Showing posts sorted by relevance for query nama-nama-kerajaan-di-indonesia-lengkap. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query nama-nama-kerajaan-di-indonesia-lengkap. Sort by date Show all posts

Sunday, November 11, 2018

Sejarah Kerajaan Sriwijaya Lengkap

Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Jawa: ꦯꦿꦶꦮꦶꦗꦪ; Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄rī wichạy" ialah salah satu kemaharajaan maritim yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi imbas di Nusantara dengan daerah kekuasaan menurut peta membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat dan kemungkinan Jawa Tengah. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan", maka nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari kala ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti yang paling renta mengenai Sriwijaya juga berada pada kala ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682. Kemunduran imbas Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan di antaranya tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya.


Setelah jatuh, kerajaan ini terlupakan dan keberadaannya gres diketahui kembali lewat publikasi tahun 1918 dari sejarawan Perancis George Cœdès dari École française d'Extrême-Orient.

 ialah salah satu kemaharajaan maritim yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak me Sejarah Kerajaan Sriwijaya Lengkap

Catatan Sejarah
Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibuat kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya hingga tahun 1920-an, dikala sarjana Perancis George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia.[8] Coedès menyatakan bahwa tumpuan Tiongkok terhadap "San-fo-ts'i", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.

Selain berita-berita diatas tersebut, telah ditemukan oleh Balai Arkeologi Palembang sebuah bahtera kuno yang diperkirakan ada semenjak masa awal atau proto Kerajaan Sriwijaya di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Sayang, kepala bahtera kuno itu sudah hilang dan sebagian papan bahtera itu dipakai justru buat jembatan. Tercatat ada 17 keping bahtera yang terdiri dari bab lunas, 14 papan bahtera yang terdiri dari bab tubuh dan bab buritan untuk menempatkan kemudi. Perahu ini dibuat dengan teknik pasak kayu dan papan ikat yang memakai tali ijuk. Cara ini sendiri dikenal dengan sebutan teknik tradisi Asia Tenggara. Selain bangkai perahu, ditemukan juga sejumlah artefak-artefak lain yang bekerjasama dengan temuan perahu, menyerupai tembikar, keramik, dan alat kayu.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada kala ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi tumpuan oleh kaum nasionalis untuk menawarkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelum kolonialisme Belanda.

Sriwijaya disebut dengan banyak sekali macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts'i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer menyebutnya Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan. Sementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan perihal adanya 3 pulau Sabadeibei yang kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya.

Sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin melaksanakan observasi dan beropini bahwa sentra Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatera Selatan sekarang), tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang kini dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Pendapat ini didasarkan dari foto udara tahun 1984 yang menawarkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan yang disusun rapi yang dipastikan situs ini ialah buatan manusia. Bangunan air ini terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur kandang dan empat persegi panjang, serta jaringan jalan masuk dengan luas areal mencakup 20 hektare. Di daerah ini ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menawarkan bahwa daerah ini pernah menjadi sentra permukiman dan sentra aktifitas manusia. Namun sebelumnya Soekmono beropini bahwa sentra Sriwijaya terletak pada daerah sehiliran Batang Hari, antara Muara Sabak hingga ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang), dengan catatan Malayu tidak di daerah tersebut, bila Malayu pada daerah tersebut, ia cendrung kepada pendapat Moens, yang sebelumnya juga telah beropini bahwa letak dari sentra kerajaan Sriwijaya berada pada daerah Candi Muara Takus (provinsi Riau sekarang), dengan perkiraan petunjuk arah perjalanan dalam catatan I Tsing, serta hal ini sanggup juga dikaitkan dengan isu perihal pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) tahun 1003 kepada kaisar Cina yang dinamakan cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bab dari candi yang terletak di Muara Takus). Namun yang niscaya pada masa penaklukan oleh Rajendra Chola I, menurut prasasti Tanjore, Sriwijaya telah beribukota di Kadaram (Kedah sekarang).


Warisan Sejarah
Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan keberadaanya sempat terlupakan dari ingatan masyarakat pendukungnya, inovasi kembali kemaharajaan maritim ini oleh Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya, berupa kemaharajaan yang terdiri atas komplotan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh, dan berjaya pada masa lalu.

Pada kala ke-14 meskipun pengaruhnya telah memudar, wibawa dan gengsi Sriwijaya masih dipakai sebagai sumber legitimasi politik. Sang Nila Utama yang mengaku sebagai keturunan darah biru Sriwijaya dari Bintan, bersama para pengikut dan tentaranya yang terdiri dari Orang Laut, telah mendirikan Kerajaan Singapura di Tumasik. Menurut Sejarah Melayu dan catatan sejarah China yang ditulis Wang Ta Yuan, disebutkan bahwa Kerajaan Siam sempat menyerang kerajaan Singapura pada kurun tahun 1330 hingga 1340. Serangan Siam ini berhasil dipukul mundur. Akan tetapi serangan Majapahit pada penghujung kala ke-14 telah meruntuhkan kerajaan ini. Akibatnya rajanya yang terakhir, Parameswara, terpaksa melarikan diri ke Semenanjung Melayu. Parameswara kemudiannya mendirikan Kesultanan Melaka pada tahun 1402. Kesultanan Melayu Melaka karenanya menggantikan kedudukan Sriwijaya sebagai kuasa politik Melayu utama di kawasan.

Warisan terpenting Sriwijaya mungkin ialah bahasanya. Selama berabad-abad, kekuatan ekononomi dan keperkasaan militernya telah berperan besar atas tersebarluasnya penggunaan Bahasa Melayu Kuno di Nusantara, setidaknya di daerah pesisir. Bahasa ini menjadi bahasa kerja atau bahasa yang berfungsi sebagai penghubung (lingua franca) yang dipakai di banyak sekali bandar dan pasar di daerah Nusantara. Tersebar luasnya Bahasa Melayu Kuno ini mungkin yang telah membuka dan memuluskan jalan bagi Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional Malaysia, dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu Indonesia modern. Adapun Bahasa Melayu Kuno masih tetap dipakai hingga pada kala ke-14 M.

Di samping Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber pujian dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia. Kegemilangan Sriwijaya telah menjadi sumber pujian nasional dan identitas daerah, khususnya bagi penduduk kota Palembang, Sumatera Selatan. Keluhuran Sriwijaya telah menjadi ide seni budaya, menyerupai lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat selatan Thailand yang membuat kembali tarian Sevichai yang menurut pada keanggunan seni budaya Sriwijaya.

Di Indonesia, nama Sriwijaya telah dipakai dan diabadikan sebagai nama jalan di banyak sekali kota, dan nama ini juga dipakai oleh Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di Palembang. Demikian pula Kodam II Sriwijaya (unit komando militer), PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang), Sriwijaya TV, Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang). Semuanya dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan, dan merayakan kemaharajaan Sriwijaya yang gemilang. Pada tanggal 11 November 2011 digelar upacara pembukaan SEA Games 2011 di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. Upacara pembukaan ini menampilkan tarian kolosal yang bertajuk "Srivijaya the Golden Peninsula" menampilkan tarian tradisional Palembang dan juga replika ukuran sebetulnya bahtera Sriwijaya untuk menggambarkan kejayaan kemaharajaan maritim ini.

Sumber : https://id.wikipedia.org/


Baca juga : 

Friday, October 26, 2018

Sejarah Kerajaan Tanjungpura Lengkap

Kerajaan Tanjungpura atau Tanjompura merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat yang wujud semenjak kala ke-8. Kerajaan ini mengalalmi beberapa kali perpindahan ibukota Kerajaan, pertama kali terletak di Negeri Baru (nama desa ketika ini) Kabupaten Ketapang, lalu pindah ke Sukadana (saat ini ibu kota Kabupaten Kayong Utara) pada kala ke-14 m dan pada kala ke 15 M berubah nama menjadi Kerajaan Matan, semenjak Rajanya Sorgi (Giri Kesuma) memeluk Islam. KerajaanTanjungpura menjadi bukti bahwa peradaban negeri Tanah Kayong sudah cukup maju pada masa lampau. Tanjungpura pernah menjadi provinsi Kerajaan Singhasari sebagai Bakulapura. Nama bakula berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tumbuhan tanjung (Mimusops elengi), sehingga sehabis dimelayukan menjadi Tanjungpura.

