Showing posts sorted by relevance for query sejarah-kerajaan-mataram-lengkap. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sejarah-kerajaan-mataram-lengkap. Sort by date Show all posts

Sunday, November 11, 2018

Sejarah Kerajaan Sriwijaya Lengkap

Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Jawa: ꦯꦿꦶꦮꦶꦗꦪ; Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄rī wichạy" ialah salah satu kemaharajaan maritim yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi imbas di Nusantara dengan daerah kekuasaan menurut peta membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat dan kemungkinan Jawa Tengah. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan", maka nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari kala ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti yang paling renta mengenai Sriwijaya juga berada pada kala ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682. Kemunduran imbas Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan di antaranya tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya.


Setelah jatuh, kerajaan ini terlupakan dan keberadaannya gres diketahui kembali lewat publikasi tahun 1918 dari sejarawan Perancis George Cœdès dari École française d'Extrême-Orient.

 ialah salah satu kemaharajaan maritim yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak me Sejarah Kerajaan Sriwijaya Lengkap

Catatan Sejarah
Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibuat kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya hingga tahun 1920-an, dikala sarjana Perancis George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia.[8] Coedès menyatakan bahwa tumpuan Tiongkok terhadap "San-fo-ts'i", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.

Selain berita-berita diatas tersebut, telah ditemukan oleh Balai Arkeologi Palembang sebuah bahtera kuno yang diperkirakan ada semenjak masa awal atau proto Kerajaan Sriwijaya di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Sayang, kepala bahtera kuno itu sudah hilang dan sebagian papan bahtera itu dipakai justru buat jembatan. Tercatat ada 17 keping bahtera yang terdiri dari bab lunas, 14 papan bahtera yang terdiri dari bab tubuh dan bab buritan untuk menempatkan kemudi. Perahu ini dibuat dengan teknik pasak kayu dan papan ikat yang memakai tali ijuk. Cara ini sendiri dikenal dengan sebutan teknik tradisi Asia Tenggara. Selain bangkai perahu, ditemukan juga sejumlah artefak-artefak lain yang bekerjasama dengan temuan perahu, menyerupai tembikar, keramik, dan alat kayu.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada kala ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi tumpuan oleh kaum nasionalis untuk menawarkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelum kolonialisme Belanda.

Sriwijaya disebut dengan banyak sekali macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts'i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer menyebutnya Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan. Sementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan perihal adanya 3 pulau Sabadeibei yang kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya.

Sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin melaksanakan observasi dan beropini bahwa sentra Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatera Selatan sekarang), tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang kini dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Pendapat ini didasarkan dari foto udara tahun 1984 yang menawarkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan yang disusun rapi yang dipastikan situs ini ialah buatan manusia. Bangunan air ini terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur kandang dan empat persegi panjang, serta jaringan jalan masuk dengan luas areal mencakup 20 hektare. Di daerah ini ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menawarkan bahwa daerah ini pernah menjadi sentra permukiman dan sentra aktifitas manusia. Namun sebelumnya Soekmono beropini bahwa sentra Sriwijaya terletak pada daerah sehiliran Batang Hari, antara Muara Sabak hingga ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang), dengan catatan Malayu tidak di daerah tersebut, bila Malayu pada daerah tersebut, ia cendrung kepada pendapat Moens, yang sebelumnya juga telah beropini bahwa letak dari sentra kerajaan Sriwijaya berada pada daerah Candi Muara Takus (provinsi Riau sekarang), dengan perkiraan petunjuk arah perjalanan dalam catatan I Tsing, serta hal ini sanggup juga dikaitkan dengan isu perihal pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) tahun 1003 kepada kaisar Cina yang dinamakan cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bab dari candi yang terletak di Muara Takus). Namun yang niscaya pada masa penaklukan oleh Rajendra Chola I, menurut prasasti Tanjore, Sriwijaya telah beribukota di Kadaram (Kedah sekarang).


Warisan Sejarah
Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan keberadaanya sempat terlupakan dari ingatan masyarakat pendukungnya, inovasi kembali kemaharajaan maritim ini oleh Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya, berupa kemaharajaan yang terdiri atas komplotan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh, dan berjaya pada masa lalu.

Pada kala ke-14 meskipun pengaruhnya telah memudar, wibawa dan gengsi Sriwijaya masih dipakai sebagai sumber legitimasi politik. Sang Nila Utama yang mengaku sebagai keturunan darah biru Sriwijaya dari Bintan, bersama para pengikut dan tentaranya yang terdiri dari Orang Laut, telah mendirikan Kerajaan Singapura di Tumasik. Menurut Sejarah Melayu dan catatan sejarah China yang ditulis Wang Ta Yuan, disebutkan bahwa Kerajaan Siam sempat menyerang kerajaan Singapura pada kurun tahun 1330 hingga 1340. Serangan Siam ini berhasil dipukul mundur. Akan tetapi serangan Majapahit pada penghujung kala ke-14 telah meruntuhkan kerajaan ini. Akibatnya rajanya yang terakhir, Parameswara, terpaksa melarikan diri ke Semenanjung Melayu. Parameswara kemudiannya mendirikan Kesultanan Melaka pada tahun 1402. Kesultanan Melayu Melaka karenanya menggantikan kedudukan Sriwijaya sebagai kuasa politik Melayu utama di kawasan.

Warisan terpenting Sriwijaya mungkin ialah bahasanya. Selama berabad-abad, kekuatan ekononomi dan keperkasaan militernya telah berperan besar atas tersebarluasnya penggunaan Bahasa Melayu Kuno di Nusantara, setidaknya di daerah pesisir. Bahasa ini menjadi bahasa kerja atau bahasa yang berfungsi sebagai penghubung (lingua franca) yang dipakai di banyak sekali bandar dan pasar di daerah Nusantara. Tersebar luasnya Bahasa Melayu Kuno ini mungkin yang telah membuka dan memuluskan jalan bagi Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional Malaysia, dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu Indonesia modern. Adapun Bahasa Melayu Kuno masih tetap dipakai hingga pada kala ke-14 M.

Di samping Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber pujian dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia. Kegemilangan Sriwijaya telah menjadi sumber pujian nasional dan identitas daerah, khususnya bagi penduduk kota Palembang, Sumatera Selatan. Keluhuran Sriwijaya telah menjadi ide seni budaya, menyerupai lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat selatan Thailand yang membuat kembali tarian Sevichai yang menurut pada keanggunan seni budaya Sriwijaya.

Di Indonesia, nama Sriwijaya telah dipakai dan diabadikan sebagai nama jalan di banyak sekali kota, dan nama ini juga dipakai oleh Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di Palembang. Demikian pula Kodam II Sriwijaya (unit komando militer), PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang), Sriwijaya TV, Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang). Semuanya dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan, dan merayakan kemaharajaan Sriwijaya yang gemilang. Pada tanggal 11 November 2011 digelar upacara pembukaan SEA Games 2011 di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. Upacara pembukaan ini menampilkan tarian kolosal yang bertajuk "Srivijaya the Golden Peninsula" menampilkan tarian tradisional Palembang dan juga replika ukuran sebetulnya bahtera Sriwijaya untuk menggambarkan kejayaan kemaharajaan maritim ini.

