Sunday, November 25, 2018

Sejarah Desa Gandusari Kuwarasan

Menyusuri sejarah terbentuknya suatu Pemerintahan desa gotong royong cukup sulit, selain tidak adanya bukti-bukti tertulis juga minimnya sumber-sumber yang sanggup dijadikan petunjuk untuk menguak sejarah terbentuknya sebuah pemerintahan desa.Tulisan ini berusaha untuk menguak sekelumit perihal sejarah asal mula terbentuknya Desa Gandusari yang diambil dari beberapa sumber yang gotong royong secara ilmiah belum sanggup disebut sebagai sumber sejarah namun mungkin lebih “layak” disebut sebagai legenda.Tidak ada bukti sejarah yang sanggup dijadikan dasar baik bukti tertulis maupun bentuk yang lain, satu-satunya sumber ialah dongeng secara turun temurun dari generasi ke generasi, namun mudah-mudahan ini sanggup sedikit menjadi citra untuk melihat ke belakang perihal desa Gandusari.


 
Berdasar dari dongeng yang tersebar secara turun temurun bahwa dahulunya wilayah yang kini menjadi Desa Gandusari ialah sebuah Hutan Belantara yang tidak ada penghuninya. Tersebutlah seorang Bangsawan dari Kerajaan Mataram berjulukan Dipa Wedana tiba ke wilayah ini dan melaksanakan Babad Alas atau membuka hutan menjadi sebuah kawasan pemukiman. Ia tiba bersama saudaranya yang berjulukan Singa Wedana yang melaksanakan Babad Alas di kawasan yang kini menjadi wilayah Desa Bendungan dan Serut. Sementara Dipa Wedana melaksanakan babad di wilayah yang kini menjadi Desa Banjareja dan Gandusari. Setelah meninggal Dipa Wedana dimakamkan di Desa Banjareja tepatnya di Pemakaman Dukuh Pacor sementara Singa Wedana dimakamkan di Desa Bendungan. Tidak ada satupun bukti yang mengarah kepada kapan waktu terjadinya Babad Alas ini sehingga tidak sanggup diketahui semenjak tahun berapa  Pemerintahan Desa Gandusari terbentuk.

Di sisi lain pada asumsi kurun X datanglah ke Desa Gandusari seorang Ulama asal Tegalsari berjulukan Syaikh Idris Ismail. Beliau ialah murid dari Syaikh Ahmad Maulana Maulin. Syaikh Idris Ismail ini diperintahkan oleh gurunya untuk melaksanakan khalwat (tapa) di kawasan Gunung Kidang (sekarang wilayah sekitar Desa Sekayu, Kecamatan Buayan) dengan diberi pesan untuk mengikuti arah perginya seekor binatang apapun yang nanti hinggap ketika melaksanakan khalwat. Setelah beberapa waktu berkhalwat akibatnya hinggaplah seekor belalang di pundaknya. Sesuai pesan dari gurunya diapun mengikuti arah terbangnya belalang tersebut yang ternyata berhenti di kawasan yang kini menjadi Desa Pondok Gebangsari. Diceritakan bahwa wilayah ini ialah wilayah dengan ketersediaan air yang sangat kurang sehingga Syaikh Idris Ismail memutuskan untuk pindah ke wilayah Gandusari.

Atas seruan warga dan juga sesuai dengan misinya Syaikh Idris Ismailpun berdakwah membuatkan Agama Islam di Gandusari. Untuk memperlancar usahanya ini dia meminta kepada warga untuk dibuatkan masjid dan juga tempat tinggal. Wargapun menyetujui dan dibangunlah sebuah masjid dan rumah untuk tempat tinggal Syaikh Idris Ismail. Sampai ketika ini masjid tersebut masih megah berdiri dan menjadi masjid pujian masyarakat Desa Gandusari dengan nama Masjid “Baitul Mu’minin”.

Dalam kurun waktu kurun yang sama dengan masuknya Syaikh Idris Ismail ke Gandusari inilah diketahui adanya seorang Kepala Pemerintahan atau Kepala Desa di Gandusari yang diyakini sebagai Kepala Desa Gandusari yang pertama berjulukan Jayus. Tidak diketahui semenjak kapan dan berapa usang dia memerintah di Gandusari. Kepala Desa ke dua ialah Wiryodiharjo seorang warga asal desa Ori. Sepeninggal dia pemerintahan desa dipegang oleh puteranya berjulukan Sardiyo yang merupakan Kepala Desa Ke- 3.

Kepala Desa ke-4 berjulukan Bahri yang berasal dari Serut, namun ternyata kepemimpinannya tidak didukung oleh sebagian warga dan dia hanya memerintah selama 3 hari. Pemerintahan lalu dipegang  oleh Dulah Khaeri yang berasal dari desa Kuwarasan. Beliau ialah Kepala Desa ke-5 yang juga tidak cukup usang memegang pemerintahan yaitu selama kurang lebih 2 tahun. Tanpa diketahui secara niscaya penyebabnya dia dicopot dari jabatannya oleh Pemerintah Kecamatan Kuwarasan waktu itu.

