Showing posts sorted by relevance for query sejarah-penanggalan-lengkap. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query sejarah-penanggalan-lengkap. Sort by date Show all posts

Tuesday, October 30, 2018

Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)

Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan banyak sekali kerajaan pecahannya dan yang menerima pengaruhnya. Penanggalan ini mempunyai keistimewaan lantaran memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang merupakan potongan budaya Barat.

Sistem kalender Jawa menggunakan dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad hingga Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi (1547 Saka), Sultan Agung dari Mataram berusaha keras menanamkan agama Islam di Jawa. Salah satu upayanya yakni mengeluarkan dekret yang mengganti penanggalan Saka yang berbasis perputaran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar (berbasis perputaran bulan). Uniknya, angka tahun Saka tetap digunakan dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriyah (saat itu 1035 H). Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun ketika itu yang yakni tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)

Dekret Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan imbas budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini.

Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan nama-nama Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta menyerupai Pasa, Sela dan kemungkinan juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini yakni nama bulan kamariah atau candra (lunar). Penamaan bulan sebagian berkaitan dengan hari-hari besar yang ada dalam bulan hijriah, contohnya Pasa berkaitan dengan puasa Ramadhan, Mulud berkaitan dengan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal, dan Ruwah berkaitan dengan Nisfu Sya'ban di mana dianggap amalan dari ruh selama setahun dicatat.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Daftar bulan Jawa Islam

Nama-nama bulan tersebut yakni sebagai berikut :
# Warana • Sura, artinya rijal
# Wadana • Sapar, artinya wiwit
# Wijangga • Mulud, artinya kanda
# Wiyana • Bakda Mulud, artinya ambuka
# Widada •Jumadi Awal, artinya wiwara
# Widarpa • Jumadi Akhir, artinya rahsa
# Wilapa • Rejep, artiya purwa
# Wahana • Ruwah, artinya dumadi
# Wanana • Pasa, artinya madya
# Wurana • Sawal, artinya wujud
# Wujana • Sela, artinya wusana
# Wujala • Besar, artinya kosong

Keterangan :
Nama alternatif bulan Dulkangidah yakni Sela atau Apit. Nama-nama ini merupakan peninggalan nama-nama Jawa Kuno untuk nama isu terkini ke-11 yang disebut sebagai Hapit Lemah. Sela berarti kerikil yang bekerjasama dengan lemah yang artinya yakni “tanah”. Lihat juga di bawah ini.

Pada tahun 1856 Masehi, lantaran penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka bulan-bulan isu terkini atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa, dikodifikasikan oleh Sunan Pakubuwana VII atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Sebenarnya pranata mangsa ini yakni pembagian bulan yang sudah digunakan pada zaman pra-Islam, hanya saja diubahsuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya, dan meninggalkan tarikh Hindu; jadinya umur setiap mangsa berbeda-beda.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Daftar bulan Jawa matahari

Keterangan :
Dalam bahasa Jawa Kuno mangsa kesebelas disebut hapit lemah sedangkan mangsa keduabelas disebut sebagai hapit kayu. Lalu nama dhesta diambil dari nama bulan ke-11 penanggalan Hindu dari bahasa Sanskerta jyes.t.ha dan nama sadha diambil dari kata âs.âd.ha yang merupakan bulan keduabelas.

Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi satu, yang terdiri dari delapan tahun Jawa. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. Windu sendiri bergulir empat putaran (32 tahun Jawa) : Adi, Kuntara, Sangara, dan Sancaya. Di bawah disajikan nama-nama tahun dalam satu windu

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Siklus windu

Jumlah 2835 hari genap dibagi 35 /selapan (hari pasaran)

Nama-nama tahun tersebut yakni sebagai berikut :
↷  Purwana • Alip, artinya ada-ada (mulai berniat)
↷  Karyana • Ehe, artinya tumandang (melakukan)
↷  Anama • Jemawal, artinya gawe (pekerjaan)
↷  Lalana • Je, artinya lelakon (proses, nasib)
↷  Ngawana • Dal, artinya urip (hidup)
↷  Pawaka • Be, artinya bola-bali (selalu kembali)
↷  Wasana • Wawu, artinya marang (kearah)
↷  Swasana • Jimakir, artinya suwung (kosong)

Simbol siklus pasaran dalam kalender jawa

Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja, namun dari 2 hingga 10 hari. Pekan-pekan ini disebut dengan nama-nama dwiwara, triwara, caturwara, pañcawara (pancawara), sadwara, saptawara, astawara dan sangawara. Zaman kini hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai, namun di pulau Bali dan di Tengger, pekan-pekan yang lain ini masih dipakai.

Pekan yang terdiri atas tujuh hari dihubungkan dengan sistem bulan-bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi berikut yakni nama dari ke tujuh nama hari tersebut :
↷  Radite • Minggu, melambangkan meneng (diam)
↷  Soma • Senen, melambangkan maju
↷  Hanggara • Selasa, melambangkan mundur
↷  Budha • Rabu, melambangkan mangiwa (bergerak ke kiri)
↷  Respati • Kamis, melambangkan manengen (bergerak ke kanan)
↷  Sukra • Jumat, melambangkan munggah (naik ke atas)
↷  Tumpak • Sabtu, melambangkan temurun (bergerak turun)

Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari:
↷  Legi
↷  Pahing
↷  Pon
↷  Wage
↷  Kliwon

Hari-hari pasaran merupakan posisi sikap (patrap) dari bulan sebagai berikut :
↷  Kliwon • Asih, melambangkan jumeneng (berdiri)
↷  Legi • Manis, melambangkan mungkur (berbalik arah kebelakang)
↷  Pahing • Pahit, melambangkan madep (menghadap)
↷  Pon • Petak, melambangkan sare (tidur)
↷  Wage • Cemeng, melambangkan lenggah (duduk)

Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini, yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya, mempunyai sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan sesudah 30 wuku maka muncul siklus gres lagi. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari yakni semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7, 6 dan 5 hari berpapasan.

Penampakan bulan dalam penanggalan jawa :
Tanggal 1 bulan Jawa, bulan kelihatan sangat kecil-hanya menyerupai garis, ini dimaknakan dengan seorang bayi yang gres lahir, yang lama-kelamaan menjadi lebih besar dan lebih terang.

Tanggal 14 bulan Jawa dinamakan purnama sidhi, bulan penuh melambangkan cukup umur yang telah bersuami istri.

Tanggal 15 bulan Jawa dinamakan purnama, bulan masih penuh tetapi sudah ada tanda ukuran dan cahayanya sedikit berkurang.

Tanggal 20 bulan Jawa dinamakan panglong, orang sudah mulai kehilangan daya ingatannya.

Tanggal 25 bulan Jawa dinamakan sumurup, orang sudah mulai diurus hidupnya oleh orang lain kembali menyerupai bayi layaknya.

Tanggal 26 bulan Jawa dinamakan manjing, di mana hidup insan kembali ketempat asalnya menjadi rijal lagi.

Sisa hari sebanyak empat atau lima hari melambangkan ketika di mana rijal akan mulai dilahirkan kembali kekehidupan dunia yang baru.