Sumber : https://id.wikipedia.org/


Baca juga : 

Tuesday, December 25, 2018

Sejarah Kerajaan Mataram Lengkap

Kesultanan Mataram
Kesultanan Mataram ialah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah berdiri pada masa ke-17. Kerajaan ini dipimpin suatu dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, yang mengklaim sebagai suatu cabang aristokrat keturunan penguasa Majapahit. Asal-usulnya ialah suatu Kadipaten di bawah Kesultanan Pajang, berpusat di "Bumi Mentaok" yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya. Raja berdaulat pertama ialah Sutawijaya (Panembahan Senapati), putra dari Ki Ageng Pemanahan.

 ialah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah berdiri pada masa ke Sejarah Kerajaan Mataram Lengkap
bendera nyolong di Wikipedia
Kerajaan Mataram pada masa keemasannya pernah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya, termasuk Madura. Negeri ini pernah memerangi VOC di Batavia untuk mencegah semakin berkuasanya firma dagang itu, namun ironisnya malah harus mendapatkan pemberian VOC pada masa-masa final menjelang keruntuhannya.

Mataram merupakan kerajaan berbasis agraris/pertanian dan relatif lemah secara maritim. Ia meninggalkan beberapa jejak sejarah yang sanggup dilihat hingga kini, menyerupai kampung Matraman di Batavia/Jakarta, sistem persawahan di Pantura Jawa Barat, penggunaan hanacaraka dalam literatur bahasa Sunda, politik feodal di Pasundan, serta beberapa batas manajemen wilayah yang masih berlaku hingga sekarang.
Sejarah Kesultanan Mataram, Sejarah Sutawijaya, Sejarah Prabu Hanyokrowati, Sejarah Ki Ageng Sela
Masa Awal
Sutawijaya naik tahta sehabis ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati. Pada dikala itu daerahnya hanya di sekitar Jawa Tengah dikala ini, mewarisi wilayah Kerajaan Pajang. Pusat pemerintahan berada di Mentaok, wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota Yogyakarta dan selatan Bandar Udara Adisucipto sekarang. Lokasi keraton (tempat kedudukan raja) pada masa awal terletak di Banguntapan, kemudian dipindah ke Kotagede. Sesudah ia meninggal (dimakamkan di Kotagede) kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang yang sehabis naik tahta bergelar Prabu Hanyokrowati.

Pemerintahan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung usang sebab dia wafat sebab kecelakaan dikala sedang berburu di hutan Krapyak. Karena itu ia juga disebut Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yang artinya Raja (yang) wafat (di) Krapyak. Setelah itu tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yang berjulukan Mas Rangsangpada masa pemerintahan Mas Rangsang,Mataram mengalami masa keemasan.

Sultan Agung
Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari imbas di Jawa. Wilayah Mataram meliputi Pulau Jawa dan Madura (kira-kira adonan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur sekarang). Ia memindahkan lokasi kraton ke Karta (Jw. "kertå", maka muncul sebutan pula "Mataram Karta"). Akibat terjadi goresan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat di Batavia, Mataram kemudian berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).


Terpecahnya Mataram

Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Plered (1647), tidak jauh dari Karta. Selain itu, ia tidak lagi memakai gelar sultan, melainkan "sunan" (dari "Susuhunan" atau "Yang Dipertuan"). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil sebab banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum. Penggantinya, Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680), sekitar 5km sebelah barat Pajang sebab kraton yang usang dianggap telah tercemar.

Pengganti Amangkurat II berturut-turut ialah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III sebab menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram mempunyai dua raja dan ini mengakibatkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi "king in exile" hingga tertangkap di Batavia kemudian dibuang ke Ceylon.

Kekacauan politik gres sanggup diselesaikan pada masa Pakubuwana III sehabis pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta ialah "ahli waris" dari Kesultanan Mataram.


Peristiwa Penting Kerajaan Mataram

1558 - Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang.

1577 - Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede.

1584 - Ki Ageng Pemanahan meninggal. Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa gres di Mataram, yang sebelumnya sebagai putra angkat Sultan Pajang bergelar "Mas Ngabehi Loring Pasar" (karena rumahnya di sebelah utara pasar). Ia menerima gelar "Senapati in Ngalaga" (karena masih dianggap sebagai Senapati Utama Pajang di bawah Sultan Pajang).

1587 - Pasukan Kesultanan Pajang yang akan menyerbu Mataram porak-poranda diterjang tornado letusan Gunung Merapi. Sutawijaya dan pasukannya selamat.

1588 - Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan, bergelar "Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama" artinya Panglima Perang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama.

1601 - Panembahan Senopati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyakrawati dan kemudian dikenal sebagai "Panembahan Seda ing Krapyak" sebab wafat dikala berburu (jawa: krapyak).

1613 - Mas Jolang wafat, kemudian digantikan oleh putranya Pangeran Aryo Martoputro. Karena sering sakit, kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang. Gelar pertama yang dipakai ialah Panembahan Hanyakrakusuma atau "Prabu Pandita Hanyakrakusuma". Setelah Menaklukkan Madura dia memakai gelar "Susuhunan Hanyakrakusuma". Terakhir sehabis 1640-an dia memakai gelar bergelar "Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman"

1645 - Sultan Agung wafat dan digantikan putranya Susuhunan Amangkurat I.

1645 - 1677 - Pertentangan dan perpecahan dalam keluarga kerajaan Mataram, yang dimanfaatkan oleh VOC.

1677 - Trunajaya merangsek menuju Ibukota Pleret. Susuhunan Amangkurat I mangkat. Putra Mahkota dilantik menjadi Susuhunan Amangkurat II di pengasingan. Pangeran Puger yang diserahi tanggung jawab atas ibukota Pleret mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga.

1680 - Susuhunan Amangkurat II memindahkan ibukota ke Kartasura.

1681 - Pangeran Puger diturunkan dari tahta Plered.

1703 - Susuhunan Amangkurat III wafat. Putra mahkota diangkat menjadi Susuhunan Amangkurat III.

1704 - Dengan pemberian VOC Pangeran Puger ditahtakan sebagai Susuhunan Paku Buwono I. Awal Perang Tahta I (1704-1708). Susuhunan Amangkurat III membentuk pemerintahan pengasingan.

1708 - Susuhunan Amangkurat III ditangkap dan dibuang ke Srilanka hingga wafatnya pada 1734.

1719 - Susuhunan Paku Buwono I meninggal dan digantikan putra mahkota dengan gelar Susuhunan Amangkurat IV atau Prabu Mangkurat Jawa. Awal Perang Tahta Jawa Kedua (1719-1723).

1726 - Susuhunan Amangkurat IV meninggal dan digantikan Putra Mahkota yang bergelar Susuhunan Paku Buwono II.

1742 - Ibukota Kartasura dikuasai pemberontak. Susuhunan Paku Buwana II berada dalam pengasingan.

1743 - Dengan pemberian VOC Ibukota Kartasura berhasil direbut dari tangan pemberontak dengan keadaan luluh lantak. Sebuah perjanjian sangat berat (menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC selama belum sanggup melunasi hutang biaya perang) bagi Mataram dibentuk oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai imbalan atas pemberian VOC.

1745 - Susuhunan Paku Buwana II membangun ibukota gres di desa Sala di tepian Bengawan Beton.

