AL MASIH : KESAKSIANNYA MENURUT SEJARAH
SIFAT DAN KEKUASAANNYA
Isa Al Masih, Kelahiran seorang Perawan
Isa Al Masih, Orang yang Tidak Berdosa
Isa Al Masih, yang Diberkati
Sebagai Manusia yang Memberi Petunjuk yang Jelas
Kemampuannya Mengetahui yang Ghaib
Kemampuannya Melakukan Mujizat
Kemampuannya untuk Mencipta
Kemampuannya untuk Menghidupkan yang Mati
PENGAKUAN ALLAH ADALAH LEBIH AGUNG
Para Nabi Menulis perihal Dia
Al Masih Disujud ketika masih dalam Kandungan
Al Masih Diberi Wahyu yang Sempurna
Al Masih Diperkuat oleh Roh Suci
Al Masih Berkedudukan bersahabat dengan Allah
Al Masih Diangkat bersahabat ke Sisi Allah
Al Masih Sebagai Pengetahuan Hari Kiamat
Al Masih, Orang yang Terpilih oleh Allah dalam Pertempuran Terakhir
Al Masih yang Maha Tinggi Selamanya
SIFAT DAN KEKUASAANNYA
Dalam Bahagian Pertama kita telah menggambarkan Isa Al Masih yang akan muncul di masa mendatang. Dalam Bahagian ini kita akan menggambarkan Isa Al Masih yang tampil sebagai tokoh historis. Kita lihat pengungkapan tabiat Isa Al Masih dari Al-Qur’an, berdasarkan ulasan para akhli kitab dan karya tulis kaum Sufi/Akhli Tasawuf.
Isa Al Masih, Kelahiran Seorang Perawan
Al-Qur’an dengan terang menyampaikan bahwa Isa dilahirkan dari seorang perawan. Kejadiannya digambarkan sebagai berikut:
Dan ingat pulalah ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam! Sesungguhnya Allah memberikan isu gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih, Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang bersahabat kepada Allah ...
Kata Maryam: “Wahai Tuhanku! Bagaimana saya sanggup memperoleh anak, padahal saya belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun?” Allah berfirman dengan perantaraan Malaikat Jibril: “Begitulah. Allah membuat apa yang Dia kehendaki. Bila Dia menghendaki sesuatu, hanya tinggal, mengucapkan saja “Kun” kemudian jadilah ia.’
Dari ayat tersebut kita bisa melihat bahwa Maryam belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun dan kelahiran Isa Al Masih kasatmata sebagai suatu keputusan Allah. Keunikan Isa Al Masih masuk ke dalam sejarah bukan semata-mata suatu insiden alam, tetapi merupakan suatu mujizat yang disengaja mempunyai satu maksud, di mana Al-Qur’an menyatakan:
Allah mengetahui isi kandungan setiap perempuan, baik kandungan yang kurang, maupun yang berlebih. Segala-galanya di sisi Allah serba berukuran.
Pengetahuan Allah atas hal tersebut dan maksudnya secara rinci atas ciptaanNya lebih jauh ditekankan dalam penyataan berikut:
Kami tidak mengakibatkan ruang angkasa yang amat luas dan persada bumi yang terhampar ini, begitu juga apa-apa yang berada di antara keduanya, secara main-main.
Allah tidak melaksanakan hal-hal yang sia-sia, tetapi segala-galanya diciptakan atas kebijakan-Nya yang Maha Agung dan 5memiliki maksud tertentu. Kaprikornus sementara Allah memutuskan bahwa setiap insan ditakdirkan lahir akhir bersatunya pria dan perempuan, Ia juga memutuskan Isa lahir dari Maryam yang tidak disentuh oleh laki-laki. Hal ini diterima tanpa suatu perdebatan oleh para ilmuwan Muslim. Keunikan dari ratifikasi tersebut diungkapkan oleh Shabestari dalam penyataannya sebagai berikut:
Jelas tidak ada orang yang dilahirkan tanpa bapa, hanya seorang saja yakni Isa yang hidup atau hadir di dunia ini.
Isa Al Masih, Orang yang Tidak Berdosa
Salah satu sifat yang unik dari Isa Al Masih yakni ia tidak berdosa, sementara insan lainnya bahkan nabi-nabi sekalipun, di suatu ketika sadar atau tidak sadar pernah bersalah dalam pikiran atau perbuatannya. Hanya Isa Al Masihlah yang tetap suci.
Di dalam Al-Qur’an banyak bukti-bukti yang memperlihatkan Adam, Musa dan Muhammad semuanya pernah berdosa. Ibrahim sendiri menemukan dirinya perlu bertaubat, meskipun hubungannya dengan Allah bersahabat dan Al-Qur’an sendiri mengungkapkannya dalam suatu soal jawab dengan Allah suatu waktu, ayat itu berbunyi ibarat berikut:
Setelah Ibrahim merasa rasa takutnya hilang bahkan mendapat isu gembira, mulailah beliau berbincang-bincang dengan Kami perihal kaum Luth
Meskipun Ibrahim sangat bersahabat dengan Allah, ia masih mengungkapkan perlunya meminta pengampunan kehadirat Allah:
“Yang membuat aku, dan Dia-lah yang menunjuki aku. Dan yang memberi makan dan minum-ku. Jika saya sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku. Dia yang mematikanku, kemudian Dia pula yang menghidupkanku kembali di akhirat. Dia-lah yang sangat kuharapkan sudi mengampuni kesalahanku pada Hari Pembalasan”.
Musa yang dikasihi Allah di mana Dia pribadi berbicara dengannya, juga menemukan beliau perlu meminta pengampunan setelah ia menyerang dan membunuh seorang warga Mesir, dan mengatakan:
Musa berdoa: “Ya Tuhanku! Bahwasanya saya telah berlaku aniaya terhadap diriku sendiri, alasannya yakni itu ampunilah aku”. Lalu Allah mengampuninya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Penyayang. [8]
Begitupun Daud meminta pengampunan Tuhannya sambil menjatuhkan dirinya ke tanah, bersujud dan meminta ampunan. [9]
Jadi ketiga Nabi tersebut: Ibrahim, Musa dan Daud menyadari perlunya pengampunan dari Allah.
Nabi Muhammad juga menemukan dosa-dosanya, sebelum ia diangkat sebagai nabi, di mana ia merasa berat
menanggungnya. Hal ini dibenarkan dalam Al-Qur’an:
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? Dan Kami telah menurunkan bebanmu yang telah memberati punggungmu?”
Beban yang dipikul Nabi Muhammad di punggungnya bukan berupa beban fizikal, tetapi beban rohaniah . Kata (Wezr) yang diterjemahkan sebagai “beban” dalam ayat tersebut di atas merupakan kata khusus yang bererti dosa dalam bahasa Al-Qur’an. Contoh dalam Al-Qur’an 16:25 yang menyatakan: “Kami takdirkan mereka berucap demikian, supaya mereka memikul dosanya (awzar, jamak kepada wezr) sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, berikut dengan seBahagian dosa dari orang-orang yang mereka sesatkan alasannya yakni tidak mengetahui. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul.” (Lihat juga pada Al-Qur’an 6:31, 6:164, 17:15, 20:100, 35:18).
Sementara Al-Qur’an menyatakan dosa-dosa yang terdahulu dalam fakta kehidupan Nabi Muhammad, dikatakan juga perihal dosa-dosa “kemudian”:
Supaya Allah mengampuni dosamu yang telah kemudian dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan memimpinmu ke jalan yang lurus.
Ini juga disahkan oleh Hadis yang menyampaikan Nabi Muhammad dahulu terbiasa ‘memohon pengampunan dan menghadap Allah bertaubat lebih dari tujuh puluh kali sehari’ Bukhari mencatat doa Muhammad meminta pengampunan sebagai berikut:
Ya, Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku dan kelalaianku yang melampaui batas kebenaran dalam perbuatan-perbuatanku; dan ampunilah apa saja yang Engkau paling ketahui daripadaku sendiri. Ya Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, yang tidak disadari sebagai olok-olok atau yang lebih berat, dan semua yang ada dalam diriku
Memang benar ia terus meminta pengampunan hingga nafasnya yang penghabisan.
Dosa-dosa seluruh umat insan dibenarkan lebih jauh lagi oleh Hadis yang mengatakan: ‘Syetan selalu bercokol dalam pikiran insan ibarat darah mengalir dalam tubuhnya.”