Referensi :
  • Pigeaud, Th., 1938, Javaans-Nederlands Woordenboek. Groningen-Batavia: J.B. Wolters
  • Ricklefs, M.C., 1978, Modern Javanese historical tradition: a study of an original Kartasura chronicle and related materials. London: School of Oriental and African Studies, University of London
Sumber : wikipedia



Kalender Tengger merupakan turunan Kalender Hindu yang digunakan oleh Suku Tengger di daerah Jawa Timur. Karena itu Kalender Tengger termasuk dalam kalender bulan-matahari dimana satu bulan sama dengan satu bulan sinodis (29 hari matahari 12 jam 44 menit 2,87 detik pada 1 Januari 2000 M) dan satu tahun sama dengan satu tahun tropis (365 hari matahari 5 jam 48 menit 45.19 detik pada 1 Januari 2000 M). Tetapi walaupun Kalender Hindu merupakan kalender astronomis yang berdasarkan pengamatan langit, Kalender Tengger merupakan kalender matematis yang berdasarkan perhitungan angka.


Hari
Sebagaimana kalender tradisional Indonesia (e.g. Kalender Jawa Kuno, Kalender Jawa, & Kalender Bali), ada beberapa jenis pekan yang digunakan dalam Kalender Tengger. Pancawara / pasaran (lima hari dalam satu pekan) terdiri dari : Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis. Sadwara / paringkelan (enam hari dalam satu pekan) terdiri dari : Aryang, Wurukung, Paniron, Uwas, Mawulu, dan Tungle. Saptawara / padinan (tujuh hari dalam satu pekan) terdiri dari : Dite, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, dan Tumpek. Hastawara / paguron (delapan hari dalam satu pekan) terdiri dari : Sri, Indra, Guru, Soma, Rudra, Brama, Kala, dan Uma. Nawawara / padangon (sembilan hari dalam satu pekan) terdiri dari : Dangu, Janggur, Gigis, Kerangan, Nohan, Kawokan, Wurungan, Tulus, dan Dadi.

Wuku
Sebagaimana kalender tradisional di Pulau Jawa dan Pulau Bali, Kalender Tengger juga menggunakan faktor wuku dalam pencatatan waktu yang merupakan kombinasi dari pasaran, paringkelan, dan padinan. Nama, urutan, dan sistemnya sama dengan wuku pada kalender lain tersebut.

Tanggal
Di antara pengguna Kalender Tengger ada dua cara untuk menghitung tanggal dalam satu bulan. Cara pertama yakni dengan mengikuti metode Kalender Hindu yang memilih ada 30 tithi dalam satu bulan. Satu tithi sama dengan satu hari bulan (23 jam 37 menit 28 detik), yaitu satu bulan sinodis (29 hari matahari 12 jam 44 menit 2,87 detik) dibagi 30 hari bulan. Selisih 22 menit 32 detik antara satu hari bulan (23 jam 37 menit 28 detik) dengan satu hari matahari (24 jam 00 menit 00 detik) akan terkumpul menjadi satu hari matahari setiap 64 hari bulan atau 63 hari matahari. Untuk mengatasi hal ini maka setiap 63 hari matahari (atau sembilan pekan atau sembilan wuku) ada satu tanggal yang dilewati. Hari dengan dua tanggal ini disebut dengan istilah mecak. Cara kedua yakni dengan mengikuti metode Kalender Islam yang memilih ada 29 hari dalam bulan Kasa, ada 30 hari dalam bulan Karo, dan demikian seterusnya bergantian hingga ada 30 hari dalam bulan Sadha. Dengan kedua cara tersebut maka Kalender Tengger sanggup menjaga biar setiap tanggal 1 yakni fase bulan gres dan setiap tanggal 15 yakni fase bulan purnama. Tanggal 1 – tanggal 15 disebut sebagai penanggal 1 – penanggal 15, yaitu paruh bulan jelas (suklapaksa). Sedangkan tanggal 16 – tanggal 30 disebut sebagai panglong 1 – panglong 15, yaitu paruh bulan gelap (krsnapaksa).

Bulan
Ada 12 bulan dalam satu tahun, yaitu berurutan : Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasadasa, Dhesta, dan Sadha.

Tahun
Tiap tahun mempunyai nama sebagaimana hari pasaran : Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis. Selain itu, Kalender Tengger mempunyai siklus windu. Windu yang dimaksud bukan sama dengan delapan tahun melainkan delapan siklus wuku (8 x 210 hari) atau lima tahun. Setiap satu windu sekali yaitu setiap Tahun Manis, ada satu bulan yang digandakan sehingga satu tahun terdiri dari 13 bulan (tahun landhung / tahun kabisat). Bulan ganda ini dimaksudkan untuk menjaga biar Kalender Tengger tetap sesuai dengan kalender matahari. Adapun bulan yang digandakan yakni bulan Karo, Kalima, Dhesta dan selanjutnya setiap windu berulang lagi dengan urutan sama. Masyarakat Tengger mempunyai istilah tersendiri untuk menyebut bulan ganda : Kalau bulan Karo yang digandakan, maka bulan Karo yang pertama disebut sebagai bulan Kasa. Kalau bulan Kalima yang digandakan, maka bulan Kalima yang pertama disebut sebagai bulan Kapat. Kalau bulan Dhesta yang digandakan, maka bulan Dhesta yang pertama disebut sebagai bulan Kasadasa. Pada Tahun Manis / tahun kabisat inilah diselenggarakan upacara unan-unan yang bermaksud untuk kembali menyelaraskan alam lantaran adanya bulan yang dihapus (Kasa, Kapat, atau Kasadasa).

Tarikh
Sebagaimana umumnya Kalender Hindu dan kalender-kalender turunannya di Indonesia, maka Kalender Tengger juga menggunakan Tarikh Saka yang dimulai pada titik balik isu terkini semi tahun 78 M. Walaupun demikian dalam praktiknya terdapat dua jenis tarikh berbeda dengan selisih tiga tahun, yaitu : Tarikh Malang dan Tarikh Pasuruan. Misalnya untuk tanggal 2 Oktober 1867 M berdasarkan orang Tengger di Malang yakni tanggal 1 Kasa 1793 S sedangkan berdasarkan orang Tengger di Pasuruan yakni tanggal 1 Kasa 1796 S.


Referensi :
  • Ian Proudfoot; Reconstructing the Tengger Calendar. in : Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI) 163 – 1 (2007) : 123-133.
  • Molen, Willem van der; 1983, Javaanse Tekstkritiek : Een overzicht en een nieuwe benadering geillustreerd aan de Kunjarakarna. KITLV. Leiden.
  • Molen, Willem van der & Wiryamartana, Ignatius Kuntara; The Merapi – Merbabu Manuscripts : A Neglected Collection. in : Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Old Javanese texts and culture 157 (2001), no. : 1, Leiden, 51-64.
Sumber : wikipedia



Kalender Bali yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. Kalender Bali bisa dianggap istimewa lantaran kalender Saka Bali yakni penanggalan "konvensi". Tidak mutlak astronomis menyerupai kalender Hijriyah, namun tidak pula menyerupai kalender Jawa, tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya.

Kalender Saka Bali tidak sama dengan Kalender Saka dari India, namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi embel-embel elemen-elemen lokal.

Kalender Saka Bali bisa dikatakan merupakan penanggalan syamsiah-kamariah (surya-candra) atau luni-solar. Kaprikornus penanggalan ini berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Dikatakan konvensi atau kompromistis, lantaran sepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan bagaimana cara perhitungannya.

Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. Hari ini dinamakan pangunalatri. Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmetika. Derajat ketelitiannya cukup bagus, hanya memerlukan 1 hari kabisat dalam seratusan tahun.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Nama-nama Bulan Kalender Bali

Panjang bulan
Dalam 1 bulan candra atau sasih, disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut penanggal atau suklapaksa, diikuti dengan 15 hari menjelang bulan gres (tilem) disebut panglong atau kresnakapsa. Penanggal ditulis dari 1 pada bulan baru, hingga 15 yaitu purnama, menggunakan warna merah pada kalender cetakan. Setelah purnama, kembali siklus diulang dari angka 1 pada sehari sesudah purnama hingga 15 pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. Dalam perhitungan matematis, untuk membedakan warna, sering digunakan titi. Titi yakni angka urut dari 1 yaitu bulan baru, hingga 30 pada bulan mati. Angka 1 hingga 15 mewakili angka merah atau penanggal, 16 hingga 30 mewakili angka 1 hingga 15 angka berwarna hitam atau panglong.

Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang sasih (bulan candra). Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra. Untuk menyelaraskan itu, setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu bulan candra embel-embel yang merupakan bulan kabisat. Penambahan bulan ini masih agak rancu peletakannya. Inilah tantangan bagi dunia aritmetika. Idealnya awal tahun surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu), sehingga tahun gres Saka Bali (hari raya Nyepi) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret hingga paruh-awal bulan April.

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Daftar Bulan Bali Matahari

Tahun Baru
Tahun gres bagi Kalender Saka Bali, diperingati sebagai hari raya Nyepi, bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa), tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa). Idealnya pada penanggal 1, yaitu 1 hari sesudah bulan mati (tilem). Pada tahun 1993, Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2, diundur 1 hari, lantaran penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga. Sekali lagi kompromi diharapkan dalam perhitungan ini.

Sejak hari raya Nyepi, angka tahun Saka bertambah 1 tahun. Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78. Dengan demikian sasih- sasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi, lantaran angka tahun sasih Kasanga satu tahun di belakang angka tahun sasih Kedasa, dan angka tahun dari sasih terakhir, Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa).

sumber : wikipedia

Kalender Saka yakni sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi.

Sebuah tahun Saka dibagi menjadi dua belas bulan. Berikut nama bulan-bulan tersebut:
 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)


Di India satu tahun dibagi menjadi enam musim, atau dengan kata lain setiap isu terkini berlangsung dua bulan. Berikut nama-nama musim
- Warsa, isu terkini hujan bertepatan dengan Srawana dan Bhadrawada.
- Sarat, isu terkini rontok, dan seterusnya.
- Hemanta, isu terkini dingin
- Sisira, isu terkini sejuk kabut
- Basanta, isu terkini semi
- Grisma, isu terkini panas

Berhubung bulan-bulan dalam kalender Saka hanya terdiri dari 30 hari, maka tahun gres harus diubahsuaikan setiap tahunnya untuk mengiringi daur perputaran matahari.
Sejarah Kalender Saka

Kalender Saka berawal pada tahun 78 Masehi dan juga disebut sebagai penanggalan Saliwahana (Sâlivâhana). Kala itu Saliwahana yang yakni seorang raja ternama dari India potongan selatan, mengalahkan kaum Saka. Tetapi sumber lain menyebutkan bahwa mereka dikalahkan oleh Wikramaditya (Vikramâditya). Wikramaditya yakni seorang musuh atau tentangan Saliwahana, ia berasal dari India potongan utara.

Mengenai kaum Saka ada yang menyebut bahwa mereka termasuk sukabangsa turuki atau Tatar. Namun ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebut bahwa mereka bahwasanya orang Yunani (dalam bahasa Sanskerta disebut Yavana yang berkuasa di Baktria (sekarang Afganistan).
Kalender Saka di Indonesia

Sebelum masuknya agama Islam, para sukubangsa di Nusantara potongan barat yang terkena imbas agama Hindu, menggunakan kalender Saka. Namun kalender Saka yang dipergunakan dimodifikasi oleh beberapa sukubangsa, terutama suku Jawa dan Bali. Di Jawa dan Bali kalender Saka ditambahi dengan cara penanggalan lokal. Setelah agama Islam masuk, di Mataram, oleh Sultan Agung diperkenalkan kalender Jawa Islam yang merupakan perpaduan antara kalender Islam dan kalender Saka. Di Bali kalender Saka yang telah ditambahi dengan unsur-unsur lokal digunakan hingga sekarang, begitu pula di beberapa daerah di Jawa, menyerupai di Tengger yang banyak penganut agama Hindu.

Daftar Pustaka :
  • Dowson, John, 1992, A Classical Dictionary of Hindu Mythology and Religion. New Delhi: Heritage Publishers.
  • Ricklefs, M.C., 1978, Modern Javanese historical tradition: a study of an original Kartasura chronicle and related materials. London: School of Oriental and African Studies, University of London.
  • Zoetmulder, P.J., 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
  • Zoetmulder, P.J., 1995, Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Bekerja sama dengan S.O. Robson. Penerjemah Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumber : wikipedia



Pranata mangsa (bahasa Jawa: ???????????, pranåtåmångså, berarti "ketentuan musim") yakni semacam penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan perjuangan pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata mangsa berbasis peredaran matahari dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari) serta memuat banyak sekali aspek fenologi dan tanda-tanda alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai aliran dalam kegiatan perjuangan tani maupun persiapan diri menghadapi peristiwa (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu.

Penanggalan menyerupai ini juga dikenal oleh suku-suku bangsa lainnya di Indonesia, menyerupai etnik Sunda dan etnik Bali (di Bali dikenal sebagai Kerta Masa). Beberapa tradisi Eropa mengenal pula penanggalan pertanian yang serupa, menyerupai contohnya pada etnik Jerman yang mengenal Bauernkalendar atau "penanggalan untuk petani". sebagai keperluan penelitian dan menandai pada tahun sebuah mangsa menggunakan angka tahun yang dimulai semenjak 560 SM diambil dari Kelahiran Sang Budha sebagai penghormatan bagi agama yang pernah berkembang luas di nusantara, sehingga pada tanggal 30 Januari 2015 M yakni 39 Kapitu 2575 Mangsa.


Pranata mangsa dalam versi pengetahuan yang dipegang petani atau nelayan diwariskan secara oral (dari ekspresi ke mulut). Selain itu, ia bersifat lokal dan temporal (dibatasi oleh tempat dan waktu) sehingga suatu perincian yang dibentuk untuk suatu tempat tidak sepenuhnya berlaku untuk tempat lain. Petani, umpamanya, menggunakan aliran pranata mangsa untuk memilih awal masa tanam. Nelayan menggunakannya sebagai aliran untuk melaut atau memprediksi jenis tangkapan. Selain itu, pada beberapa bagian, sejumlah keadaan yang dideskripsikan dalam pranata mangsa pada masa kini kurang sanggup dipercaya seiring dengan perkembangan teknologi.

