Sunday, December 2, 2018

Asal Permintaan Penyembelihan Binatang Kurban

Kisah ini sumbernya ialah Al Qur'an, Surat Ash-Shaffat ayat 104-107.
Dikisahkan bahwa sesudah Nabi Ibrahim as berpindah dari negeri kaumnya, ia memohon kepada Allah SWT supaya dikarunia seorang anak yang saleh.

Doa Nabi Ibrahim as dikabulkan Allah SWT. Tak usang kemudian istrinya, Hajar melahirkan seorang bayi mungil tampan rupawan yang diberi nama Ismail.
Ketika Ismail lahir, Nabi Ibrahim as berusia 86 tahun. Ismail inilah yang kemudian menggantikan tugas ayahnya untuk menyiarkan agama Allah.
Namun, Allah SWT tengah menguji kepasrahan dan kesabaran Nabi Ibrahim as.

Pada suatu malam, Nabi Ibrahim bermimpi supaya menyembelih anaknya, Ismail. Sebanyak tiga kali mimpi, namun perintahnya juga sama, menyembelih anak kesayangannya itu. Akhirnya Nabi Ibrahim yakin bahwa itu merupakan perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan.
"Jika benar ini ialah perintah Allah, maka saya akan pasrah dan sabar," yakinnya dalam hati.

Wahyu dari Allah SWT.
Selanjutnya Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya itu kepada Ismail yang kala itu masih kecil. Ia ingin mendengar pertimbangan anaknya atas perintah itu.
"Wahai anakku, bahwasanya saya melihat dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" tanya Nabi Ibrahim.

Di luar dugaaan, sang anak bisa berbicara dan mengamini perintah dalam mimpi ayahnya.
Ismail tidak merasa takut atau murka kepada ayah kandungnya alasannya ia yakin mimpi itu merupakan wahyu Allah SWT.
"Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar," kata Ismail.

Keputusan Ismail itu dipilih sendiri dan bukan alasannya paksaan seseorang. Kemudian Ismail tidak lupa meminta dukungan kepada Allah SWT supaya ia diberi kesabaran. Saat itu Ismail tidak mengandalkan kekuatan yang ada dalam dirinya, melainkan ia meminta kekuatan dari Allah SWT. Karena itu juga, Allah SWT mencatat nama Ismail sebagai golongan nabi-nabi yang sabar.

Nabi Ibrahim semakin mantap mengatakan kepasrahan dan kesabarannya menjadi hamba Allah SWT. Di satu sisi, ia bersyukur alasannya juga dikaruniai anak yang pasrah dan sabar.

Kemudian ayah dan anak itu pergi ke sebuah daerah yang tinggi. Di atas daerah itu Ismail membaringkan dan bersiap untuik disembelih oleh ayahnya. Namun, saat semuanya sudah siap, Allah SWT menurunkan wahyu.
Diganti Kambing Besar.
Karena membenarkan mimpi iotu, Allah SWT membalasnya dengan akhir yang setimpal. Allah SWT menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar.
Allah SWT berfirman,


وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Artinya:
"Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
Sesungguhnya kau telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."
(QS. Ash-Shaaffat: 104-107).

Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.
 Sesudah kasatmata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari raya haji.

Para ulama setuju bahwa yang dimaksud dengan sembelihan besar ialah kambing atau domba.

Nabi Ibrahim as berhasil meraih predikat Khalilullah (kekasihAllah) dikarenakan telah bisa mengorbankan sesuatu yang dicintainya berupa anak, demi mencapai kecintaan kepada Allah SWT.
Peristiwa inilah yang selalu kita peringati setiap tahun dengan tawaran menyembelih binatang kurban pada hari Idul Adha.

Saturday, December 1, 2018

Sejarah Kabupaten Blitar Lengkap


Logo nyolong di Kuwarasanku.blogspot.com
Penentuan titi mangsa lahirnya Blitar sebagai sentra pemerintahan merupakan balasan atas duduk kasus hari pendirian Pemda yang kemudian menjadi Kabupaten Blitar. Dari membuatkan prasasti yang dipandang sebagai bukti autentik menyerupai terurai atas, tidak terdapat sebuahpun yang memuat nama Blitar sebagai nama tempat Pusat Pemerintahan. Suatu hal yang niscaya bahwa beberapa nama desa atau tempat yang disebutkan dalam prasasti-prasasti itu berada atau termasuk wilayah Kabupaten Blitar sekarang. Kenyataan itu menandakan bahwa (sebagian) kawasan Blitar semenjak sepuluh kala yang kemudian telah menjadi sentra kehidupan masyarakat yang penting. Berita agak niscaya mengenai pertumbuhan Blitar sebagai Pusat Pemerintahan mulai ada semenjak awal pemerintahan Raja-raja Majapahit. Sebagimana sanggup dibuktikan dalam sejarah Kerajaan Majapahit lahir sesudah Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Tartar Ku Bilai Khan pada Tahun 1293 M. (Pararaton : 33)

