Friday, November 2, 2018

Legenda Jaka Tarub Lengkap

Legenda Jaka Tarub ialah salah satu dongeng rakyat yang diabadikan dalam naskah terkenal Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi.

Alur dongeng Legenda Jaka Tarub Lengkap

Legenda Jaka Tarub mempunyai banyak versi, namun versi yang "standar", sebagaimana tertera pada Babad Tanah Jawi, mempunyai alur sebagai berikut.

Jaka Tarub ialah seorang cowok gagah yang mempunyai kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di daerah gunung keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja, ia melihat dan kemudian mengamati tujuh bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat, Jaka Tarub mengambil selendang yang tengah disampirkan milik salah seorang bidadari. Ketika para bidadari selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari, alasannya ialah tidak menemukan selendangnya, tidak bisa kembali dan jadinya ditinggal pergi oleh kawan-kawannya alasannya ialah hari sudah beranjak senja. Jaka Tarub kemudian muncul dan berpura-pura menolong. Bidadari yang berjulukan Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub alasannya ialah hari sudah senja.

Baca Juga : Legenda Timun Emas, Misteri di Gunung Srandil Cilacap, Misteri Gunung Slamet

Legenda Jaka Tarub Lengkap

Singkat cerita, keduanya kemudian menikah. Dari kesepakatan nikah ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub biar tidak sekali-kali menanyakan diam-diam kebiasaan dirinya kelak sesudah menjadi isteri. Rahasia tersebut ialah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi memakai hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang ingin tau tidak menanyakan tetapi pribadi membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi menyerupai umumnya perempuan biasa.

Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung.

Nawangwulan yang murka mengetahui jikalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut mengancam meninggalkan Jaka Tarub. Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya saja, pada waktu-waktu tertentu ia rela tiba ke marcapada untuk menyusui bayi Nawangsih.

Pernikahan Nawangsih

Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan akrab dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.

Utusan Brawijaya yang memberikan keris tersebut berjulukan Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui jikalau Bondan Kejawan bahwasanya putra kandung Brawijaya. Maka, cowok itu pun diminta biar tinggal bersama di desa Tarub.

Sejak ketika itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.

Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang sesudah cukup umur berjulukan Ki Getas Pandawa.

Ki Ageng Getas Pandawa kemudian mempunyai putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Kisah ini berputar pada kehidupan tokoh utama yang berjulukan Jaka Tarub ("pemuda dari Tarub"). Setelah cukup umur ia digelari Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub ialah tokoh yang dianggap sebagai leluhur dinasti Mataram, dinasti yang menguasai politik tanah Jawa - sebagian atau seluruhnya - semenjak masa ke-17 sampai sekarang. Menurut sumber masyarakat di desa Widodaren, Gerih, Ngawi, kejadian ini terjadi di desa tersebut. Sebagai bukti masyarakat setempat percaya alasannya ialah terdapat petilasan makam Jaka Tarub di desa tersebut. Rata-rata masyarakat setempat yang sudah lanjut usia tahu jalan dongeng Jaka Tarub dengan 7 bidadari. Nama desa Widodaren itu dipercayai masyarakat setempat berasal dari kata widodari yang berarti dalam bahasa Indonesia ialah bidadari. Di desa ini juga terdapat sendang yang konon dulu ialah tempat para bidadari mandi dan Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari.

Analisis Kisah Jaka Tarub

Artikel Sejarah Lainnya :
Sejarah Danau Toba
Legenda Putri Duyung Lengkap
Sejarah Ratu Laut Selatan Lengkap

Babad Tanah Jawi ialah naskah sejarah Kesultanan Mataram. Pemberitaan wacana Panembahan Senapati dan para penggantinya memang mendekati fakta sejarah. Akan tetapi kisah-kisah sebelum Panembahan Senapati cenderung bersifat khayal, terutama seputar Kerajaan Majapahit.

Ada yang berpendapat, Kesultanan Mataram didirikan oleh keluarga petani, bukan keluarga bangsawan. Oleh alasannya ialah itu, demi menerima legitimasi dan pengukuhan dari rakyat Jawa, diciptakanlah tokoh-tokoh mitos yang serba istimewa sebagai leluhur raja-raja Mataram.

Dalam hal ini, tokoh Nawangsih yang dinikahi Bondan Kejawan disebut sebagai perempuan istimewa. Nawangsih merupakan anak adonan antara insan dan bidadari. Kisah ini mengingatkan pada tokoh Ken Arok dalam Pararaton. Pihak Majapahit juga ingin menawarkan bahwa leluhur mereka, yaitu Ken Arok ialah insan istimewa setengah dewa.

Sumber : wikipedia.org

No comments:

Post a Comment