Wednesday, November 28, 2018

Legenda Rawa Pening Lengkap

ASAL USUL RAWA PENING

Pada zaman dahulu di desa Ngasem hidup seorang gadis berjulukan Endang Sawitri. Penduduk desa tak seorang pun yang tahu bila Endang Sawitri punya seorang suami, namun ia hamil. Tak usang lalu ia melahirkan dan sangat mengejutkan penduduk alasannya yang dilahirkan bukan seorang bayi melainkan seekor Naga. Anehnya Naga itu bisa berbicara menyerupai halnya manusia. Naga itu diberi nama Baru Klinting.


Di usia dewasa Baru Klinting bertanya kepada ibunya. Bu, “Apakah saya ini juga memiliki Ayah?, siapa ayah sebenarnya”. Ibu menjawab, “Ayahmu seorang raja yang dikala ini sedang bertapa di gua lereng gunung Telomaya. Kamu sudah waktunya mencari dan menemui bapakmu. Saya ijinkan kau ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu. Dengan bahagia hati Baru Klinting berangkat ke pertapaan Ki Hajar Salokantara sang ayahnya.

Sampai di pertapaan Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat, di depan Ki Hajar dan bertanya, “Apakah benar ini daerah pertapaan Ki Hajar Salokantara?” Kemudian Ki Hajar menjawab, “Ya, benar”, saya Ki Hajar Salokantara. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting menyampaikan berarti Ki Hajar yaitu orang tuaku yang sudah usang saya cari-cari, saya anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini Klintingan yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar. Ya benar, dengan bukti Klintingan itu kata Ki Hajar. Namun saya perlu bukti satu lagi bila memang kau anakku coba kau melingkari gunung Telomoyo ini, bila bisa, kau benar-benar anakku. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui bila ia benar anaknya. Ki Hajar lalu memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan lereng gunung.

baca juga : Info Lengkap Service Komputer, Tutorial Service di Rumah, Belajar Autodidak Service Laptop

Suatu hari penduduk desa Pathok mau mengadakan pesta sedekah bumi sesudah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan banyak sekali macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu rakyat beramai-ramai mencari hewan, namun tidak mendapatkan seekor binatang pun. Akhirnya mereka menemukan seekor Naga besar yang bertapa pribadi dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta. Dalam program pesta itu datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan perilaku hirau dan sinis mereka mengusir anak itu dari pesta dengan paksa alasannya dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia bertemu dengan seorang nenek janda renta yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda renta itu memperlakukan anak menyerupai tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua, anak berpesan, Nek, “Kalau terdengar bunyi gemuruh nenek harus siapkan lesung, supaya selamat!”. Nenek menuruti saran anak itu.

Sesaat lalu anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak mendapatkan anak itu, bahkan ditendang supaya pergi dari daerah pesta itu. Dengan kemarahan hati anak itu mengadakan sayembara. Ia menancapkan lidi ke tanah, siapa penduduk desa ini yang bisa mencabutnya. Tak satu pun warga desa yang bisa mencabut lidi itu. Akhirnya anak itu sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi muncul mata air yang deras makin membesar dan menggenangi desa itu, penduduk semua tenggelam, kecuali Janda Tua yang masuk lesung dan sanggup selamat, semua desa menjadi rawa-rawa,

alasannya airnya sangat bening, maka disebutlah “Rawa Pening” yang berada di kabupaten Semarang, Jawa Tengah.




In ancient times in life Ngasem village girl named Endang Sawitri. Villagers nobody knows if Endang Sawitri had a husband, but she was pregnant. Shortly thereafter she gave birth and very startling residents as born not an infant, but a dragon. Strangely enough the dragon can talk beings like human. Dragon was named Baru Klinting.

When teenage Baru Klinting asked his mother. Mom, "Is this my father also had ?, who the real father". Mother replied, "Your father is a king who is currently imprisoned in a mountainside cave Telomaya. You have time to find and meet your father. I allow you to get there and take this as evidence of the klintingan your father. With Happily Baru Klinting went to the hermitage of Ki Hajar Salokantara father’s.


Until at the Hermitage Baru Klinting Entrance to the cave with respect, in front of Ki Hajar and asked, "Is this true Ki Hajar Salokantara hermitage?" Then Ki Hajar replied, "Yeah, right", I Ki Hajar Salokantara. With prayer before Ki Hajar, Baru Klinting say mean Ki Hajar was my parents who have long been looking for me, I'm a child of Endang Sawitri from Ngasem village and this is supposedly the mother Klintingan Ki Hajar heritage. Yes, with evidence that Klintingan Ki Hajar said. But I need one more proof that you are indeed my son encircling mountain Telomoyo you try this, if you can, you are really my son. It turns out Baru Klinting be circled and Ki Hajar admits that he was her son. Ki Hajar New Klinting then ordered to be imprisoned in a mountainside forest.

One day the villagers want to throw a party Pathok alms earth after the harvest is over. They will hold a wide variety of dance performances. To enliven the party rollicking folk looking animals, but did not get an animal. Finally they found a huge dragon that fasted immediately cut into pieces, the meat was brought home to the party. In the event that the party came a incarnation Baru Klinting child participate in the crowd and want to enjoy a meal. With indifference and cynical they expel the child from the party by force because they are disgusting and shameful beggars. With hurt the boy left the party. He met an elderly widow grandmother kind. Invited to stop by her house. The old widow treating children like honored guests and prepared dishes. At home old widow, told the child, Grandma, "If the sound of thunder grandmother must prepare the mortar, to be save!". Boy's grandmother's advice.

More information : How to know the healty of hardisk, prepare service canon ip 2770

A moment later the boy returned to the party to try to come and ask for the dish in a party held by the villagers. But people still do not accept the child, even kicked away from a party to it. With a child's heart that anger hold a contest. He plugged the stick into the ground, these villagers who can pull it out. None of the villagers were able to pull out the stick. Finally, the children themselves who drew it, apparently had appeared mesh embedded swift springs continues to expand and inundate the village, all the inhabitants drowned, except Widows Old incoming mortar and can be saved, all the villages into the swamp.

Because the water is very clear, then it is called "Swamp Dizziness" is located in Semarang district, Central Java.


Baca Cerita Legenda Lainnya disini

No comments:

Post a Comment