Kecuali seorang insan yang oleh Al-Qur’an ataupun Hadis dianggap suci dari dosa yakni Isa Al Masih. Ia tidak pernah berbuat dosa, tidak berbuat kesalahan dan tidak pernah melewati batas-batas yang telah ditetapkan Allah secara sengaja atau alasannya yakni berbuat bodoh, secara olok-olok atau secara serius, secara sengaja ataupun tidak sengaja. Isa Al Masih digambarkan dalam Al-Qur’an 19:19 sebagai ‘seorang putera yang suci (zakeyia)’ , bahkan sebelum dilahirkan. Baidawi menjelaskan bahwa ‘seorang anak yang suci berarti suci dari dosa-dosa’. Di dalam seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, tidak ada lagi yang digambarkan sebagai yang suci kecuali Isa Al Masih.
Hadis juga menyatakan bahwa Isa Al Masih sebagai orang yang tidak berdosa. Bukhari, misalnya mengaitkannya dengan Hadis berikut:
Ketika setiap orang dilahirkan (tersurat: semua anak Adam begitu semasa mereka dilahirkan), Syetan menyentuh (tersurat: menggosok) kedua belah badannya dari kanan dan dari kiri dengan kedua jarinya, kecuali Isa anak Maryam, meskipun ia juga dicoba tapi tidak berhasil.
Baidawi menerangkan arti dari ‘sentuhan atau gosokan’ Syetan sebagai ‘upaya menarik hati setiap bayi yang gres lahir sehingga anak tersebut bisa dipengaruhinya’. [19] Syetan, musuh berbuyutan Allah dengan demikian berjuang dengan cara yang tidak adil. Ia mencari jalan menarik hati orang dari ketika pertama mereka mulai hidup, dan hanya seorang insan yang bisa menguasai Syetan dalam babak pertama ini. Ia yakni Isa Al Masih. Suyuti mengutip Ibni ‘Abbas, yang mengatakan:
Di antara mereka yang dilahirkan, hanya Isa anak Maryam yang tidak disentuh oleh Syetan dan tidak bisa ditaklukkan olehnya. [20]
Mengapa Isa tidak bisa tertandingi dan berbeda? Beberapa orang menyampaikan bahwa alasannya yakni ia diurapi:
Ia dinamakan Al Masih alasannya yakni ia diurapinya sehingga membuat beliau jadi suci dari dosa-dosa, atau alasannya yakni ia diurapi oleh sayap Malaikat Jibril dan dijaga dari sentuhan Syetan, atau Al Masih berarti orang yang salih. [21]
Ada orang-orang yang membedakannya dari sifatnya yang batiniah secara rohaniah Isa Al Masih itu sendiri. Razi mengatakan:
Rohnya (Isa Al Masih) yakni suci, tinggi derajatnya, syurgawi; terang benderang dengan cahaya kemulyiaan dan sangat bersahabat dengan roh-roh para malaikat. [22]
Kaprikornus Isa Al Masih ibarat malaikat-malaikat yang tidak perlu memohon pengampunan untuk diri mereka. Ia tidak berdosa.
Gelar Isa yang menyandang “Roh Allah” juga membuktikan kesucian. Beberapa ilmuwan menyampaikan bahwa ia disebut ‘Roh Allah’ karena:
Adalah menjadi kebiasaan orang yang menggambarkan sesuatu yang benar-benar suci dan higienis , mereka menyebutnya sebagai roh.. [23]
Ukuran perihal hingga di mana sucinya kenyataan Isa yakni ibarat berikut: Allah, Yang Maha Tinggi, Dia sendiri menyebut Isa yakni ‘Roh dari Allah’. Sementara setiap umat insan telah ingkar dari kesetiaannya kepada Allah dan tidak lagi takut kepada Allah di suatu ketika dalam sejarah hidupnya tetapi Isa Al Masih tetap suci bersih, tidak disentuh oleh Syetan.
Rasa takut kepada Allah merupakan suatu tolok ukur keimanan seseorang di mata Allah, sebagaimana ayat Al-Qur’an menyatakan:
Hai manusia! Kami menciptakanmu dari seorang pria dan seorang perempuan. Lalu Kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku semoga kau saling mengenal. Yang teramat mulia di antaramu di sisi Allah, ialah orang yang lebih bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mengenal. [24] .
Adalah semata-mata ketaqwaan atau kesalihan, dan bukannya gejala keindahan duniawi, kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang sebagai status di hadapan Allah. Nabi-nabi dan para malaikat juga ditentukan statusnya oleh ketaqwaan mereka. Tetapi malaikat lebih tinggi derajatnya daripada nabi-nabi karena:
Mereka para malaikat yang memangku Singgasana dan yang berada di sekitarnya menyuarakan puji kepada Tuhannya, beriman kepada-Nya dan meminta ampun untuk orang-orang beriman... (Al-Qur’an 40:7-9)
Razi mengulas:
Banyak ilmuwan menafsirkan ayat-ayat ini [25] sebagai suatu kesimpulan bahwa para malaikat lebih tinggi derajatnya daripada manusia. Mereka menyampaikan bahwa para malaikat tidak perlu memohon pengampunan bagi dirinya, alasannya yakni bila mereka perlu pengampunan, mereka semestinya meminta pengampunan buat diri mereka sendiri terlebih dahulu, ibarat apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad: “Mulailah bertaubat untuk diri sendiri’. Juga Allah menyampaikan kepada Nabi Muhammad: ‘... Maka ketahuilah (ya Muhammad) bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan, melainkan Allah dan minta ampunlah (kepada-Nya) untuk dosa engkau dan untuk (dosa) orang-orang beriman pria dan orang-orang beriman perempuan. Allah mengetahui tempat mencari penghidupanmu dan tempat diammu’ (Al-Qur’an 47:19). Kaprikornus Allah memerintahkan Muhammad untuk memohon pengampunan terlebih dahulu buat dirinya gres kemudian untuk orang lain ... Dan alasannya yakni Allah tidak menyebutkan bahwa para malaikat tidak meminta pengampunan buat mereka sendiri, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak perlu meminta pengampunan. Para nabi perlu pengampunan dari Allah dan ini sangat terang dari firman Allah kepada Muhammad. Kalau memang ini dipegang teguh maka semakin jelaslah bahwa para malaikat lebih tinggi daripada manusia. [26]
Dengan tidak perlunya pengampunan bagi para malaikat, nampaknya mereka lebih tepat dalam kepatuhannya dan rasa takutnya kepada Allah, jadi mereka lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya daripada manusia. Tidak ibarat halnya dengan manusia, para malaikat tidak perlu meminta pengampunan alasannya yakni mereka terbebas dari dosa. Isa Al Masih bisa disejajarkan dengan malaikat dan oleh alasannya yakni itu, ia yakni sama-sama suci.
Isa Al Masih, yang Diberkati
Di samping tidak berdosa, Isa Al Masih juga diberkati. Ia bukan hanya tepat secara pasif , tetapi juga tepat secara aktif . Al-Qur’an menyatakan perihal Isa:
Dan dijadikan-Nya pula saya seorang yang diberkati (Pembawa Bahagia) di mana saja saya berada. [27]
Menurut ayat ini, Isa diberkati tanpa syarat dan untuk selamanya. Andaikata ia tidak mematuhi Allah baik dalam pikiran atau perbuatan setiap saat, ia tidak akan menyampaikan diberkati di manapun ia berada.
Kata ‘diberkati’ berdasarkan penerangan Baidawi berarti ‘berguna bagi manusia’. Dalam arti kata yang lain, Isa hidup bukan buat dirinya sendiri, tetapi ia hidup bagi seluruh umat. Arti yang pasti dari ‘berguna untuk manusia’ dijelaskan oleh Razi yang menyampaikan Isa:
Melalui Isa Al Masih, Allah membebaskan umat insan dari segala macam tipuan, sama ibarat insan hidup dengan Roh-Nya. [28]
Isa tidak puas semata-mata bebas dari dosa, tetapi ia juga secara aktif mencari jalan untuk membebaskan orang dari tipuan Syetan, musuh turun-temurun Allah. Begitu penting upayanya sehingga Razi membandingkan Isa sebagai Roh yang memberi kehidupan kepada suatu tubuh. Baidawi secara sama menggambarkan upaya Isa ketika ia menyampaikan bahwa Isa “dahulu biasa menghidupkan tubuh yang mati begitupun hati yang mati menjadi hidup”. [29]
Isa Al Masih tidak hidup hanya menjaga kesucian dirinya, karenanya ia hidup menikmati hidupnya yang tepat selaras dengan kehendak Allah. Tetapi ia juga hidup dengan memberi berkat kepada orang lain. Kaprikornus kesempurnaan Isa Al Masih bukan semata-mata pasif , yakni tidak berdosa; tetapi juga aktif sebagai suatu sumber berkat .