Wilayah kekuasaan Tanjungpura membentang dari Tanjung Dato hingga Tanjung Sambar. Pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3 wilayah kerajaan besar: Borneo (Brunei), Sukadana (Tanjungpura) dan Banjarmasin. Tanjung Dato ialah perbatasan wilayah mandala Borneo (Brunei) dengan wilayah mandala Sukadana (Tanjungpura), sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah mandala Sukadana/Tanjungpura dengan wilayah mandala Banjarmasin (daerah Kotawaringin).Daerah ajaran Sungai Jelai, di Kotawaringin di bawah kekuasaan Banjarmasin, sedangkan sungai Kendawangan di bawah kekuasaan Sukadana. Perbatasan di pedalaman, perhuluan kawasan ajaran sungai Pinoh (Lawai) termasuk dalam wilayah Kerajaan Kotawaringin (bawahan Banjarmasin)


Pada masa mahapatih Gajah Mada dan Hayam Wuruk menyerupai disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama, negeri Tanjungpura menjadi ibukota bagi daerah-daerah yang diklaim sebagai taklukan Majapahit di nusa Tanjungnagara (Kalimantan). Majapahit mengklaim bekas daerah-daerah taklukan Sriwijaya di pulau Kalimantan dan sekitarnya. Nama Tanjungpura seringkali digunakan untuk sebutan pulau Kalimantan pada masa itu. Pendapat lain beranggapan Tanjungpura berada di Kalimantan Selatan sebagai pangkalan yang lebih strategis untuk menguasai wilayah yang lebih luas lagi. 

Sejarah Kerajaan Tanjungpura Lengkap

Menurut Pararaton, Bhre Tanjungpura ialah anak Bhre Tumapel II (abangnya Suhita). Bhre Tanjungpura berjulukan Manggalawardhani Dyah Suragharini yang berkuasa 1429-1464, ia menantu Bhre Tumapel III Kertawijaya. Kemudian dalam Prasasti Trailokyapuri disebutkan Manggalawardhani Dyah Suragharini menjabat Bhre Daha VI (1464-1474). Di dalam mandala Majapahit, Ratu Majapahit merupakan prasada, sedangkan Mahapatih Gajahmada sebagai pranala, sedangkan Madura dan Tanjungpura sebagai ansa-nya.

Ibukota Kerajaan Tanjungpura beberapa kali mengalami perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa penyebab Kerajaan Tanjungpura berpindah ibukota ialah terutama sebab serangan dari kawanan perompak (bajak laut) atau dikenal sebagai Lanon. Konon, pada masa itu sepak-terjang gerombolan Lanon sangat kejam dan meresahkan penduduk. Kerajaan Tanjungpura sering beralih sentra pemerintahan ialah demi mempertahankan diri sebab sering menerima serangan dari kerajaan lain. Kerap berpindah-pindahnya ibukota Kerajaan Tanjungpura dibuktikan dengan adanya situs sejarah yang ditemukan di bekas ibukota-ibukota kerajaan tersebut. Negeri Baru di Ketapang merupakan salah satu tempat yang pernah dijadikan sentra pemerintahan Kerajaan Tanjungpura. Dari Negeri Baru, ibukota Kerajaan Tanjungpura berpindah ke Sukadana. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin (1665–1724), sentra istana bergeser lagi, kali ini ditempatkan di kawasan Sungai Matan (Ansar Rahman, tt:110). Dari sinilah riwayat Kerajaan Matan dimulai. Seorang penulis Belanda menyebut wilayah itu sebagai Kerajaan Matan, kendati sesungguhnya nama kerajaan tersebut pada waktu itu masih berjulukan Kerajaan Tanjungpura (Mulia [ed.], 2007:5). Pusat pemerintahan kerajaan ini lalu berpindah lagi yakni pada 1637 di wilayah Indra Laya. Indra Laya ialah nama dari suatu tempat di tepian Sungai Puye, anak Sungai Pawan. Kerajaan Tanjungpura kembali beringsut ke Kartapura, lalu ke Desa Tanjungpura, dan terakhir pindah lagi ke Muliakerta di mana Keraton Muhammad Saunan kini berdiri.

Menurut Catatan Gusti Iswadi, S.sos dalam buku Pesona Tanah Kayong, Kerajaan Tanjungpura dalam perspektif sejarah disebutkan, bahwa, dari negeri gres kerajaan Tanjungpura berpindah ke Sukadana sehingga disebut Kerajaan Sukadana, lalu pindah lagi Ke Sungai Matan (sekarang Kec. Simpang Hilir). Dan semasa pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin sekitar tahun 1637 pindah lagi ke Indra Laya sehingga disebut Kerajaan Indralaya. Indra Laya ialah nama dari satu tempat di Sungai Puye anak Sungai Pawan Kecamatan Sandai. Kemudian disebut Kerajaan Kartapura sebab pindah lagi ke Karta Pura di desa Tanah Merah, Kec. Nanga Tayap, lalu gres ke Desa Tanjungpura kini (Kecamatan Muara Pawan) dan terakhir pindah lagi ke Muliakarta di Keraton Muhammad Saunan yang ada kini yang terakhir sebagai sentra pemerintahan swapraja.

Bukti adanya sisa kerajaan ini sanggup dilihat dengan adanya makam renta di kota-kota tersebut, yang merupakan saksi bisu sisa kerajaan Tanjungpura dahulu. Untuk memelihara peninggalan ini pemerintah Kabupaten Ketapang telah mengadakan pemugaran dan pemeliharaan di tempat peninggalan kerajaan tersebut. Tujuannya semoga genarasi muda sanggup mempelajari kejayaan kerajaan tanjungpura pada masa lampau.

Dalam melacak jejak raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Matan, patut diketahui pula silsilah raja-raja Kerajaan Tanjungpura sebab kedua kerajaan ini bergotong-royong masih dalam satu rangkaian riwayat panjang. Berhubung terdapat beberapa versi perihal sejarah dan silsilah raja-raja Tanjungpura beserta kerajaan-kerajaan lain yang masih satu rangkaian dengannya, maka berikut ini dipaparkan silsilahnya berdasarkan salah satu versi, yaitu berdasarkan buku Sekilas Menapak Langkah Kerajaan Tanjungpura (2007) suntingan Drs. H. Gusti Mhd. Mulia:

- Brawijaya (1454–1472)
- Bapurung (1472–1487)
- Panembahan Karang Tanjung (1487–1504)

Pada masa pemerintahan Panembahan Karang Tanjung, sentra Kerajaan Tanjungpura yang semula berada di Negeri Baru dipindahkan ke Sukadana, dengan demikian nama kerajaannya pun bermetamorfosis Kerajaan Sukadana. Sukadana merupakan nama yang disebutkan untuk kerajaan ini dalam Hikayat Banjar.

Peta yang dibentuk oleh Oliver van Noord tahun 1600, menggambarkan lokasi Succadano, Tamanpure, Cota Matan, dan Loue
1. Panembahan Karang Tanjung (1487–1504)
2. Gusti Syamsudin atau Pundong Asap atau Panembahan Sang Ratu Agung (1504–1518)
3. Gusti Abdul Wahab atau Panembahan Bendala (1518–1533)
4. Panembahan Pangeran Anom (1526–1533)
5. Panembahan Baroh (1533–1590)
6. Gusti Aliuddin atau Giri Kesuma atau Panembahan Sorgi (1590–1604)
7. Ratu Mas Jaintan (1604?1622)
8. Gusti Kesuma Matan atau Giri Mustika atau Sultan Muhammad Syaifuddin/Raden Saradipa/Saradewa(1622–1665); Menantu Ratu Bagawan dari Kotawaringin

Inilah raja terakhir Kerajaan Sukadana sekaligus raja pertama dari Kerajaan Tanjungpura yang bergelar Sultan.