Majapahit sebagai negara gres berpusat di bersahabat Mojokerta. Di bawah pimpinan raden Wijaya sebagai Raja pertama, negara Majapahit tumbuh dengan pesat. Suatu hal yang menarik dalam kekerabatan sejarah kawasan Blitar dari masa itu ialah adanya peningalan bangunan suci yang terletak di Desa Kotes Kecamatan Gandusari.
Sejarah Kabupaten Blitar Jawa Timur Lengkap
Pada bangunan itu terdapat angka Tahun 1222 Saka dan 1223 Saka. Dengan demikian bangunan tersebut berasal dari tahun 1300 dan 1301 Masehi (Knebel : 1908 : hal. 355). Dengan perkataan lain, bangunan itu yakni sejaman dengan Pemerintah Raja Pertama Majapahit. Kenyataan di atas menandakan bahwa sejarah Blitar pada awal abab ke – XIV masih memperlihatkan wilayah yang penting. Apakah kekerabatan pendirian bagunan suci itu dengan sejarah kawasan ini ? Suatu petunjuk yang sanggup memperlihatkan keterangan wacana hal itu antara lain terdapat sejumlah Prasatti dari masa kala ke – XII Masehi di kawasan sepanjang lembah Gunung Kawi sebelah Barat. Ini memperlihatkan bahwa kawasan ini masih sanggup dibuktikan hingga kini dengan adannya beberapa perkebunan. Faktor alamiah yang menguntungkan ini menimbulkan adannya kehidupan masyarakat yang makmur. Kemakmuran itu mendorong pertumbuhan penduduk yang besar dalam waktu singkat. Walaupun tidak terdapat catatan wacana jumlah penduduk di kawasan belahan Timur ini, namun sanggup diperkirakan bahwa dengan adanya men-power maka kawasan ini menjadi penting. Tersedianya tenaga insan yang cukup besar, merupakan salah satu jaminan pergerakan pasukan secara gampang untuk suatu tujuan pertahanan maupun serangan.

Seperti halnya dalam prasati Tuhanyaru yang menyebutkan adanya anugrah tanah kepada sejumlah pejabat kerajaan berhubung yang bersangkutan telah berjasa kepada raja, maka prasasti Blitar pun memuat peryataan yang sama. Dapat diketahui bahwa kekerabatan antara raja Jayanegara dengan kawasan Blitar memiliki sifat yang istimewa. Hubungan yang istimewa itu diperlihatkan pada penempatan sejumlah ha yang diberikan kepada para pejabat, bekerjasama dengan kesetiyaan desa Blitar kepada raja.

Dalam kekerabatan ini insiden apakah yang terjadi sehingga raja berkenan untuk memperlihatkan anugrah kepada penduduk desa Blitar.

Seperti diketahui Raja Jayanegara menjadi raja majapahit yang kedua, mengantikan ayahnya Kerjarajasa Jayawardhana yang meninggal pada tahun 1309 M. Tentang Pemerintahannya ini ada dua sumber yang memperlihatkan keterangan agak berbeda. Kedua sumber tadi yakni Negarakertagama, yang ditulis oleh Prapanca dan Pararaton yang tidak dicantumkan nama penulisnya. Secara singkat sekali Negarakertagama menceritakan wacana masa Pemerintahannya yang berlangsung antara tahun 1309-1328 Masehi.

Didalam Pupuh XLVII Prapanca melukiskan yang terjemahan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut:
Beliau meninggalkan Jayanegara sebagai raja Wilatikta dan keturunan adiknya rajapadhi utama yang tiada bandingya, Dua puteri amat cantik, bagai Ratih kembar mengalahkan Bidadari yang sulung rani di Jiwana, sedangkan yang bungsu jadirani di Daha.

Tersebut pada Tahun Saka : Muti-guna-memaksa rupa bulan-madu, Baginda Jayanegara berangkat menyirnakan musuh ke Lumajang, Katanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan, Giris miris segenap jagad melihat kepiawaian Sri Baginda.

    Tahun Saka : bulatan memanah suryah ia pulang, Segera dimakamkan didalam pura, berlambang arca Wisnuparama. Di sela Petak dan Bubat tertegak area Wisnuparama. Di sela Petak dan Bubat tertegak area Wisnu-lambang-tara-inda. Di Sukalila arca Buda permai sebagai Amoga sidi-menjilma (Slamet Mulyana, 1953 : 42).

Dari puppuh tersebut diatas, maka sanggup diketahui bahwa sesama Pemerintahan Jayanegara menghancurkan pemberontakan Nambi. Semua pemberontakan itu sanggup di padamkan.

Suatu pemberontakan pecah lagi pada Tahun 1316 dan 1317 dibawah pimpinan Kuti dan Seni. Pemberontakan itu menimbulkan raja jayanegara menghindarkan diri ke Desa Bedander dengan pengawasan pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah mada. Berkat siasat Gajah Mada, Jayanegara berhasil naik tahta. Kuti dan Seni berhasil dibinasakan. (Pararaton : 80-83). Kedua pemberitaan ini memberi petunjuk bahwa sesama bawahan semasa Pemerintahan Jayanegara telah terjadi pemberontakan, tetapi berhasil dipadamkan. Kenyataan diatas menandakan bahwa Jayanegara menghadapi masa yang sulit pada tahun pertama Pemerintahannya. Kenyataan ini yang sanggup memperlihatkan keterangan , apa sebabnya jayanegara mengeluarkan prasastinya tersebut diatas. Tidak sanggup diragukan lagi, bahwa penetapan prasasti di Blitar ini merupakan perestiwa penting sesudah Jayanegara ini merupakan titik pelantikan berdirinya swastanca Blitar dalam naungan kekuasaan Majapahit dibawah Pemerintahan Jayanegara. Dan insiden yang penting itu, sesuai dengan unsur penanggalan dalam prasasti, terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana tahun Saka 1246, yang bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1324 M. Untuk masa-masa selanjutnya Blitar disebutkan dalam kitab Negarakertagama dalam hubungannya dengan perlawanan Raja Hayam Wuruk ke daerah-daerah Jawa Timur. Beberapa puluh tahun yang menciptakan hal pemerintah hal itu sepanjang menyangkut Blitar serta tempat-tempat lain di kawasan sekitarnya tertulis pupuh-pupuh.