Pranata mangsa dalam versi Kasunanan (sebagaimana dipertelakan pada potongan ini) berlaku untuk wilayah di antara Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Setahun berdasarkan penanggalan ini dibagi menjadi empat isu terkini (mangsa) utama, yaitu isu terkini kemarau atau ketigå (88 hari), isu terkini pancaroba menjelang hujan atau labuh (95 hari), isu terkini hujan atau dalam bahasa Jawa disebut rendheng (baca [r?ndh?? ], 95 hari) , dan pancaroba final isu terkini hujan atau marèng (IPA:[mar??], 86 hari) .

Musim sanggup dikaitkan pula dengan sikap hewan, perkembangan tumbuhan, situasi alam sekitar, dan dalam praktik amat berkaitan dengan kultur agraris. Berdasarkan ciri-ciri ini setahun juga sanggup dibagi menjadi empat isu terkini utama dan dua isu terkini "kecil": jelas ("langit cerah", 82 hari), semplah ("penderitaan", 99 hari) dengan mangsa kecil paceklik pada 23 hari pertama, udan ("musim hujan", 86 hari), dan pangarep-arep ("penuh harap", 98/99 hari) dengan mangsa kecil panèn pada 23 hari terakhir.

Dalam pembagian yang lebih rinci, setahun dibagi menjadi 12 isu terkini (mangsa) yang rentang waktunya lebih singkat namun dengan jangka waktu bervariasi. Tabel berikut ini menawarkan pembagian formal berdasarkan versi Kasunanan. Perlu diingat bahwa tuntunan ini berlaku di ketika penanaman padi sawah hanya dimungkinkan sekali dalam setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo, dan kemudian lahan bera (tidak ditanam).

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)
Pranata Mangsa Lengkap


Bentuk formal pranata mangsa diperkenalkan pada masa Sunan Pakubuwana VII (raja Surakarta) dan mulai digunakan semenjak 22 Juni 1856, dimaksudkan sebagai aliran bagi para petani pada masa itu. Perlu disadari bahwa penanaman padi pada waktu itu hanya berlangsung sekali setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo. Selain itu, pranata mangsa pada masa itu dimaksudkan sebagai petunjuk bagi pihak-pihak terkait untuk mempersiapkan diri menghadapi peristiwa alam, mengingat teknologi prakiraan cuaca belum dikenal. Pranata mangsa dalam bentuk "kumpulan pengetahuan" lisan tersebut hingga kini masih diterapkan oleh sekelompok orang dan sedikit banyak merupakan pengamatan terhadap gejala-gejala alam.

Terdapat petunjuk bahwa masyarakat Jawa, khususnya yang bermukim di wilayah sekitar Gunung Merapi, Gunung Merbabu, hingga Gunung Lawu, telah mengenal prinsip-prinsip pranata mangsa jauh sebelum kedatangan imbas dari India. Prinsip-prinsip ini berbasis peredaran matahari di langit dan peredaran rasi bintang Waluku (Orion). Di wilayah dengan tipe iklim Am berdasarkan Koeppen ini, penduduknya menerapkan penanggalan berbasis peredaran matahari dan rasi bintang sebagai potongan dari keselarasan hidup mengikuti perubahan irama alam dalam setahun. Pengetahuan ini sanggup diperkirakan telah diwariskan secara bebuyutan semenjak periode Kerajaan Medang (Mataram Hindu) dari era ke-9 hingga dengan periode Kesultanan Mataram pada era ke-17 sebagai panduan dalam bidang pertanian, ekonomi, administrasi, dan pertahanan (kemiliteran).

Perubahan teknologi yang diterapkan di Jawa semenjak 1970-an, berupa paket intensifikasi pertanian menyerupai penggunaan pupuk kimia, kultivar berumur genjah (dapat dipanen pada umur 120 hari atau kurang, sebelumnya memakan waktu hingga 180 hari), meluasnya jaringan irigasi melalui banyak sekali bendungan atau bendung, dan terutama berkembang pesatnya teknik prakiraan cuaca telah menimbulkan pranata mangsa (dalam bentuk formal versi Kasunanan) kehilangan banyak relevansi. Isu perubahan iklim global yang semakin menguat semenjak 1990-an juga menciptakan pranata mangsa harus ditinjau kembali lantaran dianggap "tidak lagi sanggup dibaca".

Pranata mangsa mempunyai latar belakang kosmografi ("pengukuran posisi benda langit"), pengetahuan yang telah dikuasai oleh orang Austronesia sebagai aliran untuk navigasi di maritim serta banyak sekali kegiatan ritual kebudayaan. Karena peredaran matahari dalam setahun menimbulkan perubahan musim, pranata mangsa juga mempunyai sejumlah penciri klimatologis.

Awal mangsa kasa (pertama) yakni 22 Juni, yaitu ketika posisi matahari di langit berada pada Garis Balik Utara, sehingga bagi petani di wilayah di antara Merapi dan Lawu ketika itu yakni ketika bayangan terpanjang (empat pecak/kaki ke arah selatan). Pada ketika yang sama, rasi bintang Waluku terbit pada waktu subuh (menjelang fajar). Dari sinilah keluar nama "waluku", lantaran kemunculan rasi Orion pada waktu subuh menjadi menunjukan bagi petani untuk mengolah sawah/lahan menggunakan bajak (bahasa Jawa: waluku).

 Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa yakni sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesulta Sejarah Penanggalan Lengkap (Sejarah Kalender Lengkap)


Panjang rentang waktu yang berbeda-beda di antara keempat mangsa pertama (dan empat mangsa terakhir, lantaran simetris) ditentukan dari perubahan panjang bayangan. Mangsa pertama berakhir di ketika bayangan menjadi tiga pecak, dan mangsa karo (kedua) dimulai. Demikian selanjutnya, hingga mangsa keempat berakhir di ketika bayangan sempurna berada di kaki, di ketika posisi matahari berada pada zenit untuk daerah yang disebutkan sebelumnya (antara Merapi dan Lawu). Pergerakan garis edar matahari ke selatan menimbulkan pemanjangan bayangan ke utara dan mencapai maksimum sepanjang dua pecak di ketika posisi matahari berada pada Garis Balik Selatan (21/22 Desember), dan menandai berakhirnya mangsa kanem (ke-6). Selanjutnya proses berulang secara simetris untuk mangsa ke-7 hingga ke-12. Sebuah jam matahari di Gresik yang dibentuk pada tahun 1776 secara eksplisit menawarkan hal ini.Mangsa ke-7 ditandai dengan terbenamnya rasi Waluku pada waktu subuh. Beberapa rasi bintang, bintang, atau galaksi yang dijadikan rujukan bagi pranata mangsa yakni Waluku, Lumbung (Gubukpèncèng, Crux), Banyakangrem (Scorpius), Wuluh (Pleiades), Wulanjarngirim (alpha- dan beta-Centauri), serta Bimasakti.

Batas-batas eksak tanggal pada pranata mangsa versi Kasunanan merupakan modifikasi kecil terhadap pranata mangsa yang sudah dikenal sebelumnya yang didasarkan pada posisi benda-benda langit.