Dalam seluruh Al-Qur’an tidak ada seorangpun yang dipanggil sebagai “diberkati” kecuali Isa Al Masih. Adalah benar bahwa Al-Qur’an itu sendiri digambarkan sebagai suatu kitab suci yang diberkati. [30]
Perkataan itu juga digunakan kepada rumah suci yang pertama di Mekah yang telah dibina oleh para malaikat sebelum penciptaan Adam [31] , Malam Lailatul Qadr (malam di mana Al-Qur’an diturunkan) [32] . Dan pohon zaitun di mana dianggap sebagai cahaya Allah atau Nurullah. [33] Kaprikornus Isa Al Masih disejajarkan dengan Al-Qur’an, rumah yang pertama kali dibangun di Mekah, Lailatul Qadr dan pohon zaitun yang diberkati. Kendatipun demikian, satu-satunya orang yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai yang diberkati yakni Isa Al Masih.
Oleh alasannya yakni itu, Isa Al Masih yakni tidak berdosa dan diberkati. Syetan tidak bisa menyentuh Isa, yang tetap tepat dalam hidupnya sepanjang hidupnya. Di samping itu, Isa Al Masih dalam menghancurkan pekerjaan Iblis sangatlah tepat sehingga ia digambarkan sebagai Roh yang memberi hidup, yang bisa menghidupkan mereka yang mati alasannya yakni tipuan-tipuan Syetan. Kesempurnaan Isa Al Masih yakni secara pasif dan juga aktif . Oleh karenanya dalam korelasi ini ia mempunyai sifat yang tidak ada bandingannya.
Sebagai Manusia yang Memberi Petunjuk yang Jelas
Jika sifat Isa Al Masih yang tidak berdosa dan diberkati itu membuat dirinya unik di antara nabi-nabi, maka petunjuk Allah yang diberikan atau ditanamkan dalam diri Isa yakni benar-benar unik.
Kemampuannya Mengetahui yang Ghaib
Pengetahuan perihal yang tidak bisa dilihat atau ghaib merupakan suatu sifat yang agung. Seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an:
Dan di sisi Allah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak sehelai daunpun yang gugur tentu diketahui-Nya juga. Tidak sebutir-bijipun yang tersembunyi dalam gelap gulita di bumi dan tiada pula benda yang berair dan yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab Lauhul mahfuzh. [34]
Muhammad sendiri menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa ia tidak mempunyai pengetahuan yang ghaib ketika ia mengatakan:
Katakanlah: “Aku tidak bisa meraih manfaat dan menolak kemelaratan untuk diriku sendiri, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Seandainya saya mengetahui kasus yang ghaib, sudah tentu saya akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan waspada terhadap b ahaya yang akan menimpa. Aku tidak lain hanyalah Pemberi peringatan dan Pembawa isu gembira bagi orang-orang yang beriman”. [35]
Dalam ayat lain dikatakan:
Katakanlah!: “Aku tidak menyampaikan kepadamu, bahwa perbendaraan Allah ada padaku! Karena saya tidak mengetahui yang ghaib. Juga saya tidak menyampaikan kepadamu, bahwa saya seorang malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”. [36]
Oleh alasannya yakni itu, berdasarkan Al-Qur’an, pengetahuan ghaib bukan urusan manusia. Allah sendirilah yang mempunyai kekuasaan untuk memberikannya kepada yang Dia pilih. “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan ibarat kini ini, namun Allah akan menyisihkan antara yang jelek dan yang baik. Dan Allah tidak akan memperlihatkan hal-hal yang ghaib kepadamu, akan tetapi Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya. Oleh alasannya yakni itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kau beriman dan bertaqwa, pasti kau peroleh pahala besar.” [37]
Al-Qur’an menerangkan kepada kita bahwa Allah menentukan Isa Al Masih untuk membukakan hal yang ghaib. Dengan kehendak-Nya Allah menentukan Isa Al Masih dari antara para pesuruh Allah untuk membukakan hal sekecil apapun dari kehidupan orang, termasuk “apa-apa yang mereka makan, dan apa yang mereka miliki sebagai kekayaan di rumah mereka”. [38] Mereka yang telah mengulas ayat tersebut di atas menyebutkan banyak ceritera perihal pengetahuan Isa Al Masih akan hal-hal yang ghaib. Kekuasaan ini hanya kekuasaan Allah yang diberikan kepada Isa Al Masih sendiri di antara rasul-rasul lain. Inilah sifat lain yang menambah keunikan Isa Al Masih.
Kemampuannya Melakukan Mujizat
Misi Isa Al Masih di bumi yakni memperbaiki umat insan untuk mematuhi Allah. Seperti yang telah ditegaskan sebelumnya, ia diberi kekuasaan yang unik untuk membebaskan umat insan dari tipuan-tipuan Syetan. Ia juga diberi kekuasaan untuk menyembuhkan orang dari penyakit badani sebagai suatu bukti bahwa ia dikirimkan Allah.
Kekuasaan Isa untuk menhancurkan pekerjaan Syetan lebih jauh ditunjukkan ketika ia menyembuhkan orang atau mereka yang sakit. Penyembuhan secara rohani terang bisa menyembuhkan tubuh yang sakit. Ini membuktikan bahwa perkataannya sepadan dengan perbuatannya.
Al-Qur’an menyampaikan bahwa mujizat yang dilakukan oleh Isa Al Masih merupakan “tanda yang jelas” dari kekuasaan Allah. Tanda yang terang ini tidak diberikan kepada semua rasul. Al-Qur’an mengatakan:
Itulah keterangan-keterangan Allah. Kami bacakan kepadamu hai Muhammad, dengan sebenarnya. Dan engkau sesungguhnya seorang Rasul di antara rasul-rasul yang lain. Rasul-rasul itu Kami lebihkan seBahagian mereka dari yang lain. Diantaranya ada yang pribadi Allah bercakap-cakap dengan dia, dan sebagiannya Allah mengangkat kemuliaannya beberapa derajat. Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mujizat dan kami perkuat beliau dengan Roh Suci. Dan kalau Allah menghendaki pasti orang-orang yang berada sepeninggal rasul-rasul itu tidaklah akan saling membunuh setelah tiba kepada mereka beberapa keterangan. Namun mereka berselisih juga, ada di antara mereka yang beriman dan ada pula yang kafir. Jika Allah menghendaki mereka tidaklah akan saling membunuh. Tetapi Allah berbuat berdasarkan kehendak-Nya [39]
Baidawi mengulas ayat tersebut di atas ibarat berikut:
Allah mengakibatkan mujizat Isa Al Masih sebagai bukti kecintaan-Nya kepada Isa (melebihi rasul-rasul lain) alasannya yakni semua mujizatnya yakni mengambarkan yang terang dan luar biasa. Dan semua mujizatnya tidak dilakukan oleh yang lain kecuali dia. [40]
Mujizat yang khusu dan istimewa ini membuktikan/menunjukkan bukan hanya kecintaan Allah kepada Isa daripada rasul-rasul lainnya tetapi juga merupakan ukuran dari kecintaan tersebut. Allah menawarkan beberapa rasul kemampuan melaksanakan beberapa mujizat, tetapi Bahagian mujizat yang diberikan kepada Isa melebihi daripada apa yang diberikan kepada rasul-rasul lain. Kaprikornus kita bisa melihat bahwa dengan melaksanakan mujizat secara jasmani Isa Al Masih dibedakan. Ini juga membuktikan kekuasaannya melaksanakan mujizat secara rohaniah dilebihkan dari yang lain. Kaprikornus kemampuannya melaksanakan mujizat yang tidak bisa tertandingi baik secara jasmani maupun rohaniah memperlihatkan sifat Al Masih yang unik.
Kemampuannya untuk Mencipta
Sementara kekuasaan Isa Al Masih melaksanakan mujizat benar-benar tidak tertandingi, ukuran kekuasaan ini diberikan juga kepada beberapa nabi lainnya. Tetapi kekuasaan untuk mencipta hanya diberikan kepadanya. Menurut Al-Qur’an, kekuasaan mencipta ini tidak dimiliki oleh nabi-nabi yang lainnya.