Dari uraian tersebut sanggup disimpulkan, bahwa:

    Tampilan Wilayah yang kini menjadi kawasan Kabupaten Blitar, yang paling renta tercatat dalam prasasti Kinewu dipahatkan pada belakang arca Ganesa dari abab X. Prasasti itu memperlihatkan petunjuk bahwa wilayah Kabupaten Blitar, merupakan belahan dari kerajaan Balitung yang berpusat di Jawa Tengah.
    Ketika sentra Pemerintah pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar kala ke-X, sejarah kawasan Kabupaten Blitar sanggup diketahui menurut prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja dinasti Isana. Selama Pemerintahan raja-raja ini berlangsung diantarannya awal kala ke-X hingga dengan simpulan kala ke-XII, beberapa tempat yang kini termasuk Wilyah Kabupaten Blitar disebut dalam prasasti-prasasti Pandelegan I 1117, Panumbangan I 1120, Geneng I 1128, Talang 1136, Japun 1144, Pandelegan II 1159, Mleri 1169, Jaring 1181, Semanding 1182, Palah 1197, Subhasita 1198, Mleri I 1198 dan Tuliskriyo 1202.

    Ketika kerajaan Singasari berkembang ada beberapa prasasti yang bekerjasama dengan kawasan Kabupaten Blitar sekarang. Prasasti tersebut dikeluarkan pada masa Pemerintahan Raja Kartanegara (1268-1292) yang dikenal dengan prasasti Petung Ombo 1260 M. beberapa peningalan purbakala yang berasal dari zaman Singasari seperti: patung Ganesa dari Boro dan Candi Sawentar menandakan bahwa semasa Pemerintahan raja-raja Singasari, kawasan Kabupaten Blitar telah memegang peranan yang penting.

    Pada zaman majapahit kedudukan kawasan Kabupaten Blitar menjadi sangat penting. Hal itu terbukti dengan adanya candi Kotes yang didirikan pada masa Pemerintahan Pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Nararya Wijaya atau Kerta Rajasa Jayawardana (1294-1309). Candi makam raja itu terletak di desa Sumberjati dukuh Simping Kecamatan Suruhwadang.

    Saat yang sangat penting bagi pertumbuhan sejarah Kabupaten Blitar remaja ini terdapat pada masa Pemerintahan Raja Jayanegara (1309-1328). Salah satu prasastinya ditemukan di desa Blitar sekarang. Prasasti tersebut dikenal dengan prasasti Blitar I yang bertarikah “Swasti sakawarsatita 1246 Srawanamasa tithi pancadasi Suklapaksa wu para wara ….” atau 5 Agustus 1324 Masehi. Prasasti ini memuat ketika berdirinya Blitar sebagai kawasan Swatantra.

    Masa-masa pemerintahan Raja-raja Majapahit kemudian, nama Blitar berkali-kali disebutkan dalam kitab nagarakertagama yang ditulis moleh Pujangga : Prapanca. Naskah ini selesai ditulis bertepatan dengan 1 Oktober 1363 M. blitar dan tempat-tempat lain telah dikunjungi oleh raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada dalam rangka perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Wilayah Jawa Timur yang dimulai pada Tahun 1357 M.

    Beberapa peningalan yang berupa candi menandakan bahwa sepanjang kala XIV hingga simpulan kala XV kedudukan Blitar semakin penting. Hal ini terbukti dari adanya candi Penataran yang merupakan candi negara sebagian besar berasal dari masa Pemerintahan Jayanegara hingga Wikramawardhana (1389-1429). Peninggalan dari raja terakhir ini kini terdapat di lereng Gunung Kelud yang kini dikenal dengan nama Candi Gambar Wetan (1429M).

Maka menurut uraian diatas diambil keputusan bahwa HARI LAHIR KABUPATEN BLITAR ialah 5 AGUSTUS 1324


Sejarah Kabupaten dan Kota lainnya sanggup dibaca disini

Friday, November 30, 2018

Sejarah Kabupaten Pacitan Lengkap


Gambar nyolong di 
www.kuwarasanku.blogspot.com
Menurut Babat Pacitan nama Pacitan berasal dari kata “ Pacitan ” yang berarti camilan, sedap-sedapan, tambul, yakni masakan kecil yang tidak hingga mengenyangkan. Hal ini disebabkan tempat Pacitan merupakan tempat minus, hingga untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya tidak hingga mengenyangkan atau tidak cukup.

Adapula yang beropini bahwa nama Pacitan berasal dari “Pace” mengkudu (bentis : Jaka) yang memberi kekuatan. Pendapat ini berasal dari legenda yang bersumber pada Perang Mengkubumen atau Perang Palihan Nagari (1746 – 1755) yakni tatkala Pangeran Mangkubumi dalam peperangannya itu hingga di tempat Pacitan. Dalam suatu pertempuran ia kalah terpaksa melarikan diri ke dalam hutan dengan badan lemah lesu. Berkat pemberian abdinya berjulukan Setraketipa yang menawarkan buah pace masak lalu menyebabkan kekuatan Mangkubumi pulih kembali. Akan tetapi nampaknya nama Pacitan yang menggambarkan kondisi tempat Pacitan yang minus itulah yang lebih kuat. Hal itu disebabkan pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613 – 1645) nama tersebut telah muncul dalam tebang Momana. (Informasi wacana Sejarah Pacitan ini masih belum lengkap dan masih akan dilengkapi).