Secara klimatologi, pranata mangsa mengumpulkan isu mengenai perubahan isu terkini serta saat-saatnya yang berlaku untuk wilayah Nusantara yang dipengaruhi oleh angin muson, yang pada gilirannya juga dikendalikan arahnya oleh peredaran matahari. Awal isu terkini penghujan dan kemarau serta banyak sekali menunjukan fisiknya yang digambarkan pranata mangsa secara umum sejajar dengan hasil pengamatan klimatologi. Kelemahan pada pranata mangsa yakni bahwa ia tidak menggambarkan variasi yang mungkin muncul pada tahun-tahun tertentu (misalnya akhir munculnya tanda-tanda ENSO). Selain itu, terdapat sejumlah ketentuan pada pranata mangsa yang lebih banyak terkait dengan aspek horoskop, sehingga cenderung tidak logis.


Karena pranata mangsa dianggap sudah "usang" namun tetap dianggap penting sebagai aliran bagi petani/nelayan mengingat fungsinya sebagai penghubung petani/nelayan dengan lingkungan, upaya-upaya dilakukan untuk memodifikasi pranata mangsa dengan memanfaatkan informasi-informasi baru. Di bidang penangkapan ikan telah dilakukan upaya untuk menggunakan kalender semacam pranata mangsa sebagai aliran bagi nelayan dalam melaksanakan penangkapan ikan. Informasi ini berguna, misalnya, untuk memilih kelaikan penangkapan serta musim-musim jenis tangkapan.

Di bidang pertanian tumbuhan pangan, telah dikembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk meningkatkan kemampuan petani dalam memahami banyak sekali aspek prakiraan cuaca dan hubungannya dengan perjuangan tani. Kegiatan SLI dimaksudkan untuk menciptakan petani bisa "menerjemahkan" isu prakiraan cuaca yang sering kali sangat teknis, sekaligus menciptakan petani bisa mengadaptasikannya dengan kearifan lokal yang telah lama dimiliki. Dalam kaitan dengan SLI, pranata mangsa menjadi rujukan untuk banyak sekali tanda-tanda alam yang diperkirakan muncul sebagai jawaban atas kondisi cuaca/perubahan iklim. Pranata mangsa masih tetap sanggup mendapatkan amanah dalam kaitan dengan pengamatan atas tanda-tanda alam. Kemampuan membaca tanda-tanda alam ini penting lantaran petani perlu menyesuaikan diri apabila terjadi perubahan dengan mengubah rujukan tanam.

Monday, October 29, 2018

Sejarah Kalender Hijriyah Lengkap

KALENDER HIJRIYAH

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: ??????? ??????; at-taqwim al-hijri), yakni kalender yang dipakai oleh umat Islam, termasuk dalam memilih tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, alasannya yakni pada tahun pertama kalender ini yakni tahun di mana terjadi insiden Hijrah-nya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Di beberapa negara yang berpenduduk lebih banyak didominasi Islam, Kalender Hijriyah juga dipakai sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam memakai peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang memakai peredaran Matahari.

Penentuan dimulainya sebuah hari dan tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di daerah tersebut.

Kalender Hijriyah dibangun menurut rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), mempunyai 12 bulan dalam setahun. Dengan memakai siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya yakni (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan gres (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada dikala yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan dikala terjadinya bulan gres di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 - 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari).
https://caraphdanghmmm.blogspot.com/search?q=sejarah-kalender-hijriyah-lengkap

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) sehabis bulan gres (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat sehabis terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak sanggup terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada hukum khusus bulan-bulan mana saja yang mempunyai 29 hari, dan mana yang mempunyai 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang memutuskan insiden hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala:
“  Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia membuat langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kau menganiaya diri kau dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kau semuanya; dan ketahuilah gotong royong Allah beserta orang-orang yang bertakwa. 

- At Taubah(9):36 -

Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah memakai bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak memutuskan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW yakni pada tahun gajah.Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur pada zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar kemudian mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka yakni Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan menurut milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan menurut pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima yakni seruan dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu menurut momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya baiklah dengan proposal Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam yakni pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.

Kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan:
 yakni kalender yang dipakai oleh umat Islam Sejarah Kalender Hijriyah Lengkap
Nama-nama Bulan Hijriyah

Keterangan :
Tanda kurung merupakan tahun kabisat dalam kalender Hijriyah dengan metode sisa yaitu 2-3-3 yang berjumlah 11 buah yaitu 2,5,8,10,13,16,18,21,24,26 dan 29.


Kalender Hijriyah terdiri dari 7 hari. Sebuah hari diawali dengan terbenamnya Matahari, berbeda dengan Kalender Masehi yang mengawali hari pada dikala tengah malam. Berikut yakni nama-nama hari:

⇢↢ Al-Ahad (Ahad)
⇢↢ Al-Itsnayn (Senin)
⇢↢ Ats-Tsalaatsa' (Selasa)
⇢↢ Al-Arbaa-a / Ar-Raabi' (Rabu)
⇢↢ Al-Khamsah (Kamis)
⇢↢ Al-Jumu'ah (Jumat)
⇢↢ As-Sabt (Sabtu)

Penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriah dilakukan 6 tahun sehabis wafatnya Nabi Muhammad saw. Namun, sistem yang mendasari Kalender Hijriah telah ada semenjak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 periode Madinah.

Sistem kalender pra-Islam di Arab
Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis adonan antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan ekspresi dominan dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi).

Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama insiden yang cukup penting pada tahun tersebut. Misalnya, tahun di mana Muhammad saw lahir, dikenal dengan sebutan "Tahun Gajah", alasannya yakni pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka'bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu provinsi Kerajaan Aksum, sekarang termasuk wilayah Ethiopia).

Pada era kenabian Muhammad saw, sistem penanggalan pra-Islam digunakan. Pada tahun ke-9 sehabis Hijrah, turun ayat 36-37 Surat At-Taubah, yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan yakni tahun kelahiran Muhammad saw sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam yakni tahun wafatnya Nabi Muhammad saw.

Akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab memutuskan awal patokan penanggalan Islam yakni tahun di mana hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan sehabis menghilangkan seluruh bulan-bulan pemanis (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharram Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad saw. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw terjadi bulan September 622. Dokumen tertua yang memakai sistem Kalender Hijriah yakni papirus di Mesir pada tahun 22 H, PERF 558.

Tanggal-tanggal penting dalam Kalender Hijriyah adalah:
 yakni kalender yang dipakai oleh umat Islam Sejarah Kalender Hijriyah Lengkap
Tanggal Penting Hijriyah


Rukyat yakni acara mengamati visibilitas hilal, yakni mengamati penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak sehabis bulan gres (ijtima). Rukyat sanggup dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik menyerupai teleskop. Apabila hilal terlihat, maka pada petang tersebut telah memasuki tanggal 1.

Sedangkan hisab yakni melaksanakan perhitungan untuk memilih posisi bulan secara matematis dan astronomis. Hisab merupakan alat bantu untuk mengetahui kapan dan di mana hilal (bulan sabit pertama sehabis bulan baru) sanggup terlihat. Hisab seringkali dilakukan untuk membantu sebelum melaksanakan rukyat.
Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah, menyerupai bulan bulan ampunan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (di mana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha). Penentuan kapan hilal sanggup terlihat, menjadi motivasi ketertarikan umat Islam dalam astronomi. Ini menjadi salah satu pendorong mengapa Islam menjadi salah satu pengembang awal ilmu astronomi sebagai sains, lepas dari astrologi pada Abad Pertengahan.