Al-Qur’an menantang orang kafir dengan menyatakan:
Hai manusia, telah dibentuk orang perumpamaan mengenai Aku kemudian dengar dan pahamilah baik-baik keadaannya, yaitu: segala yang disembah selain Allah itu tidak akan bisa membuat seekor lalatpun, sekalipun mereka bekerja-sama untuk itu. Bahkan kalau lalat-lalat itu merampas sesuatu dari berhala itu, sang berhala tidak sanggup merebutnya kembali dari sang lalat. Yang menyembah dan yang disembah sama-sama lemah. [41]
Meskipun demikian berdasarkan Al-Qur’an, Isa yakni satu-satunya orang yang diberikuasa oleh Allah untuk membuat sesuatu dari tanah liat. Al-Qur’an mengutip kata-kata Isa ibarat berikut:
Dan akan dijadikan-Nya sebagai Rasul untuk Bani Israil. Katanya: “ Aku ini tiba kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yiaitu saya sanggup membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian saya tiup kemudian menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan saya sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Lagi pula saya sanggup memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian masing-masing. Semua ini yakni menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [42]
Kaprikornus Al-Qur’an menjelaskan bahwa Isa mempunyai kekuasaan untuk membuat sesuatu dari tanah liat, yang berdasarkan beberapa orang sama dengan merubah tongkat Nabi Musa menjadi ular. Kendatipun penapsir Al-Qur’an yang cermat membuktikan bahwa ini bukan hal yang dimaksudkan. Dalam Al-Qur’an, Allah bertanya kepada Musa:
Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Musa menjawab: “Inilah tongkatku, alat untuk saya bertelekan, juga untuk pemukul dahan-dahan kayu supaya daunnya berguguran untuk masakan kambingku, dan banyak lagi keperluanku yang lain dengan tongkat ini. Allah berfirman: “Lemparkanlah tongkat itu, hai Musa”. Segera Musapun melemparkan tongkatnya, serta merta tongkat itu bermetamorfosis jadi seekor ular yang merayap dengan lincah. [43]
Ketika melihat ular itu melingkar yang dirubah dari tongkat, Musa berbalik dan lari dengan ketakutan. Tetapi Allah memanggilnya seraya mengatakan: “Musa jangan takut”. [44]
Dalam insiden di atas, Allah melaksanakan mujizat untuk meyakinkan Musa akan kekuasaan-Nya. Ketika Musa melemparkan tongkatnya ia tidak mengharapkanny amenjadi ular, ketika ternyata menjadi ular, ia lari dengan ketakutan. Jelas dalam insiden ini, bukan Musa yang keluarkan langkah pertama, tetapi Allah-lah yang melaksanakan perubahan itu.
Mujizat yang sama juga dilakukan di depan Firaun ketika Allah “memberikan wahyu kepada Musa, “lemparkan tongkatmu”. Sekonyong-konyong Ular (tongkat) itu menelan semua ular mereka.” [45]
Dalam insiden tersebut, Musa tidak melaksanakan apa-apa lagi kecuali mentaati perintah Allah ibarat sebelumnya. Allah menyuruhny untuk melemparkan tongkatnya dan Musa berdasarkan saja. Kaprikornus yang berinisiatip yakni Allah bukannya Musa. Memang itulah sifat-sifat bagaimana Allah menawarkan mujizat kepada Musa, ibarat yang bisa dilihat dari banyak sekali insiden lainnya. Contohnya, sewaktu Bani Israil sedang haus, ada perintah Allah menyuruh Musa untuk memukul kerikil [46] , dan ketika mereka keluar dari Mesir sebelum menyebrangi laut Allah memerintah Musa untuk memukulkan tongkatnya pada air maritim ‘...lalu belahlah maritim itu, sedangkan masing-masing belahannya ibarat gunung yang besar’. [47]
Dalam setiap kejadian-kejadian tadi, Allahlah yang menjadi pembuat inisiatip. Bukan Musa yang mengendalikan waktu dan cara bagaimana mujizat bisa dilakukan, tetapi Allahlah yang melakukannya.
Ketika Isa melaksanakan penciptaan, Allah membiarkan Isa melaksanakan inisiatip sendiri dalam melaksanakan mujizatnya dan menawarkan hidup. Ayat Al-Qur’an menggambarkan kegiatan-kegiatan Isa dalam pengertian berikut:
Aku ini tiba kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yaitu saya sanggup membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian saya tiup kemudian menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan saya sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Lagi pula saya sanggup memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian masing-masing. Semua ini yakni menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [48]
Isa tidak disuruh Allah menghidupkan orang yang mati atau menyembuhkan orang buta sebagaimana Musa. Tetapi Allah melebihkan Isa dengan kekuasaan yang diberikan-Nya mempunyai hak berinisiatip. Musa tidak meniupkan sesuatu roh pada tongkatnya supaya menjadi ular, tetapi Isa meniupkan roh pada tanah dan jadilah makhluk hidup darinya.
Ibn ‘Arabi, seorang penulis Sufi agung dalam menjawab pertanyaan berikut, “Dengan cara bagaimana Allah membedakan setiap rasul?”, ia menjawab:
Allah menawarkan Adam pengetahuan an Nama-nama Agung, kepada Musa dengan berbicara kepadanya dan dengan Taurat, dan membedakan Rasulullah [Muhammad] apa yang Muhammad sebutkan sendiri “Ia diberikan kebesaran berbicara”. Kepada Isa Allah membedakannya dengan roh, ditambah dengan meniupkan roh pada yang ia ciptakan dari tanah, itu hanya kepada Isa saja,dan Allah tidak menambah kuasa untuk memberi kehidupan melalui hembusan kepada rasul yang lain kecuali Isa, selain dari diri Allah Yang Maha Tinggi sendiri. [49]
Penciptaan makhluk hidup tidak begitu saja diberikan kepada nabi-nabi lainnya, tetapi hanya kepunyaan Allah semata dan hanya diberikan kepada Isa Al Masih.
Kemampuannya untuk Menghidupkan yang Mati
Al-Qur’an menyatakan dengan terang bahwa Isa menghidupkan orang mati:
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya menulis dan membaca Kitab-kitab Suci, ilmu kebijaksanaan, taurat dan Bibel ...dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. ... Semua ini yakni menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [50]
Hadis juga mendukung kenyataan ini dengan menyebutkan nama-nama orang yang dibangkitkan kembali oleh Isa Al Masih bahkan setelah tubuhnya membusuk. Para mufasir baiklah bahwa kekuasaan untuk menghidupkan orang mati yakni keMaha-Kuasaan Allah; yang kepunyaan Allah sendiri saja. Al-Qur’an menyatakan:
Dan beliau membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan penciptaannya semula. Ia bertanya: “Siapa pulakah yang sanggup menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur?” Jawablah: “Yang sanggup menghidupkannya kembali, ialah Allah yang telah menciptakannya dahulu untuk yang pertama kalinya. Dia Maha Mengetahui perihal segala makhluk”. [51]
Karena Allah sebagai Pencipta atau Sumber Hidup, maka Dia sendiri yang bisa menghidupkan orang yang mati. Suyuti dalam ulasannya menghubungkan dua insiden Isa menghidupkan orang yang mati dengan pementingan yang khusus – atas bunyi Isa. Dalam masalah pertama Isa membangkitkan Sam anak Nabi Nuh:
Bani Israil tiba kepada Isa memohonnya sambil berkata: “Sam anaknya Nuh dikuburkan di sini, tidak jauh. Mohonlah kepada Allah untuk menghidupkannya kembali. Isa kemudian memanggilnya dengan satu teriakan dan Sam keluar dari kubur dengan rambut beruban. Orang-orang berseru: “Ia meninggal ketika ia masih muda, mengapa rambutnya jadi putih?” Sam menjawab: “Ketika saya mendengar bunyi Isa, saya pikir ‘satu teriakan’”. [52]
Dalam masalah kedua, Isa membangkitkan saudara laki-lakinya:
... Ketika Isa diberitahu di mana kuburannya, Ia memanggilnya dengan teriakan satu kali, saudara laki-lakinya keluar dengan rambut beruban/putih ... Isa bertanya kepadanya: ‘Apa yang terjadi kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Aku mendengar suaramu dan saya pikir itu sebagai ‘satu teriakan’. [53]
Dari dua kisah di atas, kita bisa melihat bunyi Isa dipahami sebagai suatu teriakan yang akan membangkitkan orang mati di Hari Kiamat. Orang-orang yang dibangkitkan memahami hal itu dan hingga rambut mereka berubah menjadi putih.
Acuan ini terdapat dalam Al-Qur’an 73:17:
Mana bisa kau akan sanggup menyelamatkan diri dari “huru-hara goncangan suatu hari”, di mana belum dewasa sanggup beruban alasannya yakni memikirkan kedahsyatannya kalau kau tetap saja kafir.