Thursday, November 29, 2018

Sejarah Cowok Muhammadiyah Lengkap


 secara kronologis sanggup dikaitkan denga keberadaan Siswo Proyo Priyo  Sejarah Pemuda Muhammadiyah Lengkap
www.kuwarasanku.blogspot.com
Awal berdirinya Pemuda Muhammadiyah secara kronologis sanggup dikaitkan denga keberadaan Siswo Proyo Priyo (SPP), suatu gerakan yang semenjak awal diperlukan K.H. Ahmad Dahlan sanggup melaksanakan aktivitas pelatihan terhadap remaja/pemuda Islam. 

Dalam perkembangannya SPP mengalami kemajuan yang pesat, sampai pada Konggres Muhammadiyah ke-21 di Makasar pada tahun 1932 diputuskan berdirinya Muhammadiyah Bagian Pemuda, yang merupakan bab dari organisasi dalam Muhammadiyah yang secara khusus mengasuh dan mendidik para cowok keluarga Muhammadiyah

Keputusan Muhammadiyah tersebut menerima sambutan luar biasa dari kalangan cowok keluarga Muhammadiyah, sehingga dalam waktu relatif singkat Muhammadiyah Bagian Pemuda telah terbentuk di hampir semua ranting dan cabang Muhammadiyah. Dengan demikian pelatihan Pemuda Muhammadiyah menjadi tanggung jawab pimpinan Muhammadiyah di masing-masing level. Misalnya, di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggung jawab mengasuh, mendidik dan membimbing Pemuda Muhammadiyah diserahkan kepada Majelis Pemuda, ialah forum yang menjadi kepanjangan tangan dan pembantu Pimpinan Pusat yang memimpin gerakan pemuda.

Selanjutnya dengan persetujuan Majelis Tanwir, Muhammadiyah Bagian Pemuda dijadikan suatu ortom yang memiliki kewenangan mengurusi rumah tangga organisasinya sendiri. Akhirnya pada 26 Dzulhijjah 1350 H bertepatan dengan 2 Mei 1932 secara resmi Pemuda Muhammadiyah bangkit sebagai ortom.

sumber

Wednesday, November 28, 2018

Legenda Rawa Pening Lengkap

ASAL USUL RAWA PENING

Pada zaman dahulu di desa Ngasem hidup seorang gadis berjulukan Endang Sawitri. Penduduk desa tak seorang pun yang tahu bila Endang Sawitri punya seorang suami, namun ia hamil. Tak usang lalu ia melahirkan dan sangat mengejutkan penduduk alasannya yang dilahirkan bukan seorang bayi melainkan seekor Naga. Anehnya Naga itu bisa berbicara menyerupai halnya manusia. Naga itu diberi nama Baru Klinting.


Di usia dewasa Baru Klinting bertanya kepada ibunya. Bu, “Apakah saya ini juga memiliki Ayah?, siapa ayah sebenarnya”. Ibu menjawab, “Ayahmu seorang raja yang dikala ini sedang bertapa di gua lereng gunung Telomaya. Kamu sudah waktunya mencari dan menemui bapakmu. Saya ijinkan kau ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu. Dengan bahagia hati Baru Klinting berangkat ke pertapaan Ki Hajar Salokantara sang ayahnya.

Sampai di pertapaan Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat, di depan Ki Hajar dan bertanya, “Apakah benar ini daerah pertapaan Ki Hajar Salokantara?” Kemudian Ki Hajar menjawab, “Ya, benar”, saya Ki Hajar Salokantara. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting menyampaikan berarti Ki Hajar yaitu orang tuaku yang sudah usang saya cari-cari, saya anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini Klintingan yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar. Ya benar, dengan bukti Klintingan itu kata Ki Hajar. Namun saya perlu bukti satu lagi bila memang kau anakku coba kau melingkari gunung Telomoyo ini, bila bisa, kau benar-benar anakku. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui bila ia benar anaknya. Ki Hajar lalu memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan lereng gunung.

baca juga : Info Lengkap Service Komputer, Tutorial Service di Rumah, Belajar Autodidak Service Laptop

Suatu hari penduduk desa Pathok mau mengadakan pesta sedekah bumi sesudah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan banyak sekali macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu rakyat beramai-ramai mencari hewan, namun tidak mendapatkan seekor binatang pun. Akhirnya mereka menemukan seekor Naga besar yang bertapa pribadi dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta. Dalam program pesta itu datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan perilaku hirau dan sinis mereka mengusir anak itu dari pesta dengan paksa alasannya dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia bertemu dengan seorang nenek janda renta yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda renta itu memperlakukan anak menyerupai tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua, anak berpesan, Nek, “Kalau terdengar bunyi gemuruh nenek harus siapkan lesung, supaya selamat!”. Nenek menuruti saran anak itu.