1746 - Susuhunan Paku Buwana II secara resmi menempati ibukota gres yang dinamai Surakarta. Konflik Istana mengakibatkan saudara Susuhunan, P. Mangkubumi, meninggalkan istana. Meletus Perang Tahta Jawa Ketiga yang berlangsung lebih dari 10 tahun (1746-1757) dan mencabik Kerajaan Mataram menjadi dua Kerajaan besar dan satu kerajaan kecil.

1749 - 11 Desember Susuhunan Paku Buwono II menandatangani penyerahan kedaulatan Mataram kepada VOC. Namun secara de facto Mataram gres sanggup ditundukkan sepenuhnya pada 1830. 12 Desember Di Yogyakarta, P. Mangkubumi diproklamirkan sebagai Susuhunan Paku Buwono oleh para pengikutnya. 15 Desember van Hohendorff mengumumkan Putra Mahkota sebagai Susuhunan Paku Buwono III.

1752 - Mangkubumi berhasil menggerakkan pemberontakan di provinsi-provinsi Pasisiran (daerah pantura Jawa) mulai dari Banten hingga Madura. Perpecahan Mangkubumi-RM Said.

1754 - Nicolas Hartingh menyerukan gencatan senjata dan perdamaian. 23 September, Nota Kesepahaman Mangkubumi-Hartingh. 4 November, PB III meratifikasi nota kesepahaman. Batavia walau keberatan tidak punya pilihan lain selain meratifikasi nota yang sama.

1755 - 13 Februari Puncak perpecahan terjadi, ditandai dengan Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kesultanan Yogyakarta dengan gelar "Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah" atau lebih terkenal dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

1757 - Perpecahan kembali melanda Mataram. Perjanjian Salatiga, perjanjian yang lebih lanjut membagi wilayah Kesultanan Mataram yang sudah terpecah, ditandatangani pada 17 Maret 1757 di Kota Salatiga antara Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) dengan Sunan Paku Buwono III,VOC dan Sultan Hamengku Buwono I. Raden Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Kesunanan Surakarta dengan gelar "Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku Nagara Senopati Ing Ayudha".

1788 - Susuhunan Paku Buwono III mangkat.

1792 - Sultan Hamengku Buwono I wafat.

1795 - KGPAA Mangku Nagara I meninggal.

1799 - Voc dibubarkan

1813 - Perpecahan kembali melanda Mataram. P. Nata Kusuma diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Kadipaten Paku Alaman yang terlepas dari Kesultanan Yogyakarta dengan gelar "Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam".

1830 - Akhir perang Diponegoro. Seluruh tempat Manca nagara Yogyakarta dan Surakarta dirampas Belanda. 27 September, Perjanjian Klaten memilih tapal yang tetap antara Surakarta dan Yogyakarta dan membagi secara permanen Kerajaan Mataram ditandatangani oleh Sasradiningrat, Pepatih Dalem Surakarta, dan Danurejo, Pepatih Dalem Yogyakarta. Mataram secara de facto dan de yure dikuasai oleh Hindia Belanda.

Sumber

Sejarah Kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah disini

Tuesday, November 6, 2018

Sejarah Kerajaan Sribangun Budha Lengkap

Sejarah Kota Bangun (Sri Bangun) Sebuah Kerajaan Dengan Corak Budha. Kota Bangun terletak sekitar 88 Km dari Tenggarong Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara, terletak di sisi kiri pulang kampung Sungai Mahakam. Merupakan sebuah daerah yang mempunyai sejarah peradaban lama. Bekas wilayah Kerajaan Sri Bangun dengan Rajanya yang paling populer berjulukan Qeva.

Sri Bangun diperkirakan merupakan negeri bawahan dari Kerajaan Martadipura, namun berbeda dengan Martadipura yang Hindu, Kerajaan ini malah menunjukkan corak sebagai Kerajaan Budha dengan ditemukannya beberapa peninggalan menyerupai Arca Budha Pengembara dari Perunggu, dan Patung Lembu Nandi yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Singa Noleh.


 Km dari Tenggarong Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara Sejarah Kerajaan Sribangun Budha Lengkap
Ilustrasi Kerajaan

Keberadaan Patung Lembu Nandi itu terletak di sebuah dataran tinggi yang berhadapan pribadi dengan Sungai Mahakam, di mana pada arah Ulunya ada sebuah Danau yang berjulukan Kedang Murung tempat ini kini dikenal sebagai Situs Sri Bangun.

Strategisnya Situs Sri Bangun ini juga dimanfaatkan Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin, sebagai wadah pengungsian saat kalah perang melawan Pasukan Belanda pada tahun 1844. Ditempat itu Sultan bersama keluarga dan mentrinya beserta Ratusan Pengawal membangun kubu pertahanan serta beberapa istana sementara.

Situs Sri Bangun ini sampai kini tetap di keramatkan penduduk Kutai Kartanegara, alasannya yakni dipercaya Kerajaan Sri Bangun yang memang misterius tersebut, sampai kini masih ada secara gaib. Banyak warga yang telah melihat bayangan Istana megah di wilayah pada waktu-waktu tertentu, terkadang pula ditemukan beberapa lelaki dan perempuan misterius yang apabila diikuti menghilang begitu saja.

sumber : ariankula

Thursday, November 15, 2018

Sejarah Kesultanan Cirebon Lengkap

Kesultanan Cirebon ialah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada era ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.

Sejarah
Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya ialah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan bermetamorfosis sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), lantaran di sana bercampur para pendatang dari banyak sekali macam suku bangsa, agama, bahasa, susila istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
 dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau Sejarah Kesultanan Cirebon Lengkap
Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat ialah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda:, air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.

Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan cuilan dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal sentra penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Perkembangan awal
Ki Gedeng Tapa
Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) ialah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati, Cirebon. Ia mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug dan sebuah tajug (Jalagrahan) pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Sejak dikala itu, mulailah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat gres di desa Caruban.

Ki Gedeng Alang-Alang
Kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat gres itu ialah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang tak lain ialah puteri dari Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.

Pangeran Cakrabuana
Pangeran Cakrabuana ialah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang pertamanya berjulukan Subanglarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Raden Walangsungsang, ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Rara Santang dan Raden Kian Santang.

Sebagai anak sulung dan pria ia tidak mendapat haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh lantaran ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang - ibunya), sementara dikala itu (abad 16) fatwa agama secara umum dikuasai di Pajajaran ialah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak pria Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua Nyai Cantring Manikmayang.

Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan kemudian mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon ialah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai "raja" Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif mengembangkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.
Pendirian kesultanan ini sangat berkaitan erat dengan keberadaan Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon didirikan pada tahun 1552 oleh panglima kesultanan Demak, kemudian yang menjadi Sultan Cirebon ini wafat pada tahun 1570 dan digantikan oleh putranya yang masih sangat muda waktu itu. Berdasarkan isu dari klenteng Talang dan Semarang, tokoh utama pendiri Kesultanan Cirebon ini dianggap identik dengan tokoh pendiri Kesultanan Banten yaitu Sunan Gunung Jati.
 
Sunan Gunung Jati (1479-1568)
Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang sesudah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.

Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat ibarat Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten

Fatahillah (1568-1570)
Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melakukan kiprah dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja semenjak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun lantaran ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun sesudah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.