Dan dalam Al-Qur’an juga disebutkan pada 38:15: “Mereka tiada menanti, melainkan suatu teriakan yang tidak sanggup ditarik kembali”.
Ibn ‘Arabi, dalam Fusus Al-Hikam, menyampaikan perihal Isa menghidupkan kembali orang yang mati:
Katanya, ketika ia menghidupkan orang yang mati, memang beliau dan bukan beliau (yakni, yang bisa menghidupkan berkat kekuasaan Allah) dan orang yang menyaksikan tercengang seorang insan bisa menghidupkan kembali orang yang mati, sementara dengan sifatnya yang agung menghidupkan orang hanya dengan suatu teriakan ... orang-orang yang menyaksikannya tetap galau alasannya yakni melihat tindakan yang agung itu dilakukan oleh seseorang yang berbentuk insan (yaitu Isa). [54]
Qashani mengulas kata-kata Ibn ‘Arabi tersebut sebagai:
Kebingunan timbul ... begitu orang melihat seorang insan tanpa suatu keraguan dan dari dirinya muncul sifat yang agung; yakni menghidupkan orang yang mati, dengan satu teriakan memohon berkat Allah. Baginya (Isa) biasa berkata kepada orang yang mati “Hidup! Bangkitlah dengan izin Allah atau dengan Nama Allah, atau dalam Allah’; dan orang mati akan bangun dan sambil menjawab, “Inilah aku, siap melayani (atau mengabdi)”. [55]
Dalam Hadis yang dikutip oleh Suyuti, Isa membangkitkan Sam dan saudara laki-lakinya hanya dengan suatu teriakan, bukan dengan doa. Ia memanggil mereka dari dunia mati ke dalam dunia hidup kembali ibarat memanggil seseorang dari satu kamar ke kamar yang lainnya. Isa mempunyai kewenangan atas dunia kematian. Al-Qur’an tidak menyebutkan ada nabi lain yang bisa menghidupkan orang mati dengan atau tidak seizin Allah.
PENGAKUAN ALLAH ADALAH LEBIH AGUNG
Para Nabi Menulis perihal Dia
Di Bahagian Pertama kita sudah melihat bahwa terang nabi-nabi sungguh-sungguh memperlihatkan pada dua tokoh yang penting. Mereka bernubuat perihal Al Masih yang benar sambil memperingatkan akan Al Masih palsu, yakni si Dajjal. Razi menyampaikan bahwa berdasarkan para akhli pikir Muslim:
Isa disebut sebagai Firman Allah, dikarenakan telah dinubuatkan perihal dirinya dalam Kitab-kitab Suci nabi-nabi sebelumnya. [56]
Sebaliknya, Hadis memperingatkan akan datangnya si Dajjal, Al Masih yang palsu yang nabi-nabi peringatkan pula kepada bangsa/umatnya, ibarat halnya Nabi Nuh peringatkan:
Aku peringatkan terhadap beliau dan tidak ada satu orang nabipun yang tidak memperingatkan umatnya terhadap si Dajjal. Bahkan Nabi Nuhpun mewanti-wantikan. [57]
Isa tidak dinubuatkan hanya sambil kemudian saja oleh satu atau dua orang nabi. Tetapi nubuat akan beliau sangat jelas, banyak, dan spesifik bahwa ia disebut sebagai Firman Allah. Nabi-nabi hanya bisa mengatakannya alasannya yakni semata dikomunikasi oleh Allah, sehingga sangat terang bahwa nabi-nabi sebelum beliau meramalkan atau bernubuat akan dia. Tidak ada nabi lain yang mendapat perlakuan dan perhatian Ilahi yang sangat agung.
Jika perhatian ibarat itupun diberikan kepada si Dajjal, itu yakni alasannya yakni si Dajjal mewakili kegelapan dan penipuan yang luar biasa dalam sejarah umat manusia. Sedangkan perhatian yang serupa diberikan kepada Isa yakni alasannya yakni ia mewakili yang sebaliknya. Perhatian nubuatan agung yang diberikan kepada Isa yakni alasannya yakni beliau merupakan suatu manifestasi teragung nur/cahaya dan kebenaran yang ilahi dalam sejarah umat manusia.
Jika iblis dan orang kafir dengan kuatnya menentang Isa, para nabi yang diberi wahyu oleh Allah mengakui akan kekuasaan dan kepentingannya. Nabi Yahya ialah salah satu contohnya.
Al Masih Disujud ketika masih dalam Kandungan
Isa yakni satu-satunya nabi yang dijunjung tinggi selagi ia masih dalam kandungan ibunya. Para mufasir setuju bahwa Nabi Yahya yakni orang pertama yang percaya bahwa Isa yakni Firman Allah. [58] Sebenarnya ia melaksanakan hal itu sementara mereka masih dalam kandungan ibu mereka. Razi melaporkan ceritera berikut yang juga dilaporkan oleh Ibn Khatir:
... Ibu Isa bertemu dengan Ibunya yahya, keselamatan bagi mereka. Kedua ibu itu sedang hamil: yang satu mengadung Isa; yang satu lagi mengadung Yahya.
Ibu Yahya bertanya kepada Maryam, “Engkau rasakan ada bayi dalam kandunganku?” Maryam berkata: “Aku juga sedang mengandung.” Maka isteri Nabi Zakaria berkata: “Aku menemukan bahwa bayi di dalam kandunganku bersujud kepada bayi dalam kandunganmu”.
Inilah yang diartikan ratifikasi Yahya atas percayanya kepada Isa sebagai Firman Allah, yang ditemukan dalam Al-Qur’an 3:39 ... Yahya akan mengakui kerasulan Isa yang dilahirkan dengan Kalimat-Cipta daripada Allah. [59]
Ibn Abbas mengakui kebenaran kepercayaan itu ketika ia menyampaikan bahwa Yahya lebih renta enam bulan dari Isa, dan ialah yang pertama kali percaya dan mengakui Isa sebagai Firman Allah dan Roh Allah. [60]
Meskipun Yahya yakni seorang nabi yang besar [61] yang disebut sebagai seorang sayed [62] dalam Al-Qur’an (artinya ‘pemimpin orang-orang beriman’, [63] dan ‘orang penting sebagai penguasa dan pemimpin aliran dalam agama’) [64] , ia bersujud di dalam kandungan ibunya kepada Isa. Yahya yakni juga enam bulan lebih renta dari Isa. Menurut kebiasaan atau adat, sebetulnya Isa yang seharusnya bersujud kepada Yahya alasannya yakni ia lebih muda, tetapi dalam hal ini sebaliknya Yahya yang bersujud kepada Isa.
Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa kita tidak diberitahu bahwa Isa percaya atau mengakui Yahya yakni seorang nabi, tetapi kita diberitahu bahwa meskipun Yahya lebih renta daripada Isa, dialah orang yang pertama sekali mengakui Isa yakni Firman Allah. Meskipun keduanya yakni nabi, Yahya bersujud kepada Isa. Isa patut mendapatkan penghargaan dan hormat yang lebih tinggi daripada seorang nabi alasannya yakni ia lebih tinggi tingkatannya daripada nabi. Ia yakni Firman Allah.
Al Masih Diberi Wahyu yang Sempurna
Al-Qur’an menyebutkan Isa sebagai telah diajarkan oleh Allah seluruh firman yang telah diwahyukan Allah:
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya menulis dan membaca Kitab-kitab Suci, ilmu kebijaksanaan, Taurat dan Injil. [65]
Mengulas pada ayat ini, Razi menyampaikan bahwa:
Ia yang mengetahui belakang layar Kitab yang Allah Maha Tinggi wahyukan, kemudian Allah mewahyukan kitab lainnya setelah itu, dan menjelaskan dengan terang kepadanya semua rahasia-Nya, yang merupakan tujuan akhir, pemahaman yang sangat tinggi dan penguasaan rahasia-rahasia intelektual dan keagamaan, dan pengetahuan akan akal atau nasihat baik yang rendah maupun yang tinggi derajatnya. [66]
Baidawi menjelaskan bahwa ‘Kitab’ yang disebutkan dalam ayat tersebut merupakan “kata orisinil untuk Kitab-kitab yang telah diwahyukan”. Menurut penyataan Al-Qur’an “Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil” sudahlah tepat dan tidak ada lagi yang perlu ditambahkan, yang artinya meliputi semua firman Allah yang diwahyukan.
Jelaslah dari pernyataan di atas bahwa tidak ada nabi-nabi lain yang diberikan wahyu secara total dari Kitab-kitab Suci kecuali yang diberikan kepada Isa Al Masih.
