Saturday, December 1, 2018

Sejarah Kabupaten Blitar Lengkap


Logo nyolong di Kuwarasanku.blogspot.com
Penentuan titi mangsa lahirnya Blitar sebagai sentra pemerintahan merupakan balasan atas duduk kasus hari pendirian Pemda yang kemudian menjadi Kabupaten Blitar. Dari membuatkan prasasti yang dipandang sebagai bukti autentik menyerupai terurai atas, tidak terdapat sebuahpun yang memuat nama Blitar sebagai nama tempat Pusat Pemerintahan. Suatu hal yang niscaya bahwa beberapa nama desa atau tempat yang disebutkan dalam prasasti-prasasti itu berada atau termasuk wilayah Kabupaten Blitar sekarang. Kenyataan itu menandakan bahwa (sebagian) kawasan Blitar semenjak sepuluh kala yang kemudian telah menjadi sentra kehidupan masyarakat yang penting. Berita agak niscaya mengenai pertumbuhan Blitar sebagai Pusat Pemerintahan mulai ada semenjak awal pemerintahan Raja-raja Majapahit. Sebagimana sanggup dibuktikan dalam sejarah Kerajaan Majapahit lahir sesudah Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Tartar Ku Bilai Khan pada Tahun 1293 M. (Pararaton : 33)

Majapahit sebagai negara gres berpusat di bersahabat Mojokerta. Di bawah pimpinan raden Wijaya sebagai Raja pertama, negara Majapahit tumbuh dengan pesat. Suatu hal yang menarik dalam kekerabatan sejarah kawasan Blitar dari masa itu ialah adanya peningalan bangunan suci yang terletak di Desa Kotes Kecamatan Gandusari.
Sejarah Kabupaten Blitar Jawa Timur Lengkap
Pada bangunan itu terdapat angka Tahun 1222 Saka dan 1223 Saka. Dengan demikian bangunan tersebut berasal dari tahun 1300 dan 1301 Masehi (Knebel : 1908 : hal. 355). Dengan perkataan lain, bangunan itu yakni sejaman dengan Pemerintah Raja Pertama Majapahit. Kenyataan di atas menandakan bahwa sejarah Blitar pada awal abab ke – XIV masih memperlihatkan wilayah yang penting. Apakah kekerabatan pendirian bagunan suci itu dengan sejarah kawasan ini ? Suatu petunjuk yang sanggup memperlihatkan keterangan wacana hal itu antara lain terdapat sejumlah Prasatti dari masa kala ke – XII Masehi di kawasan sepanjang lembah Gunung Kawi sebelah Barat. Ini memperlihatkan bahwa kawasan ini masih sanggup dibuktikan hingga kini dengan adannya beberapa perkebunan. Faktor alamiah yang menguntungkan ini menimbulkan adannya kehidupan masyarakat yang makmur. Kemakmuran itu mendorong pertumbuhan penduduk yang besar dalam waktu singkat. Walaupun tidak terdapat catatan wacana jumlah penduduk di kawasan belahan Timur ini, namun sanggup diperkirakan bahwa dengan adanya men-power maka kawasan ini menjadi penting. Tersedianya tenaga insan yang cukup besar, merupakan salah satu jaminan pergerakan pasukan secara gampang untuk suatu tujuan pertahanan maupun serangan.

Seperti halnya dalam prasati Tuhanyaru yang menyebutkan adanya anugrah tanah kepada sejumlah pejabat kerajaan berhubung yang bersangkutan telah berjasa kepada raja, maka prasasti Blitar pun memuat peryataan yang sama. Dapat diketahui bahwa kekerabatan antara raja Jayanegara dengan kawasan Blitar memiliki sifat yang istimewa. Hubungan yang istimewa itu diperlihatkan pada penempatan sejumlah ha yang diberikan kepada para pejabat, bekerjasama dengan kesetiyaan desa Blitar kepada raja.

Dalam kekerabatan ini insiden apakah yang terjadi sehingga raja berkenan untuk memperlihatkan anugrah kepada penduduk desa Blitar.

Seperti diketahui Raja Jayanegara menjadi raja majapahit yang kedua, mengantikan ayahnya Kerjarajasa Jayawardhana yang meninggal pada tahun 1309 M. Tentang Pemerintahannya ini ada dua sumber yang memperlihatkan keterangan agak berbeda. Kedua sumber tadi yakni Negarakertagama, yang ditulis oleh Prapanca dan Pararaton yang tidak dicantumkan nama penulisnya. Secara singkat sekali Negarakertagama menceritakan wacana masa Pemerintahannya yang berlangsung antara tahun 1309-1328 Masehi.

Didalam Pupuh XLVII Prapanca melukiskan yang terjemahan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:
Beliau meninggalkan Jayanegara sebagai raja Wilatikta dan keturunan adiknya rajapadhi utama yang tiada bandingya, Dua puteri amat cantik, bagai Ratih kembar mengalahkan Bidadari yang sulung rani di Jiwana, sedangkan yang bungsu jadirani di Daha.

Tersebut pada Tahun Saka : Muti-guna-memaksa rupa bulan-madu, Baginda Jayanegara berangkat menyirnakan musuh ke Lumajang, Katanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan, Giris miris segenap jagad melihat kepiawaian Sri Baginda.

    Tahun Saka : bulatan memanah suryah ia pulang, Segera dimakamkan didalam pura, berlambang arca Wisnuparama. Di sela Petak dan Bubat tertegak area Wisnuparama. Di sela Petak dan Bubat tertegak area Wisnu-lambang-tara-inda. Di Sukalila arca Buda permai sebagai Amoga sidi-menjilma (Slamet Mulyana, 1953 : 42).

