2002. Busan yakni kota kedua di Korea Selatan, sesudah Seoul pada tahun 1986 untuk menjadi tuan rumah Asian Games. Total 7.711 atlet dari 44 negara mengikuti 419 nomor pertandingan di 38 cabang olahraga. Multi event yang menyediakan 1.350 keping medali emas itu dibuka Kim Dae-jung di Stadion Aryamehr.

2006 DOHA, QATAR
Asian Games XV yang diselenggarakan 1 - 16 Desember di Doha, Qatar. Sebanyak 9.520 atlet dari 45 NOC berkompetisi di 39 cabang olahraga termasuk beberapa cabang baru, yakni binaraga, softball, soft tenis, dan wushu. Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani menggelar upacara pembukaan di Stadion Internasional Khalifa. Asian Games 2006 memperebutkan 1.393 medali emas.

2010 GUANGZHOU, CINA
Asian Games ke-16 diadakan di Guangzhou, Cina, 12-11 November 2010. Dengan menghadirkan 9.704 akseptor dari 45 NOC, ajang ini dibuka Perdana Menteri, Wen Jiabao di Stadion Olimpiade Guangdong. Ajang ini menampilkan 42 cabang olahraga dengan memperebutkan total 1.577 medali.

2014 INCHEON, KOREA SELATAN
Asian Games ke-17 yang diadakan di Incheon, Korea Selatan, 19 September - 4 Oktober 2014. Dengan 9.501 akseptor dari 45 NOC. Asian Games secara resmi dibuka oleh Presiden Park Geun-hye di Stadion Utama Incheon Asiad, menampilkan 36 cabang olahraga, dan total 1.454 medali yang diperebutkan.



The first Asian Games were held in Delhi, India, 4 – 11 March, 1951. With 4 1 participants from 11 National Olympics Committees (Afghanistan, Burma Ceylon, India, Indonesia, Iran, Japan, Nepal, The Philippines, Singapore and Thailand), this first Asian Games were officially opened by President Rajendra Prasa at the Dhyan Chand National Stadium, featuring 6 sports branches: athletics, aquatics (swimming, diving, and water polo), basketball cycling (road cycling and track cycling), football, and weightlifting. A total of 169 medals were awarded.

The second Asian Games were held in Manila, Philippines from 24 – 9 May 1954. With 970 participants from 19 National Olympics Committees, President Ramon Magsaysay at the Rizal Memorial Stadium in Malate, Manila, officially opened the second Asian Games. Featuring 8 sports branches: athletics, aquatics (swimming, diving, and water polo), basketball, boxing, football, shooting, weight lifting, and wrestling. A total of 229 medals were awarded.

The third Asian Games were held in Tokyo, Japan, May 24th – 1st of June 1958. With 1,820 athletes representing 20 Asian National Olympics Committees, this third Asian Games were officially opened by President HM Emperor Hirohito at Olympic Stadium, featuring 12 sports branches: athletics, aquatics (swimming, diving, and water polo), basketball, cycling (road cycling and track cycling), field hockey, football, shooting, table tennis, tennis, volley ball, wrestling, and weightlifting. A total of 350 medals were awarded.

Info yang mungkin Anda sukai :

1962, it is the first Asian Games for Indonesia to become the host city. August 24, the 4 th Asian Games officially opened by President Soekarno at Gelora Bung Karno Stadium. With 1,460 athletes representing 17 Asian National Olympics Committees, featuring 13 sports branches; athletics, aquatics (swimming, diving, and water polo), basketball, boxing, cycling (road cycling and track cycling), field hockey, football, shooting, table tennis, tennis, volley ball, and wrestling. A total of 372 medals were awarded.

The 5th Asian Games also known as the V Asiad, held from December 9, 1966 to December 20, 1966 in Bangkok, Thailand. With 1,945 athletes representing 18 Asian National Olympics Committees, King Bhumibol Adulyadej officially opened this third Asian Games at Suphachalasai Stadium. Featuring 14 sports branches: athletics, aquatics (swimming, diving, and water polo), basketball, badminton, boxing, cycling, field hockey, football, shooting, table tennis, tennis, volley ball, wrestling, and weightlifting. A total of 460 medals were awarded.

The 6th Asian Games were held from December 9, 1970 to December 20, 1970 in Bangkok, Thailand. Originally, South Korea was selected to host the 6th Games but it was declined due to both financial reasons and security threats. For A total number of 2,400 athletes, came from 18 countries, the third Asian Games were officially opened by King Bhumibol Adulyadej at Suphachalasai Stadium. Featuring 15 sport branches: athletics, aquatics (swimming, diving, and water polo), basketball, badminton, boxing, cycling, field hockey, football, sailing, shooting, table tennis, tennis, volley ball, wrestling, and weightlifting. A total of 423 medals were awarded.

