Sunday, November 25, 2018

Sejarah Desa Gandusari Kuwarasan

Menyusuri sejarah terbentuknya suatu Pemerintahan desa gotong royong cukup sulit, selain tidak adanya bukti-bukti tertulis juga minimnya sumber-sumber yang sanggup dijadikan petunjuk untuk menguak sejarah terbentuknya sebuah pemerintahan desa.Tulisan ini berusaha untuk menguak sekelumit perihal sejarah asal mula terbentuknya Desa Gandusari yang diambil dari beberapa sumber yang gotong royong secara ilmiah belum sanggup disebut sebagai sumber sejarah namun mungkin lebih “layak” disebut sebagai legenda.Tidak ada bukti sejarah yang sanggup dijadikan dasar baik bukti tertulis maupun bentuk yang lain, satu-satunya sumber ialah dongeng secara turun temurun dari generasi ke generasi, namun mudah-mudahan ini sanggup sedikit menjadi citra untuk melihat ke belakang perihal desa Gandusari.


 
Berdasar dari dongeng yang tersebar secara turun temurun bahwa dahulunya wilayah yang kini menjadi Desa Gandusari ialah sebuah Hutan Belantara yang tidak ada penghuninya. Tersebutlah seorang Bangsawan dari Kerajaan Mataram berjulukan Dipa Wedana tiba ke wilayah ini dan melaksanakan Babad Alas atau membuka hutan menjadi sebuah kawasan pemukiman. Ia tiba bersama saudaranya yang berjulukan Singa Wedana yang melaksanakan Babad Alas di kawasan yang kini menjadi wilayah Desa Bendungan dan Serut. Sementara Dipa Wedana melaksanakan babad di wilayah yang kini menjadi Desa Banjareja dan Gandusari. Setelah meninggal Dipa Wedana dimakamkan di Desa Banjareja tepatnya di Pemakaman Dukuh Pacor sementara Singa Wedana dimakamkan di Desa Bendungan. Tidak ada satupun bukti yang mengarah kepada kapan waktu terjadinya Babad Alas ini sehingga tidak sanggup diketahui semenjak tahun berapa  Pemerintahan Desa Gandusari terbentuk.

Di sisi lain pada asumsi kurun X datanglah ke Desa Gandusari seorang Ulama asal Tegalsari berjulukan Syaikh Idris Ismail. Beliau ialah murid dari Syaikh Ahmad Maulana Maulin. Syaikh Idris Ismail ini diperintahkan oleh gurunya untuk melaksanakan khalwat (tapa) di kawasan Gunung Kidang (sekarang wilayah sekitar Desa Sekayu, Kecamatan Buayan) dengan diberi pesan untuk mengikuti arah perginya seekor binatang apapun yang nanti hinggap ketika melaksanakan khalwat. Setelah beberapa waktu berkhalwat akibatnya hinggaplah seekor belalang di pundaknya. Sesuai pesan dari gurunya diapun mengikuti arah terbangnya belalang tersebut yang ternyata berhenti di kawasan yang kini menjadi Desa Pondok Gebangsari. Diceritakan bahwa wilayah ini ialah wilayah dengan ketersediaan air yang sangat kurang sehingga Syaikh Idris Ismail memutuskan untuk pindah ke wilayah Gandusari.

Atas seruan warga dan juga sesuai dengan misinya Syaikh Idris Ismailpun berdakwah membuatkan Agama Islam di Gandusari. Untuk memperlancar usahanya ini dia meminta kepada warga untuk dibuatkan masjid dan juga tempat tinggal. Wargapun menyetujui dan dibangunlah sebuah masjid dan rumah untuk tempat tinggal Syaikh Idris Ismail. Sampai ketika ini masjid tersebut masih megah berdiri dan menjadi masjid pujian masyarakat Desa Gandusari dengan nama Masjid “Baitul Mu’minin”.

Dalam kurun waktu kurun yang sama dengan masuknya Syaikh Idris Ismail ke Gandusari inilah diketahui adanya seorang Kepala Pemerintahan atau Kepala Desa di Gandusari yang diyakini sebagai Kepala Desa Gandusari yang pertama berjulukan Jayus. Tidak diketahui semenjak kapan dan berapa usang dia memerintah di Gandusari. Kepala Desa ke dua ialah Wiryodiharjo seorang warga asal desa Ori. Sepeninggal dia pemerintahan desa dipegang oleh puteranya berjulukan Sardiyo yang merupakan Kepala Desa Ke- 3.

Kepala Desa ke-4 berjulukan Bahri yang berasal dari Serut, namun ternyata kepemimpinannya tidak didukung oleh sebagian warga dan dia hanya memerintah selama 3 hari. Pemerintahan lalu dipegang  oleh Dulah Khaeri yang berasal dari desa Kuwarasan. Beliau ialah Kepala Desa ke-5 yang juga tidak cukup usang memegang pemerintahan yaitu selama kurang lebih 2 tahun. Tanpa diketahui secara niscaya penyebabnya dia dicopot dari jabatannya oleh Pemerintah Kecamatan Kuwarasan waktu itu.

Kepala Desa ke-6 berjulukan Gandu Sasmito warga asal Desa Kalipurwo yang memerintah hingga kira-kira tahun 1947. Karena tindakannya yang suka memeras warganya sendiri dan sikapnya yang memihak kepada penjajah Belanda dia ditangkap dan dibunuh oleh Tentara Pejuang Kemerdekaan waktu itu.Selama kurang lebih 5 tahun Desa Gandusari vakum tidak mempunyai Kepala Desa hingga akibatnya pada tahun 1952  terpilihlah seorang Kepala Desa bernama  Joyo Suwito yang berasal dari Desa Kedung Ampel Kecamatan Gombong, dia memerintah hingga tahun 1973 dan merupakan Kepala Desa ke-7.

Kepala Desa ke-8 ialah Harjo Suwito warga orisinil dari Ori dan memerintah dari tahun 1974 – 1986. Selama kurang lebih 3 tahun Pemerintah Desa dipegang oleh Sekdes (Carik) waktu itu hingga pada tahun 1989 diadakan Pemilihan Kepala Desa dan terpilihlah Amir Khaerudin yang memegang jabatan selama 2 periode yaitu hingga tahun 2006 sehabis pada pemilihan kepala desa berikutnya dia terpilih kembali dan merupakan calon tunggal. Beliau ialah Kepala Desa ke-9 dan merupakan Kepala Desa pertama yang orisinil warga Desa Gandusari alasannya ialah bahkan Kepala desa berikutnya (ke 10) Bambang Pujiman yang memerintah hingga tahun 2013 ialah bukan orisinil warga Desa Gandusari yang tidak lain berasal dari Desa Pejagoan Kebumen. Kepala Desa Selanjutnya (ke 11) yaitu Bapak Waliman menjabat mulai Juni 2013 - Sekarang (Januari 2015) masih menjabat sebagai Kepala Desa.

Demikian sekelumit perihal sejarah Desa Gandusari yang dengan melihat sumber dan rujukan yang ada belumlah sanggup dipertanggungjawabkan secara ilmiah, namun mudah-mudahan hal ini tidak mengurangi rasa patriotik dari para pembaca khususnya warga Desa Gandusari baik yang berdomisili di Gandusari maupun yang ketika ini berada di perantauan atau bahkan sudah bermutasi kependudukan namun masih mempunyai rasa mempunyai terhadap Desa Gandusari.

Sejarah Kabupaten, Sejarah Kerajaan, Ilmu Pengetahuan, Misteri BACA DISINI

No comments:

Post a Comment