Sesaat lalu anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak mendapatkan anak itu, bahkan ditendang supaya pergi dari daerah pesta itu. Dengan kemarahan hati anak itu mengadakan sayembara. Ia menancapkan lidi ke tanah, siapa penduduk desa ini yang bisa mencabutnya. Tak satu pun warga desa yang bisa mencabut lidi itu. Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi muncul mata air yang deras makin membesar dan menggenangi desa itu, penduduk semua tenggelam, kecuali Janda Tua yang masuk lesung dan sanggup selamat, semua desa menjadi rawa-rawa,

alasannya airnya sangat bening, maka disebutlah “Rawa Pening” yang berada di kabupaten Semarang, Jawa Tengah.




In ancient times in life Ngasem village girl named Endang Sawitri. Villagers nobody knows if Endang Sawitri had a husband, but she was pregnant. Shortly thereafter she gave birth and very startling residents as born not an infant, but a dragon. Strangely enough the dragon can talk beings like human. Dragon was named Baru Klinting.

When teenage Baru Klinting asked his mother. Mom, "Is this my father also had ?, who the real father". Mother replied, "Your father is a king who is currently imprisoned in a mountainside cave Telomaya. You have time to find and meet your father. I allow you to get there and take this as evidence of the klintingan your father. With Happily Baru Klinting went to the hermitage of Ki Hajar Salokantara father’s.


Until at the Hermitage Baru Klinting Entrance to the cave with respect, in front of Ki Hajar and asked, "Is this true Ki Hajar Salokantara hermitage?" Then Ki Hajar replied, "Yeah, right", I Ki Hajar Salokantara. With prayer before Ki Hajar, Baru Klinting say mean Ki Hajar was my parents who have long been looking for me, I'm a child of Endang Sawitri from Ngasem village and this is supposedly the mother Klintingan Ki Hajar heritage. Yes, with evidence that Klintingan Ki Hajar said. But I need one more proof that you are indeed my son encircling mountain Telomoyo you try this, if you can, you are really my son. It turns out Baru Klinting be circled and Ki Hajar admits that he was her son. Ki Hajar New Klinting then ordered to be imprisoned in a mountainside forest.

One day the villagers want to throw a party Pathok alms earth after the harvest is over. They will hold a wide variety of dance performances. To enliven the party rollicking folk looking animals, but did not get an animal. Finally they found a huge dragon that fasted immediately cut into pieces, the meat was brought home to the party. In the event that the party came a incarnation Baru Klinting child participate in the crowd and want to enjoy a meal. With indifference and cynical they expel the child from the party by force because they are disgusting and shameful beggars. With hurt the boy left the party. He met an elderly widow grandmother kind. Invited to stop by her house. The old widow treating children like honored guests and prepared dishes. At home old widow, told the child, Grandma, "If the sound of thunder grandmother must prepare the mortar, to be save!". Boy's grandmother's advice.

More information : How to know the healty of hardisk, prepare service canon ip 2770

A moment later the boy returned to the party to try to come and ask for the dish in a party held by the villagers. But people still do not accept the child, even kicked away from a party to it. With a child's heart that anger hold a contest. He plugged the stick into the ground, these villagers who can pull it out. None of the villagers were able to pull out the stick. Finally, the children themselves who drew it, apparently had appeared mesh embedded swift springs continues to expand and inundate the village, all the inhabitants drowned, except Widows Old incoming mortar and can be saved, all the villages into the swamp.

Because the water is very clear, then it is called "Swamp Dizziness" is located in Semarang district, Central Java.


Baca Cerita Legenda Lainnya disini

Tuesday, November 27, 2018

Biografi Imam Hambali Lengkap (Sejarah Imam Hambali)