Al Masih Diperkuat oleh Roh Suci
Sifat menonjol yang lainnya dari Isa ialah bahwa ia sendiri diakui dan dikuatkan oleh Roh Suci. Isa selalu terus-terusan didampingi oleh Roh Suci dari mulai ia dalam kandungan hingga ia diangkat ke syurga. Sebagaimana Al-Qur’an menyatakan:
Sesungguhnya Kami telah menawarkan Kitab Taurat kepada Musa kemudian Kami iringi sesudahnya beberapa orang Rasul dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa keterangan-keterangan mujizat, serta Kami perkuat beliau dengan Roh Suci. [67]
Razi mengulas ayat ini sebagai berikut:
Hak istimewa dari Jibril (yakni Roh Suci) kepada Isa merupakan sifat atau ciri yang menonjol, sehingga beliau satu-satunya nabi di antara para nabi yang dibedakan. [68]
Kemudian Razi menyampaikan perihal Malaikat Jibril:
... yang memberikan kabar baik kepada Maryam perihal kelahiran Isa dan kehamilannya ditiupkan Malaikat Jibril; ia yang menyertai Isa dalam situasi apapun dan ia selalu menyertai gerak-gerinya setiap ketika ke manapun Isa pergi. [69]
Jelaslah bahwa Roh Suci menyertai Isa dan sebagai kekuasaan yang mengawasi Isa sepanjang hidupnya. Sebagaimana Razi katakan, Malaikat Jibril tidak meninggalkan Isa sesaatpun. [70]
Di lain pihak, Nabi Muhammad hanya dikunjungi atau didatangi oleh Malaikat Jibril. Satu ketika ia bertanya kepada Malaikat Jibril, ‘Apakah yang menahan anda tidak sering mengunjungi kami sekarang?’ Untuk pertanyaan tersebut, Malaikat Jibril menjawab: ‘Kami malaikat-malaikat turun ke bumi hanya alasannya yakni perintah Tuhanmu’. [71]
Isa didampingi oleh Roh Suci secara kekal tanpa gangguan atau interupsi. Untuk memahami kebersamaan Isa dan Roh Suci kita perlu mengetahui perihal tempat Roh Suci (Jibril) di Kerajaan Allah.
Menurut Razi, Malaikat Jibril yakni pemimpin dari semua pemimpin malaikat yang sangat tinggi di antara malaikat. Kedudukannya dilengkapi dengan hak-hak istimewa tertentu dan tanggung-jawabnya yang diberikan Allah kepada Malaikat Jibril.
Pertama, Malaikat Jibril diberikan kepercayaan untuk memberikan pesan-pesan Allah kepada para nabi. [72]
Kedua, Allah Yang Maha Tinggi menyebutkan Malaikat Jibril dalam Al-Qur’an sebagai mempunyai kedudukan yang terdepan di antara para malaikat. Malaikat Jibril yakni pemimpin malaikat yang berwenang menawarkan inspirasi atau ide dan pengetahuan, sementara Malaikat Mikail yang berwenang menawarkan masakan dan kehidupan. Karena pengetahuan atau ilmu yakni merupakan masakan roh, maka lebih mulia daripada masakan yang berbentuk fizikal . Kaprikornus Malaikat Jibril lebih tinggi harkatnya daripada Malaikat Mikail.
Ketiga, Allah membuat Malaikat Jibril mendapatkan kedudukan kedua dari-Nya.
Keempat, Allah menyebutnya sebagai Roh Suci.
Kelima, Malaikat Jibril diberikan kekuasaan untuk memenagkan umat yang berada di pihak Allah dan menghancurkan umat yang memusuhi Allah.
Keenam, Allah memuji Malaikat Jibril dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya Jibril itu, berdaya ingatan amat kuat, di samping berkedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Singgasana, disegani antara sesama malaikat, bahkan sangat dipercaya’ (Al-Qur’an, 81:20, 21). Oleh alasannya yakni itu, misi Malaikat Jibril yakni sebagai rasul Allah bagi semua nabi...daerah kekuasaannya (‘umah) yakni para semua nabi. Ia mulia dihadapan Allah alasannya yakni Allah membuat beliau sebagai mediator antara Allah sendiri dengan abdi-abdi-Nya yang mulia...yakni para nabi. Allah menawarkan kedudukan kedua dari-Nya ... Malaikat Jibril yakni Imam dan Teladan dari para malaikat. Ia terpercaya. [73]
Kita bisa mengambil kesimpulan dari keterangan di atas bahwa Roh Suci, yakni Malaikat Jibril, sebagai Pemimpin dan Imam dari semua malaikat. Ia lebih mulia dari Malaikat Mikail, di mana ia mendapatkan kedudukan yang tertinggi alasannya yakni ia menempati kedudukan kedua dari Allah Yang Maha Tinggi, dan ia yakni pesuruh bagi nabi-nabi, yakni dari seorang nabi kepada nabi-nabi yang lain.
Karena Isa tidak berdosa, ia selalu disertai Roh Suci. Andaikan ada cela dalam diri Isa, maka Roh Suci sudah tentu akan meninggalkannya paling sedikit selama ketika tertentu dalam hidupnya. Tetapi Isa terus-terusan menjadi sentra perhatian pemimpin malaikat (Jibril) yang mempunyai kedudukan kedua setelah Allah Yang Maha Tinggi. Inilah suatu kehormatan yang unik yang hanya dimiliki oleh Isa Al Masih.
Al Masih Berkedudukan bersahabat dengan Allah
Razi menyampaikan bahwa roh Isa Al Masih sebagai:
suci, tinggi, mulia, terang benderang dengan nur cahaya ilahi, dan sangat besar kedekatannya dengan roh-roh malaikat (atau sangat banyak ibarat dengan roh para malaikat). [74]
Al-Qur’an tidak menyampaikan bahwa roh Isa sama dengan roh para malaikat, tetapi Isa lebih bersahabat di sisi Allah sendiri. Ungkapan Razi mengandung arti bahwa roh Isa lebih bersahabat dengan malaikat, tetapi Al-Qur’an mengungkapkan bahwa Isa berada bersahabat di sisi tiada yang lain kecuali Allah. Kami baca dari Al-Qur’an, 3:45-47 bahwa para malaikat berkata kepada Maryam:
Dan ingat pulalah ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam! Sesungguhnya Allah memberikan isu gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang bersahabat kepada Allah.
Pengungkapan Razi dari arti kedudukannya bersahabat dengan Allah menawarkan citra yang terang dari kedekatannya ini:
Pujian ini sama besarnya dengan kebanggaan yang diberikan kepada malaikat, sehingga Allah dengan keterangan ini telah menawarkan peringkat atau derajat Isa sama dengan derajat dan mendapat kedudukan yang sama dengan para malaikat. [75]
Adalah penting untuk diketahui bahwa para malaikat yang disebutkan dalam ulasan Razi bukanlah malaikat biasa, tetapi mereka yakni malaikat-malaikat yang berada di sekitar Takhta Allah.
Sampai di mana dekatnya Isa dengan Allah? Jawabannya secara terang ditemukan dalam kenyataan bahwa Allah mengirimkan yang terdekat kepada-Nya yakni Roh Suci (Jibril) untuk berada dalam diri Isa. Allah tidak mengirim Mikail atau Isofil tetapi hanyalah Pemimpin atau Imam dari semua malaikat, dan orang yang terdekat dengan Yang Maha Tinggi.
Menurut Razi, Malaikat Jibril bukan hanya bersahabat dalam kedudukan atau kepangkatannya, tetapi juga Malaikat Jibril berafiliasi sangat bersahabat sekali dengan Allah. Dalam penjelasannya perihal arti ungkapan ‘Roh Kami’ [76] , Razi menulis:
Dia (Allah) menyebut beliau (Jibril) sebagai Roh-Nya alasannya yakni beliau sumber kehidupan agama atau memperlihatkan kasih-Nya dan kedekatan-Nya kepada dia, ibarat mungkin anda mengungkapkan kasih sayang kepada yang paling anda cintai sebagai ‘engkau yakni nyawaku atau jiwaku’. [77]
Kaprikornus Malaikat Jibril tinggi derajatnya dengan Allah dan paling dikasihi Allah. Hak istimewa Allah kepada Malaikat Jibril untuk menyertai Isa merupakan suatu petanda betapa berharganya Isa pada Allah atas nilai karunia yang diterima oleh yang menerimanya. Tidak ada yang paling berharga daripada kekekalan penyertaan Roh Suci, kecuali Hadirat Allah itu sendiri.