1. Gusti Jakar Kencana atau Sultan Muhammad Zainuddin (1665–1724)
2.Gusti Kesuma Bandan atau Sultan Muhammad Muazzuddin (1724–1738)
3. Gusti Bendung atau Pangeran Ratu Agung atau Sultan Muhammad Tajuddin (1738–1749)
4. Gusti Kencuran atau Sultan Ahmad Kamaluddin (1749–1762)
5. Gusti Asma atau Sultan Muhammad Jamaluddin (1762–1819)
Gusti Asma ialah raja terakhir Kerajaan Matan dan pada masa pemerintahannya, sentra pemerintahan Kerajaan Matan dialihkan ke Simpang, dan nama kerajaannya pun berganti menjadi Kerajaan Simpang atau Kerajaan Simpang-Matan.

1. Gusti Asma atau Sultan Muhammad Jamaluddin (1762–1819). Anak Sultan Ahmad Kamaluddin
2. Gusti Mahmud atau Panembahan Anom Suryaningrat (1819–1845). Menantu Sultan Ahmad Kamaluddin
3. Gusti Muhammad Roem atau Panembahan Anom Kesumaningrat (1845–1889). Anak Panembahan Anom Suryaningrat

- Gusti Panji atau Panembahan Suryaningrat (1889–1920)
- Gusti Roem atau Panembahan Gusti Roem (1912–1942)
- Gusti Mesir atau Panembahan Gusti Mesir (1942–1943)
- Gusti Ibrahim (1945)
Gusti Mesir menjadi tawanan tentara Jepang yang berhasil merebut wilayah Indonesia dari Belanda pada 1942, sebab itulah maka terjadi kekosongan pemerintahan di Kerajaan Simpang. Pada tamat masa pendudukan Jepang di Indonesia, sekira tahun 1945, diangkatlah Gusti Ibrahim, anak lelaki Gusti Mesir, sebagai raja. Namun, sebab ketika itu usia Gusti Ibrahim gres menginjak 14 tahun maka roda pemerintahan dijalankan oleh keluarga kerajaan yaitu Gusti Mahmud atau Mangkubumi yang memimpin Kerajaan Simpang hingga wafat pada 1952.

1. Gusti Irawan atau Sultan Mangkurat
2. Pangeran Agung
3. Sultan Mangkurat Berputra
4. Panembahan Anom Kesuma Negara atau Muhammad Zainuddin Mursal (1829-1833)
5. Pangeran Muhammad Sabran
6. Gusti Muhammad Saunan

Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah kerajaan-kerajaan ini termasuk dalam wester-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8 Meski terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan, namun kerajaan-kerajaan turunan Kerajaan Tanjungpura (Kerajaan Sukadana, Kerajaan Simpang-Matan, dan Kerajaan Kayong-Matan atau Kerajaan Tanjungpura II) masih tetap eksis dengan pemerintahannya masing-masing. Silsilah raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Matan (dan sebelum berdirinya Kerajaan Matan) di atas ialah salah satu versi yang berhasil diperoleh. Terdapat versi lain yang juga menyebutkan silsilah raja-raja Matan yang diperoleh dari keluarga Kerajaan Matan sendiri dengan menghimpun data dari banyak sekali sumber (P.J. Veth, 1854; J.U. Lontaan, 1975; H. von Dewall, 1862; J.P.J. Barth, 1896; Silsilah Keluarga Kerajaan Matan-Tanjungpura; Silsilah Raja Melayu dan Bugis; Raja Ali Haji, Tufat al-Nafis; Harun Jelani, 2004; H.J. de Graaf, 2002; Gusti Kamboja, 2004), yakni sebagai berikut:


  1. Sang Maniaka atau Krysna Pandita (800 M–?)
  2. Hyang-Ta (900–977)
  3. Siak Bahulun (977–1025)
  4. Rangga Sentap (1290–?)
  5. Prabu Jaya/Brawijaya (1447-1461)
  6. Raja Baparung, Pangeran Prabu (1461–1481)
  7. Karang Tunjung, Panembahan Pudong Prasap (1481–1501)
  8. Panembahan Kalahirang (1501–1512)
  9. Panembahan Bandala (1512–1538); Anak Kalahirang
  10. Panembahan Anom (1538–1565); Saudara Panembahan Bandala
  11. Panembahan Dibarokh atau Sibiring Mambal (1565?1590)

Lihat Juga : 


  1. Giri Kusuma (1590–1608); Anak Panembahan Bandala
  2. Ratu Sukadana atau Putri Bunku/Ratu Mas Jaintan (1608–1622); Istri Giri Kusuma/Anak Ratu Prabu Landak
  3. Panembahan Ayer Mala (1622–1630); Anak Panembahan Bandala
  4. Sultan Muhammad Syafeiudin, Giri Mustaka, Panembahan Meliau atau Pangeran Iranata/Cakra,(1630–1659); Anak/Menantu Giri Kusuma
  5. Sultan Muhammad Zainuddin/Pangeran Muda (1659–1725); Anak Sultan Muhammad Syaeiuddin
  6. Pangeran Agung (1710–1711); Perebutan kekuasaan
  7. pembagian kekuasaan, memimpin kerajaan di Tanah Merah - Pangeran Agung Martadipura (1725–1730); Anak Sultan Muhammad Zainuddin, pembagian kekuasaan memimpin kerajaan di Tanah Merah - Pangeran Mangkurat/Sultan Aliuddin Dinlaga (1728–1749); Anak Sultan Muhammad Zainuddin, pembagian kekuasaan di Sandai dan Tanah Merah
  8. pembagian kekuasaan, memimpin kerajaan di Simpang - Pangeran Ratu Agung (1735–1740); Anak Sultan Muhammad Zainuddin, pembagian kekuasaan, memimpin kerajaan di Simpang - Sultan Muazzidin Girilaya (1749–1762); Anak Pangeran Ratu Agung, memimpin kerajaan di Simpang
  9. Sultan Akhmad Kamaluddin/Panembahan Tiang Tiga (1762–1792); Anak Sultan Aliuddin Dinlaga
  10. Sultan Muhammad Jamaluddin, sebelumnya: Pangeran Ratu, sebelumnya: Gusti Arma (1792–1830); Anak Sultan Akhmad Kalamuddin
  11. Pangeran Adi Mangkurat Iradilaga atau Panembahan Anom Kusuma Negara (1831–1843); Anak Pangeran Mangkurat
  12. Pangeran Cakra yang Tua atau Pangeran Jaya Anom (1843–1845); Sebagai pejabat perdana menteri, anak Pangeran Mangkurat
  13. Panembahan Gusti Muhammad Sabran (1845–1908); Anak Panembahan Anom Kusuma Negara
  14. Pangeran Laksamana Uti Muchsin (1908–1924); Anak Panembahan Gusti Muhammad Sabran
  15. Panembahan Gusti Muhammad Saunan atau Pangeran Mas (1924–1943); Anak Gusti Muhammad Busra
  16. Majelis Pemerintah Kerajaan Matan (1943–1948), terdiri dari Uti Halil (Pg. Mangku Negara), Uti Apilah (Pg. Adipati), Gusti Kencana (Pg. Anom Laksamana)
  17. Majelis Raja Kerajaan Matan dipimpin Pangeran Ratu Kertanegara Ir. H. Gusti Kamboja, MH; Pangeran Laksamana Anom Gst Fadlin, S.Sos dan Pangeran Adipati Uti Iwan Kusnadi (sejak 2009 - Sekarang)


Saat ini nama kerajaan ini diabadikan sebagai nama universitas negeri di Kalimantan Barat yaitu Universitas Tanjungpura di Pontianak, dan juga digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat sebagai nama Kodam di Kalimantan yaitu Kodam XII/Tanjungpura

Sumber : Wikipedia

Tuesday, October 30, 2018

Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)

Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan banyak sekali kerajaan pecahannya dan yang menerima pengaruhnya. Penanggalan ini mempunyai keistimewaan lantaran memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang merupakan potongan budaya Barat.

Sistem kalender Jawa menggunakan dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad hingga Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi (1547 Saka), Sultan Agung dari Mataram berusaha keras menanamkan agama Islam di Jawa. Salah satu upayanya yakni mengeluarkan dekret yang mengganti penanggalan Saka yang berbasis perputaran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar (berbasis perputaran bulan). Uniknya, angka tahun Saka tetap digunakan dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriyah (saat itu 1035 H). Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun ketika itu yang yakni tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)

Dekret Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan imbas budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini.

Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan nama-nama Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta menyerupai Pasa, Sela dan kemungkinan juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini yakni nama bulan kamariah atau candra (lunar). Penamaan bulan sebagian berkaitan dengan hari-hari besar yang ada dalam bulan hijriah, contohnya Pasa berkaitan dengan puasa Ramadhan, Mulud berkaitan dengan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal, dan Ruwah berkaitan dengan Nisfu Sya'ban di mana dianggap amalan dari ruh selama setahun dicatat.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Daftar bulan Jawa Islam

Nama-nama bulan tersebut yakni sebagai berikut :
# Warana • Sura, artinya rijal
# Wadana • Sapar, artinya wiwit
# Wijangga • Mulud, artinya kanda
# Wiyana • Bakda Mulud, artinya ambuka
# Widada •Jumadi Awal, artinya wiwara
# Widarpa • Jumadi Akhir, artinya rahsa
# Wilapa • Rejep, artiya purwa
# Wahana • Ruwah, artinya dumadi
# Wanana • Pasa, artinya madya
# Wurana • Sawal, artinya wujud
# Wujana • Sela, artinya wusana
# Wujala • Besar, artinya kosong

Keterangan :
Nama alternatif bulan Dulkangidah yakni Sela atau Apit. Nama-nama ini merupakan peninggalan nama-nama Jawa Kuno untuk nama isu terkini ke-11 yang disebut sebagai Hapit Lemah. Sela berarti kerikil yang bekerjasama dengan lemah yang artinya yakni “tanah”. Lihat juga di bawah ini.

Pada tahun 1856 Masehi, lantaran penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka bulan-bulan isu terkini atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa, dikodifikasikan oleh Sunan Pakubuwana VII atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Sebenarnya pranata mangsa ini yakni pembagian bulan yang sudah digunakan pada zaman pra-Islam, hanya saja diubahsuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya, dan meninggalkan tarikh Hindu; jadinya umur setiap mangsa berbeda-beda.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Daftar bulan Jawa matahari

Keterangan :
Dalam bahasa Jawa Kuno mangsa kesebelas disebut hapit lemah sedangkan mangsa keduabelas disebut sebagai hapit kayu. Lalu nama dhesta diambil dari nama bulan ke-11 penanggalan Hindu dari bahasa Sanskerta jyes.t.ha dan nama sadha diambil dari kata âs.âd.ha yang merupakan bulan keduabelas.

Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi satu, yang terdiri dari delapan tahun Jawa. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. Windu sendiri bergulir empat putaran (32 tahun Jawa) : Adi, Kuntara, Sangara, dan Sancaya. Di bawah disajikan nama-nama tahun dalam satu windu

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Siklus windu

Jumlah 2835 hari genap dibagi 35 /selapan (hari pasaran)

Nama-nama tahun tersebut yakni sebagai berikut :
↷  Purwana • Alip, artinya ada-ada (mulai berniat)
↷  Karyana • Ehe, artinya tumandang (melakukan)
↷  Anama • Jemawal, artinya gawe (pekerjaan)
↷  Lalana • Je, artinya lelakon (proses, nasib)
↷  Ngawana • Dal, artinya urip (hidup)
↷  Pawaka • Be, artinya bola-bali (selalu kembali)
↷  Wasana • Wawu, artinya marang (kearah)
↷  Swasana • Jimakir, artinya suwung (kosong)

Simbol siklus pasaran dalam kalender jawa

Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja, namun dari 2 hingga 10 hari. Pekan-pekan ini disebut dengan nama-nama dwiwara, triwara, caturwara, pañcawara (pancawara), sadwara, saptawara, astawara dan sangawara. Zaman kini hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai, namun di pulau Bali dan di Tengger, pekan-pekan yang lain ini masih dipakai.

Pekan yang terdiri atas tujuh hari dihubungkan dengan sistem bulan-bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi berikut yakni nama dari ke tujuh nama hari tersebut :
↷  Radite • Minggu, melambangkan meneng (diam)
↷  Soma • Senen, melambangkan maju
↷  Hanggara • Selasa, melambangkan mundur
↷  Budha • Rabu, melambangkan mangiwa (bergerak ke kiri)
↷  Respati • Kamis, melambangkan manengen (bergerak ke kanan)
↷  Sukra • Jumat, melambangkan munggah (naik ke atas)
↷  Tumpak • Sabtu, melambangkan temurun (bergerak turun)

Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari:
↷  Legi
↷  Pahing
↷  Pon
↷  Wage
↷  Kliwon

Hari-hari pasaran merupakan posisi sikap (patrap) dari bulan sebagai berikut :
↷  Kliwon • Asih, melambangkan jumeneng (berdiri)
↷  Legi • Manis, melambangkan mungkur (berbalik arah kebelakang)
↷  Pahing • Pahit, melambangkan madep (menghadap)
↷  Pon • Petak, melambangkan sare (tidur)
↷  Wage • Cemeng, melambangkan lenggah (duduk)

Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini, yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya, mempunyai sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan sesudah 30 wuku maka muncul siklus gres lagi. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari yakni semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7, 6 dan 5 hari berpapasan.

Penampakan bulan dalam penanggalan jawa :
Tanggal 1 bulan Jawa, bulan kelihatan sangat kecil-hanya menyerupai garis, ini dimaknakan dengan seorang bayi yang gres lahir, yang lama-kelamaan menjadi lebih besar dan lebih terang.

Tanggal 14 bulan Jawa dinamakan purnama sidhi, bulan penuh melambangkan cukup umur yang telah bersuami istri.

Tanggal 15 bulan Jawa dinamakan purnama, bulan masih penuh tetapi sudah ada tanda ukuran dan cahayanya sedikit berkurang.

Tanggal 20 bulan Jawa dinamakan panglong, orang sudah mulai kehilangan daya ingatannya.

Tanggal 25 bulan Jawa dinamakan sumurup, orang sudah mulai diurus hidupnya oleh orang lain kembali menyerupai bayi layaknya.

Tanggal 26 bulan Jawa dinamakan manjing, di mana hidup insan kembali ketempat asalnya menjadi rijal lagi.

Sisa hari sebanyak empat atau lima hari melambangkan ketika di mana rijal akan mulai dilahirkan kembali kekehidupan dunia yang baru.


Referensi :
  • Pigeaud, Th., 1938, Javaans-Nederlands Woordenboek. Groningen-Batavia: J.B. Wolters
  • Ricklefs, M.C., 1978, Modern Javanese historical tradition: a study of an original Kartasura chronicle and related materials. London: School of Oriental and African Studies, University of London
Sumber : wikipedia



Kalender Tengger merupakan turunan Kalender Hindu yang digunakan oleh Suku Tengger di daerah Jawa Timur. Karena itu Kalender Tengger termasuk dalam kalender bulan-matahari dimana satu bulan sama dengan satu bulan sinodis (29 hari matahari 12 jam 44 menit 2,87 detik pada 1 Januari 2000 M) dan satu tahun sama dengan satu tahun tropis (365 hari matahari 5 jam 48 menit 45.19 detik pada 1 Januari 2000 M). Tetapi walaupun Kalender Hindu merupakan kalender astronomis yang berdasarkan pengamatan langit, Kalender Tengger merupakan kalender matematis yang berdasarkan perhitungan angka.


Hari
Sebagaimana kalender tradisional Indonesia (e.g. Kalender Jawa Kuno, Kalender Jawa, & Kalender Bali), ada beberapa jenis pekan yang digunakan dalam Kalender Tengger. Pancawara / pasaran (lima hari dalam satu pekan) terdiri dari : Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis. Sadwara / paringkelan (enam hari dalam satu pekan) terdiri dari : Aryang, Wurukung, Paniron, Uwas, Mawulu, dan Tungle. Saptawara / padinan (tujuh hari dalam satu pekan) terdiri dari : Dite, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, dan Tumpek. Hastawara / paguron (delapan hari dalam satu pekan) terdiri dari : Sri, Indra, Guru, Soma, Rudra, Brama, Kala, dan Uma. Nawawara / padangon (sembilan hari dalam satu pekan) terdiri dari : Dangu, Janggur, Gigis, Kerangan, Nohan, Kawokan, Wurungan, Tulus, dan Dadi.