Kepala Desa ke-6 berjulukan Gandu Sasmito warga asal Desa Kalipurwo yang memerintah hingga kira-kira tahun 1947. Karena tindakannya yang suka memeras warganya sendiri dan sikapnya yang memihak kepada penjajah Belanda dia ditangkap dan dibunuh oleh Tentara Pejuang Kemerdekaan waktu itu.Selama kurang lebih 5 tahun Desa Gandusari vakum tidak mempunyai Kepala Desa hingga akibatnya pada tahun 1952  terpilihlah seorang Kepala Desa bernama  Joyo Suwito yang berasal dari Desa Kedung Ampel Kecamatan Gombong, dia memerintah hingga tahun 1973 dan merupakan Kepala Desa ke-7.

Kepala Desa ke-8 ialah Harjo Suwito warga orisinil dari Ori dan memerintah dari tahun 1974 – 1986. Selama kurang lebih 3 tahun Pemerintah Desa dipegang oleh Sekdes (Carik) waktu itu hingga pada tahun 1989 diadakan Pemilihan Kepala Desa dan terpilihlah Amir Khaerudin yang memegang jabatan selama 2 periode yaitu hingga tahun 2006 sehabis pada pemilihan kepala desa berikutnya dia terpilih kembali dan merupakan calon tunggal. Beliau ialah Kepala Desa ke-9 dan merupakan Kepala Desa pertama yang orisinil warga Desa Gandusari alasannya ialah bahkan Kepala desa berikutnya (ke 10) Bambang Pujiman yang memerintah hingga tahun 2013 ialah bukan orisinil warga Desa Gandusari yang tidak lain berasal dari Desa Pejagoan Kebumen. Kepala Desa Selanjutnya (ke 11) yaitu Bapak Waliman menjabat mulai Juni 2013 - Sekarang (Januari 2015) masih menjabat sebagai Kepala Desa.

Demikian sekelumit perihal sejarah Desa Gandusari yang dengan melihat sumber dan rujukan yang ada belumlah sanggup dipertanggungjawabkan secara ilmiah, namun mudah-mudahan hal ini tidak mengurangi rasa patriotik dari para pembaca khususnya warga Desa Gandusari baik yang berdomisili di Gandusari maupun yang ketika ini berada di perantauan atau bahkan sudah bermutasi kependudukan namun masih mempunyai rasa mempunyai terhadap Desa Gandusari.

Sejarah Kabupaten, Sejarah Kerajaan, Ilmu Pengetahuan, Misteri BACA DISINI

Saturday, November 24, 2018

Sejarah Gunung Srandil Cilacap


Goa gunung Srandil merupakan bukti sejarah yang luar biasa di mata masyarakat Indonesia, dan juga di mata dunia. Selain keunikan dan keindahanya, kawasan ini merupakan kawasan wisata yang populer. Disamping wisata alam dan budaya juga terdapat wisata spiritual atau religius antara lain di gunung srandil dan selok.

Gunung srandil merupakan salah satu bukit yang ada di Glempang pasir Kecamatan Adipala jarak antara obyek wisata dengan Kota Cilacap 30 Km kearah timur maritim dan relatif gampang ditempuh dengan kendaraan penumpang bus umum jurusan Cilacap-Jatijajar - Kebumen atau kendaraan langsung alasannya yakni jalannya sudah beraspal dan erat dengan jalan lintas selatan-selatan.

 merupakan bukti sejarah yang luar biasa di mata masyarakat Indonesia Sejarah Gunung Srandil CilacapGunung Srandil setiap hari dikunjungi orang untuk berziarah oleh alasannya yakni kawasan tersebut tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar saja tetapi hingga keluar Jawa menyerupai Sumatra, Kalimantan, Bali. dan Sulawesi, maka yang berkunjung tujuannya bermacam-macam. Para peziarah biasanya berkunjung atau bertapa pada Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada Bulan Syura.
Konon berdasarkan kisah penghuni pertama Gunung Srandil yakni Sultan Mukhriti putra kedua dari Dewi Sari Banon Ratu Sumenep Jawa Timur.

Kedatangan Sultan itu untuk bertapa namun Sultan Mukhriti murca (menghilang) yang ada tinggal petilasannya yang terletak di sebelah timur yang di kenal dengan Embah Gusti Agung Sultan Mukhriti.