Sebagian umat Islam beropini bahwa untuk memilih awal bulan, yakni harus dengan benar-benar melaksanakan pengamatan hilal secara eksklusif (rukyatul hilal). Sebagian yang lain beropini bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melaksanakan hisab (perhitungan matematis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Metode hisab juga mempunyai banyak sekali kriteria penentuan, sehingga seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah menyerupai puasa bulan ampunan atau Hari Raya Idul Fitri.

Menurut perhitungan, dalam satu siklus 30 tahun Kalender Hijriyah, terdapat 11 tahun kabisat dengan jumlah hari sebanyak 355 hari, dan 19 tahun dengan jumlah hari sebanyak 354 hari. Dalam jangka panjang, satu siklus ini cukup akurat sampai satu hari dalam sekitar 2500 tahun. Sedangkan dalam jangka pendek, siklus ini mempunyai deviasi 1-2 hari.

Microsoft memakai Algoritma Kuwait untuk mengkonversi Kalender Gregorian ke Kalender Hijriyah. Algoritma ini diklaim berbasis analisis statistik data historis dari Kuwait, namun dalam kenyataannya yakni salah satu variasi dari Kalender Hijriyah tabular.
Untuk konversi secara agresif dari Kalender Hijriyah ke Kalender Masehi (Gregorian), kalikan tahun Hijriyah dengan 0,97, kemudian tambahkan dengan angka 622.
Setiap 33 atau 34 tahun Kalender Hijriyah, satu tahun penuh Kalender Hijriyah akan terjadi dalam satu tahun Kalender Masehi. Tahun 1429 H kemudian terjadi sepenuhnya pada tahun 2008 M.


Sistem Kalender Jawa berbeda dengan Kalender Hijriyah, meski keduanya mempunyai kemiripan. Pada era ke-1, di Jawa diperkenalkan sistem penanggalan Kalender Saka (berbasis Matahari) yang berasal dari India. Sistem penanggalan ini dipakai sampai pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, menyerupai nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Namun, demi kesinambungan, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke 1547 Jawa.

Berbeda dengan Kalender Hijriah yang murni memakai visibilitas Bulan (moon visibility) pada penentuan awal bulan (first month), Penanggalan Jawa telah memutuskan jumlah hari dalam setiap bulannya.

sumber : wikipedia

Saturday, December 1, 2018

Sejarah Kabupaten Blitar Lengkap


Logo nyolong di Kuwarasanku.blogspot.com
Penentuan titi mangsa lahirnya Blitar sebagai sentra pemerintahan merupakan balasan atas duduk kasus hari pendirian Pemda yang kemudian menjadi Kabupaten Blitar. Dari membuatkan prasasti yang dipandang sebagai bukti autentik menyerupai terurai atas, tidak terdapat sebuahpun yang memuat nama Blitar sebagai nama tempat Pusat Pemerintahan. Suatu hal yang niscaya bahwa beberapa nama desa atau tempat yang disebutkan dalam prasasti-prasasti itu berada atau termasuk wilayah Kabupaten Blitar sekarang. Kenyataan itu menandakan bahwa (sebagian) kawasan Blitar semenjak sepuluh kala yang kemudian telah menjadi sentra kehidupan masyarakat yang penting. Berita agak niscaya mengenai pertumbuhan Blitar sebagai Pusat Pemerintahan mulai ada semenjak awal pemerintahan Raja-raja Majapahit. Sebagimana sanggup dibuktikan dalam sejarah Kerajaan Majapahit lahir sesudah Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Tartar Ku Bilai Khan pada Tahun 1293 M. (Pararaton : 33)

Majapahit sebagai negara gres berpusat di bersahabat Mojokerta. Di bawah pimpinan raden Wijaya sebagai Raja pertama, negara Majapahit tumbuh dengan pesat. Suatu hal yang menarik dalam kekerabatan sejarah kawasan Blitar dari masa itu ialah adanya peningalan bangunan suci yang terletak di Desa Kotes Kecamatan Gandusari.
Sejarah Kabupaten Blitar Jawa Timur Lengkap
Pada bangunan itu terdapat angka Tahun 1222 Saka dan 1223 Saka. Dengan demikian bangunan tersebut berasal dari tahun 1300 dan 1301 Masehi (Knebel : 1908 : hal. 355). Dengan perkataan lain, bangunan itu yakni sejaman dengan Pemerintah Raja Pertama Majapahit. Kenyataan di atas menandakan bahwa sejarah Blitar pada awal abab ke – XIV masih memperlihatkan wilayah yang penting. Apakah kekerabatan pendirian bagunan suci itu dengan sejarah kawasan ini ? Suatu petunjuk yang sanggup memperlihatkan keterangan wacana hal itu antara lain terdapat sejumlah Prasatti dari masa kala ke – XII Masehi di kawasan sepanjang lembah Gunung Kawi sebelah Barat. Ini memperlihatkan bahwa kawasan ini masih sanggup dibuktikan hingga kini dengan adannya beberapa perkebunan. Faktor alamiah yang menguntungkan ini menimbulkan adannya kehidupan masyarakat yang makmur. Kemakmuran itu mendorong pertumbuhan penduduk yang besar dalam waktu singkat. Walaupun tidak terdapat catatan wacana jumlah penduduk di kawasan belahan Timur ini, namun sanggup diperkirakan bahwa dengan adanya men-power maka kawasan ini menjadi penting. Tersedianya tenaga insan yang cukup besar, merupakan salah satu jaminan pergerakan pasukan secara gampang untuk suatu tujuan pertahanan maupun serangan.

Seperti halnya dalam prasati Tuhanyaru yang menyebutkan adanya anugrah tanah kepada sejumlah pejabat kerajaan berhubung yang bersangkutan telah berjasa kepada raja, maka prasasti Blitar pun memuat peryataan yang sama. Dapat diketahui bahwa kekerabatan antara raja Jayanegara dengan kawasan Blitar memiliki sifat yang istimewa. Hubungan yang istimewa itu diperlihatkan pada penempatan sejumlah ha yang diberikan kepada para pejabat, bekerjasama dengan kesetiyaan desa Blitar kepada raja.

Dalam kekerabatan ini insiden apakah yang terjadi sehingga raja berkenan untuk memperlihatkan anugrah kepada penduduk desa Blitar.

Seperti diketahui Raja Jayanegara menjadi raja majapahit yang kedua, mengantikan ayahnya Kerjarajasa Jayawardhana yang meninggal pada tahun 1309 M. Tentang Pemerintahannya ini ada dua sumber yang memperlihatkan keterangan agak berbeda. Kedua sumber tadi yakni Negarakertagama, yang ditulis oleh Prapanca dan Pararaton yang tidak dicantumkan nama penulisnya. Secara singkat sekali Negarakertagama menceritakan wacana masa Pemerintahannya yang berlangsung antara tahun 1309-1328 Masehi.

Didalam Pupuh XLVII Prapanca melukiskan yang terjemahan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:
Beliau meninggalkan Jayanegara sebagai raja Wilatikta dan keturunan adiknya rajapadhi utama yang tiada bandingya, Dua puteri amat cantik, bagai Ratih kembar mengalahkan Bidadari yang sulung rani di Jiwana, sedangkan yang bungsu jadirani di Daha.