Panembahan Ratu I (1570-1649)
Sepeninggal Fatahillah, oleh lantaran tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Mas, putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.
Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang berjulukan Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, lantaran ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian memakai nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.

Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga alasannya Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I ialah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, lantaran Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten ialah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.

Panembahan Girilaya ialah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram. Makamnya di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Girilaya, tinggi makam Panembahan Girilaya ialah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.

Terpecahnya Kesultanan Cirebon

Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Pangeran Wangsakerta yang bertanggung jawab atas pemerintahan di Cirebon selama ayahnya tidak berada di tempat, khawatir atas nasib kedua kakaknya. Kemudian ia pergi ke Banten untuk meminta pinjaman Sultan Ageng Tirtayasa (anak dari Pangeran Abu Maali yang tewas dalam Perang Pagarage), beliau mengiyakan permohonan tersebut lantaran melihat peluang untuk memperbaiki korelasi diplomatik Banten-Cirebon. Dengan pinjaman Pemberontak Trunojoyo yang disokong oleh Sultan Ageng Tirtayasa,kedua Pangeran tersebut berhasil diselamatkan.

Namun rupanya, Sultan Ageng Tirtayasa melihat ada laba lain dari bantuannya pada kerabatnya di Cirebon itu, maka ia mengangkat kedua Pangeran yang ia selamatkan sebagai Sultan,Pangeran Mertawijaya sebagai Sultan Kasepuhan & Pangeran Kertawijaya sebagai Sultan Kanoman,sedangkan Pangeran Wangsakerta yang telah bekerja keras selama 10 tahun lebih hanya diberi jabatan kecil, seni administrasi pecah belah ini dilakukan untuk mencegah biar Cirebon tidak beraliansi lagi dengan Mataram.

Perpecahan I (1677)
Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak gres bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
 
Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)

Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)

Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).

Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, lantaran keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak mempunyai wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai Kaprabonan (Paguron) yaitu daerah mencar ilmu para intelektual keraton. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan semenjak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton, di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak pria tertua dari permaisurinya. Jika tidak ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang sanggup memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.

Perpecahan II (1807)
Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, hingga pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan lantaran salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan

Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara takhta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain berjulukan Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).

Masa kolonial dan kemerdekaan

Sesudah insiden tersebut, pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, dimana kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon), yang meliputi luas 1.100 Hektar, dengan penduduk sekitar 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektare.

Pada masa kemerdekaan, wilayah Kesultanan Cirebon menjadi cuilan yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara umum, wilayah Kesultanan Cirebon tercakup dalam Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, yang secara administratif masing-masing dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia yaitu walikota dan bupati.

Perkembangan terakhir

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Cirebon tidak lagi merupakan sentra dari pemerintahan dan pengembangan agama Islam. Meskipun demikian keraton-keraton yang ada tetap menjalankan kiprahnya sebagai sentra kebudayaan masyarakat khususnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kesultanan Cirebon turut serta dalam banyak sekali upacara dan perayaan susila masyarakat dan telah beberapa kali ambil cuilan dalam Festival Keraton Nusantara (FKN).

Umumnya, Keraton Kasepuhan sebagai istana Sultan Sepuh dianggap yang paling penting lantaran merupakan keraton tertua yang berdiri tahun 1529, sedangkan Keraton Kanoman sebagai istana Sultan Anom berdiri tahun 1622, dan yang terkemudian ialah Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan.

Pada awal bulan Maret 2003, telah terjadi konflik internal di keraton Kanoman, antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dan Pangeran Elang Muhammad Saladin, untuk pengangkatan takhta Sultan Kanoman XII. Pelantikan kedua sultan ini diperkirakan menimbulkan perpecahan di kalangan kerabat keraton tersebut.



Baca juga :

Wednesday, November 21, 2018

Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap

Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap
www.kuwarasanku.blogspot.com
Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap

Perkembangan umum wacana tata pemerintahan khususnya di pulau Jawa sepertinya pernah terjadi di Pasuruan pada awal penguasaan oleh kerajaan Demak tahun semenjak 1535. penguasa kerjaan sentra Demak dikatakan juga menempatkan orang-orangnya di daerah yang gres dikuasainya. Namun demikian nama-nama dan gelar penguasa di Pasuruan pasca penaklukan Demak hingga Bupati Ranggajaya dibawah kekuasaan Mataram masih kabur. Setelah maut Sultan Trenggana 1546 di Demak rupanya Pasuruan semakin menjadi daerah yang setengah merdeka. Informasi wacana sejarah kerajaan Pasuruan pada kala XVI ini memang sedikit. 

Dalam kronik wacana kejadian Jawa memberitakan campur tangan pemuka agama di Giri dari tahun 1548 hingga 1552. dimungkinkan untuk memperkuat atau memulihkan kekuasaan Islam di Pasuruan. Namun demikian tetap menjadi daerah perebutan hegemoni antar penguasa. Terutama dari kerajaan Mataram yang berkembang lalu sesudah Demak dan Pajang. Pasuruan dikala menjadi pemerintahan gres yang telah memeluk Islam semenjak awal telah berlaku ekspansif sebagaimana kerajaan lain. bahkan kekuasaan Pasuruan meluas hingga Kediri bahkan Blambangan. Achilles Meerman yang merujuk catatan Cornelis de Houtman tahun 1596 menyebut adanya peperangan antara Pasuruan yang telah memeluk Islam "Mohamedan Pasuruan" dan Blambangan yang beragama Hindu. Bulan Januari 1597 waktu ke Bali diterangkan Bandar Panarukan, banda penting kerajaan Blambangan telah dikepung lebih 3 bulan. 

Dari catatan pedagang Belanda pada permulaan tahun 1597 diperoleh informasi pasukan dari Bupati Pasuruan besar peranannya dalam pertempauran melawan Panembahan Senapati dari Mataram sehingga Pasuruan belum berhasil dikuasai. Pedagang Panembahan Senapati dari Mataram sehingga Pasuruan belum berhasil dikuasai. Pedagang Belanda Frank van de Does yang singgah di "Palemboam" atau "Balemboam" (Blambangan) antara tanggal 18-27 Januari 1597 menyebut: Blambangan telah dikepung pasukan Korinck van Pasuruan (raja Pasuruan) yang berkekuatan 3000 orang prajurit. Meski bersifat ekspansif Pasuruan juga tidak lepas dari penyerangan dari pihak luar. Kerajaan Mataram mulai dari penguasa pertama Panembahan Senapati yang juga mulai menyerang Pasuruan tahun 1591 dan 1600 dilanjutkan penggantinya.

 
Masa Sultan Agung (1613-1646) memerintah di Mataram merupakan puncak politik perluasan yang telah dirintis penguasa sebelumnya. Pulau Jawa menjadi lebih menuju pada suatu kesatuan yang lebih infinit meski dalam ikatan yang longgar. Pasuruan juga dikuasai kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung ini. Pada masa pemerintahan pengganti Sultan Agung, Amangkurat I(1646-1677) konsepsi Negara semakin terwujud. Amangkurat I dalam menaklukkan suatu wilayah hingga apda pengikut-pengikutnya. Pemerintah tingkat propinsi diserahkan pada ministeriales (setingkat bupati) yang sering diganti untuk menghindarkan impian untuk merdeka. Pajak dalam bentuk uang sudah mulai dijadikan peraturan umum. 