Wuku
Sebagaimana kalender tradisional di Pulau Jawa dan Pulau Bali, Kalender Tengger juga menggunakan faktor wuku dalam pencatatan waktu yang merupakan kombinasi dari pasaran, paringkelan, dan padinan. Nama, urutan, dan sistemnya sama dengan wuku pada kalender lain tersebut.

Tanggal
Di antara pengguna Kalender Tengger ada dua cara untuk menghitung tanggal dalam satu bulan. Cara pertama yakni dengan mengikuti metode Kalender Hindu yang memilih ada 30 tithi dalam satu bulan. Satu tithi sama dengan satu hari bulan (23 jam 37 menit 28 detik), yaitu satu bulan sinodis (29 hari matahari 12 jam 44 menit 2,87 detik) dibagi 30 hari bulan. Selisih 22 menit 32 detik antara satu hari bulan (23 jam 37 menit 28 detik) dengan satu hari matahari (24 jam 00 menit 00 detik) akan terkumpul menjadi satu hari matahari setiap 64 hari bulan atau 63 hari matahari. Untuk mengatasi hal ini maka setiap 63 hari matahari (atau sembilan pekan atau sembilan wuku) ada satu tanggal yang dilewati. Hari dengan dua tanggal ini disebut dengan istilah mecak. Cara kedua yakni dengan mengikuti metode Kalender Islam yang memilih ada 29 hari dalam bulan Kasa, ada 30 hari dalam bulan Karo, dan demikian seterusnya bergantian hingga ada 30 hari dalam bulan Sadha. Dengan kedua cara tersebut maka Kalender Tengger sanggup menjaga biar setiap tanggal 1 yakni fase bulan gres dan setiap tanggal 15 yakni fase bulan purnama. Tanggal 1 – tanggal 15 disebut sebagai penanggal 1 – penanggal 15, yaitu paruh bulan jelas (suklapaksa). Sedangkan tanggal 16 – tanggal 30 disebut sebagai panglong 1 – panglong 15, yaitu paruh bulan gelap (krsnapaksa).

Bulan
Ada 12 bulan dalam satu tahun, yaitu berurutan : Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasadasa, Dhesta, dan Sadha.

Tahun
Tiap tahun mempunyai nama sebagaimana hari pasaran : Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis. Selain itu, Kalender Tengger mempunyai siklus windu. Windu yang dimaksud bukan sama dengan delapan tahun melainkan delapan siklus wuku (8 x 210 hari) atau lima tahun. Setiap satu windu sekali yaitu setiap Tahun Manis, ada satu bulan yang digandakan sehingga satu tahun terdiri dari 13 bulan (tahun landhung / tahun kabisat). Bulan ganda ini dimaksudkan untuk menjaga biar Kalender Tengger tetap sesuai dengan kalender matahari. Adapun bulan yang digandakan yakni bulan Karo, Kalima, Dhesta dan selanjutnya setiap windu berulang lagi dengan urutan sama. Masyarakat Tengger mempunyai istilah tersendiri untuk menyebut bulan ganda : Kalau bulan Karo yang digandakan, maka bulan Karo yang pertama disebut sebagai bulan Kasa. Kalau bulan Kalima yang digandakan, maka bulan Kalima yang pertama disebut sebagai bulan Kapat. Kalau bulan Dhesta yang digandakan, maka bulan Dhesta yang pertama disebut sebagai bulan Kasadasa. Pada Tahun Manis / tahun kabisat inilah diselenggarakan upacara unan-unan yang bermaksud untuk kembali menyelaraskan alam lantaran adanya bulan yang dihapus (Kasa, Kapat, atau Kasadasa).

Tarikh
Sebagaimana umumnya Kalender Hindu dan kalender-kalender turunannya di Indonesia, maka Kalender Tengger juga menggunakan Tarikh Saka yang dimulai pada titik balik isu terkini semi tahun 78 M. Walaupun demikian dalam praktiknya terdapat dua jenis tarikh berbeda dengan selisih tiga tahun, yaitu : Tarikh Malang dan Tarikh Pasuruan. Misalnya untuk tanggal 2 Oktober 1867 M berdasarkan orang Tengger di Malang yakni tanggal 1 Kasa 1793 S sedangkan berdasarkan orang Tengger di Pasuruan yakni tanggal 1 Kasa 1796 S.


Referensi :
  • Ian Proudfoot; Reconstructing the Tengger Calendar. in : Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI) 163 – 1 (2007) : 123-133.
  • Molen, Willem van der; 1983, Javaanse Tekstkritiek : Een overzicht en een nieuwe benadering geillustreerd aan de Kunjarakarna. KITLV. Leiden.
  • Molen, Willem van der & Wiryamartana, Ignatius Kuntara; The Merapi – Merbabu Manuscripts : A Neglected Collection. in : Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Old Javanese texts and culture 157 (2001), no. : 1, Leiden, 51-64.
Sumber : wikipedia



Kalender Bali yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. Kalender Bali bisa dianggap istimewa lantaran kalender Saka Bali yakni penanggalan "konvensi". Tidak mutlak astronomis menyerupai kalender Hijriyah, namun tidak pula menyerupai kalender Jawa, tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya.

Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India, namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi embel-embel elemen-elemen lokal.

Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar. Kaprikornus penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Dikatakan konvensi atau kompromistis, lantaran sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya.

Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. Hari ini dinamakan pangunalatri. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmetika. Derajat ketelitiannya cukup bagus, hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Nama-nama Bulan Kalender Bali

Panjang bulan
Dalam 1 bulan candra atau sasih, disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa, diikuti dengan 15 hari menjelang bulan gres (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa. Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru, hingga 15 yaitu purnama, menggunakan warna merah pada kalender cetakan. Setelah purnama, kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari sesudah purnama hingga 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. Dalam perhitungan matematis, untuk membedakan warna, sering digunakan titi. Titi yakni angka urut dari 1 yaitu bulan baru, hingga 30 pada bulan mati. Angka 1 hingga 15 mewakili angka merah atau penanggal, 16 hingga 30 mewakili angka 1 hingga 15 angka berwarna hitam atau panglong.

Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang sasih (bulan candra). Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra. Untuk menyelaraskan itu, setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu bulan candra embel-embel yang merupakan bulan kabisat. Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. Inilah tantangan bagi dunia aritmetika. Idealnya awal tahun surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu), sehingga tahun gres Saka Bali (hari raya Nyepi) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret hingga paruh-awal bulan April.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Daftar Bulan Bali Matahari

Tahun Baru
Tahun gres bagi Kalender Saka Bali, diperingati sebagai hari raya Nyepi, bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa), tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa). Idealnya pada penanggal 1, yaitu 1 hari sesudah bulan mati (tilem). Pada tahun 1993, Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2, diundur 1 hari, lantaran penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga. Sekali lagi kompromi diharapkan dalam perhitungan ini.

Sejak hari raya Nyepi, angka tahun Saka bertambah 1 tahun. Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78. Dengan demikian sasih- sasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi, lantaran angka tahun sasih Kasanga satu tahun di belakang angka tahun sasih Kedasa, dan angka tahun dari sasih terakhir, Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa).

sumber : wikipedia

Kalender Saka yakni sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi.

Sebuah tahun Saka dibagi menjadi dua belas bulan. Berikut nama bulan-bulan tersebut:
 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)


Di India satu tahun dibagi menjadi enam musim, atau dengan kata lain setiap isu terkini berlangsung dua bulan. Berikut nama-nama musim
- Warsa, isu terkini hujan bertepatan dengan Srawana dan Bhadrawada.
- Sarat, isu terkini rontok, dan seterusnya.
- Hemanta, isu terkini dingin
- Sisira, isu terkini sejuk kabut
- Basanta, isu terkini semi
- Grisma, isu terkini panas

Berhubung bulan-bulan dalam kalender Saka hanya terdiri dari 30 hari, maka tahun gres harus diubahsuaikan setiap tahunnya untuk mengiringi daur perputaran matahari.
Sejarah Kalender Saka

Kalender Saka berawal pada tahun 78 Masehi dan juga disebut sebagai penanggalan Saliwahana (Sâlivâhana). Kala itu Saliwahana yang yakni seorang raja ternama dari India potongan selatan, mengalahkan kaum Saka. Tetapi sumber lain menyebutkan bahwa mereka dikalahkan oleh Wikramaditya (Vikramâditya). Wikramaditya yakni seorang musuh atau tentangan Saliwahana, ia berasal dari India potongan utara.