Al Masih Diangkat bersahabat ke Sisi Allah
Al-Qur’an dengan terang menyatakan bahwa Isa diangkat di sisi Allah dan ia hidup sekarang:
...Mereka membunuhnya dengan keraguan ...Tetapi yang sebetulnya Allah telah mengangkat derajat Isa ketempat yang mulia. Dan yakni Allah Maha Perkasa dan Bijaksana [78]
...Allah berfirman: ‘Hai Isa! Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku, serta membersihkanmu dari tuduhan orang-orang kafir. Dan pengikut-pengikutmu akan Aku jadikan lebih mulia daripada orang-orang kafir hingga pada hari kiamat. [79]
Al-Qur’an juga memakai perkataan “mengangkat” atau “meninggikan” yang ada kaitannya dengan Nabi Muhammad:
Dan Kami angkat keharuman namamu? [80]
Dalam kenyataan ini, kemashuran Nabi Muhammad yang diangkat, bukannya diri Nabi Muhammad itu sendiri.
Kata “ditinggikan” juga digunakan dengan kaitannya dengan Nabi Idris yang berdasarkan kisah telah ‘diangkat ... ke atas tempat yang tinggi’. [81] Tempat mana yang diperuntukkan bagi Nabi Idris tidaklah diketahui. Di samping itu, secara faktanya ia diangkat ke suatu ‘tempat’ yang mengindikasikan tempat secara jasmani bukannya secara rohaniah . Razi menyampaikan bahwa arti yang diinginkan utama yakni ‘ditinggikan’ alasannya yakni pengangkatan Nabi Idris diasosiasikan dengan tempat secara jasmani dan bukannya derajatnya. [82] Namun dalam hal Isa, Al-Qur’an menyatakan bahwa:
...Allah berfirman: ‘Hai Isa! Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku, serta membersihkanmu dari tuduhan orang-orang kafir. Dan pengikut-pengikutmu akan Aku jadikan lebih mulia daripada orang-orang kafir hingga pada hari kiamat. [83]
Jelas sekali, Isa tidak diangkat ke tempat yang tinggi ibarat Nabi Idris, tetapi ia diangkat ke sisi Allah. Razi mengulas ayat Al-Qur’an 4:158:
Pengangkatan Isa ... yang teruji dalam ayat ini dan kesamaannya dalam Al-Qur’an 3:55 itu membuktikan bahwa pengangkatan Isa ke sisi Allah merupakan suatu karunia yang nilainya lebih bessar daripada Firdaus itu sendiri dan kenikmatan-kenikmatan jasmani. Dan ayat itu sendiri membukakan kepada anda pintu ilmu/pengetahuan akan kesukacitaan rohaniah . [84]
Justru, berdasarkan Razi, pengangkatan Isa ke sisi Allah itu lebih agung daripada Firdaus, dengan segala yang terdapat dalam ratusan tingkatnya, [85] baik tingkat yang paling bawah maupun yang tertinggi. Dan apakah yang lebih besar dari Firdaus dan segala kenikmatan-kenikmatan jasmaninya? Jawabannya ialah: Hadirat Allah. [86]
Razi menambahkan lagi artinya ayat “Dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku” sebagai “Aku mengangkat derajatmu dalam Hadirat Kemuliaan-Ku”, [87] kemuliaan yang tertinggi untuk selama-lamanya. Tidak ibarat Nabi Idris. Isa tidak diangkat ke suatu tempat, alasannya yakni ayat di atas tidak menyebutkan nama sesuatu tempat. Sebaliknya, ayat itu berulangan menyatakan Isa telah “diangkat ke sisi Allah’, atau (seperti yang Razi nyatakan), ‘Isa telah diangkat ke Hadirat Kemuliaan Allah’ – yakni, untuk bersama Allah. Ia lebih tinggi dari segala sesuatu. Semasa hayatnya di bumi, Isa dibedakan dan dikasihi dengan kehadiran terus-terusan Roh Allah. Dan kini ia menikmati yang terunggul: Allah sendiri.
Al Masih Sebagai Pengetahuan Hari Kiamat
Keterangan ini telah dibahas di Bahagian Pertama tetapi kita akan membahas secara singkat beberapa pandangan yang relevan pada Bahagian ini. Meskipun Hadis mengungkapkan beberapa gejala perihal Hari Kiamat, Al-Qur’an secara tegas mengakui bahwa Isa sebagai pengetahuan ketika Hari Kiamat:
Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menawarkan pengetahuan kepadamu perihal terjadinya kiamat, alasannya yakni itu janganlah kau ragu-ragu perihal Kiamat itu, dan ikutilah petunujk-Ku. Inilah jalan yang lurus. [88]
Beberapa mufasir menyampaikan bahwa dalam ayat ini sebagai pengetahuan akan Hari Kiamat ialah Al-Qur’an itu sendiri. Namun demikian lebih banyak didominasi mufasir yang ternama menyampaikan bahwa ayat itu mengacu ke Isa, di mana penjelasannya sebagai berikut:
Adalah ia, yang berarti Isa, yang merupakan suatu syarat Hari Kiamat diketahui. [89]
Saat-saat tamat ini diketahui oleh kemunculannya, yakni kemunculan Isa Al Masih, pengetahuan perihal Hari Kiamat. [90]
Ia (Isa) yakni tanda atau petanda tamat jaman atau ia sebagai saat-saat Hari Kiamat atau ia sendiri sebagai suatu syarat atau pensyaratan atas insiden tersebut. [91]
Menurut penyataan-penyataan tadi, Isa sebagai suatu tanda dan persyaratan atas insiden Hari Kiamat.
Beberapa orang menyampaikan bahwa ia yakni pengetahuan Hari Kiamat, alasannya yakni mujizatnya yang besar. Shokani, dalam Fath al-Qadeer menyampaikan bahwa:
...kelahiran Isa dari seorang perawan, dan bangkitnya dari maut yakni sebagai bukti atas kebenaran kebangkitan kembali yang terakhir. [92]
Ibn-Khatir menyampaikan bahwa:
Mujizat Allah yang diperlihatkan dengan perantaraan tangan Isa Al Masih dalam menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit, merupakan bukti yang cukup kuat bagi kepastian Hari Kiamat. [93]
Ibn-Khatir kemudian menolak pendapat bahwa ayat ini menyebutkan perihal Al-Qur’an sebagai petanda Hari Kiamat:
Yang benar ayat yang dimaksudkan mengacu kepada Isa Al Masih, alasannya yakni konteks dari ayat itu yakni mengenainya, yang artinya bahwa Isa akan tiba sebelum Hari Kebangkitan. [94]
Dalam ulasannya pada Bahagian kedua ayat tersebut, Ibn-Khatir mengatakan:
Janganlah ragu dan meragukan, alasannya yakni ia pasti akan terjadi. [95]
Jadi, baik Shokani maupun Ibn-Khatir menyampaikan bahwa mujizat-mujizat Isa Al Masih menghilangkan setiap keraguan perihal kenyataan Hari Kiamat. Beberapa orang mungkin menyangkal kepastian akan Hari Kiamat tersebut tetapi Al-Qur’an dengan secara lugas menyatakan bahwa Isa Al Masih merupakan impian akan kebangkitan kembali dan pembalasan dari Allah yang setimpal baik berupa eksekusi ataupun imbalan.
Al Masih, Orang yang Terpilih oleh Allah dalam Pertempuran Terakhir
Hadis berulangkali menyampaikan perihal si Dajjal yang akan munculsebelum Hari Kiamat, yang mengakibatkan banyak dilema di dunia dan ia mengakui dirinya sebagai Allah Yang Maha Besar. Sebuah Hadis mengatakan:
Tidak ada kekacauan atau dilema yang diciptakan sebanyak apa yang terjadi di waktu kehadiran si Dajjal kalau dihitung dari mulai Nabi Adam diciptakan hingga Hari Kiamat. [96]
Diakui bahwa Hazifah orang yang paling dipercaya, menyampaikan bahwa:
Bila Al Masih palsu muncul ke dunia bahkan insan di dalam kuburpun akan beriman kepadanya. [97]
Al-Qadi Abu Bakar Ibn al-‘Arabi (534 H) pula mengatakan:
Hadis-hadis yang menyebutkan si Dajjal (dalam Sahih Muslim) dan yang lainnya yakni merupakan bukti bagi para pengikutnya, yakni para pengikut Kebenaran akan adanya realitas tersebut dan si Dajjal yakni orang khusus dimana atas pengetahuan Allah umat insan akan menderita karenanya. Allah akan membuat si Dajjal memanifestasikan beberapa kuasa Allah Yang Maha Besar ibarat membangkitkan lagi orang mati yang ia bunuh, bumi tumbuh subur atas kuasanya, Firdaus dan Nerakanya berupa dua sungai, disertai dengan melimpah ruahnya bumi, ia bisa menyuruh langit untuk menurunkan hujan dan bumi jadi subur karenanya. [98]
Namun Hadis juga mengungkapkan Isa akan tiba untuk membunuh si Dajjal, dan ia tiba untuk menegakkan kedamaian dan memulihkan keimanan mereka untuk beriman kepada Allah yang sesungguhnya. Hal ini telah diterangkan dalam Bahagian "Kembalinya 'Isa di Akhir Zaman" diatas.