Tersebut pada Tahun Saka : Muti-guna-memaksa rupa bulan-madu, Baginda Jayanegara berangkat menyirnakan musuh ke Lumajang, Katanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan, Giris miris segenap jagad melihat kepiawaian Sri Baginda.

    Tahun Saka : bulatan memanah suryah ia pulang, Segera dimakamkan didalam pura, berlambang arca Wisnuparama. Di sela Petak dan Bubat tertegak area Wisnuparama. Di sela Petak dan Bubat tertegak area Wisnu-lambang-tara-inda. Di Sukalila arca Buda permai sebagai Amoga sidi-menjilma (Slamet Mulyana, 1953 : 42).

Dari puppuh tersebut diatas, maka sanggup diketahui bahwa sesama Pemerintahan Jayanegara menghancurkan pemberontakan Nambi. Semua pemberontakan itu sanggup di padamkan.

Suatu pemberontakan pecah lagi pada Tahun 1316 dan 1317 dibawah pimpinan Kuti dan Seni. Pemberontakan itu menimbulkan raja jayanegara menghindarkan diri ke Desa Bedander dengan pengawasan pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah mada. Berkat siasat Gajah Mada, Jayanegara berhasil naik tahta. Kuti dan Seni berhasil dibinasakan. (Pararaton : 80-83). Kedua pemberitaan ini memberi petunjuk bahwa sesama bawahan semasa Pemerintahan Jayanegara telah terjadi pemberontakan, tetapi berhasil dipadamkan. Kenyataan diatas menandakan bahwa Jayanegara menghadapi masa yang sulit pada tahun pertama Pemerintahannya. Kenyataan ini yang sanggup memperlihatkan keterangan , apa sebabnya jayanegara mengeluarkan prasastinya tersebut diatas. Tidak sanggup diragukan lagi, bahwa penetapan prasasti di Blitar ini merupakan perestiwa penting sesudah Jayanegara ini merupakan titik pelantikan berdirinya swastanca Blitar dalam naungan kekuasaan Majapahit dibawah Pemerintahan Jayanegara. Dan insiden yang penting itu, sesuai dengan unsur penanggalan dalam prasasti, terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana tahun Saka 1246, yang bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1324 M. Untuk masa-masa selanjutnya Blitar disebutkan dalam kitab Negarakertagama dalam hubungannya dengan perlawanan Raja Hayam Wuruk ke daerah-daerah Jawa Timur. Beberapa puluh tahun yang menciptakan hal pemerintah hal itu sepanjang menyangkut Blitar serta tempat-tempat lain di kawasan sekitarnya tertulis pupuh-pupuh.

Dari uraian tersebut sanggup disimpulkan, bahwa:

    Tampilan Wilayah yang kini menjadi kawasan Kabupaten Blitar, yang paling renta tercatat dalam prasasti Kinewu dipahatkan pada belakang arca Ganesa dari abab X. Prasasti itu memperlihatkan petunjuk bahwa wilayah Kabupaten Blitar, merupakan belahan dari kerajaan Balitung yang berpusat di Jawa Tengah.
    Ketika sentra Pemerintah pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar kala ke-X, sejarah kawasan Kabupaten Blitar sanggup diketahui menurut prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja dinasti Isana. Selama Pemerintahan raja-raja ini berlangsung diantarannya awal kala ke-X hingga dengan simpulan kala ke-XII, beberapa tempat yang kini termasuk Wilyah Kabupaten Blitar disebut dalam prasasti-prasasti Pandelegan I 1117, Panumbangan I 1120, Geneng I 1128, Talang 1136, Japun 1144, Pandelegan II 1159, Mleri 1169, Jaring 1181, Semanding 1182, Palah 1197, Subhasita 1198, Mleri I 1198 dan Tuliskriyo 1202.

    Ketika kerajaan Singasari berkembang ada beberapa prasasti yang bekerjasama dengan kawasan Kabupaten Blitar sekarang. Prasasti tersebut dikeluarkan pada masa Pemerintahan Raja Kartanegara (1268-1292) yang dikenal dengan prasasti Petung Ombo 1260 M. beberapa peningalan purbakala yang berasal dari zaman Singasari seperti: patung Ganesa dari Boro dan Candi Sawentar menandakan bahwa semasa Pemerintahan raja-raja Singasari, kawasan Kabupaten Blitar telah memegang peranan yang penting.

    Pada zaman majapahit kedudukan kawasan Kabupaten Blitar menjadi sangat penting. Hal itu terbukti dengan adanya candi Kotes yang didirikan pada masa Pemerintahan Pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Nararya Wijaya atau Kerta Rajasa Jayawardana (1294-1309). Candi makam raja itu terletak di desa Sumberjati dukuh Simping Kecamatan Suruhwadang.

    Saat yang sangat penting bagi pertumbuhan sejarah Kabupaten Blitar remaja ini terdapat pada masa Pemerintahan Raja Jayanegara (1309-1328). Salah satu prasastinya ditemukan di desa Blitar sekarang. Prasasti tersebut dikenal dengan prasasti Blitar I yang bertarikah “Swasti sakawarsatita 1246 Srawanamasa tithi pancadasi Suklapaksa wu para wara ….” atau 5 Agustus 1324 Masehi. Prasasti ini memuat ketika berdirinya Blitar sebagai kawasan Swatantra.

    Masa-masa pemerintahan Raja-raja Majapahit kemudian, nama Blitar berkali-kali disebutkan dalam kitab nagarakertagama yang ditulis moleh Pujangga : Prapanca. Naskah ini selesai ditulis bertepatan dengan 1 Oktober 1363 M. blitar dan tempat-tempat lain telah dikunjungi oleh raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada dalam rangka perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Wilayah Jawa Timur yang dimulai pada Tahun 1357 M.

    Beberapa peningalan yang berupa candi menandakan bahwa sepanjang kala XIV hingga simpulan kala XV kedudukan Blitar semakin penting. Hal ini terbukti dari adanya candi Penataran yang merupakan candi negara sebagian besar berasal dari masa Pemerintahan Jayanegara hingga Wikramawardhana (1389-1429). Peninggalan dari raja terakhir ini kini terdapat di lereng Gunung Kelud yang kini dikenal dengan nama Candi Gambar Wetan (1429M).

Maka menurut uraian diatas diambil keputusan bahwa HARI LAHIR KABUPATEN BLITAR ialah 5 AGUSTUS 1324


Sejarah Kabupaten dan Kota lainnya sanggup dibaca disini

Sunday, October 14, 2018

Cerita Rakyat Keong Mas Lengkap

Cerita Rakyat Keong Mas Lengkap. Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplah seorang cowok berjulukan Galoran. Ia termasuk orang yang disegani alasannya ialah kekayaan dan pangkat orangtuanya. Namun Galoran sangatlah malas dan boros. Sehari-hari kerjanya hanya menghambur-hamburkan harta orangtuanya, bahkan pada waktu orang tuanya meninggal dunia ia semakin sering berfoya-foya. Karena itu usang kelamaan habislah harta orangtuanya. Walaupun demikian tidak menciptakan Galoran sadar juga, bahkan waktu dihabiskannya dengan hanya bermalas-malasan dan berjalan-jalan. Iba warga kampung melihatnya. Namun setiap kali ada yang memperlihatkan pekerjaan kepadanya, Galoran hanya makan dan tidur saja tanpa mau melaksanakan pekerjaan tersebut. Namun kesannya galoran dipungut oleh seorang janda berkecukupan untuk dijadikan teman hidupnya. Hal ini menciptakan Galoran sangat senang ; “Pucuk dicinta ulam pun tiba”, demikian pikir Galoran.