Sejarah Imam Hambali, Profil Imam Hambali, Biografi Imam Hambali

Biografi Imam Hambali

Beliau yakni Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab ia bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim.
Ketika ia masih dalam kandungan, orang bau tanah ia pindah dari kota Marwa, daerah tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu ia dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat yang paling masyhur- tahun 164 H.
Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun, ketika ia gres berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani ‘Abbasiyah dan karenanya ikut mencicipi penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia dahulunya yakni seorang panglima.
Imam Ahmad tumbuh remaja sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah meninggalkan untuk mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang sangat murah. Dalam hal ini, keadaan ia sama dengan keadaan syaikhnya, Imam Syafi‘i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat yang tinggi. Keduanya juga mempunyai ibu yang bisa mengantar mereka kepada kemajuan dan kemuliaan.
Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah menjadi sentra peradaban dunia Islam, yang penuh dengan insan yang berbeda asalnya dan bermacam-macam kebudayaannya, serta penuh dengan bermacam-macam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, jago hadits, para sufi, jago bahasa, filosof, dan sebagainya.
Setamatnya menghafal Quran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab ketika berumur 14 tahun, ia melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh azzam yang tinggi dan tidak gampang goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi ia dorongan semangat. Tidak lupa dia mengingatkan ia semoga tetap memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam duduk masalah kesehatan. Tentang hal itu ia pernah bercerita, “Terkadang saya ingin segera pergi pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu segera mengambil pakaianku dan berkata, ‘Bersabarlah dulu. Tunggu hingga adzan berkumandang atau sehabis orang-orang selesai shalat subuh.’”
Perhatian ia ketika itu memang tengah tertuju kepada impian mengambil hadits dari para perawinya. Beliau menyampaikan bahwa orang pertama yang darinya ia mengambil hadits yakni al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah.
Imam Ahmad tertarik untuk menulis hadits pada tahun 179 ketika berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadits dari syaikh-syaikh hadits kota itu hingga tahun 186. Beliau melaksanakan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183. Disebutkan oleh putra ia bahwa ia mengambil hadits dari Hasyim sekitar tiga ratus ribu hadits lebih.
Pada tahun 186, ia mulai melaksanakan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah kemudian ke negeri Hijaz, Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang ia temui dan mengambil ilmu darinya selama perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di sana yakni Imam Syafi‘i. Beliau banyak mengambil hadits dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi‘i sendiri amat memuliakan diri ia dan terkadang menimbulkan ia tumpuan dalam mengenal keshahihan sebuah hadits. Ulama lain yang menjadi sumber ia mengambil ilmu yakni Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain. Beliau berkata, “Saya tidak sempat bertemu dengan Imam Malik, tetapi Allah menggantikannya untukku dengan Sufyan bin ‘Uyainah. Dan saya tidak sempat pula bertemu dengan Hammad bin Zaid, tetapi Allah menggantikannya dengan Ismail bin ‘Ulayyah.”
Demikianlah, ia amat menekuni pencatatan hadits, dan ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal lain sampai-sampai dalam hal berumah tangga. Beliau gres menikah sehabis berumur 40 tahun. Ada orang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdillah, Anda telah mencapai semua ini. Anda telah menjadi imam kaum muslimin.” Beliau menjawab, “Bersama mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah (kubur). Aku akan tetap menuntut ilmu hingga saya masuk liang kubur.” Dan memang senantiasa menyerupai itulah keadaan beliau: menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang memberi manfaat kepada kaum muslimin. Sementara itu, murid-murid ia berkumpul di sekitarnya, mengambil darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya. Ada banyak ulama yang pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra beliau, Abdullah dan Shalih, Abu Zur ‘ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan lain-lain.
Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar enam puluh tahun dan itu sudah dimulainya semenjak tahun tahun 180 ketika pertama kali ia mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab wacana tafsir, wacana an-nasikh dan al-mansukh, wacana tarikh, wacana yang muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, wacana jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-manasik ash-shagir dan al-kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-zindiqah(Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitab al-Wara ‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-SittahFadha’il ash-Shahabah.
Pujiandan Penghormatan Ulama Lain Kepadanya
Imam Syafi‘i pernah mengusulkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, pada hari-hari tamat hayat khalifah tersebut, semoga mengangkat Imam Ahmad menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya dan berkata kepada Imam Syafi‘i, “Saya tiba kepada Anda untuk mengambil ilmu dari Anda, tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qadhi untuk mereka.” Setelah itu pada tahun 195, Imam Syafi‘i mengusulkan hal yang sama kepada Khalifah al-Amin, tetapi lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.
Suatu hari, Imam Syafi‘i masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu wacana hadits dan perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah aku. Insya Allah, bila (perawinya) dari Kufah atau Syam, saya akan pergi mendatanginya bila memang shahih.” Ini memberikan kesempurnaan agama dan logika Imam Syafi‘i lantaran mau mengembalikan ilmu kepada ahlinya.
Imam Syafi‘i juga berkata, “Aku keluar (meninggalkan) Bagdad, sementara itu tidak saya tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.”
Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang menyerupai Ahmad bin Hanbal”. Orang-orang bertanya kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain?” Al-Warraq menjawab, “Dia seorang yang bila ditanya wacana 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, ‘Telah dikabarkan kepada kami,’ atau, “Telah disampaikan hadits kepada kami’.”Ahmad bin Syaiban berkata, “Aku tidak pernah melihat Yazid bin Harun memberi penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada Ahmad bin Hanbal. Dia akan mendudukkan ia di sisinya bila memberikan hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar dengannya”. Demikianlah, padahal menyerupai diketahui bahwa Harun bin Yazid yakni salah seorang guru ia dan populer sebagai salah seorang imam huffazh.

Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad termasuk di antaranya. Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan terang tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menimbulkan unsur-unsur aneh (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka. Khalifah al-Makmun menimbulkan orang-orang Persia sebagai kekuatan pendukungnya, sedangkan al-Mu‘tashim menentukan orang-orang Turki. Akibatnya, justru bertahap kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani, Rumania, Persia, dan India dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat banyak sekali bentuk bid‘ah merasuk menyebar ke dalam dogma dan ibadah kaum muslimin. Berbagai macam kelompok yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, menyerupai Qadhariyah, Jahmyah, Asy‘ariyah, Rafidhah, Mu‘tashilah, dan lain-lain.
Kelompok Mu‘tashilah, secara khusus, menerima sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, bisa menghipnotis al-Makmun untuk membenarkan dan berbagi pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan Alquran.
Sebenarnya Harun ar-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat wacana kemakhlukan Alquran. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, “Aku pernah mendengar Harun ar-Rasyid berkata, ‘Telah hingga gosip kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy menyampaikan bahwa Quran itu makhluk. Merupakan kewajibanku, bila Allah menguasakan orang itu kepadaku, pasti akan saya aturan bunuh dia dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun’”. Tatkala Khalifah ar-Rasyid wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu‘tazilah berusaha menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka bisa melakukannya.
Untuk memaksa kaum muslimin mendapatkan pendapat kemakhlukan Alquran, al-Makmun hingga mengadakan ujian kepada mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan pemerintah dan warganya baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi materi percakapan mereka, baik di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak dan selainnya. Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama wacana hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan Alquran, termasuk di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang hak, bahwa Quran itu kalamullah, bukan makhluk.
Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya semoga membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun alhasil digiring ke Thursus dalam keadaan terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum hingga ke Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di sana alasannya yakni sudah hingga kabar wacana kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.
Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia telah menerima wasiat dari al-Makmun semoga meneruskan pendapat kemakhlukan Quran dan menguji orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara kemudian dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Mereka mendebat ia wacana kemakhlukan Alquran, tetapi ia bisa membantahnya dengan bantahan yang tidak sanggup mereka bantah. Akhirnya ia dicambuk hingga tidak sadarkan diri kemudian dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam di sana selama sekitar 28 bulan –atau 30-an bulan berdasarkan yang lain-. Selama itu ia shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.
Selama itu pula, setiap harinya al-Mu‘tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi tanggapan ia tetap sama, tidak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu‘tashim kepada beliau. Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan kolam gunung yang menjulang dengan kokohnya.