Selain itu juga ada legenda rakyat yang pertama bermukim di gunung Srandil yakni dua orang berjulukan Kunci Sari dan Dana Sari, mereka yakni prajurit Pangeran Diponegoro yang tidak mau mengalah kepada bala tentara Belanda. Mereka melarikan diri ke Gunung Srandil untuk bersembunyi dan meninggal di sini . Makam kedua prajurit tersebut berada di sebelah timur Gunung Srandil dalam satu komplek yang dipagar keliling yang lalu hari, Kunci Sari dikenal dengan nama Sukma Sejati

Di Gunung Srandil banyak petilasan orang-orang yang dianggap memiliki kedigdayaan yang linuwih atau kemampuan melebihi orang lain yang dikenal sebagai tokoh- tokoh orang sakti mandraguna. Dari kemampuannya, kesaktiannya itu maka tempat-tempat yang di singgahi dianggap keramat dan disakralkan.
Adapun petilasan-petilasan yang ada di Gunung Srandil yakni Mbah Kanjeng Gusti Agung, Nyai Dewi Tanjung Sekarsari, Kaki semar Tunggul Sabdojati Dayo amongrogo, Juragan Dampo Awang, Kanjeng Gusti Agung Akhmat atau Petilasan Langlang Buwana yang berada diatas bukit dan petilasan Hyang Sukma Sejati.
Baca pula sejarah-sejarah yang lainnya di bawah ini

Friday, November 23, 2018

Sejarah Kartun Doraemon Lengkap

Doraemon (ドラえもん) yaitu judul sebuah manga terkenal yang dikarang Fujiko F. Fujio (藤子・F・不二雄) semenjak tahun 1969 dan berkisah ihwal kehidupan seorang anak pemalas kelas 5 SD yang berjulukan Nobi Nobita (野比のび太) yang didatangi oleh sebuah robot kucing berjulukan Doraemon yang tiba dari abad ke-22. Dia dikirim untuk menolong Nobita biar keturunan Nobita sanggup menikmati kesuksesannya daripada harus menderita dari utang finansial — yang akan terjadi pada masa depan — yang disebabkan lantaran kebodohan Nobita.

Nobita, sehabis gagal dalam ulangan sekolahnya atau sehabis diganggu oleh Giant dan Suneo, akan selalu mendatangi Doraemon untuk meminta bantuannya. Doraemon kemudian biasanya akan membantu Nobita dengan memakai peralatan-peralatan canggih dari kantong ajaibnya; peralatan yang sering dipakai contohnya "baling-baling bambu" dan "Pintu ke Mana Saja". Sering kali, Nobita berbuat terlalu jauh dalam memakai peralatannya dan malah terjerumus ke dalam duduk perkara yang lebih besar.


Sejarah

Pada bulan Desember 1969, manga Doraemon terbit berkesinambungan dalam 6 judul majalah bulanan anak. Majalah-majalah tersebut yaitu majalah Yoiko (anak baik), Yōchien (taman kanak-kanak), Shogaku Ichinensei (kelas 1 SD), Shogaku Yonnensei (kelas 4 SD), dan semenjak 1973 majalah Shogaku Gogensei (kelas 5 SD) dan Shogaku Rokunensei (kelas 6 SD). Cerita yang terkandung dalam majalah-majalah itu berbeda-beda, yang berarti pengarang dongeng ini harus menulis lebih dari 6 dongeng setiap bulannya. Pada tahun 1979, CoroCoro Comic diluncurkan sebagai majalah Doraemon.
Sejak pertama kali muncul pada tahun 1969, dongeng Doraemon telah dikumpulkan dan dibagi ke dalam 45 buku yang dipublikasikan semenjak tahun 1974 hingga 1996, dan telah terjual lebih dari 80 juta buku pada tahun 1992. Sebagai tambahan, pada tahun 2005, Shōgakukan menerbitkan sebuah serial aksesori sejumlah 5 jilid dengan judul Doraemon+ (Doraemon Plus), dengan dongeng yang berbeda dari 45 volume aslinya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Doraemon

Selengkapnya baca disini

Thursday, November 22, 2018

Sejarah Kabupaten Pamekasan Jawa Timur Lengkap


Sejarah Kabupaten Pamekasan Jawa Timur Lengkap Sejarah Kabupaten Pamekasan Jawa Timur Lengkap
www.kuwarasanku.blogspot.com
Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Istilah Pamekasan sendiri gres dikenal pada sepertiga kurun ke-16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan sentra pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan sentra pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan ihwal kapan dan bagaimana keberadaannya.

Kemunculan sejarah pemerintahan lokal Pamekasan, diperkirakan gres diketahui semenjak pertengahan kurun ke-15 menurut sumber sejarah ihwal lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sunoyo yang mulai merintis pemerintahan lokal di kawasan Proppo atau Parupuk. Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan, Pamekasan merupakan belahan dari pemerintahan Madura di Sumenep yang telah berdiri semenjak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara. 

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada kurun 15, tidak sanggup disangkal bahwa kabupaten ini lahir pada jaman kegelapan Majapahit ialah pada ketika daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri. Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bisa dipungkiri ihwal kemiskinan data sejarah lantaran di Majapahit sendiri telah sibuk dengan upaya mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya yang sangat besar, apalagi ketika itu sastrawan-sastrawan populer setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra. Sedangkan pada kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra ekspresi dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-islam. 