Dari puppuh tersebut diatas, maka sanggup diketahui bahwa sesama Pemerintahan Jayanegara menghancurkan pemberontakan Nambi. Semua pemberontakan itu sanggup di padamkan.

Suatu pemberontakan pecah lagi pada Tahun 1316 dan 1317 dibawah pimpinan Kuti dan Seni. Pemberontakan itu menimbulkan raja jayanegara menghindarkan diri ke Desa Bedander dengan pengawasan pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah mada. Berkat siasat Gajah Mada, Jayanegara berhasil naik tahta. Kuti dan Seni berhasil dibinasakan. (Pararaton : 80-83). Kedua pemberitaan ini memberi petunjuk bahwa sesama bawahan semasa Pemerintahan Jayanegara telah terjadi pemberontakan, tetapi berhasil dipadamkan. Kenyataan diatas menandakan bahwa Jayanegara menghadapi masa yang sulit pada tahun pertama Pemerintahannya. Kenyataan ini yang sanggup memperlihatkan keterangan , apa sebabnya jayanegara mengeluarkan prasastinya tersebut diatas. Tidak sanggup diragukan lagi, bahwa penetapan prasasti di Blitar ini merupakan perestiwa penting sesudah Jayanegara ini merupakan titik pelantikan berdirinya swastanca Blitar dalam naungan kekuasaan Majapahit dibawah Pemerintahan Jayanegara. Dan insiden yang penting itu, sesuai dengan unsur penanggalan dalam prasasti, terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana tahun Saka 1246, yang bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1324 M. Untuk masa-masa selanjutnya Blitar disebutkan dalam kitab Negarakertagama dalam hubungannya dengan perlawanan Raja Hayam Wuruk ke daerah-daerah Jawa Timur. Beberapa puluh tahun yang menciptakan hal pemerintah hal itu sepanjang menyangkut Blitar serta tempat-tempat lain di kawasan sekitarnya tertulis pupuh-pupuh.

Dari uraian tersebut sanggup disimpulkan, bahwa:

    Tampilan Wilayah yang kini menjadi kawasan Kabupaten Blitar, yang paling renta tercatat dalam prasasti Kinewu dipahatkan pada belakang arca Ganesa dari abab X. Prasasti itu memperlihatkan petunjuk bahwa wilayah Kabupaten Blitar, merupakan belahan dari kerajaan Balitung yang berpusat di Jawa Tengah.
    Ketika sentra Pemerintah pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar kala ke-X, sejarah kawasan Kabupaten Blitar sanggup diketahui menurut prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja dinasti Isana. Selama Pemerintahan raja-raja ini berlangsung diantarannya awal kala ke-X hingga dengan simpulan kala ke-XII, beberapa tempat yang kini termasuk Wilyah Kabupaten Blitar disebut dalam prasasti-prasasti Pandelegan I 1117, Panumbangan I 1120, Geneng I 1128, Talang 1136, Japun 1144, Pandelegan II 1159, Mleri 1169, Jaring 1181, Semanding 1182, Palah 1197, Subhasita 1198, Mleri I 1198 dan Tuliskriyo 1202.

    Ketika kerajaan Singasari berkembang ada beberapa prasasti yang bekerjasama dengan kawasan Kabupaten Blitar sekarang. Prasasti tersebut dikeluarkan pada masa Pemerintahan Raja Kartanegara (1268-1292) yang dikenal dengan prasasti Petung Ombo 1260 M. beberapa peningalan purbakala yang berasal dari zaman Singasari seperti: patung Ganesa dari Boro dan Candi Sawentar menandakan bahwa semasa Pemerintahan raja-raja Singasari, kawasan Kabupaten Blitar telah memegang peranan yang penting.

    Pada zaman majapahit kedudukan kawasan Kabupaten Blitar menjadi sangat penting. Hal itu terbukti dengan adanya candi Kotes yang didirikan pada masa Pemerintahan Pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Nararya Wijaya atau Kerta Rajasa Jayawardana (1294-1309). Candi makam raja itu terletak di desa Sumberjati dukuh Simping Kecamatan Suruhwadang.

    Saat yang sangat penting bagi pertumbuhan sejarah Kabupaten Blitar remaja ini terdapat pada masa Pemerintahan Raja Jayanegara (1309-1328). Salah satu prasastinya ditemukan di desa Blitar sekarang. Prasasti tersebut dikenal dengan prasasti Blitar I yang bertarikah “Swasti sakawarsatita 1246 Srawanamasa tithi pancadasi Suklapaksa wu para wara ….” atau 5 Agustus 1324 Masehi. Prasasti ini memuat ketika berdirinya Blitar sebagai kawasan Swatantra.

    Masa-masa pemerintahan Raja-raja Majapahit kemudian, nama Blitar berkali-kali disebutkan dalam kitab nagarakertagama yang ditulis moleh Pujangga : Prapanca. Naskah ini selesai ditulis bertepatan dengan 1 Oktober 1363 M. blitar dan tempat-tempat lain telah dikunjungi oleh raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada dalam rangka perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Wilayah Jawa Timur yang dimulai pada Tahun 1357 M.

    Beberapa peningalan yang berupa candi menandakan bahwa sepanjang kala XIV hingga simpulan kala XV kedudukan Blitar semakin penting. Hal ini terbukti dari adanya candi Penataran yang merupakan candi negara sebagian besar berasal dari masa Pemerintahan Jayanegara hingga Wikramawardhana (1389-1429). Peninggalan dari raja terakhir ini kini terdapat di lereng Gunung Kelud yang kini dikenal dengan nama Candi Gambar Wetan (1429M).

Maka menurut uraian diatas diambil keputusan bahwa HARI LAHIR KABUPATEN BLITAR ialah 5 AGUSTUS 1324


Sejarah Kabupaten dan Kota lainnya sanggup dibaca disini

No comments:

Post a Comment