Karena sistem pajak kurang berhasil lalu diubah dengan cara menggadaikan daerah pada ministeriales dalam jumlah tertentu setahun Perdagangan dengan luar negeri dimonopoli oleh pemerintah sentra (Schrieke 1974). Pada masa yang lebih lalu sekitar tahun 1675 kota pantai antara Demung dan Surabaya antara lain Pasuruan, Gembong dan Garongan sanggup direbut. Karaeng Galesung yang membantu Trunajaya melawan Kompeni. Daerah yang disrang umumnya merupakan daerah berpenduduk padat dan Bandar perdagangan beras yang penting. Dari surat Speelman 14 Juni 1677 yang dikutip de Graaf juga menyebutkan, masa pemerintahan Amangkurat I bertahta di Matrama Kyai Dermayuda dijadikan Wedana-Bupati Pasuruan membawahai bupati disekeitarnya. Waktu itu juga jabatan Syahbandar Pasuruan yang berkedudukan di Garuda. 

Pertengahan tahun 1677 jabatan Syahbandar ini dipegang Kyai Lurah Nayapatra. (Soetjipto, 1983). Sutjahyo (2001) menelaah data menuskrip yang diperolehnya dari Perpustakaan Nasional yang ditulis Puh Dona Asmara yang berbunyi: Sira sun karya Dipati, jumenengo Pasuruhan, ngadegeno karatone, sakehe mancanegara, kabeh sira kariga, sawetane Gunung Lawu, kabeh sira prentahana, (engkau saya jadikan dipati (raja) bertahta di Pasuruhan, semua negeri di dekatnya engkau persiapkan, sebelah timur Gunung Lawu, semua engkau kuasai). Tulisan ini berasal dari perintah Pangeran Nerangkusumo (Paman Raden Gusik Kusumo/istri Untung Surapati) yang diucapkan sekitar pukul 14.00, tanggal 8 Februari 1686 yang disaksikan Adipati Surabaya, Adipati Madura, Adipati Kediri, dan Raja kecil Pasuruan. Penyerangan lain dilakukan Bupati Madura yang lain yaitu Cakraningrat IV yang tahun 1718 diangkat bupati oleh Susuhunan Mataram. Penyerangan oleh Cakraningrat IV mencakup Surabaya, Sumenep, Probolinggo, dan Pasuruan dengan kekuatan 2000 orang prajurit. Penyerangan lain yakni oleh Kompeni Belanda waktu Pasuruan dibawah kekuasaan Untung Surapati

Setelah Pasuruan sanggup dikuasai Kompeni dikembalikan menjadi wilayah jajahan Mataram dengan akibat menandatangani kontrak. Di daerah kekuasaan Mataram Kompeni diizinkan mendidirkan benteng dengan sejumlah pasukan. Di Pasuruan Kompeni mendirikan beberapa benteng yang dikepalai seorang Kapten. Seorang Bupati juga sering menerima kiprah pelengkap membantu Bupati di daerah di dekatnya yang kurang baik pemerintahannya. Sebagai pola yakni Surat Keputusan Sunan Pakubuwana II tanggal 30 Desember 1732 yang tetapkan Ngabehi Jayengrana (bupati Pasuruan) menjadi Wedana-Bupati yang membawahi Bupati Jayalelana dari daerah Dringu dan Bupati Puspadireja dari daerah Bangil. Waktu Gubernur Jendral Baron van Imhoff (dalam Babad Kitha Pasuruandisebut "Baron pan Hindup") tahun 1764 berkunjung di Pasuruan. 

Bupati Pasuruan Tumenggung Nitinegoro sedang sakit sesudah memerintah 15 tahun. Sebelum meninggal dia menunjuk anaknya Raden Ngabehi Sumadrana yang disetujui pemerintah sentra Kompeni dan dilantik tahun 1751. Anak bupati biasanya telah membantu bapaknya memerintah sebagaionderregent (wakil bupati). Seperti juga Bupati Pasuruan Adipati Nitidiningrat semenjak tahun 1781 dibantu anaknya yang berjulukan Natakusuma. Baru tahun 1800 Natakusuma diangkat menjadi Bupati penuh. Seiring dengan perkembangan tata pemerintahan terjadi perubahan fisik di kota Pasuruan yang menjadi catatan tersendiri. Tahun 1822 diceritakan "Pasuruan yakni daerah yang luas dan makmur. Di situ terdapat perdagangan yang ramai dengan pulau Madura. Di jalan-jalan banyak orang terutama di jalan Pos Besar yang menuju Surabaya". Kesaksian lain dari Raden Mas Hario Poerwo Lelono pada pertengahan kala 19 menyebut ramainya kota kecil Bangil alasannya yakni adanya pasar besar. Lokasinya 1 jam perjalanan sebelum mencapai Pasuruan. 

Kota Pasuruan tahun 1830 juga menempati posisi yang penting alasannya yakni merupakan sentra pemerintahan Karesidenan sekaligus sentra Kabupaten. Karesidenan Pasuruan waktu itu mencakup Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Bangil, dan Kabupaten Malang. Kabupaten Pasuruan membawahi 11 distrik. Distrik Kraton, Rajasa, Winongan, Keboncandi, Jati, Grati, Melaten, Gempeng, Ngempit dan Tengger. Ada juga yang menyebut 12 distrik dengan pelengkap Wangkal dan Porong. Residen Pasuruan S van Deventer pernah mendeskripsikan wacana kepindahan rumah bupati Pasuruan. Perpindahan itu terjadi tanggal19 Maret 1868 yang diiringi pertunjukan gambuh. 

Dari beberapa bupati yang pernah memerintah di Pasuruan terdapat nama Arya Suganda. Bupati yang populer pada paruh kedua kala XIX. Ia berasal dari keluarga darah biru Mangkunegara, Surakarta dan seorang yang terpelajar. Ia juga seorang pengaran Niti Mani, karya fiosofis Jawa yang menghubungkan erotisme dengan mistikisme yang banyak dibaca para budayawan pada masanya (Graaf, 1998). Bupati Arya Suganda ini sanggup disejajarkan dengan nama disebut sebagai RM. AA. Soegondo (1887-1901) ibarat termuat dalam daftar nama Bupati Pasuruan (Anonim, 2001). Perkembangan lebih lanjut dari tata pemerintahan khususnya di Pasuruan terjadinya pembentukan Kabupaten Pasuruan 1 Januari 1901 menurut Staatblad 1900 No. 334 yang berawal dari Residen Pasoeroean dengan batas wilayah mencakup utara berbatasan dengan Madura, selatan berbatasan dengan Laut Hindia, barat berbatasan dengan Residen Kediri dan Surabaya, timur berbatasan dengan Besuki. Malang dan Probolinggo masuk wilayah Pasuruan. Pada waktu yang lebih lalu terjadi pembentukan Kotamadia Pasuruan tanggal 1 Juli 1918 menurut Staatblad 1918 No. 320 dengan namaGemeente Pasoeroean (Sutjahyo, 2001).



Kawasan Pasuruan merupakan daerah pertanian dan perdagangan semenjak periode klasik Indonesia. Pelabuhan Pasuruan telah melayani perdagangan untuk kerajaan-kerajaan di Jawa Timur.