Tulisan-tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak memakai Bahasa Belanda dan kemudian mulai diterjemahkan atau ditulis kembali oleh sejarawan Madura, mirip Zainal fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, mirip goresan pena pada daun lontar atau Layang Madura, namun demikian goresan pena pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua kurun ke-16, ketika efek Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggosukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja Pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai berbagi Agama Islam di kraton dan rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan Se Jimat, ialah jalan-jalan di Alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan Masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, hingga ketika ini masih belum bisa diketemukan adanya inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk memilih kepastian tanggal dan bulan pada ketika pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman pemerintahan Ronggosukowati mulai dikenal semenjak berkembangnya legenda kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggosukowati yang diceritakan bisa membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Aresbaya melalui kejadian mimpi. Padahal temuan ini sangat penting lantaran dianggap mempunyai nilai sejarah untuk memilih Hari Makara Kota Pamekasan.

Terungkapnya sejarah pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang sesudah berhasilnya invansi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal dibawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis mirip Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh Sarjana barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, mirip Graaf dan TH. Pigeaud ihwal kerajaan Islam pertama di Jawa dan Bendatentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit, termasuk juga beberapa karya penelitian lainnya yang menceritakan sejarah Madura. Masa-masa berikutnya ialah masa-masa yang lebih cerah alasannya telah banyak goresan pena berupa hasil penelitian yang didasarkan pada tulisan-tulisan sejarah Madura termasuk Pamekasan dari segi pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan agama, mulai dari masuknya efek Mataram khususnya dalam pemerintahan Madura Barat (Bangkalan dan Pamekasan), masa campur tangan pemerintahan Belanda yang sempat mengakibatkan pro dan kontra bagi para Penguasa Madura, dan mengakibatkan peperangan Pangeran Trunojoyo dan Ke’ Lesap, dan terakhir pada ketika terjadinya pemerintahan kolonial Belanda di Madura. Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda inilah, nampaknya Pamekasan untuk perkembangan politik nasional tidak menguntungkan, tetapi disisi lain, para penguasa Pamekasan mirip diibaratkan pada pepatah Buppa’, Babu’, Guru, Rato telah banyak dimanfaatkan oleh pemerintahan Kolonial untuk kerentanan politiknya. Hal ini terbukti dengan banyaknya penguasa Madura yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk memadamkan beberapa pemberontakan di Nusantara yang dianggap merugikan pemerintahan kolonial dan penggunaan tenaga kerja Madura untuk kepentingan perkembangan ekonomi Kolonial pada beberapa perusahaan Barat yang ada didaerah Jawa, khususnya Jawa Timur belahan timur (Karisidenan Basuki). Tenaga kerja Madura dimanfaatkan sebagai tenaga buruh pada beberapa perkebunan Belanda. Orang-orang Pamekasan sendiri pada kesannya banyak hijrah dan menetap di kawasan Bondowoso. Walaupun sisi lain, mirip yang ditulis oleh peneliti Belanda masa Hindia Belanda telah mengakibatkan terbukanya Madura dengan dunia luar yang mengakibatkan orang-orang kecil mengetahui system komersialisasi dan industrialisasi yang sangat bermanfaat untuk gerakan-gerakan politik masa berikutnya dan muncul kesadaran kebangsaan, masa Hindia Belanda telah menorehkan sejarah ihwal pedihnya luka akhir penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing. Memberlakukan dan pinjaman terhadap system apanage telah menciptakan orang-orang kecil di pedesaan tidak bisa menikmati hak-haknya secara bebas. Begitu juga ketika politik etis diberlakukan, rakyat Madura telah diperkenalkan akan pentingnya pendidikan dan industri, tetapi disisi lain, laba politik etis yang dinikmati oleh rakyat Madura termasuk Pamekasan harus ditebus dengan hancurnya ekologi Madura secara berkepanjangan, atau sedikitnya hingga masa pemulihan keadaan yang dipelopori oleh Residen R. Soenarto Hadiwidjojo. Bahwa pencabutan hak apanage yang diberikan kepada para aristokrat dan raja-raja Madura telah mengarah kepada kehancuran prestise pemegangnya yang selama beberapa kurun disandangnya.

Perkembangan Pamekasan, walaupun tidak terlalu banyak bukti tertulis berupa manuskrip ataupun inskripsi nampaknya mempunyai tugas yang cukup penting pada pertumbuhan kesadaran kebangsaan yang mulai berkembang di negara kita pada zaman Kebangkitan dan Pergerakan Nasional. Banyak tokoh-tokoh Pamekasan yang kemudian bergabung dengan partai-partai politik nasional yang mulai bangun mirip Sarikat Islam dan Nahdatul Ulama diakui sebagai tokoh nasional. Kita mengenal Tabrani, sebagai pencetus Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mulai dihembuskan pada ketika terjadinya Kongres Pemuda pertama pada tahun 1926, namun terjadi perselisihan faham dengan tokoh nasional lainnya di kongres tersebut. Pada Kongres Pemuda kedua tahun 1928 antara Tabrani dengan tokoh lainnya mirip Mohammad Yamin sudah tidak lagi bersilang pendapat.