Pada akhirnya, ia dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak bisa berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, ia kembali memberikan pelajaran-pelajarannya di masjid hingga al-Mu‘tashim wafat.
Selanjutnya, al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu‘tashim, al-Watsiq pun melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. dia pun masih menjalin kedekatan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Akibatnya, penduduk Bagdad mencicipi cobaan yang kian keras. Al-Watsiq melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri shalat jamaah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih lima tahun, yaitu hingga al-Watsiq meninggal tahun 232.
Sesudah al-Watsiq wafat, al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya, ujian wacana kemakhlukan Quran masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234, dia menghentikan ujian tersebut. Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pendapat wacana kemakhlukan Quran dan bahaya eksekusi mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para jago hadits untuk memberikan hadits-hadits wacana sifat-sifat Allah. Maka demikianlah, orang-orang pun bergembira pun dengan adanya pengumuman itu. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa untuknya dan namanya disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar bin Abdul Aziz.
Menjelang wafatnya, ia jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi‘ul Awwal tahun 241, ia menghadap kepada rabbnya menjemput kematian yang telah dientukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar mayat ia hingga beratusan ribu orang. Ada yang menyampaikan 700 ribu orang, ada pula yang menyampaikan 800 ribu orang, bahkan ada yang menyampaikan hingga satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya memberikan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada ketika itu demi memberikan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sehat, “Katakan kepada ahlu bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian yakni (tampak pada) hari kematian kami”.
Demikianlah citra ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Terlihat bagaimana perilaku agung ia yang tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas. Beliau bersikap menyerupai itu justru ketika sebagian ulama lain berpaling dari kebenaran. Dan dengan keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepadanya itu, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepada dirinya lantaran ia sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata menggambarkan keteguhan Imam Ahmad, “Allah telah mengokohkan agama ini lewat dua orang laki-laki, tidak ada yang ketiganya. Yaitu, Abu Bakar as-Shiddiq pada Yaumur Riddah (saat orang-orang banyak yang murtad pada awal-awal pemerintahannya), dan Ahmad bin Hanbal pada Yaumul Mihnah”.
Sejarah Imam Hambali, Profil Imam Hambali, Biografi Imam Hambali

Monday, November 26, 2018

Legenda Tangkuban Bahtera - History Of Tangkuban Perahu

Legenda Tangkuban Perahu

Pada suatu waktu di Jawa barat, Indonesia tinggal seorang raja yang bijaksana yang mempunyai seorang putri cantik. Namanya Dayang Sumbi. Dia suka menenun sangat banyak. Setelah beliau menenun kain ketika salah satu alat nya jatuh ke tanah. Dia sangat lelah pada ketika itu sehingga beliau terlalu malas untuk mengambilnya. Kemudian beliau hanya berteriak dengan keras.

"Siapa di sana? Ambilkan alat saya. Saya akan memperlihatkan kado istimewa. Jika Anda perempuan, saya akan menganggap Anda sebagai adikku. Jika Anda ialah laki-laki, saya akan menikahimu”

Tiba-tiba seekor anjing jantan, namanya ialah Tumang, datang. Dia membawakan alat jatuh. Dayang Sumbi sangat terkejut. Dia meratapi kata-katanya, tapi beliau tidak dapat menyangkalnya. Kaprikornus beliau harus menikahi Tumang dan meninggalkan ayahnya. Kemudian mereka tinggal di sebuah desa kecil. Beberapa bulan kemudian mereka mempunyai seorang putra. Namanya Sangkuriang. Dia ialah seorang anak pria tampan dan sehat.

Sangkuriang sangat suka berburu.  Dia sering pergi berburu ke hutan memakai panahnya. Ketika ia pergi berburu Tumang selalu bersamanya. Di masa kemudian ada banyak rusa di Jawa sehingga Sangkuriang sering diburu untuk rusa.

Suatu hari Dayang Sumbi ingin mempunyai hati rusa sehingga beliau meminta Sangkuriang untuk berburu rusa. Kemudian Sangkuriang pergi ke hutan dengan panah dan anjing yang setia Tumang. Tapi sehabis beberapa hari di hutan Sangkuriang tidak dapat menemukan rusa apapun. Mereka semua menghilang. Sangkuriang lelah dan putus asa. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya sehingga ia membunuh Tumang. Dia tidak tahu bahwa Tumang ialah ayahnya. Di rumah ia memberi hati Tumang untuk ibunya.