Kaprikornus berdasarkan Hadis, Al Masih yang palsu akan tiba sebelum Hari Kiamat. Kemunculannya akan merupakan tipuan yang terbesar yang pernah dialami oleh umat manusia, dan merupakan manifestasi terakhir dari Syetan serta suatu tragedi yang paling jelek atas keimanan seseorang terhadap Allah Yang Maha Besar semenjak dunia diciptakan hingga Hari Kiamat. Juga berdasarkan Hadis, hanya Isa Al Masihlah yang bisa menghancurkan si Dajjal dan yang bisa memperbaiki keimanan terhadap Allah Yang Maha Benar dan Yang Kekal selamanya.
Bila Allah melihat peradaban insan di ambang kehancuran, Allah tidak akan mengutuskan seorang nabi atau bahkan Malaikat Jibril imam para malaikat. Pertempuran yang terbesar di masa itu akan dimenangkan oleh Isa Al Masih dengan kekuasaannya yang dalam waktu singkat saja sebagaimana dinyatakan oleh Hadis:
Isa anak Maryam akan turun ke bumi ... dan akan menjadi imam dalam sembahyang. Bila musuh Allah (si Dajjal) melihatnya, ia akan hancur ibarat garam dalam air. [99]
Mengapa Isa saja yang bisa menghancurkan si Dajjal? Mengapa Allah menghantar Isa dan bukannya Musa, Ibrahim atau Idris? Jawabannya bisa ditemukan dalam Hadis berikut:
Bila godaan-godaan merayap hingga teranyam dalam hati ibarat anyaman tikar, hati yang menerimanya akan membentuk titik hitam sedangkan yang menolaknya hatinya akan membentuk titik putih. Lama-kelamaan akan terbentuklah salah satu diantaranya, apakah itu akan putih ibarat pualam putih yang murni, yang tipuan tidak bisa mempengaruhinya selama langit dan bumi berpijak pada tempatnya; atau akan terbentuk hati yang hitam legam, yang banyak berdebu tak terurus ibarat ember yang terbalik yang tidak bisa lagi digunakan apapun. [100]
Sayuti mengutip Ibn ‘Abbas yang mengatakan:
... di anatra mereka yang dilahirkan, hanya kepada Isa anak Maryam, Syetan tidak bisa kuat ataupun menyentuhnya. [101]
Kaprikornus Isa yakni lebih berkuasa ke atas si Dajjal yang tidak bisa mempengaruhi atau menguasainya. Oleh karenanya, Isa dipilih oleh Allah dalam Hari Kiamat. Dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkan dunia dari penipuan yang terbesar dan efek iblis.
Al Masih yang Maha Tinggi Selamanya
Al-Qur’an menggambarkan hanya ada dua orang yang mempunyai sifat kebesaran/kemegahan yaitu Musa dan Isa. Mengenai Musa, dikatakan:
Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kau ibarat orang-orang yang menganggu Musa dengan tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan, kemudian Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan itu, dan beliau yakni seorang yang mempunyai kedudukan terhormat dalam pandangan Allah. [102]
Dan kepada Isa dinyatakan ketika malaikat berkata:
Hai Maryam! Sesungguhnya Allah memberikan isu gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang terdekat kepada Allah. [103]
Musa dahulunya megah, tetapi kemegahan Isa yakni lebih bersifat abadi. Ia megah (wajih) bukan hanya dalam kehidupan di dunia ini tetapi juga kehidupan di akhirat.
Razi mengutip beberapa ulasan daripada akhli bahasa (linguist) Arab atas kata ‘wajih’:
Kata ‘wajih’ yakni orang yang terkenal. Karena Bahagian daripada tubuh yang paling dimuliakan yakni wajah (akar kata dari ‘wajih’ yakni ‘wajh’ yang artinya wajah atau muka), jadi wajah dijadikan suatu metafor untuk kesempurnaan atau kebesaran.
Musa yakni yang paling populer di antara semua nabi hingga Isa datang. Perbedaannya dengan Musa ialah Isa lebih tinggi tingkatannya dari Musa, di mana ia tidak akan tertandingi di mana Al-Qur’an menyatakan bahwa Isa yakni ‘wajih’ baik selama kehidupannya di dunia maupun di hari akhirat. Jika ada orang lainnya yang lebih tinggi daripada Isa, maka tidak akan disebutkan bahwa Isa akan ‘wajih’ di hari akhirat.
Hal ini dikuatkan dalam metafor Razi. Hanya ada satu muka bagi setiap orang dan karenanya hanya ada satu orang yang lebih tinggi atau megah baik di kehidupan di dunia maupun di akhirat. Makanya, Isa yakni ‘muka atau wajah’ dari kehidupan ini, yaitu anggota yang paling dihormati dalam kehidupan ini. Dan ia juga merupakan ‘wajah atau muka’ yang paling dihormati di hari akhirat. Keutamaan Isa ini risikonya berkelanjutan, tidak tertandingi dan tepat sepajang zaman.
Mengulas atas arti ‘kemegahan dan kebesaran’, Shokani mengatakan: ‘kemegahan yakni kekuasaan dan kewenangan’.
Apakah sifat alamiah dari kemegahan itu? Baidawi dan mufasir lainnya menyampaikan bahwa:
Kemegahan dalam kehidupan ini yakni kemampuan bernubuat atau meramal masa depan atau masa akan tiba perihal apa yang akan terjadi, dan dalam kehidupan darul abadi yakni bisa mendoakan orang (menengahi), membela dan menyelamatkan.
Lebih rinci atas hal ini Razi mengatakan:
Isa diperbedakan atau wajih dalam kehidupan dunia ini, alasannya yakni permohonannya dikabulkan. Ia bisa menghidupkan orang yang mati dan menyembuhkan yang buta dan kusta dengan doa-doanya. Ia besar atau megah di kehidupan darul abadi alasannya yakni Allah membuatnya bisa membela dan menyelamatkan umatnya yang benar dan Allah mendapatkan segala doa syafatnya bagi mereka.
Menurut Razi, kita bisa mendapatkan beberapa gagasan atau ide macam apa yang bisa diberikan kepada Isa dalam kehidupan darul abadi dengan melihat pembelaan atau pengorbanannya selama berada di dunia. Selama itu Isa Al Masih melalui pembelaannya bisa menghidupkan orang mati untuk hidup kembali. Pengorbanan pembelaannya lebih kuat dari kematian. Dan pembelaannya di hari darul abadi akan lebih kuat daripada Neraka.
Kemegahan Isa Al Masih (wajahah) di dalam kehidupan duniawinya sebagai suatu ukuran akan kemegahannya di hari kemudian atau akhirat. Ucapan-ucapannya atau firmannya sangat kuat pengaruhnya baik kepada insan maupun dengan Allah alasannya yakni firman-firmannya itu sangat kuat untuk membersihkan mereka dari dosa-dosanya dan bisa menghidupkan orang mati. Firman-firmannya lebih kuat dari dosa, maut dan Neraka alasannya yakni Neraka mendapat kekuatannya dari dosa.
Mengenai salah satu aspek dari kebesaran atau kemegahan Isa di dalam kehidupan di dunia, Baidawi mengatakan:
Allah membuat mujizat-mujizatnya alasannya yakni kecintaannya yang lebih, di mana merupakan gejala yang terang dan mujizat yang besar. Bila mujizat-mujizat itu dipersatukan, tidak ada orang lain yang melaksanakannya.
Dalam pandangan Baidawi, maka kemegahan Isa dalam kehidupan di dunia tidak tertandingi oleh sesiapapun, kemegahannya di hari darul abadi pun sama tidak akan bisa tertandingi.
http://www.answering-islam.org/Bahasa/Isa/AlMasih_Sejarah.html

No comments:
Post a Comment