Pergaulan tokoh-tokoh Pamekasan pada tingkat nasional baik secara perorangan ataupun melalui partai-partai politik yang bermunculan pada ketika itu, ditambah dengan kejadian-kejadian historis sekitar persiapan kemerdekaan yang kemudian disusul dengan tragedi-tragedi pada zaman pendudukan Jepang ternyata bisa mendorong semakin kuatnya kesadaran para tokoh Pamekasan akan pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian bahwa sebagian besar rakyat Madura termasuk Pamekasan tidak bisa mendapatkan terbentuknya negara Madura sebagai salah satu upaya Pemerintahan Kolonial Belanda untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Melihat dari sedikitnya, bahkan hampir tidak ada sama sekali prasasti maupun inskripsi sebagai sumber penulisan ini, maka data-data ataupun fakta yang dipakai untuk menganalisis kejadian yang terjadi tetap diupayakan memakai data-data sekunder berupa buku-buku sejarah ataupun Layang Madura yang diperkirakan mempunyai kaitan kejadian dengan kejadian sejarah yang ada. Selain itu diupayakan memakai data primer dari beberapa informan kunci ialah para sesepuh Pamekasan.

Source

Wednesday, November 21, 2018

Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap

Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap
www.kuwarasanku.blogspot.com
Sejarah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur Lengkap

Perkembangan umum wacana tata pemerintahan khususnya di pulau Jawa sepertinya pernah terjadi di Pasuruan pada awal penguasaan oleh kerajaan Demak tahun semenjak 1535. penguasa kerjaan sentra Demak dikatakan juga menempatkan orang-orangnya di daerah yang gres dikuasainya. Namun demikian nama-nama dan gelar penguasa di Pasuruan pasca penaklukan Demak hingga Bupati Ranggajaya dibawah kekuasaan Mataram masih kabur. Setelah maut Sultan Trenggana 1546 di Demak rupanya Pasuruan semakin menjadi daerah yang setengah merdeka. Informasi wacana sejarah kerajaan Pasuruan pada kala XVI ini memang sedikit. 

Dalam kronik wacana kejadian Jawa memberitakan campur tangan pemuka agama di Giri dari tahun 1548 hingga 1552. dimungkinkan untuk memperkuat atau memulihkan kekuasaan Islam di Pasuruan. Namun demikian tetap menjadi daerah perebutan hegemoni antar penguasa. Terutama dari kerajaan Mataram yang berkembang lalu sesudah Demak dan Pajang. Pasuruan dikala menjadi pemerintahan gres yang telah memeluk Islam semenjak awal telah berlaku ekspansif sebagaimana kerajaan lain. bahkan kekuasaan Pasuruan meluas hingga Kediri bahkan Blambangan. Achilles Meerman yang merujuk catatan Cornelis de Houtman tahun 1596 menyebut adanya peperangan antara Pasuruan yang telah memeluk Islam "Mohamedan Pasuruan" dan Blambangan yang beragama Hindu. Bulan Januari 1597 waktu ke Bali diterangkan Bandar Panarukan, banda penting kerajaan Blambangan telah dikepung lebih 3 bulan. 

Dari catatan pedagang Belanda pada permulaan tahun 1597 diperoleh informasi pasukan dari Bupati Pasuruan besar peranannya dalam pertempauran melawan Panembahan Senapati dari Mataram sehingga Pasuruan belum berhasil dikuasai. Pedagang Panembahan Senapati dari Mataram sehingga Pasuruan belum berhasil dikuasai. Pedagang Belanda Frank van de Does yang singgah di "Palemboam" atau "Balemboam" (Blambangan) antara tanggal 18-27 Januari 1597 menyebut: Blambangan telah dikepung pasukan Korinck van Pasuruan (raja Pasuruan) yang berkekuatan 3000 orang prajurit. Meski bersifat ekspansif Pasuruan juga tidak lepas dari penyerangan dari pihak luar. Kerajaan Mataram mulai dari penguasa pertama Panembahan Senapati yang juga mulai menyerang Pasuruan tahun 1591 dan 1600 dilanjutkan penggantinya.

 
Masa Sultan Agung (1613-1646) memerintah di Mataram merupakan puncak politik perluasan yang telah dirintis penguasa sebelumnya. Pulau Jawa menjadi lebih menuju pada suatu kesatuan yang lebih infinit meski dalam ikatan yang longgar. Pasuruan juga dikuasai kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung ini. Pada masa pemerintahan pengganti Sultan Agung, Amangkurat I(1646-1677) konsepsi Negara semakin terwujud. Amangkurat I dalam menaklukkan suatu wilayah hingga apda pengikut-pengikutnya. Pemerintah tingkat propinsi diserahkan pada ministeriales (setingkat bupati) yang sering diganti untuk menghindarkan impian untuk merdeka. Pajak dalam bentuk uang sudah mulai dijadikan peraturan umum. 