Pada masa penguasaan oleh VOC (diserahkan dari wilayah Kesultanan Mataram sebagai imbalan pertolongan VOC dalam perang Suksesi Jawa, Pasuruan menjadi salah satu penghasil utama komoditas perdagangan hasil pertanian. Hal ini diteruskan pada periode penguasaan oleh Hindia-Belanda.

Source : 2


Baca juga : 

Monday, October 8, 2018

Biografi Megawati Soekarnoputri Lengkap

Biografi Megawati. Dr.(H.C.) Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau umumnya lebih dikenal sebagai Megawati Soekarnoputri atau biasa disapa dengan panggilan "Mbak Mega" (lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947; umur 71 tahun) yaitu Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat semenjak 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004. Ia merupakan presiden perempuan Indonesia pertama dan puteri dari presiden Indonesia pertama, Soekarno, yang kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadi Presiden Indonesia. Pada 20 September 2004, ia kalah bunyi dari Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu Presiden 2004 putaran yang kedua.

Ia menjadi presiden sehabis MPR mengadakan Sidang spesial MPR pada tahun 2001. Sidang spesial MPR ini diadakan dalam menanggapi langkah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang membekukan forum MPR/DPR dan Partai Golkar. Ia dilantik pada 23 Juli 2001. Sebelumnya dari tahun 1999–2001, ia menjabat Wapres pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Megawati juga merupakan ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) semenjak memisahkan diri dari Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1999. 

Megawati Soekarnoputri yaitu anak kedua Presiden Soekarno yang telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ibunda Megawati, Fatmawati, yaitu seorang gadis kelahiran Bengkulu di mana Soekarno dahulu pernah diasingkan pada masa penjajahan Belanda. Ia dilahirkan pada masa Agresi Militer Belanda. Pada waktu Soekarno diasingkan ke pulau Bangka, Fatmawati melahirkan seorang bayi yang dinamai Megawati Soekarno Putri, pada tanggal 23 Januari 1947 di kampung Ledok Ratmakan, tepi barat Kali Code. Setelah kemerdekaan Indonesia, Megawati kemudian dibesarkan di Istana Merdeka.

 Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau umumnya lebih dikenal sebagai Megawati Biografi Megawati Soekarnoputri Lengkap
Credit : Wikipedia | Gambar : Megawati Soekarnoputri
Dia pernah menuntut ilmu di Universitas Padjadjaran di Bandung (tidak hingga lulus) dalam bidang pertanian, selain juga pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (juga tidak hingga lulus). 

Karier politik Megawati Soekarnoputri yang penuh lika-liku dan warna seakan searah dengan garis dongeng kehidupan perjalanan perahu rumah tangganya yang pernah mengalami kegagalan.

Suami pertamanya yaitu Lettu (Penerbang) Surindro Supjarso, seorang pilot pesawat AURI dan perwira pertama di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) Republik Indonesia. Surindro sosoknya tinggi jangkung, berwajah ganteng dengan model rambutnya berjambul, di kalangan rekan-rekannya ia kerap dipanggil dengan "Pacul". Surindro yaitu sahabat karib Guntur Soekarnoputra, kakak Megawati. Konon kabarnya, Gunturlah yang menjodohkan Mega dengan Surindro. Mereka menikah pada hari Sabtu, tanggal 1 Juni 1968 bertempat di Jalan Sriwijaya Nomor 7, Kebayoran Baru, Jakarta. Setelah itu, Megawati kemudian mengikuti suaminya, Surindro, tinggal di Madiun, Jawa Timur. Di sana ia menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak pertamanya, Mohammad Rizki Pratama. 

Ketika Mega sedang mengandung anak keduanya (Mohammad Prananda), Surindro mengalami kecelakaan pesawat yang merenggut nyawanya. Pesawat Skyvan T-701 yang dikendalikannya terempas di bahari sekitar perairan pulau Biak, Irian Jaya, pada tanggal 22 Januari 1970. Surindro dan tujuh orang awak pesawatnya hilang tak diketahui rimbanya dan hanya tersisa serpihan puing-puing badan pesawat yang ditemukan tersebar awut-awutan di bahari sekitar perairan tersebut. Mega dirundung sedih yang mendalam, ia pun berkabung cukup lama.

Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1972, waktu itu usia Megawati masih gres menginjak awal dua puluhan dengan memiliki dua orang anak yang masih balita, ia kemudian kembali merajut kasih asmara dengan seorang laki-laki yang konon yaitu pengusaha asal Mesir, yang juga seorang Diplomat Mesir yang kala itu sedang bertugas di Jakarta, yang berjulukan Hassan Gamal Ahmad Hasan. Namun, ijab kabul Mega yang kedua kali ini tak berlangsung lama, hanya bertahan tiga bulan, alasannya yaitu ijab kabul Megawati dengan Hassan (suami kedua Mega) menjadi sorotan Media Massa dengan alasan bahwa waktu itu Megawati masih terikat perkawinan yang sah dengan Surindro, suami pertamanya dan pada ketika itu belum ada keputusan yang niscaya dari pemerintah, dalam hal ini yaitu Markas Besar (Mabes) TNI-AU, mengenai nasib suami pertamanya itu yang jenazahnya hingga kini tak berhasil ditemukan. |  |.Keluarga Bung Karno pun tak tinggal diam, mereka kemudian menyewa seorang pengacara, Sumadji namanya, guna membatalkan ijab kabul Mega yang kedua yang kontroversial itu melalui penetapan keputusan oleh Pengadilan Tinggi Agama - Jakarta, jadinya Hassan pun mengalah dan menyerah. Dari ijab kabul dengan suami keduanya yang kandas ini, Megawati tidak dikaruniai anak.

Kebahagiaan dan kedamaian hidup rumah tangga Megawati Soekarnoputri gres benar-benar terjalin dan dirasakan sehabis ia menikah dengan Moh. Taufiq Kiemas, rekannya sesama pencetus di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dulu, yang juga menjadi salah seorang penggerak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Suami ketiga Mega, Taufiq Kiemas, selain aktif di GMNI, ia juga bergabung dengan "Inti Pembina Jiwa Revolusi", yaitu suatu organisasi yang menegakkan fatwa "Soekarno". Taufiq Kiemas, yang oleh Guntur diberi julukan "si Bule", menikahi Mega pada simpulan Maret 1973. Pesta ijab kabul mereka ini berlangsung sederhana di "Panti Perwira", Jakarta Pusat. Dari pasangan ini, maka lahirlah Puan Maharani, yang merupakan anak ketiga dari Megawati Soekarnoputri dan yaitu anak pertama Taufiq Kiemas satu-satunya. 
Jejak politik sang ayah kuat kuat pada diri Megawati Soekarnoputri. Karena semenjak mahasiswa, ketika kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Pajajaran, ia pun selalu aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

1986
Tahun 1986 ia mulai masuk ke dunia politik, sebagai wakil ketua PDI Cabang Jakarta Pusat. Karier politiknya terbilang melesat. Mega hanya butuh waktu satu tahun menjadi anggota dewan perwakilan rakyat RI.

1993
Dalam Kongres Luar Biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya 1993, Megawati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI.

1996
Namun, pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Mega sebagai Ketua Umum PDI. Mega pun didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, yang menentukan Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

Mega tidak mendapatkan pendongkelan dirinya dan tidak mengakui Kongres Medan. Ia masih merasa sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Kantor dan perlengkapannya pun dikuasai oleh pihak Mega. Pihak Mega tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor DPP PDI. Namun, Soerjadi yang didukung pemerintah memberi bahaya akan merebut secara paksa kantor DPP PDI yang terletak di Jalan Diponegoro.