Janda tersebut memiliki seorang anak wanita yang sangat rajin dan cerdik menenun, namanya Jambean. Begitu bagusnya tenunan Jambean hingga dikenal diseluruh dusun tersebut. Namun Galoran sangat membenci anak tirinya itu, alasannya ialah seringkali Jambean menegurnya alasannya ialah selalu bermalas-malasan.

Cerita Rakyat Keong Mas Lengkap

Rasa benci Galoran sedemikian dalamnya, hingga tega merencanakan pembunuhan anak tirinya sendiri. Dengan tajam ia berkata pada istrinya : ” Hai, Nyai, sungguh beraninya Jambean kepadaku. Beraninya ia menasehati orangtua! Patutkah itu ?” “Sabar, Kak. Jambean tidak bermaksud jelek terhadap kakak” bujuk istrinya itu. “Tahu saya mengapa ia berbuat agresif padaku, biar saya pergi meninggalkan rumah ini !” seru nya lagi sambil melototkan matanya. “Jangan begitu kak, Jambean hanya sekedar mengingatkan biar abang mau bekerja” demikian perjuangan sang istri meredakan amarahnya. “Ah .. omong kosong. Pendeknya kini engkau harus menentukan .. saya atau anakmu !” demikian Galoran mengancam.

Baca juga : 

Sedih hati ibu Jambean. Sang ibu menangis siang-malam alasannya ialah resah hatinya. Ratapnya : ” Sampai hati bapakmu menyiksaku jambean. Jambean anakku, mari kemari nak” serunya lirih. “Sebentar mak, tinggal sedikit tenunanku” jawab Jambean. “Nah selesai sudah” serunya lagi. Langsung Jambean mendapat ibunya yang tengah bersedih. “Mengapa emak bersedih saja” tanyanya dengan iba. Maka diceritakanlah planning bapak Jambean yang merencanakan akan membunuh Jambean. Dengan duka Jambean pun berkata : ” Sudahlah mak jangan bersedih, biarlah saya memenuhi impian bapak. Yang benar kesannya akan senang mak”. “Namun hanya satu pesanku mak, apabila saya sudah dibunuh ayah janganlah mayatku ditanam tapi buang saja ke bendungan” jawabnya lagi. Dengan sangat duka sang ibu pun mengangguk-angguk. Akhirnya Jambean pun dibunuh oleh ayah tirinya, dan sesuai undangan Jambean sang ibu membuang mayatnya di bendungan. Dengan asing batang badan dan kepala Jambean berubah menjadi udang dan siput, atau disebut juga dengan keong dalam bahasa Jawanya. Legenda Keong Mas LengkapCerita Keong Mas LengkapLegenda Keong MasCerita Rakyat Keong MasCerita Rakyat Keong Mas LengkapAsal Usul Keong MasAsal Usul Cerita Keong MasAwal Mula Legenda Keong MasKumpulan Cerita Rakyat LengkapKumpulan Cerita Legenda Lengkap

Tersebutlah di Desa Dadapan dua orang janda bersaudara berjulukan Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil. Kedua janda itu hidup dengan sangat gulung tikar dan bermata pencaharian mengumpulkan kayu dan daun talas. Suatu hari kedua bersaudara tersebut pergi ke erat bendungan untuk mencari daun talas. Sangat terpana mereka melihat udang dan siput yang berwarna kuning keemasan. “Alangkah indahnya udang dan siput ini” seru Mbok Rondo Sambega “Lihatlah betapa indahnya warna kulitnya, kuning keemasan. Ingin saya dapat memeliharanya” serunya lagi. “Yah sangat indah, kita bawa saja udang dan keong ini pulang” sahut Mbok Rondo Sembadil. Maka dipungutnya udang dan siput tersebut untuk dibawa pulang. 


Kemudian udang dan siput tersebut mereka taruh di dalam tempayan tanah liat di dapur. Sejak mereka memelihara udang dan siput emas tersebut kehidupan merekapun berubah. Terutama setiap sehabis pulang bekerja, didapur telah tersedia lauk pauk dan rumah menjadi sangat rapih dan bersih. Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembadil juga merasa keheranan dengan adanya hal tersebut. Sampai pada suatu hari mereka berencana untuk mencari tahu siapakah gerangan yang melaksanakan hal tersebut.

Suatu hari mereka ibarat biasanya pergi untuk mencari kayu dan daun talas, mereka berpura-pura pergi dan kemudian sesudah berjalan agak jauh mereka segera kembali menyelinap ke dapur. Dari dapur terdengar bunyi gemerisik, kedua bersaudara itu segera mengintip dan melihat seorang gadis anggun keluar dari tempayan tanah liat yang berisi udang dan Keong Emas peliharaan mereka. “tentu ia ialah jelmaan keong dan udang emas itu” bisik Mbok Rondo Sambega kepada Mbok Rondo Sembadil. “Ayo kita tangkap sebelum bermetamorfosis kembali menjadi udang dan Keong Emas” bisik Mbok Rondo Sembadil. 

Dengan perlahan-lahan mereka masuk ke dapur, kemudian ditangkapnya gadis yang sedang asik memasak itu. “Ayo ceritakan lekas nak, siapa gerangan kau itu” desak Mbok Rondo Sambega “Bidadarikah kau ?” sahutnya lagi. “bukan Mak, saya insan biasa yang alasannya ialah dibunuh dan dibuang oleh orang bau tanah saya, maka saya bermetamorfosis menjadi udang dan keong” sahut Jambean lirih. “terharu mendengar dongeng Jambean kedua bersaudara itu kesannya mengambil Keong Emas sebagai anak angkat mereka. Sejak itu Keong Emas membantu kedua bersaudara tersebut dengan menenun. Tenunannya sangat indah dan bagus sehingga terkenallah tenunan terebut keseluruh negeri, dan kedua janda bersaudara tersebut menjadi bertambah kaya dari hari kehari. Legenda Keong Mas LengkapCerita Keong Mas LengkapLegenda Keong MasCerita Rakyat Keong MasCerita Rakyat Keong Mas LengkapAsal Usul Keong MasAsal Usul Cerita Keong MasAwal Mula Legenda Keong MasKumpulan Cerita Rakyat LengkapKumpulan Cerita Legenda Lengkap

Sampailah tenunan tersebut di ibukota kerajaan. Sang raja muda sangat tertarik dengan tenunan buatan Jambean atau Keong Emas tersebut. Akhirnya raja tetapkan untuk meninjau sendiri pembuatan tenunan tersebut dan pergi meninggalkan kerajaan dengan menyamar sebagai saudagar kain. Akhirnya tahulah raja wacana Keong Emas tersebut, dan sangat tertarik oleh kecantikan dan kerajinan Keong Emas. Raja menitahkan kedua bersaudara tersebut untuk membawa Jambean atau Keong Emas untuk masuk ke kerajaan dan meminang si Keong Emas untuk dijadikan permaisurinya. Betapa senang hati kedua janda bersaudara tersebut.