Karena sistem pajak kurang berhasil lalu diubah dengan cara menggadaikan daerah pada ministeriales dalam jumlah tertentu setahun Perdagangan dengan luar negeri dimonopoli oleh pemerintah sentra (Schrieke 1974). Pada masa yang lebih lalu sekitar tahun 1675 kota pantai antara Demung dan Surabaya antara lain Pasuruan, Gembong dan Garongan sanggup direbut. Karaeng Galesung yang membantu Trunajaya melawan Kompeni. Daerah yang disrang umumnya merupakan daerah berpenduduk padat dan Bandar perdagangan beras yang penting. Dari surat Speelman 14 Juni 1677 yang dikutip de Graaf juga menyebutkan, masa pemerintahan Amangkurat I bertahta di Matrama Kyai Dermayuda dijadikan Wedana-Bupati Pasuruan membawahai bupati disekeitarnya. Waktu itu juga jabatan Syahbandar Pasuruan yang berkedudukan di Garuda. 

Pertengahan tahun 1677 jabatan Syahbandar ini dipegang Kyai Lurah Nayapatra. (Soetjipto, 1983). Sutjahyo (2001) menelaah data menuskrip yang diperolehnya dari Perpustakaan Nasional yang ditulis Puh Dona Asmara yang berbunyi: Sira sun karya Dipati, jumenengo Pasuruhan, ngadegeno karatone, sakehe mancanegara, kabeh sira kariga, sawetane Gunung Lawu, kabeh sira prentahana, (engkau saya jadikan dipati (raja) bertahta di Pasuruhan, semua negeri di dekatnya engkau persiapkan, sebelah timur Gunung Lawu, semua engkau kuasai). Tulisan ini berasal dari perintah Pangeran Nerangkusumo (Paman Raden Gusik Kusumo/istri Untung Surapati) yang diucapkan sekitar pukul 14.00, tanggal 8 Februari 1686 yang disaksikan Adipati Surabaya, Adipati Madura, Adipati Kediri, dan Raja kecil Pasuruan. Penyerangan lain dilakukan Bupati Madura yang lain yaitu Cakraningrat IV yang tahun 1718 diangkat bupati oleh Susuhunan Mataram. Penyerangan oleh Cakraningrat IV mencakup Surabaya, Sumenep, Probolinggo, dan Pasuruan dengan kekuatan 2000 orang prajurit. Penyerangan lain yakni oleh Kompeni Belanda waktu Pasuruan dibawah kekuasaan Untung Surapati

Setelah Pasuruan sanggup dikuasai Kompeni dikembalikan menjadi wilayah jajahan Mataram dengan akibat menandatangani kontrak. Di daerah kekuasaan Mataram Kompeni diizinkan mendidirkan benteng dengan sejumlah pasukan. Di Pasuruan Kompeni mendirikan beberapa benteng yang dikepalai seorang Kapten. Seorang Bupati juga sering menerima kiprah pelengkap membantu Bupati di daerah di dekatnya yang kurang baik pemerintahannya. Sebagai pola yakni Surat Keputusan Sunan Pakubuwana II tanggal 30 Desember 1732 yang tetapkan Ngabehi Jayengrana (bupati Pasuruan) menjadi Wedana-Bupati yang membawahi Bupati Jayalelana dari daerah Dringu dan Bupati Puspadireja dari daerah Bangil. Waktu Gubernur Jendral Baron van Imhoff (dalam Babad Kitha Pasuruandisebut "Baron pan Hindup") tahun 1764 berkunjung di Pasuruan. 

Bupati Pasuruan Tumenggung Nitinegoro sedang sakit sesudah memerintah 15 tahun. Sebelum meninggal dia menunjuk anaknya Raden Ngabehi Sumadrana yang disetujui pemerintah sentra Kompeni dan dilantik tahun 1751. Anak bupati biasanya telah membantu bapaknya memerintah sebagaionderregent (wakil bupati). Seperti juga Bupati Pasuruan Adipati Nitidiningrat semenjak tahun 1781 dibantu anaknya yang berjulukan Natakusuma. Baru tahun 1800 Natakusuma diangkat menjadi Bupati penuh. Seiring dengan perkembangan tata pemerintahan terjadi perubahan fisik di kota Pasuruan yang menjadi catatan tersendiri. Tahun 1822 diceritakan "Pasuruan yakni daerah yang luas dan makmur. Di situ terdapat perdagangan yang ramai dengan pulau Madura. Di jalan-jalan banyak orang terutama di jalan Pos Besar yang menuju Surabaya". Kesaksian lain dari Raden Mas Hario Poerwo Lelono pada pertengahan kala 19 menyebut ramainya kota kecil Bangil alasannya yakni adanya pasar besar. Lokasinya 1 jam perjalanan sebelum mencapai Pasuruan. 

Kota Pasuruan tahun 1830 juga menempati posisi yang penting alasannya yakni merupakan sentra pemerintahan Karesidenan sekaligus sentra Kabupaten. Karesidenan Pasuruan waktu itu mencakup Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Bangil, dan Kabupaten Malang. Kabupaten Pasuruan membawahi 11 distrik. Distrik Kraton, Rajasa, Winongan, Keboncandi, Jati, Grati, Melaten, Gempeng, Ngempit dan Tengger. Ada juga yang menyebut 12 distrik dengan pelengkap Wangkal dan Porong. Residen Pasuruan S van Deventer pernah mendeskripsikan wacana kepindahan rumah bupati Pasuruan. Perpindahan itu terjadi tanggal19 Maret 1868 yang diiringi pertunjukan gambuh. 