Mengenai kaum Saka ada yang menyebut bahwa mereka termasuk sukabangsa turuki atau Tatar. Namun ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebut bahwa mereka bahwasanya orang Yunani (dalam bahasa Sanskerta disebut Yavana yang berkuasa di Baktria (sekarang Afganistan).
Kalender Saka di Indonesia

Sebelum masuknya agama Islam, para sukubangsa di Nusantara potongan barat yang terkena imbas agama Hindu, menggunakan kalender Saka. Namun kalender Saka yang dipergunakan dimodifikasi oleh beberapa sukubangsa, terutama suku Jawa dan Bali. Di Jawa dan Bali kalender Saka ditambahi dengan cara penanggalan lokal. Setelah agama Islam masuk, di Mataram, oleh Sultan Agung diperkenalkan kalender Jawa Islam yang merupakan perpaduan antara kalender Islam dan kalender Saka. Di Bali kalender Saka yang telah ditambahi dengan unsur-unsur lokal digunakan hingga sekarang, begitu pula di beberapa daerah di Jawa, menyerupai di Tengger yang banyak penganut agama Hindu.

Daftar Pustaka :
  • Dowson, John, 1992, A Classical Dictionary of Hindu Mythology and Religion. New Delhi: Heritage Publishers.
  • Ricklefs, M.C., 1978, Modern Javanese historical tradition: a study of an original Kartasura chronicle and related materials. London: School of Oriental and African Studies, University of London.
  • Zoetmulder, P.J., 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
  • Zoetmulder, P.J., 1995, Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Bekerja sama dengan S.O. Robson. Penerjemah Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumber : wikipedia



Pranata mangsa (bahasa Jawa: ???????????, pranåtåmångså, berarti "ketentuan musim") yakni semacam penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan perjuangan pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata mangsa berbasis peredaran matahari dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari) serta memuat banyak sekali aspek fenologi dan tanda-tanda alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai aliran dalam kegiatan perjuangan tani maupun persiapan diri menghadapi peristiwa (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu.

Penanggalan menyerupai ini juga dikenal oleh suku-suku bangsa lainnya di Indonesia, menyerupai etnik Sunda dan etnik Bali (di Bali dikenal sebagai Kerta Masa). Beberapa tradisi Eropa mengenal pula penanggalan pertanian yang serupa, menyerupai contohnya pada etnik Jerman yang mengenal Bauernkalendar atau "penanggalan untuk petani". sebagai keperluan penelitian dan menandai pada tahun sebuah mangsa menggunakan angka tahun yang dimulai semenjak 560 SM diambil dari Kelahiran Sang Budha sebagai penghormatan bagi agama yang pernah berkembang luas di nusantara, sehingga pada tanggal 30 Januari 2015 M yakni 39 Kapitu 2575 Mangsa.


Pranata mangsa dalam versi pengetahuan yang dipegang petani atau nelayan diwariskan secara oral (dari ekspresi ke mulut). Selain itu, ia bersifat lokal dan temporal (dibatasi oleh tempat dan waktu) sehingga suatu perincian yang dibentuk untuk suatu tempat tidak sepenuhnya berlaku untuk tempat lain. Petani, umpamanya, menggunakan aliran pranata mangsa untuk memilih awal masa tanam. Nelayan menggunakannya sebagai aliran untuk melaut atau memprediksi jenis tangkapan. Selain itu, pada beberapa bagian, sejumlah keadaan yang dideskripsikan dalam pranata mangsa pada masa kini kurang sanggup dipercaya seiring dengan perkembangan teknologi.

Pranata mangsa dalam versi Kasunanan (sebagaimana dipertelakan pada potongan ini) berlaku untuk wilayah di antara Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Setahun berdasarkan penanggalan ini dibagi menjadi empat isu terkini (mangsa) utama, yaitu isu terkini kemarau atau ketigå (88 hari), isu terkini pancaroba menjelang hujan atau labuh (95 hari), isu terkini hujan atau dalam bahasa Jawa disebut rendheng (baca [r?ndh?? ], 95 hari) , dan pancaroba final isu terkini hujan atau marèng (IPA:[mar??], 86 hari) .

Musim sanggup dikaitkan pula dengan sikap hewan, perkembangan tumbuhan, situasi alam sekitar, dan dalam praktik amat berkaitan dengan kultur agraris. Berdasarkan ciri-ciri ini setahun juga sanggup dibagi menjadi empat isu terkini utama dan dua isu terkini "kecil": jelas ("langit cerah", 82 hari), semplah ("penderitaan", 99 hari) dengan mangsa kecil paceklik pada 23 hari pertama, udan ("musim hujan", 86 hari), dan pangarep-arep ("penuh harap", 98/99 hari) dengan mangsa kecil panèn pada 23 hari terakhir.

Dalam pembagian yang lebih rinci, setahun dibagi menjadi 12 isu terkini (mangsa) yang rentang waktunya lebih singkat namun dengan jangka waktu bervariasi. Tabel berikut ini menawarkan pembagian formal berdasarkan versi Kasunanan. Perlu diingat bahwa tuntunan ini berlaku di ketika penanaman padi sawah hanya dimungkinkan sekali dalam setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo, dan kemudian lahan bera (tidak ditanam).

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Pranata Mangsa Lengkap


Bentuk formal pranata mangsa diperkenalkan pada masa Sunan Pakubuwana VII (raja Surakarta) dan mulai digunakan semenjak 22 Juni 1856, dimaksudkan sebagai aliran bagi para petani pada masa itu. Perlu disadari bahwa penanaman padi pada waktu itu hanya berlangsung sekali setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo. Selain itu, pranata mangsa pada masa itu dimaksudkan sebagai petunjuk bagi pihak-pihak terkait untuk mempersiapkan diri menghadapi peristiwa alam, mengingat teknologi prakiraan cuaca belum dikenal. Pranata mangsa dalam bentuk "kumpulan pengetahuan" lisan tersebut hingga kini masih diterapkan oleh sekelompok orang dan sedikit banyak merupakan pengamatan terhadap gejala-gejala alam.

Terdapat petunjuk bahwa masyarakat Jawa, khususnya yang bermukim di wilayah sekitar Gunung Merapi, Gunung Merbabu, hingga Gunung Lawu, telah mengenal prinsip-prinsip pranata mangsa jauh sebelum kedatangan imbas dari India. Prinsip-prinsip ini berbasis peredaran matahari di langit dan peredaran rasi bintang Waluku (Orion). Di wilayah dengan tipe iklim Am berdasarkan Koeppen ini, penduduknya menerapkan penanggalan berbasis peredaran matahari dan rasi bintang sebagai potongan dari keselarasan hidup mengikuti perubahan irama alam dalam setahun. Pengetahuan ini sanggup diperkirakan telah diwariskan secara bebuyutan semenjak periode Kerajaan Medang (Mataram Hindu) dari era ke-9 hingga dengan periode Kesultanan Mataram pada era ke-17 sebagai panduan dalam bidang pertanian, ekonomi, administrasi, dan pertahanan (kemiliteran).

Perubahan teknologi yang diterapkan di Jawa semenjak 1970-an, berupa paket intensifikasi pertanian menyerupai penggunaan pupuk kimia, kultivar berumur genjah (dapat dipanen pada umur 120 hari atau kurang, sebelumnya memakan waktu hingga 180 hari), meluasnya jaringan irigasi melalui banyak sekali bendungan atau bendung, dan terutama berkembang pesatnya teknik prakiraan cuaca telah menimbulkan pranata mangsa (dalam bentuk formal versi Kasunanan) kehilangan banyak relevansi. Isu perubahan iklim global yang semakin menguat semenjak 1990-an juga menciptakan pranata mangsa harus ditinjau kembali lantaran dianggap "tidak lagi sanggup dibaca".