Ancaman Soerjadi kemudian menjadi kenyataan. Tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Aksi penyerangan yang menyebabkan puluhan pendukung Mega meninggal itu, berbuntut pada kerusuhan massal di Jakarta yang dikenal dengan nama Peristiwa 27 Juli. Kerusuhan itu pula yang menciptakan beberapa pencetus mendekam di penjara.

Peristiwa penyerangan kantor DPP PDI tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, ia makin mantap mengibarkan perlawanan. Ia menentukan jalur hukum, walaupun kemudian kandas di pengadilan. Mega tetap tidak berhenti. Biografi MegawatiBiografi Megawati LengkapBiografi Megawati Soekarno PutriBiografi Megawati Soekarno Putri LengkapBiografi Mbak MegaBiografi Bu MegawatiBiografi Ibu Megawati Soekarno PutriBiografi Presiden RIBiografi Presiden RI LengkapKumpulan Biografi Presiden LengkapKumpulan Biografi Presiden RIBiografi PresidenBiografi Wakil PresidenBiografi Wapres LengkapSejarah KotaSejarah KabupatenSejarah NegaraSejarah ProvinsiCerita Rakyat Lengkap Lengkap Tak pelak, PDI pun terpisah menjadi PDI di bawah Soerjadi dan PDI pimpinan Mega. Pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Namun, massa PDI lebih berpihak pada Mega.

1997
Keberpihakan massa PDI kepada Mega makin terlihat pada pemilu 1997. Perolehan bunyi PDI di bawah Soerjadi merosot tajam. Sebagian massa Mega berpihak ke Partai Persatuan Pembangunan, yang kemudian melahirkan istilah "Mega Bintang". Mega sendiri menentukan golput ketika itu. 

1999
Pemilu 1999, PDI Mega yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan berhasil memenangkan pemilu. Meski bukan menang telak, tetapi ia berhasil meraih lebih dari tiga puluh persen suara. Massa pendukungnya, memaksa semoga Mega menjadi presiden. Mereka mengancam, bila Mega tidak jadi presiden akan terjadi revolusi.

Namun alur yang berkembang dalam Sidang Umum 1999 menyampaikan lain, dan menentukan KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Ia kalah tipis dalam voting pemilihan presiden yaitu 373 banding 313 suara. 

2001
Namun, waktu juga yang berpihak kepada Megawati Sukarnoputri. Ia tidak harus menunggu lima tahun untuk menggantikan posisi Presiden Abdurrahman Wahid, sehabis Sidang Umum 1999 menggagalkannya menjadi Presiden. Sidang spesial MPR, Senin (23/7/2001), telah menaikkan statusnya menjadi Presiden, sehabis Presiden Abdurrahman Wahid dicabut mandatnya oleh MPR RI.

2004
Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, dalam masa pemerintahannyalah, pemilihan umum presiden secara pribadi dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia. Ia mengalami kekalahan (40% - 60%) dalam pemilihan umum presiden 2004 tersebut dan harus menyerahkan tonggak kepresidenan kepada Susilo Bambang Yudhoyono mantan Menteri Koordinator pada masa pemerintahannya.

2014

Pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PDI-P, Semarang, Jawa Tengah, 20 September 2014, Megawati ditunjuk kembali untuk menjadi Ketua Umum PDI-P periode 2015-2020.

Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (Bandung); (1965)
Anggota Fraksi PDI dewan perwakilan rakyat RI Komisi IV (1987-1997)
Ketua DPC PDI Jakarta Pusat
Ketua Umum PDI versi Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Surabaya (1993-1996)
PDI yang dipimpinnya berganti nama menjadi PDI Perjuangan pada 1999-sekarang
Wapres Republik Indonesia (20 Oktober 1999-23 Juli 2001)
Presiden Republik Indonesia ke-5 (23 Juli 2001-20 Oktober 2004)

SD Perguruan Cikini Jakarta (1954-1959)
SLTP Perguruan Cikini Jakarta (1960-1962)
SLTA Perguruan Cikini Jakarta (1963-1965)
Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung (1965-1967); tidak selesai
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Jakarta (1970-1972); tidak selesai

Sumber : Wikipedia

Sunday, January 6, 2019

Sejarah Kerajaan Kalingga Jepara



Kerajaan Kalingga atau Holing

Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke banyak sekali daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa berjulukan I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, daerah timur Jepara kini ini, serta dipimpin oleh seorang raja perempuan berjulukan Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.
 Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para Sejarah Kerajaan Kalingga Jepara
Menurut seorang penulis Portugis berjulukan Tome Pires dalam bukunya “Suma Oriental”, Jepara gres dikenal pada era ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang gres dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang berjulukan Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com
Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan /Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadiri suami. Namun sesudah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.

Kematian orang-orang yang dikasihi menciptakan Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis semenjak masa Kerajaan Demak.

Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi alasannya yakni keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan kalau orang Portugis ketika itu menyebut sang Ratu sebagai “RAINHA DE JEPARA”SENORA DE RICA”, yang artinya Raja Jepara seorang perempuan yang sangat berkuasa dan kaya raya.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melaksanakan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.

Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di era 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.

Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “QUILIMO”.

Walaupun balasannya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah menciptakan Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di era 16 itu.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, hingga kini masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang kini ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.

Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadiri. Mengacu pada semua aspek kasatmata yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, berpengaruh dan mashur maka penetapan Hari Kaprikornus Jepara yang mengambil waktu dia dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala TRUS KARYA TATANING BUMI atau terus bekerja keras membangun daerah.

Ratu Shima atau Sima yakni nama penguasa Kerajaan Kalingga, yang pernah berdiri pada milenium pertama di Jawa. Tidak banyak diketahui tentangnya, kecuali bahwa ia sangat tegas dalam memimpin dengan memberlakukan aturan potong tangan bagi pencuri. Salah satu korbannya yakni keluarganya sendiri.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com
Syahadan, Kerajaan Kalingga, Nagari di pantura (pantai utara Jawa, kini di Keling, Kelet, Jepara, Jateng) beratus masa berlampau, bersinar terang emas,penuh kejayaan. Bersimaharatulah, Ratu Shima, nan ayu, anggun, perwira, ketegasannya semerbak amis di antero nagari nusantara. Sungguh, meski jargon kesetaraan Gender belum jadi wacana ketika itu. Namun pamor Ratu Shima memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai jelata, wong cilik hingga bulat elit kekuasaan. Kebijakannya mewangi kesturi, menciptakan gentar para perompak laut. Alkisah tak ada nagari yang berani berhadap muka dengan Kerajaan Kalingga, apalagi menantang Ratu Shima nan perkasa. kolam Srikandi, sang Ratu Panah.