Dari beberapa bupati yang pernah memerintah di Pasuruan terdapat nama Arya Suganda. Bupati yang populer pada paruh kedua kala XIX. Ia berasal dari keluarga darah biru Mangkunegara, Surakarta dan seorang yang terpelajar. Ia juga seorang pengaran Niti Mani, karya fiosofis Jawa yang menghubungkan erotisme dengan mistikisme yang banyak dibaca para budayawan pada masanya (Graaf, 1998). Bupati Arya Suganda ini sanggup disejajarkan dengan nama disebut sebagai RM. AA. Soegondo (1887-1901) ibarat termuat dalam daftar nama Bupati Pasuruan (Anonim, 2001). Perkembangan lebih lanjut dari tata pemerintahan khususnya di Pasuruan terjadinya pembentukan Kabupaten Pasuruan 1 Januari 1901 menurut Staatblad 1900 No. 334 yang berawal dari Residen Pasoeroean dengan batas wilayah mencakup utara berbatasan dengan Madura, selatan berbatasan dengan Laut Hindia, barat berbatasan dengan Residen Kediri dan Surabaya, timur berbatasan dengan Besuki. Malang dan Probolinggo masuk wilayah Pasuruan. Pada waktu yang lebih lalu terjadi pembentukan Kotamadia Pasuruan tanggal 1 Juli 1918 menurut Staatblad 1918 No. 320 dengan namaGemeente Pasoeroean (Sutjahyo, 2001).



Kawasan Pasuruan merupakan daerah pertanian dan perdagangan semenjak periode klasik Indonesia. Pelabuhan Pasuruan telah melayani perdagangan untuk kerajaan-kerajaan di Jawa Timur.

Pada masa penguasaan oleh VOC (diserahkan dari wilayah Kesultanan Mataram sebagai imbalan pertolongan VOC dalam perang Suksesi Jawa, Pasuruan menjadi salah satu penghasil utama komoditas perdagangan hasil pertanian. Hal ini diteruskan pada periode penguasaan oleh Hindia-Belanda.

Source : 2


Baca juga : 

Tuesday, November 20, 2018

Sejarah Kota Pasuruan Jawa Timur Lengkap


Kota Pasuruan terletak ditepi pantai dan merupakan kota Bandar kuno. Pada jaman Erlangga kota ini disebut "PARAVAN" sedang pada jaman sejarah tiongkok disebut "GEMBONG". 
Sejarah Kota Pasuruan Jawa Timur Lengkap Sejarah Kota Pasuruan Jawa Timur Lengkap
www.kuwarasanku.blogspot.com

Konon  ada  orang  dari    negeri   Blambangan yang bernama  kiai  Gedee Menak Soepethak   menjadi  Raja  di  Pasuruan, yang  kemudian   digantikan   oleh  orang Surabaya   bernama  Kiai   Gedee   Kapulungan  yang  memenangkan  peperangan. Demikian insiden berikutnya Kiai Gedee Kapulungan digantikan oleh Kiai Gedee Dermoyudo dari Kartosuro, dimana dalam menjalankan Pemerintahannya wafat dan digantikan oleh anaknya yang juga berjulukan Dermoyudo.  Kiai  Gedee Dermoyudo lari  ke  Surabaya   dan  lolos  dalam   perang  melawan  Mas Pekik,   serta   dalam pelariannya dia wafat dan dimakamkan di  pemakaman   Bibis  Wetan  Kantor Pos Surabaya. Dengan demikian Mas Pekik menjadi Raja di Pasuruan, kemudian wafat dan digantikan oleh Onggojoyo. 

Tahun 1671 – 1686
Pasuruan dibawah pemerintahan Onggo Djoyo, yang berasal dari keturunan kyai Brondong menerima perlawanan dari untung Suropati dan kemudian kalah kemudian melarikan diri ke kota Surabaya.

Tahun 1686 –1706
Pasuruan dibawah pemerintahan Djoko Untung Suropati dengan gelar Adipati Wironegoro.

Tahun 1706
Djoko Untung Suropati perang dengan VOC di Bangil dan mengalami luka - luka hingga meninggal, hingga kini makamnya tidak diketahui, yang ada petilasannya berupa GOA tempat persembunyiannya di pedukuhan mancilan desa Pohjentrek.
Tahun 1707
Putra Djoko Untung Suropati yang berjulukan Rachmad, menggantikan kedudukan ayahnya dan meneruskan usaha dia hingga ke Timur dan gugur dalam pertempuran.