Pranata mangsa mempunyai latar belakang kosmografi ("pengukuran posisi benda langit"), pengetahuan yang telah dikuasai oleh orang Austronesia sebagai aliran untuk navigasi di maritim serta banyak sekali kegiatan ritual kebudayaan. Karena peredaran matahari dalam setahun menimbulkan perubahan musim, pranata mangsa juga mempunyai sejumlah penciri klimatologis.

Awal mangsa kasa (pertama) yakni 22 Juni, yaitu ketika posisi matahari di langit berada pada Garis Balik Utara, sehingga bagi petani di wilayah di antara Merapi dan Lawu ketika itu yakni ketika bayangan terpanjang (empat pecak/kaki ke arah selatan). Pada ketika yang sama, rasi bintang Waluku terbit pada waktu subuh (menjelang fajar). Dari sinilah keluar nama "waluku", lantaran kemunculan rasi Orion pada waktu subuh menjadi menunjukan bagi petani untuk mengolah sawah/lahan menggunakan bajak (bahasa Jawa: waluku).

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)


Panjang rentang waktu yang berbeda-beda di antara keempat mangsa pertama (dan empat mangsa terakhir, lantaran simetris) ditentukan dari perubahan panjang bayangan. Mangsa pertama berakhir di ketika bayangan menjadi tiga pecak, dan mangsa karo (kedua) dimulai. Demikian selanjutnya, hingga mangsa keempat berakhir di ketika bayangan sempurna berada di kaki, di ketika posisi matahari berada pada zenit untuk daerah yang disebutkan sebelumnya (antara Merapi dan Lawu). Pergerakan garis edar matahari ke selatan menimbulkan pemanjangan bayangan ke utara dan mencapai maksimum sepanjang dua pecak di ketika posisi matahari berada pada Garis Balik Selatan (21/22 Desember), dan menandai berakhirnya mangsa kanem (ke-6). Selanjutnya proses berulang secara simetris untuk mangsa ke-7 hingga ke-12. Sebuah jam matahari di Gresik yang dibentuk pada tahun 1776 secara eksplisit menawarkan hal ini.Mangsa ke-7 ditandai dengan terbenamnya rasi Waluku pada waktu subuh. Beberapa rasi bintang, bintang, atau galaksi yang dijadikan rujukan bagi pranata mangsa yakni Waluku, Lumbung (Gubukpèncèng, Crux), Banyakangrem (Scorpius), Wuluh (Pleiades), Wulanjarngirim (alpha- dan beta-Centauri), serta Bimasakti.

Batas-batas eksak tanggal pada pranata mangsa versi Kasunanan merupakan modifikasi kecil terhadap pranata mangsa yang sudah dikenal sebelumnya yang didasarkan pada posisi benda-benda langit.

Secara klimatologi, pranata mangsa mengumpulkan isu mengenai perubahan isu terkini serta saat-saatnya yang berlaku untuk wilayah Nusantara yang dipengaruhi oleh angin muson, yang pada gilirannya juga dikendalikan arahnya oleh peredaran matahari. Awal isu terkini penghujan dan kemarau serta banyak sekali menunjukan fisiknya yang digambarkan pranata mangsa secara umum sejajar dengan hasil pengamatan klimatologi. Kelemahan pada pranata mangsa yakni bahwa ia tidak menggambarkan variasi yang mungkin muncul pada tahun-tahun tertentu (misalnya akhir munculnya tanda-tanda ENSO). Selain itu, terdapat sejumlah ketentuan pada pranata mangsa yang lebih banyak terkait dengan aspek horoskop, sehingga cenderung tidak logis.


Karena pranata mangsa dianggap sudah "usang" namun tetap dianggap penting sebagai aliran bagi petani/nelayan mengingat fungsinya sebagai penghubung petani/nelayan dengan lingkungan, upaya-upaya dilakukan untuk memodifikasi pranata mangsa dengan memanfaatkan informasi-informasi baru. Di bidang penangkapan ikan telah dilakukan upaya untuk menggunakan kalender semacam pranata mangsa sebagai aliran bagi nelayan dalam melaksanakan penangkapan ikan. Informasi ini berguna, misalnya, untuk memilih kelaikan penangkapan serta musim-musim jenis tangkapan.

Di bidang pertanian tumbuhan pangan, telah dikembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk meningkatkan kemampuan petani dalam memahami banyak sekali aspek prakiraan cuaca dan hubungannya dengan perjuangan tani. Kegiatan SLI dimaksudkan untuk menciptakan petani bisa "menerjemahkan" isu prakiraan cuaca yang sering kali sangat teknis, sekaligus menciptakan petani bisa mengadaptasikannya dengan kearifan lokal yang telah lama dimiliki. Dalam kaitan dengan SLI, pranata mangsa menjadi rujukan untuk banyak sekali tanda-tanda alam yang diperkirakan muncul sebagai jawaban atas kondisi cuaca/perubahan iklim. Pranata mangsa masih tetap sanggup mendapatkan amanah dalam kaitan dengan pengamatan atas tanda-tanda alam. Kemampuan membaca tanda-tanda alam ini penting lantaran petani perlu menyesuaikan diri apabila terjadi perubahan dengan mengubah rujukan tanam.

Monday, October 8, 2018

Biografi Megawati Soekarnoputri Lengkap

Biografi Megawati. Dr.(H.C.) Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau umumnya lebih dikenal sebagai Megawati Soekarnoputri atau biasa disapa dengan panggilan "Mbak Mega" (lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947; umur 71 tahun) yaitu Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat semenjak 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004. Ia merupakan presiden perempuan Indonesia pertama dan puteri dari presiden Indonesia pertama, Soekarno, yang kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadi Presiden Indonesia. Pada 20 September 2004, ia kalah bunyi dari Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu Presiden 2004 putaran yang kedua.

Ia menjadi presiden sehabis MPR mengadakan Sidang spesial MPR pada tahun 2001. Sidang spesial MPR ini diadakan dalam menanggapi langkah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang membekukan forum MPR/DPR dan Partai Golkar. Ia dilantik pada 23 Juli 2001. Sebelumnya dari tahun 1999–2001, ia menjabat Wapres pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Megawati juga merupakan ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) semenjak memisahkan diri dari Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1999. 

Megawati Soekarnoputri yaitu anak kedua Presiden Soekarno yang telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ibunda Megawati, Fatmawati, yaitu seorang gadis kelahiran Bengkulu di mana Soekarno dahulu pernah diasingkan pada masa penjajahan Belanda. Ia dilahirkan pada masa Agresi Militer Belanda. Pada waktu Soekarno diasingkan ke pulau Bangka, Fatmawati melahirkan seorang bayi yang dinamai Megawati Soekarno Putri, pada tanggal 23 Januari 1947 di kampung Ledok Ratmakan, tepi barat Kali Code. Setelah kemerdekaan Indonesia, Megawati kemudian dibesarkan di Istana Merdeka.

 Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau umumnya lebih dikenal sebagai Megawati Biografi Megawati Soekarnoputri Lengkap
Credit : Wikipedia | Gambar : Megawati Soekarnoputri
Dia pernah menuntut ilmu di Universitas Padjadjaran di Bandung (tidak hingga lulus) dalam bidang pertanian, selain juga pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (juga tidak hingga lulus). 

Karier politik Megawati Soekarnoputri yang penuh lika-liku dan warna seakan searah dengan garis dongeng kehidupan perjalanan perahu rumah tangganya yang pernah mengalami kegagalan.

Suami pertamanya yaitu Lettu (Penerbang) Surindro Supjarso, seorang pilot pesawat AURI dan perwira pertama di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) Republik Indonesia. Surindro sosoknya tinggi jangkung, berwajah ganteng dengan model rambutnya berjambul, di kalangan rekan-rekannya ia kerap dipanggil dengan "Pacul". Surindro yaitu sahabat karib Guntur Soekarnoputra, kakak Megawati. Konon kabarnya, Gunturlah yang menjodohkan Mega dengan Surindro. Mereka menikah pada hari Sabtu, tanggal 1 Juni 1968 bertempat di Jalan Sriwijaya Nomor 7, Kebayoran Baru, Jakarta. Setelah itu, Megawati kemudian mengikuti suaminya, Surindro, tinggal di Madiun, Jawa Timur. Di sana ia menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak pertamanya, Mohammad Rizki Pratama. 