Namun Dayang Sumbi tahu bahwa itu ialah hati Tumang itu. Dia sangat murka bahwa beliau tidak dapat mengendalikan emosinya. Dia memukul Sangkuriang di kepalanya. Sangkuriang terluka. Ada bekas luka di kepalanya. Dia juga ditolak anaknya. Sangkuriang meninggalkan ibunya dalam kesedihan.

Bertahun-tahun berlalu dan Sangkuriang menjadi seorang perjaka yang kuat. Dia berjalan di mana-mana. Suatu hari ia tiba di desanya sendiri, tapi beliau tidak menyadari hal itu. Di sana ia bertemu Dayang Sumbi. Pada ketika Dayang Sumbi diberi keindahan abadi oleh Allah sehingga beliau tetap muda selamanya. Keduanya tidak saling mengenal. Kaprikornus mereka jatuh cinta dan kemudian mereka memutuskan untuk menikah.

Tapi kemudian diakui Dayang Sumbi mengetahui bekas luka di kepala Sangkuriang. Dia tahu bahwa Sangkuriang ialah putranya. Itu mustahil bagi mereka untuk menikah. Dia menyampaikan beliau tapi beliau tidak percaya padanya. Dia berharap bahwa mereka segera menikah. Kaprikornus Dayang Sumbi memperlihatkan kondisi yang sangat sulit. Dia ingin Sangkuriang untuk membangun sebuah danau dan bahtera dalam satu malam! Dia bilang beliau membutuhkan itu untuk bulan madu.

Sangkuriang setuju. Dengan sumbangan jin dan roh Sangkuriang mencoba untuk membangun danau. Pada tengah malam ia final dengan membangun bendungan di sungai Citarum. Lalu ia mulai menciptakan perahu. Itu hampir fajar ketika ia hampir selesai. Sementara itu Dayang Sumbi terus mengawasi. Dia sangat khawatir ketika beliau tahu ini. Kaprikornus beliau menciptakan lampu di timur. Kemudian roh berpikir bahwa itu sudah fajar. Sudah waktunya bagi mereka untuk pergi. Mereka meninggalkan Sangkuriang sendiri. Tanpa sumbangan mereka beliau tidak dapat menuntaskan perahu.

Sangkuriang sangat marah. Dia menendang perahu. Kemudian kapal terbalik dan menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Ini berarti bahtera terbalik. Dari jauh terlihat menyerupai bahtera terbalik.

--- 0o0 ---


History of Tangkuban Perahu

Once upon a time in west Java, Indonesia lived a wise king who had a beautiful daughter.   Her name was Dayang Sumbi.  She liked weaving very much.  Once she was weaving a cloth when one of her tool fell to the ground.  She was very tired at the time so she was too lazy to take it.  Then she just shouted outloud.

‘Anybody there?  Bring me my tool.  I will give you special present.  If you are female,  I will consider you as my sister.  If you are male, I will marry you

Suddenly a male dog, its name was Tumang, came.  He brought her the falling tool.  Dayang Sumbi was very surprised.  She regretted her words but she could not deny it.  So she had to marry Tumang and leave her father.  Then they lived in a small village.  Several months later they had a son.  His name was Sangkuriang.  He was a handsome and healthy boy.

Sangkuriang liked hunting very much.  He often went hunting to the wood using his arrow.  When he went hunting Tumang always with him.  In the past there were many deer in Java so Sangkuriang often hunted for deer.

One day  Dayang Sumbi wanted to have deer’s heart so she asked Sangkuriang to hunt for a deer.   Then Sangkuriang went to the wood with his arrow and his faithful dog Tumang.  But after several days in the wood Sangkuriang could not find any deer.  They were all disappeared.  Sangkuriang was exhausted and desperate.  He did not want to disappoint her mother so he killed Tumang.  He did not know that Tumang was his father.  At home he gave Tumang’s heart to her mother.

But Dayang Sumbi knew that it was Tumang’s heart.  She was so angry that she could not control her emotion.  She hit Sangkuriang at his head.  Sangkuriang was wounded.  There was  a scar in his head.    She also repelled her son.   Sangkuriang left her mother in sadness.

Many years passed and Sangkuriang became a strong young man.  He wandered  everywhere.     One day he arrived at his own village but he did not realized it.  There he met Dayang Sumbi.  At the time Dayang Sumbi was given an eternal beauty by God so she stayed young forever.  Both of them did not know each other.  So they fell in love and then they decided to marry.

But then Dayang Sumbi recognized a scar on his Sangkuriang’s head.  She knew that Sangkuriang was his son.  It was impossible for them to marry.  She told him but he did not believe her.  He wished that they marry soon.  So Dayang Sumbi gave a very difficult condition.  She wanted Sangkuriang to build a lake and a boat in one night!  She said she needed that for honeymoon.

Sangkuriang agreed.  With the help of genie and spirits Sangkuriang tried to build them.  By midnight he had finished  the lake by building a dam in Citarum river.  Then he started building the boat.  It was almost dawn when he nearly finished it.  Meanwhile Dayang Sumbi kept watching on them.  She was very worried when she knew this.  So she made lights in the east.  Then the spirits thought that it was already dawn.  It was time for them to leave.  They left Sangkuriang alone.  Without their help he could not finish the boat.

Sangkuriang was very angry.  He kicked the boat.  Then the boat turned out to be Mount Tangkuban Perahu.  It means boat upside down.  From a distant it looks like a boat upside down.


Sejarah Kabupaten, Sejarah Kerajaan, Ilmu Pengetahuan, Misteri BACA DISINI