Konon, Ratu Shima, justru amat galau dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga para pejabat mahapatih, patih, mahamenteri, dan menteri,hulubalang, jagabaya,jagatirta, ulu-ulu, pun segenap pimpinan divisi kerajaan hingga tukang istal kuda, alias pengganti tapal kuda, kuda-kuda tunggang kesayangannya, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya. Sekali waktu, Ratu Shima menguji kesetiaan bulat elitnya dengan me-mutasi, dan me-Non Job-kan pejabat penting di lingkunganb Istana. Namun puluhan pejabat yang menerima mutasi ditempat yang tak diharap, maupun yang di-Non Job-kan, tak ada yang mengeluh barang sepatah kata. Semua bersyukur, kebijakan Ratu Shima sebetapapun memojokkannya, dianggap memberi barokah, titah titisan Sang Hyang Maha Wenang.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com
Tak puas dengan perilaku ‘setia’ bulat dalamnya, Ratu Shima, sekali lagi menguji kesetiaan wong cilik, pemilik sah Kerajaan Kalingga dengan menghamparkan emas permata, komplemen yang tak ternilai harganya di perempatan alun-alun erat Istana tanpa penjagaan sama sekali. Kata Ratu Shima,“Segala macam komplemen persembahan bagi Dewata agung ini jangan ada yang berani mencuri, siapa berani mencuri akan memanggil bala kutuk bagi Nagari Kalingga, karenanya, siapapun pencuri itu akan dipotong tangannya tanpa ampun!”. Sontak Wong cilik dan lingkungan elit istana, bergetar hatinya, mereka benar-benar takut. Tak ada yang berani menjamah, hingga hari ke 40. Ratu Shima sempat bahagia.

Namun malang tak sanggup ditolak. Esok harinya semua komplemen itu lenyap tanpa bekas. Amarah menggejolak di hati sang penguasa Kalingga. Segera dititahkan para telik sandi menilik wong cilik yang mungkin saja jadi maling di sekitar lokasi persembahan, sementara di Istana dibuat Pansus,Panitia Khusus yang menguji para pejabat istana yang menerima mutasi apes, atau yang Non Job diperiksa tuntas. Namun sesudah diperiksa dengan seksama. Berpuluh laksa wong cilik tak ada yang pantas dicurigai sebagai pelaku, sementara pejabat istana pun berbondong, bersembah sujud, bersumpah setia kepada Ratu Shima. Mereka rela menyerahkan jiwanya apabila terbukti mencuri. Ratu Shima kehabisan akal.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com
Saat itu, Tukang istal kuda, takut-takut menghadap, badannya gemetar, matanya jelalatan melihat kiri kanan, amat ketakutan.”Maaf Tuanku Yang Mulia Ratu Agung Shima, perkenankan hamba memberi kesaksian, hamba bersedia mati untuk memberikan kebenaran ini. Hamba yakni saksi mata tunggal. Malam itu hamba menyaksikan Putra Mahkota mengambil rahasia seluruh komplemen persembahan itu. Maaf…,” sujud sang tukang istal muda belia,mukanya menyerupai terbenam di lantai istana. “Apa, Putra Mahkota mencuri?!,”Ratu Shima terperanjat bukan kepalang.Mukanya merah padam..”Putraku, jawab dengan jujur, pakai nuranimu, benar apa yang dikatakan wong cilik dari sangkar kuda ini?”, tanya sang ibu menahan getar. Sang Putra Mahkota tiada menjawab, ia hanya mengangguk., kemudian menunduk teramat malu. Ia mengharap belas kasih sang ibu yang membesarkannya dari kecil.

Sejenak istana teramat sunyi, hanya suara nafas yang terdengar, dan daun-daun jati emas yang jatuh luruh ke tanah.”Prajurit, Demi tegaknya hukum, dan menjauhkan nagari Kalingga dari kutukan dewata, potong tangan Putra Mahkotaku, sekaramg juga…,”perintah Sang Ratu Shima dengan muka keras. Seluruh penghuni istana dan rakyat jelata yang berlutut hingga alun-alun merintih memohon ampun, namun Sang Ratu tiada bergeming dari keputusannya. Hukuman tetap dilaksankana. Hal itu dituliskan dengan terang di Prasasti Kalingga, yang masih sanggup dilihat hingga kini.
Holing ( Chopo )
https://caraphdanghmmm.blogspot.com

Kerajaan ini ibukotanya berjulukan Chopo ( nama China ), berdasarkan bukti- bukti China pada era 5 M. Mengenai letak Kerajaan Holing secara pastinya belum sanggup ditentukan. Ada beberapa argumen mengenai letak kerajaan ini, ada yang menyebutkan bahwa negara ini terletak di Semenanjung Malay, di Jawa barat, dan di Jawa Tengah. Tetapi letak yang paling mungkin ada di daerah antara pekalongan dan Plawanagn di Jawa tengah. Hal ini berdasarkan catatan perjalanan dari Cina

Kerajaan Holing yakni kerajaan yang terpengaruh oleh pemikiran agama Budha. Sehingga Holing menjadi sentra pendidikan agama Budha. Holing sendiri mempunyai seorang pendeta yang populer berjulukan Janabadra. Sebgai sentra pendidikan Budha, menyebabkan seorang pendeta Budha dari Cina, menuntut ilmu di Holing. Pendeta itu berjulukan Hou ei- Ning ke Holing, ia ke Holing untuk menerjemahkan kitab Hinayana dari bahasa sansekerta ke bahasa cina pada 664-665.

Sistem Administrasi kerajaan ini belum diketahui secara pasti. Tapi beberapa bukti menunjukkan bahwa pada tahun 674-675, kerajaan ini diperintah oleh seoarang raja perempuan yang berjulukan Simo.

Holing sendiri banyak ditemukan barang-barang yang bercirikan kebudayaan Dong-Song dan India. Hal ini menunjukkan adanya contoh jaringan yang sudah terbentuk antar Holing dengan bangsa luar. Wilayah perdaganganya mencakup maritim China Selatan hingga pantai utara Bali. Tetapi perkembangan selanjutnya sistem perdagangan Holing menerima tantangan dari Srivijaya, yang pada balasannya perdagangan dikuasi oleh Srivijaya. Sehingga Srivijaya menjadi kerajaan yang menguasai perdagangan pada pertengahan era ke-8.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com
Kalingga yakni sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang. Kalingga telah ada pada era ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal mempunyai peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

Putri Maharani Shima, PARWATI, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang berjulukan MANDIMINYAK, yang kemudian menjadi raja ke 2 dari Kerajaan Galuh.

Maharani Shima mempunyai cucu yang berjulukan SANAHA yang menikah dengan raja ke 3 dari Kerajaan Galuh, yaitu BRATASENAWA. Sanaha dan Bratasenawa mempunyai anak yang berjulukan SANJAYA yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732M).

Setelah Maharani Shima mangkat di tahun 732M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan KALINGGA UTARA yang kemudian disebut BUMI MATARAM, dan kemudian mendirikan Dinasti / Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.
https://caraphdanghmmm.blogspot.com
Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari TEJAKENCANA, yaitu TAMPERAN BARMAWIJAYA alias RAKEYAN PANARABAN.

Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja KALINGGA SELATAN atau BUMI SAMBARA, dan mempunyai putra yaitu RAKAI PANANGKARAN.

Sumber : https://caraphdanghmmm.blogspot.com/search?q=kerajaan-kalingga-atau-holing

Sejarah Kerajaan Jepara, Sejarah Kerajaan Kalingga, Sejarah Kerajaan Holing, Sejarah Kerajaan Kalingga di Jepara, History of Kalingga

Kisah kerajaan di Jawa sanggup dibaca disini