Ketika Mega sedang mengandung anak keduanya (Mohammad Prananda), Surindro mengalami kecelakaan pesawat yang merenggut nyawanya. Pesawat Skyvan T-701 yang dikendalikannya terempas di bahari sekitar perairan pulau Biak, Irian Jaya, pada tanggal 22 Januari 1970. Surindro dan tujuh orang awak pesawatnya hilang tak diketahui rimbanya dan hanya tersisa serpihan puing-puing badan pesawat yang ditemukan tersebar awut-awutan di bahari sekitar perairan tersebut. Mega dirundung sedih yang mendalam, ia pun berkabung cukup lama.

Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1972, waktu itu usia Megawati masih gres menginjak awal dua puluhan dengan memiliki dua orang anak yang masih balita, ia kemudian kembali merajut kasih asmara dengan seorang laki-laki yang konon yaitu pengusaha asal Mesir, yang juga seorang Diplomat Mesir yang kala itu sedang bertugas di Jakarta, yang berjulukan Hassan Gamal Ahmad Hasan. Namun, ijab kabul Mega yang kedua kali ini tak berlangsung lama, hanya bertahan tiga bulan, alasannya yaitu ijab kabul Megawati dengan Hassan (suami kedua Mega) menjadi sorotan Media Massa dengan alasan bahwa waktu itu Megawati masih terikat perkawinan yang sah dengan Surindro, suami pertamanya dan pada ketika itu belum ada keputusan yang niscaya dari pemerintah, dalam hal ini yaitu Markas Besar (Mabes) TNI-AU, mengenai nasib suami pertamanya itu yang jenazahnya hingga kini tak berhasil ditemukan. |  |.Keluarga Bung Karno pun tak tinggal diam, mereka kemudian menyewa seorang pengacara, Sumadji namanya, guna membatalkan ijab kabul Mega yang kedua yang kontroversial itu melalui penetapan keputusan oleh Pengadilan Tinggi Agama - Jakarta, jadinya Hassan pun mengalah dan menyerah. Dari ijab kabul dengan suami keduanya yang kandas ini, Megawati tidak dikaruniai anak.

Kebahagiaan dan kedamaian hidup rumah tangga Megawati Soekarnoputri gres benar-benar terjalin dan dirasakan sehabis ia menikah dengan Moh. Taufiq Kiemas, rekannya sesama pencetus di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dulu, yang juga menjadi salah seorang penggerak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Suami ketiga Mega, Taufiq Kiemas, selain aktif di GMNI, ia juga bergabung dengan "Inti Pembina Jiwa Revolusi", yaitu suatu organisasi yang menegakkan fatwa "Soekarno". Taufiq Kiemas, yang oleh Guntur diberi julukan "si Bule", menikahi Mega pada simpulan Maret 1973. Pesta ijab kabul mereka ini berlangsung sederhana di "Panti Perwira", Jakarta Pusat. Dari pasangan ini, maka lahirlah Puan Maharani, yang merupakan anak ketiga dari Megawati Soekarnoputri dan yaitu anak pertama Taufiq Kiemas satu-satunya. 
Jejak politik sang ayah kuat kuat pada diri Megawati Soekarnoputri. Karena semenjak mahasiswa, ketika kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Pajajaran, ia pun selalu aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

1986
Tahun 1986 ia mulai masuk ke dunia politik, sebagai wakil ketua PDI Cabang Jakarta Pusat. Karier politiknya terbilang melesat. Mega hanya butuh waktu satu tahun menjadi anggota dewan perwakilan rakyat RI.

1993
Dalam Kongres Luar Biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya 1993, Megawati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI.

1996
Namun, pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Mega sebagai Ketua Umum PDI. Mega pun didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, yang menentukan Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

Mega tidak mendapatkan pendongkelan dirinya dan tidak mengakui Kongres Medan. Ia masih merasa sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Kantor dan perlengkapannya pun dikuasai oleh pihak Mega. Pihak Mega tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor DPP PDI. Namun, Soerjadi yang didukung pemerintah memberi bahaya akan merebut secara paksa kantor DPP PDI yang terletak di Jalan Diponegoro.

Ancaman Soerjadi kemudian menjadi kenyataan. Tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Aksi penyerangan yang menyebabkan puluhan pendukung Mega meninggal itu, berbuntut pada kerusuhan massal di Jakarta yang dikenal dengan nama Peristiwa 27 Juli. Kerusuhan itu pula yang menciptakan beberapa pencetus mendekam di penjara.

Peristiwa penyerangan kantor DPP PDI tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, ia makin mantap mengibarkan perlawanan. Ia menentukan jalur hukum, walaupun kemudian kandas di pengadilan. Mega tetap tidak berhenti. Biografi MegawatiBiografi Megawati LengkapBiografi Megawati Soekarno PutriBiografi Megawati Soekarno Putri LengkapBiografi Mbak MegaBiografi Bu MegawatiBiografi Ibu Megawati Soekarno PutriBiografi Presiden RIBiografi Presiden RI LengkapKumpulan Biografi Presiden LengkapKumpulan Biografi Presiden RIBiografi PresidenBiografi Wakil PresidenBiografi Wapres LengkapSejarah KotaSejarah KabupatenSejarah NegaraSejarah ProvinsiCerita Rakyat Lengkap Lengkap Tak pelak, PDI pun terpisah menjadi PDI di bawah Soerjadi dan PDI pimpinan Mega. Pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Namun, massa PDI lebih berpihak pada Mega.

1997
Keberpihakan massa PDI kepada Mega makin terlihat pada pemilu 1997. Perolehan bunyi PDI di bawah Soerjadi merosot tajam. Sebagian massa Mega berpihak ke Partai Persatuan Pembangunan, yang kemudian melahirkan istilah "Mega Bintang". Mega sendiri menentukan golput ketika itu. 

1999
Pemilu 1999, PDI Mega yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan berhasil memenangkan pemilu. Meski bukan menang telak, tetapi ia berhasil meraih lebih dari tiga puluh persen suara. Massa pendukungnya, memaksa semoga Mega menjadi presiden. Mereka mengancam, bila Mega tidak jadi presiden akan terjadi revolusi.

Namun alur yang berkembang dalam Sidang Umum 1999 menyampaikan lain, dan menentukan KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Ia kalah tipis dalam voting pemilihan presiden yaitu 373 banding 313 suara. 

2001
Namun, waktu juga yang berpihak kepada Megawati Sukarnoputri. Ia tidak harus menunggu lima tahun untuk menggantikan posisi Presiden Abdurrahman Wahid, sehabis Sidang Umum 1999 menggagalkannya menjadi Presiden. Sidang spesial MPR, Senin (23/7/2001), telah menaikkan statusnya menjadi Presiden, sehabis Presiden Abdurrahman Wahid dicabut mandatnya oleh MPR RI.

2004
Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, dalam masa pemerintahannyalah, pemilihan umum presiden secara pribadi dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia. Ia mengalami kekalahan (40% - 60%) dalam pemilihan umum presiden 2004 tersebut dan harus menyerahkan tonggak kepresidenan kepada Susilo Bambang Yudhoyono mantan Menteri Koordinator pada masa pemerintahannya.

2014

Pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PDI-P, Semarang, Jawa Tengah, 20 September 2014, Megawati ditunjuk kembali untuk menjadi Ketua Umum PDI-P periode 2015-2020.

Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (Bandung); (1965)
Anggota Fraksi PDI dewan perwakilan rakyat RI Komisi IV (1987-1997)
Ketua DPC PDI Jakarta Pusat
Ketua Umum PDI versi Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Surabaya (1993-1996)
PDI yang dipimpinnya berganti nama menjadi PDI Perjuangan pada 1999-sekarang
Wapres Republik Indonesia (20 Oktober 1999-23 Juli 2001)
Presiden Republik Indonesia ke-5 (23 Juli 2001-20 Oktober 2004)

SD Perguruan Cikini Jakarta (1954-1959)
SLTP Perguruan Cikini Jakarta (1960-1962)
SLTA Perguruan Cikini Jakarta (1963-1965)
Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung (1965-1967); tidak selesai
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Jakarta (1970-1972); tidak selesai

Sumber : Wikipedia