The 7th Asian Games were held in Tehran, Iran, September 1st – September 16th 1974. With 3,010 athletes representing 25 Asian National Olympics Committees. Syah Mohammad Reza Pahlavi at Aryamehr Stadium officially opened the 7th Asian Games. Featuring 18 sports branches: athletics, aquatics (swimming, diving, and water polo), basketball, badminton, boxing, cycling, fencing, field hockey, football, gymnastic, shooting, table tennis, tennis, volley ball, wrestling, and weightlifting, a total of 609 medals were awarded.

The 8th Asian Games were held from December 9 to December 20, 1978 in Bangkok, Thailand. Originally, the host city was Singapore but Singapore dropped its plan to host the Games due to financial problems. And then Islamabad, the capital of Pakistan was decided to host the 8th Games. But Islamabad also dropped its plan to host the Asian Games due to conflicts with Bangladesh and India. King Bhumibol Adulyadej officially opened this third Asian Games at Suphachalasai Stadium. A total number of 3.842 athletes, coming from 25 countries, had competed featuring 21 sports. 626 medals were awarded at the 8th Asian Games.

The 9th Asian Games were held from November 19, 1982 to December 4, 1 82 in Delhi, India. An incredible 74 Asian and Asian Games records were broken. This was also the first Asiad to be held under the aegis of the Olympic Council of Asia. A total of 4.595 athletes from 33 National Olympic Committees (NOCs) participated in these games, competing in 21 sports (handball equestrian, rowing and golf were included for the first time fencing and bowling were excluded). President Zail Singh had officially opened the 9th Asian Games at Jawaharlal Nehru Stadium.

The 10th Asian Games were held from September 20, 1986, to October 5, 1 86, in Seoul, South Korea. A total of 4.839 athletes from 27 National Olympic Committees (NOCs) participated in these games, competing in 24 sports includes archery, equestrian, fencing, handball, judo, and rowing. President Chun Doo-hwan had officially opened the 10th Asian Games at the Olympic Stadium, and 848 medals were awarded.

The 11th Asian Games were held from September 22, 1990 to October 7, 1990 in Beijing, China.A total of 6,122 athletes from 36 National Olympic Committees(NOCs) participated in these games, competing in 27 sports and 2 demonstration sports (baseball and sot tennis). President Yang Shangkun had officially opened the 11th Asian Games at Workers Stadium.

The 1994 Asian Games also known as XII Asiad were held from October 2 to October 16, 1994 in Hiroshima, Japan. The main theme of this edition was to promote peace and harmony among Asian nations. The host emphasized it because the venue was the site of the first atomic bomb attack 49 years earlier. Due to the 1991 Gulf War, Iraq was suspended from the games. There were a total number of 6.828 athletes and officials involved, from 42 countries, with 1.079 medals awarded.

The 13th Asian Games were held from December 6 to December 20, 1998 in Bangkok, Thailand. A total of 6.554 athletes from 41 National Olympic Committees (NOCs) participated in these games, competing in 36 sports includes canoeing, kabbadi, sepaktakraw, and squash. King Bhumibol Adulyadej had officially opened the 13th Asian Games at the Rajamangala National Stadium, and 1.225 medals were awarded.

The 2002 Asian Games, also known as XIV Asian is a multi-sport event held in Busan, South Korea from September 29 to October 14, 2002. Busan is the second city in South Korea, after Seoul in 1986 to host the Games. 7.711 athletes from 44 countries contested a total of 419 events in 38 sports. Kim Dae-jung officially opened the 14th Asian Games at Aryamehr Stadium. Featuring 38 sports branches and 1.350 medals were awarded.

The 15th Asian Games were held from December 1 to December 16, 2006 in Doha, Qatar. A total of 9.520 athletes from 45 National Olympic Committees (NOCs) participated in these games, competing in 39 sports includes body building, softball, soft tennis, and wushu. Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani had officially opened the 15th Asian Games at the Khalifa International Stadium, and 1.393 medals were awarded.

The 16th Asian Games were held in Guangzhou, China, November 12-11, 2010. With 9.704 participants from 45 National Olympics Committees, Premier Wen Jiabao, officially opened this 16th Asian Games at the Guangdong Olympic Stadium. Featuring 42 sports branches, a total of 1.577 medals were awarded.

The 17th Asian Games were held in Incheon, South Korea, September 19, October 4, 2014. With 9.501 participants from 45 National Olympics Committees Asian Games were officially opened by President Park Geun-hye at the Incheon Asiad Main Stadium, featuring 36 sports branches, and total of 1.454 medals were awarded.

Source click here