Tahun 1743
Darmayudo IV berjulukan Wongso Negoro Nitinegoro sebagai pengganti Rachmad. Sejak ketika itu VOC sanggup menguasai pantai utara jawa termasuk Pasuruan dan menganggap kota Pasuruan sebagai kota Bandar, sehingga perlulah dijadikan Ibukota Karesidenan dengan wilayah : Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Bangil

Tahun 1916
Karena Pasuruan dianggap kota yang penting oleh ahli-ahli Belanda, maka tanggal 1 Juli 1916 (stbl 1918 No. 320) dibuat STADS GEMSENTE VAN PASOEROEAN

Tahun 1926
Ditetapkan pelabuhan Pasuruan dengan peta kawasan pelabuhan dan peta kawasan kepentingan pelabuhan (stbl. 1926 No. 512, perubahan stbl 1920 No. 426)

Tahun 1928
Ibukota Karesidenan Pasuruan dipindahkan ke Malang.

Tahun 1935
Penggabungan Kotamadya Malang, Kotamadya Pasuruan, Kotamadya Probolinggo. Karena kota Pasuruan yakni ibukota Karesidenan, maka Belanda mengadakan acara dengan mendirikan pabrik-pabrik gula disekitar Pasurun (Kedawung, pengkol, pleret, dan pabrik - pabrik yang ada di Probolinggo, Sidoarjo dan Malang. Untuk Keperluan tersebut dianggap perlu adanya Balai penelitian Gula(Proofstation Van Ooc Java) yang merupakan tubuh penelitian tersebar dibelahan bumi bab selatan, kini balai-balai tersebut masih berfungsi dan diberi nama BP3G (Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula)

Agar Pabrik-pabrik itu sanggup lestari, maka didirikan sebuah bingkil besar ntuk merevisi pabrik gula setelah giling dengan nama De Bromo, pada jaman merdeka diberi nama PN. Boma yang memiliki tiga unit antara lain:
1. Unit Bhinneka.
2. Unit Turangga.
3. Unit Wahana.
Masing - masing berfungsi sebagai unit aneka ragam pekerjaan, unit yang menciptakan mesin dan unit yang menciptakan gerbang kereta api.

Tahun 1950
Kota Pasuruan dinyatakan kawasan otonom yang terdiri atas 19 Desa dan Satu Kecamatan

Tahun 1982
Berdasarkan PP NO. 46 / 1982 tanggal 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan dimekarkan menjadi 3 Kecamatan dengan 19 Kelurahan dan 15 Desa suplemen dari kabupaten Pasuruan

source


Monday, November 19, 2018

Sejarah Negara Indonesia Lengkap

Sejarah Negara Indonesia Lengkap
Sejarah Indonesia mencakup suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai semenjak zaman prasejarah menurut inovasi "Manusia Jawa" yang berusia 1,7 juta tahun yang lalu. Periode sejarah Indonesia sanggup dibagi menjadi lima era: Era Prakolonial, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha serta Islam di Jawa dan Sumatera yang terutama mengandalkan perdagangan; Era Kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda) yang menginginkan rempah-rempah menimbulkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 periode antara awal periode ke-17 hingga pertengahan periode ke-20; Era Kemerdekaan Awal, pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) hingga jatuhnya Soekarno (1966); Era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (1966–1998); serta Orde Reformasi yang berlangsung hingga sekarang.

Sejarah Indonesia mencakup suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai semenjak zama Sejarah Negara Indonesia Lengkap
Gambar nyolong di www.kuwarasanku.blogspot.com

Pra Sejarah
Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya disebut Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat artikel Geologi Indonesia). Kepulauan Indonesia menyerupai yang ada ketika ini terbentuk pada ketika melelehnya es sesudah berakhirnya Zaman Es, sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni awal yakni fosil-fosil Homo erectus insan Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa "manusia Flores" (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es terakhir.

Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara semenjak 100.000 tahun yang kemudian melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 60 000 hingga 70 000 tahun yang kemudian telah mencapai Pulau Papua dan Australia.Mereka, yang berfenotipe kulit hitam dan rambut keriting rapat, menjadi nenek moyang penduduk orisinil Melanesia (termasuk Papua) kini dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum tiba secara bergelombang semenjak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan kepingan dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat semenjak periode ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktik-praktik megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada periode pertama SM sudah terbentuk pemukiman-pemukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk dampak kepercayaan dari India akhir relasi perniagaan.

Sejarah Awal

Para cendekiawan India telah menulis ihwal Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau Jawa dan Sumatra atau Swarna dwipa sekitar 200 SM. Bukti fisik awal yang menyebutkan mengenai adanya dua kerajaan bercorak Hinduisme pada periode ke-5, yaitu: Kerajaan Tarumanagara yang menguasai Jawa Barat dan Kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan. Pada tahun 425 agama Buddha telah mencapai wilayah tersebut.

Di ketika Eropa memasuki masa Renaisans, Nusantara telah memiliki warisan peradaban berusia ribuan tahun dengan dua kerajaan besar yaitu Sriwijaya di Sumatra dan Majapahit di Jawa, ditambah dengan puluhan kerajaan kecil yang sering kali menjadi vazal tetangganya yang lebih berpengaruh atau saling terhubung dalam semacam ikatan perdagangan (seperti di Maluku).

Selengkapnya : https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia